Merasa Lebih Baik dibanding Orang Lain

Terkadang kita bahagia dan mengucapkan sukur alhamdulillah ketika telah berbuat baik, telah menjalankan amal dan ibadah merupakan sesuatu yang sangat lumrah dilakukan hampir setiap orang. Namun tahukah kita bahwa perasaan tersebut malah menjadi bumerang penghancur pahala manakala perasaan tersebut berlanjut dengan perasaan lainnya, yakni ketika kita membandingkan bahwa apa yang kita lakukan sudah lebih baik dibanding dengan apa yang telah dilakukan oleh orang lain.

Di antara perasaan-perasaan yang sangat samar tersebut seringkali menjangkiti jiwa manusia. Seperti merasa lebih bisa, merasa telah berjasa, merasa lebih baik, merasa level dan kedudukan sosialnya lebih tinggi, merasa lebih berilmu, merasa lebih berpengalaman, merasa lebih faham tentang ilmu agama, merasa lebih berharta, dan perasan-perasaan ujub lainnya.

Hati-hati! Ternyata perasaan tersebut sudah masuk pada jebakan hasutan setan yang yang sangat dibenci oleh Allah. Ketahuilah bahwa kenapa pada akhirnya setan menjadi makhluk yang sangat dikutuk oleh Allah adalah karena setan merasa lebih baik dibanding dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Setan yang merupakan keturunan dari iblis sebetulnya makhluq ciptaan Allah yang tekun dalam beribadah. Akan tetapi setan dilaknat oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa disebabkan sikap merendahkan Adam dikarenakan setan merasa lebih suci. Sebagaimana yang tergambar jelas dalam sebuah ayat berikut,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Surat Al-A’raf Ayat 12)

Sangat terang sekali bahwa merasa lebih baik dari yang lain merupakan salah satu sifat Iblis yang sangat tercela. Perasaan lebih baik adalah tipuan dan berpotensi melalaikan seseorang dari dosa-dosa dan aib diri sendiri. Sebagaimana sindiran Nabi bagi mereka yang tidak sadar akan keburukan diri sendiri namun malah sibuk mengorek keburukan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)

Perasaanggapan merasa diri lebih baik dibanding orang lain adalah salah satu peyakit hati yang sangat jauh dari sifat tawadhu’. Di mana bagi para pelakunya akan membawa akibat buruk kelak di hari kiamat.

Hindarilah merasa lebih baik dari orang lain! Walaupun sebetulnya kita memang memiliki kelebihan bukan bearti kelebihan tersebut dibuat alat untuk kemudian merendahkan orang lain. Sebab Allah tidak melihat kelebihan yang dimiliki seseorang, karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa hanya melihat ketakwaan seseorang saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (Hadits Muslim Nomor 4651)

Allah memberikan kelebihan pada seseorang tujuannya adalah sejauh mana kelebihan dapat menimbulkan kemanfaatannya bagi orang lain dan sejauh mana kelebihan tersebut dijadikan sarana untuk lebih meningkatkan pengabdian kepada Allah. Rendahkanlah hati dan diri di hadapan Allah dan manusia agar kita tidak menjadi manusia yang dzalim. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlalu lalim pada yang lain.” (Hadits Muslim Nomor 5109)

Siapa yang lebih mengetahui keadaan batin seseorang selain Allah? Jangan terjebak perasaan lebih baik, lebih shaleh, lebih taqwa, lebih dermawan, sebab kita jelas tidak tahu derajat kemuliaan kita di hadapan Allah. Jangan menganggap kita sudah baik, sebab bisa jadi kita sangat buruk di hadapan Allah. Dan jangan sekali-kali menganggap orang lain lebih buruk, bisa jadi mereka lebih mulia di hadapan Allah. Sebagaimana seorang ahli ibadah ternyata masuk surga sebab memandang orang lain berdosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

“[Abu Hurairah] berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua orang laki-laki dari bani Isra’il yang saling bersaudara; salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sementara yang lain giat dalam beribadah. Orang yang giat dalam beribdah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata, “Berhentilah.” Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati suadaranya berbuat dosa, ia berkata lagi, “Berhentilah.” Orang yang suka berbuat dosa itu berkata, “Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku!” Ahli ibadah itu berkata, “Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu, atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.” Allah kemudian mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah: “Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?” Allah lalu berkata kepada pelaku dosa: “Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku.” Dan berkata kepada ahli ibadah: “Pergilah kamu ke dalam neraka.” Abu Hurairah berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 4255)

Perasaan lebih baik dibandingkan orang lain merupakan benih sifat ujub yang merupakan akar dari kesombongan. Allah telah menegur hamba-hambaNya yang menyatakan diri suci diakibatkan amal ibadah yang mereka lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kamu menganggap dirimu telah suci, Allah Ta’ala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik atau suci di antara kamu.” (Hadits Muslim Nomor 3992)

Disebabkan merasa lebih baik, maka akan memacing kecaman dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Sebagaimana firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. (Surat An-Nisa’ Ayat 49)

Tugas kita hanya berupaya untuk menjadi manusia yang terbaik, bukan merasa lebih baik. Menjadi manusia yang berupaya untuk sempurna, bukan merasa paling sempurna. Dan berupaya senantiasa menjadi manusia yang bersih, bukan merasa menjadi manusia yang sudah bersih. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Surat Asy-Syams Ayat 9-10)

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat merasa sudah baik dan sempurna. Sebab kebaikan dan kesempurnaan hanya hak Allah. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 141
    Shares