Menjawab Syubhah Hadits “Ajtahidu Ra’yi”

Pendahuluan

Perbincangan status hadits “ajtahidu ra’yi” Mu’adz bin Jabal bukanlah perkara baru. Jika ditelusur dalam kitab-kitab hadits, ushul fikih, dan fikih, perbincangan status hadits ini sudah sangatlah banyak mulai yang melemahkan sampai yang menggunakannya tanpa ada keraguan lagi. Mayoritas ahli hadits menyatakan status hadits ini dha’if. Namun mayoritas ulama ushul fikih dan fikih menerima hadits Mu’adz ini bahkan tanpa ada komentar terlalu dalam. Di sisi lain, keberadaan hadits tersebut sangat penting dalam mengisi khazanah pemikiran Islam. Hadits Mu’adz ini banyak digunakan sebagai dalil ijtihad. Hadits ini juga merupakan dasar kontruksi pemikiran turunan dari ijtihad. Dan hadits ini “terlanjur” diyakini keshahihannya oleh mayoritas ahli fikih kontemporer. Bahkan cukup (selesai) dengan statemen “talaqathul ummah bil qabul”. Berdasarkan pemikiran itulah, kami merasa terpanggil untuk melakukan penelitian ulang terhadap status hadits “ajtahidu ra’yi” Mu’adz bin Jabal. Dari sini pula kami mengajukan tesis pemikiran bahwa sebenarnya hadits “ajtahidu ra’yi” Mu’adz bin Jabal dari aspek sanad masih memerlukan kajian yang lebih mendalam meski kecenderungannya dapat diterima (makbul). Demikian juga dengan adanyasyawahid, hadits Mu’adz ini semakin dikuatkan, meski hal itu harus melewati diskursus pemikiran yang tidak sederhana. Terlebih jika ditinjau dari segi matan, ijtihad bi ar-ra’y dengan bersandarkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah adalah perkara yang masyru’.

Lafadz Hadits

Lafazh hadits أَجْتَهِدُ رَأْيِي menurut riwayat imam at-Tirmidzi hadits no. 1249 adalah sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Bahwasannya Nabi Saw. ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, bersabda: bagaimana engkau menghukumi? Mu’adz menjawab: dengan kitab Allah? Nabi saw bertanya: jika tidak ada dalam kitab Allah? Mu’adz menjawab: dengan sunnah Rasulullah Saw. Nabi Saw bertanya lagi: jika tidak ada dalam sunnah Nabi Saw.? Mu’adz menjawab: aku berijtihad dengan pendapatku. Mu’adz berkata: maka Rasulullah Saw. Bersabda: segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusannya Rasulullah  Saw.)

Hadits tersebut di atas tersebar dalam berbagai kitab yang masyhur di kalangan kaum Muslim.[i] Imam al Hafidz Ibnu Katsir menyatakan dalam Muqaddimahtafsirnya dan menghukumi sanad hadits ini adalah bagus.[ii] Para ulama ushul fiqh menjadikan hadits ini sebagai dasar bagi sumber hukum Islam setelah al-Qur’an dan Sunnah, di mana apabila suatu hal yang tidak terdapat secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah maka dilakukan ijtihad.

Takhrij Hadits

Hadits riwayat imam at-Tirmidzi hadits no. 1249 tersebut juga diriwayatkan dalam kitab hadits lain sebagai berikut:

  1. Abu Dawud, bab al-Aqdhiyyah no. 3119
  2. Ad-Darimi, bab al-Muqaddimah no. 168
  3. Ahmad, Musnad al-Anshar no. 21049
  4. Ahmad, Musnad al-Anshar no. 21000
  5. Ahmad, Musnad al-Anshar no. 21084
  6. Baihaqi, bab Qadha’ no. 20126

Penjelasan Para Rawi’

Dalam riwayat imam at-Tirmidzi, hadits tersebut diriwayatkan dari dua jalur periwayatan sebagai berikut:

  1. حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي عَوْنٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ
  2. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَوْنٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو ابْنِ أَخٍ لِلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصٍ عَنْ مُعَاذٍ

Dari riwayat–riwayat di atas, dapat diketahui bahwa hadits tersebut bemuara pada al-Harits bin Amr dari murid–muridnya Mu’adz bin Jabal dari penduduk Himsh. Para ulama ahli hadits telah memberikan penilaian terhadap rawi–rawi hadits di atas.[iii] Hadits ini telah dilemahkan oleh jumhur ulama hadits. Di dalamnya ada al-Harits bin Amr anak saudara Mughirah bin Syu’bah yang di anggap majhul. Majhul adalah tidak diketahui diri dan sifat–sifat  rawi. Maksudnya adalah seorang rawi tidak diketahui dirinya, atau dirinya diketahui, akan tetapi tidak diketahui bagaimana sifat-sifatnya seperti keadilannya, dan kedhabitannya. Majhul pada al-Harits ini termasuk pada majhul hal, yaitu perawi yang diriwayatkan darinya dua orang atau lebih tetapi tidak dipercaya, hukum majhul ini adalah tertolak. Adapun murid–murid Mu’adz bin Jabal yeng merupakan isim Mubham. Mubham adalah orang yang samar namanya baik dalam matan maupun dalam sanad para rawinya atau orang yang berkaitan dengan riwayat. Mubham yang paling tinggi adalah dengan kata rajulun atauimra’ah. Pada hadits Mu’adz di atas thabaqah kedua, yaitu sahabat–sahabat Mu’adz bin Jabal disebut dengan kata–kata rajulun (laki–laki). Maka jelas hal ini merupakan mubham yang paling tinggi. Mubham termasuk pada bagian  Majhul, karena pada hakikatnya sama menyerupai hakikat majhul. Hukum dari mubham ini adalah tidak diterima sampai diketahui nama rawi tersebut dengan datangnya dari jalan lain yang menjelaskan namanya. Penyebab tertolaknya hadits ini adalah karena tidak diketahui diri perawinya, karena orang yang samar namanya, maka tidak diketahui dirinya serta tidak di ketahui pula keadilannya. Apabila dalam hadits tersebut terdapat rawi yang mubham maka hadits tersebut disebut hadits mubham.

Berdasarkan hal di atas, maka hadits Mu’adz tentang ijtihad berkumpul antara hadits dhaif, karena kemajhulan al-Harits bin Amr dengan hadits mubham, sebab adanya kemubhaman sahabat–sahabat Mu’adz bin Jabal dari penduduk Hims. Sedangkan yang lainnya memiliki martabat tsiqah.

Pendapat Para Ulama tentang Hadits Mu’adz

Bukhari berkata dalam Tarikhnya: al-Harist bin Amr dari sahabat–sahabat Mu’adz serta yang darinya Abu Aun (meriwayatkan), tidak sah dan tidak diketahui kecuali dari (jalan) ini. Demikian pula Ibnu Mahdi memursalkan hadits ini. Menurut Abu Dawud hadits ini di terima dari Syu’bah dari sahabat–sahabat Mu’adz bahwa Rasulullah saw…hanya sekali.

Menurut Ibn Jauzy dalam al-Ilal Mutanahiyyah bahwa (hadits ini) tidak sahih walaupun semua ahli fiqh menyebutkan dalam kitab–kitab mereka dan berpegang dengan hadits ini, walaupun maknanya benar. Demikian pula pendapat Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa hadits ini tidak sah, sebab al Harits adalah majhul. Sedangkan Ibnu Thahir menyatakan masih menyelidiki hadits ini dalam musnad–musnad yang besar maupun musnad yang kecil. Beliau pernah bertanya kepada ahli ilmu, maka didapati hadits ini dari dua jalan, yaitu jalan Syu’bah dan jalan Muhammad bin Jabir dari Ibn Sya’sya’. Demikian pula pendapat at Tirmidzi yang mengatakan bahwa hadits ini sanadnya tidak bersambung. Hal ini di kuatkan oleh al-Albani yang mengatakan bahwa hadits ini tidak sahih karena  hadits ini mursal, dan juga salah satu rawinya adalah majhul yaitu al Harits bin Amr.

Akan tetapi Ibnu Qayyim berpendapat bahwa walaupun hadits ini tanpa disebutkan namanya, mereka adalah sahabat–sahabat Mu’adz. Hal itu tidak membahayakan, karena hal itu menunjukkan kemasyhuran hadits ini, bahwa al-Harits menceritakan dari jama’ah sahabat Mu’adz, bukan salah  seorang dari mereka. Hal ini lebih luas dalam kemasyhuran. Keadaan salah seorang dari mereka, kemasyhuran sahabat–sahabat Mu’adz dalam ilmu, agama, keutamaan dan kejujurannya tidak tersembunyi. Tidak pula pada sahabat–sahabat Mu’adz itu yang tertuduh dusta, bukan pula pendusta dan tidak tercela. Bahkan sahabat–sahabat Mu’adz adalah bagian dari orang–orang utama kaum muslim serta pilihan mereka. Maka tidak diragukan lagi di nukilnya oleh ahli ilmu.[iv]Lebih dari pada itu, Ibnu Adiy menyatakan bahwa dia adalah ma’ruf dalam hadits tersebut dan Ibnu Hiban menetapkan al-Harits dalam kelompok ats-tsiqat. Demikian juga imam al-Haramain mengeluarkan bahwa hadits tersebut pada gugusan ash-shahih.

Menariknya, dan menurut pendapat penulis ini lebih merupakan terobosan dibanding yang lain, Al-Baghdadi memiliki catatan lain tentang hadits ini. Beliau menegaskan bahwa hadits Mu’adz ini makbul. Beliau juga menjawab beberapa syubhah terkait sanadnya yang dinilai lemah.[v]

Selanjutnya mari kita simak riwayat dari Ubadah bin Nusayyi dari Abdurrahman bin Ghanm dari Mu’adz bin Jabal terkait pengiriman Mu’adz oleh Rasulullah Saw ke Yaman. Hadits-hadits di bawah ini menunjukkan kepada kita bahwa dari jalur yang lain, sanad hadits Mu’adz ini muttasil dengan para rawi yang kredibel (tsiqah). Seperti Al-Mu’jam al-Kabir Li Thabraniy, juz 20, hlm 68;[vi] Musnad asy-Syamiyin li at-Tabraniy, hlm 714;[vii] Tahdzib al-Atsar li Thabariy, hlm 559;[viii] dan Sunan Ibnu Majah hlm 16.[ix]

Berdasarkan pendapat para ulama di atas, maka dapat di simpulkan bahwa hadits Mu’adz tentang ijtihad bi ra’yi masih membutuhkan kajian yang lebih mendalam, meski memiliki kecenderungan makbul.

Analisis Sanad: Aspek Kemubhaman Sahabat Mu’adz

Dari analisis yang kami lakukan terhadap para rawi yang dinilai mubham, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya murid-murid Mu’adz bin Jabal (atau yang meriwayatkan hadits darinya) yang berasal dari Himsh dapat diidentifikasi.

Identifikasi kami terhadap orang-orang penduduk Himsh yang merupakan murid Mu’adz bin Jabal atau pernah menerima hadits dari Mu’adz, disimpulkan bahwa tidak semuanya makbul, bahkan masih menyisakan dua orang yang dikategorikan majhul dan dha’if. Oleh karena itu, kita tidak bisa memastikan bahwa penduduk Himsh yang menerima hadits “ajtahidu ra’yi” adalah yang berstatus tsiqah, meski persentase kemungkinan ketsiqahan lebih besar dan lebih mungkin dari persentase kemungkinan kedha’ifannya, sebagai berikut:

  1. Tabaqah ke-2:

 أبو ظبية – ثقة 90, جبير بن نفير بن مالك بن عامر – ثقة 80, خالد بن اللجلاج – صدوق, زرعة – ثقة, عبد الله بن قيس – ثقة 77, عمرو بن الأسود – ثقة, كثير بن مرة – ثقة, مالك بن يخامر – مخدرم 70, يزيد بن عميرة – ثقة, عاصم بن حميد – صدوق

  1. Tabaqah ke-3:

 زياد بن سعد – مجهول, حسن بن جابر – مقبول 128, حبيب بن عبيد – ثقة, خالد بن معدان بن أبي كرب – ثقة 103, راشد بن سعد – ثقة 113, سليم بن عامر – ثقة 130, شريح بن عبيد بن شريح بن عبد بن عريب – ثقة 101, شهر بن حوشب – صدوق 100, عبد الرحمن بن عائذ – ثقة, عطية بن قيس – ثقة 121

  1. Tabaqah ke-4:

 ضمرة بن حبيب بن صهيب – ثقة 130, عبد الرحمن بن جبير بن نفير بن مالك – ثقة 118, يزيد بن قطيب – مقبول , يزيد بن حصين بن نمير – ضعيف 103

 

Terlebih lagi bahwa al-harits bin Amr menerima hadits tersebut dari kelompok orang (sahabat-sahabat Mu’adz) bukan seorang diri. Dengan demikian, periwayatan Al-Harits bin Amr bisa kita terima, karena dalam sanad hadits tersebut semuanya makbul kecuali dia sendiri yang dipandang oleh kebanyakan muhadits bahwa al-Harits majhul.

Syawahid Hadits Mu’adz

Hadits Mu’adz ini juga memiliki syawahid. Syawahid adalah hadits yang bersyarikat perawi hadis di dalam riwayat hadits, yang tunggal baik secara lafadz maupun makna, atau makna saja, serta ikhtilaf pada sahabat.[x]

Syawahid–syawahid hadits tersebut dapat saling menguatkan antara satu sama lain. Syawahid–syawahid hadits tersebut terdapat pada sunan Baihaqi hadits no. 20128, 20129, 20130, 20131, 20132 dan 20133. Yang semuanya menguatkan hadits Mu’adz bin Jabal tentang  berhukum dengan kitab Allah, jika tidak di dapati maka dengan Sunnah Nabi saw, dan bila dalam Sunnah tidak ada maka dengan ijtihad.

Berdasarkan hadits–hadits yang menjadi syawahid tersebut, yang berasal dari para sahabat yaitu riwayat dari Maimun bin Mahran, Umar bin Khattab, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas radhiyyallahu ‘anhum, hadits–hadits tersebut adalah mauquf. Hadits mauquf adalah hadits yang di sandarkan kepada sahabat atau sekelompok sahabat apakah yang di nisbahkan ini perkataan, perbuatan atau ketetapan sahabat, baik disandarkan kepada mereka itu bersamnbung atau tidak.[xi] Dengan demikian hadits mauquf terkadang sahih, hasan atau dhaif. Maka untuk memastikan suatu hadits sahih atau tidak perlu penelitian tentang bersambung tidaknya sanadnya serta kualitas dari para perawi hadis tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka hadits Mu’adz bin Jabal tentang ijtihad mendapat penguat dari riwayat hadits Maimun bin Mahran, Umar bin Khattab, Abdullah bin Abbas, Abu Bakar as-Shiddiq dan Zaid bin Tsabit yang mauquf. Walapun pada hadits–hadits yang menjadi Syawahid tersebut ada yang muttasil dan ada yang tidak, tetapi hal itu dapat saling menguatkan. Dengan demikian hadits tersebut adalah makbul dimana umat telah menerimanya.

Selain itu, secara bil ma’na, ada hadits lain yang sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari tentang ijtihad seorang hakim, sebagai berikut:

عمرو بن العاص رضى الله تعالى عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران وإذا حكم الحاكم فاجتهد فأخطأ فله أجر

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد فأخطأ فله أجر

Hadits Bukhari di atas terdapat pada Shahih Bukhari bab Ajrul Hakim Idza Ijtahada no. 6805, Shahih Muslim bab Aqdiyyah no. 3240, Sunan Abu Dawud bab Qadhiyyah no. 3103, Sunan Ibnu Majah bab al-Hakam no. 2305, Musnad Ahmad Mukastiirin min Shahabat no. 6366, 17106, dan 17148.

Penutup

Berdasarkan paparan di atas, maka tidak diragukan bahwa hadits “ajtahidu ra’yi” Mu’adz bin Jabal adalah hadits makbul meski dari sisi sanadnya menyisakan berdebatan. Selain itu, juga karena adanya syawahid dan adanya hadits lain yang shahih dengan makna yang sama. Aspek kemajhulan dan kemubhaman rawi yang ada dalam sanad hadits tersebut masih bisa “diselamatkan”, paling tidak menurut penelitian sementara penulis. Jika ditinjau dari segi matan, ijtihad bi ar-ra’y dengan bersandarkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah –ketika pada keduanya hukum suatu perkara tidak dinyatakan secara manshush– adalah perkara yang masyru’. Bahkan hadits Mu’adz dipandang sudah terkategori talaqathul ummah bil qabul, sebagaimana yang disampaikan al-Ghazali.[xii]


[i]  فتح القدير – (4 / 309), تفسير المنار – (7 / 156), الإحكام في أصول القرآن – (1 / 368), عون المعبود – (8 / 91), المبسوط – (19 / 1), مجموع فتاوى ابن تيمية – (3 / 197)

[ii]  وهذه الرواية ليست هي مراده ابن كثير بقوله : هذا الحديث في المسند والسنن بإسناد جيد لأنها ليست في المسند ولا في السنن. (أضواء البيان – (3 / 222), الفصول في الأصول – (2 / 12), الشخصية الإسلامية الجزء الأول – (1 / 282)

[iii] Penilaian terhadap al-Harits bin Amr misalnya bisa kita simak dalam Tahzibul Kamal, 5/81, Mizanul I’tidal 1/323, Tahdzib at-Tahdzib, 2/91, At-Tsiqat Ibnu Hibban, 6/88.

[iv] Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami’ at Tirmidzi, Aunul Ma’bud Syarah sunan Abi Dawud

[v]  فَذَكَرَ مَعْنَاهُ فَإِنِ اعْتَرَضَ الْمُخَالِفُ بِأَنْ قَالَ: لا يَصِحُّ هَذَا الْخَبَرُ، لأَنَّهُ يُرْوَى عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ لَمْ يُسَمَّوْا فَهُمْ مَجَاهِيلٌ، فَالْجَوَابُ: أَنَّ قَوْلَ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ، يَدُلُّ عَلَى شُهْرَةِ الْحَدِيثِ، وَكَثْرَةِ رُوَاتِهِ، وَقَدْ عُرِفَ فَضْلُ مُعَاذٍ وَزُهْدُهُ، وَالظَّاهِرُ مِنْ حَالِ أَصْحَابِهِ الدِّينُ وَالثِّقَةُ وَالزُّهْدُ وَالصَّلاحُ، وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ عُبَادَة بْن نُسَيٍّ رَوَاهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذٍ، وَهَذَا إِسْنَادٌ مُتَّصِلٌ، وَرِجَالُهُ مَعْرُوفُونَ بِالثِّقَةِ، عَلَى أَنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ قَدْ تَقَبَّلُوهُ وَاحْتَجُّوا بِهِ، فَوَقَفْنَا بِذَلِكَ عَلَى صِحَّتِهِ عِنْدَهُمْ كَمَا وَقَفْنَا عَلَى صِحَّةِ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ K: لا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، وَقَوْلِهِ فِي الْبَحْرِ: [ ج  1 : ص  190 ] هُوَ الطُّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ، وَقَوْلِهِ: إِذَا اخْتَلَفَ الْمُتَبَايِعَانِ فِي الثَّمَنِ وَالسِّلْعَةُ قَائِمَةٌ تَحَالَفَا وَتَرَادَّا الْبَيْعَ، وَقَوْلِهِ: الدِّيَةُ عَلَى الْعَاقِلَةِ، وَإِنْ كَانَتْ هَذِهِ الأَحَادِيثُ لا تَثْبُتُ مِنْ جِهَةِ الإِسْنَادِ، لَكِنْ لَمَّا تَلَقَّتْهَا الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ غَنَوْا بِصِحَّتِهَا عِنْدَهُمْ عَنْ طَلَبِ الإِسْنَادِ لَهَا، فَكَذَلِكَ حَدِيثُ مُعَاذٍ، لَمَّا احْتَجُّوا بِهِ جَمِيعًا غَنَوْا عَنْ طَلَبِ الإِسْنَادِ لَهُ، فَإِنْ قَالَ: هَذَا مِنْ أَخْبَارِ الآحَادِ لا يَصِحُّ الاحْتِجَاجُ بِهِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، فَالْجَوَابُ: أَنَّ هَذَا أَشْهُرُ وَأَثْبَتُ مِنْ قَوْلِهِ K: لا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلالَةٍ، فَإِذَا احْتَجَّ الْمُخَالِفُ بِذَلِكَ فِي صِحَّةِ الإِجْمَاعِ، كَانَ هَذَا أَوْلَى وَجَوَابٌ آخَرُ، وَهُوَ: أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ جَائِزٌ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، لأَنَّهُ إِذَا جَازَ تَثْبِيتُ الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ مِثْلَ: تَحْلِيلٍ، وَتَحْرِيمٍ، وَإِيجَابٍ، وَإِسْقَاطٍ، وَتَصْحِيحٍ، وَإِبْطَالٍ، وَإِقَامَةِ حَدٍّ بِضَرْبٍ، وَقَطْعٍ، وَقَتْلٍ، وَاسْتِبَاحَةِ فَرْجٍ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَكَانَ الْقِيَاسُ أَوْلَى، لأَنَّ الْقِيَاسَ طَرِيقٌ لِهَذِهِ الأَحْكَامِ، وَهِيَ الْمَقْصُودَةُ دُونَ الطَّرِيقِ وَهَذَا وَاضِحٌ لا إِشْكَالَ فِيهِ

[vi]  حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْعَبَّاسِ الرَّازِيُّ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلْمٍ، وَالْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، قَالُوا: ثنا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ، ثنا أَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ، عَنْ أَبِي الْعَطُوفِ، عَنِ الْوَضِينِ بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نَسِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ K لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسَرِّحَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ اسْتَشَارَ نَاسًا مَنْ أَصْحَابِهِ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَأُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ، فَاسْتَشَارَهُمْ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: لَوْلا أَنَّكَ اسْتَشَرْتَنَا مَا تَكَلَّمْنَا، فَقَالَ: ” إِنِّي فِيمَا لَمْ يُوحَ إِلَيَّ[ ج  20 : ص  68 ] كَأَحَدِكُمْ “، قَالَ: فَتَكَلَّمَ الْقَوْمُ، فَتَكَلَّمَ كُلُّ إِنْسَانٍ بِرَأْيِهِ، فَقَالَ: ” مَا تَرَى يَا مُعَاذُ؟ “، قَالَ: أَرَى مَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ K: ” إِنَّ اللَّهَ G يَكْرَهُ فَوْقَ سَمَائِهِ أَنْ يُخْطِئَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ “

[vii]  حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْعَبَّاسِ الرَّازِيُّ، ثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ، ثَنَا أَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ، ثَنَا أَبُو الْعَطُوفِ، عَنِ الْوَضِينِ بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ  عُبَادَةَ  بْنِ  نُسَيٍّ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ K لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسَرِّحَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ، اسْتَشَارَ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَأُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: لَوْلا أَنَّكَ اسْتَشَرْتَنَا مَا تَكَلَّمْنَا، فَقَالَ: ” إِنِّي فِيمَا لَمْ يُوحَ إِلَيَّ كَأَحَدِكُمْ، فَتَكَلَّمَ الْقَوْمُ كُلُّ إِنْسَانٍ بِرَأْيِهِ، فَقَالَ: ” مَا تَرَى يَا مُعَاذُ؟ “، قُلْتُ: أَرَى مَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ K: ” إِنَّ اللَّهَ G يَكْرَهُ فَوْقَ سَمَائِهِ أَنْ يَخْطَأَ أَبُو بَكْرٍ “

[viii]  حَدَّثَكَ بِهِ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّوَّافُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ الرَّبِيعِ، قَالَ: حَدَّثَنِي الأَصْبَغُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: لَمَّا بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِK إِلَى الْيَمَنِ قَالَ: ” إِنِّي قَدْ عَلِمْتُ مَا لَقِيتَ فِي اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَا ذَهَبَ مِنْ مَالِكَ، وَقَدْ طَيَّبْتُ لَكَ الْهَدِيَّةَ، فَمَا أُهْدِيَ لَكَ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ لَكَ “. قِيلَ: هَذَا عِنْدَنَا خَبَرٌ غَيْرُ جَائِزٍ الاحْتِجَاجُ بِمِثْلِهِ فِي الدِّينِ، لِوَهَاءِ سَنَدِهِ، وَضَعْفِ كَثِيرٍ مِنْ نَقَلَتِهِ، غَيْرَ أَنَّ ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا، لَوْ كَانَ صَحِيحًا سَنَدُهُ، عُدُولا نَقَلَتُهُ مَخْرَجًا فِي الصِّحَّةِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ K جَعَلَ مَا أُهْدِيَ لَهُ مِنْ هَدِيَّةٍ فِي عَمَلِهِ لَهُ، مَكَانَ مَا كَانَ يَسْتَحِقُّهُ مِنَ الرِّزْقِ عَلَى عَمَلِهِ، إِذْ كَانَ كُلُّ مَشْغُولٍ عَنِ التَّصَرُّفِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ وَعَارِضِ حَاجَاتِهِ مِنَ الْمَكَاسِبِ وَغَيْرِهَا مِمَّا هُوَ لَهَا نَظِيرٌ، فَإِنَّهُ مُسْتَحِقٌّ مِنْ مَالِ الْفَيْءِ، مَا فِيهِ لَهُ، وَلِمَنْ تَلْزَمُهُ مَئُونَتُهُ، الْكِفَايَةُ وَالْغِنَى عَنِ التَّصَرُّفِ لِلْمَكْسَبِ وَطَلَبِ الْمَعَاشِ، وَفِيمَا.

[ix]  حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ سَجَّادَةُ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، قَالَ: لَمَّا بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ إِلَى الْيَمَنِ، قَالَ: ” لَا تَقْضِيَنَّ، وَلَا تَفْصِلَنَّ إِلَّا بِمَا تَعْلَمُ، فَإِنْ أَشْكَلَ عَلَيْكَ أَمْرٌ فَقِفْ حَتَّى تَبَيَّنَهُ، أَوْ تَكْتُبَ إِلَيَّ فِيهِ.

[x] Mahmud Thahan, Taisir Mushtalah al Hadits hal. 141

[xi] Mahmud Thahan, Taisir Musthalah al-Hadits. 130

[xii]  وَهَذَا حَدِيثٌ تَلَقَّتْهُ الْأُمَّةُ بِالْقَبُولِ ، وَلَمْ يُظْهِرْ أَحَدٌ فِيهِ طَعْنًا ، وَإِنْكَارًا ، وَمَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا يَقْدَحُ فِيهِ كَوْنُهُ مُرْسَلًا بَلْ لَا يَجِبُ الْبَحْثُ عَنْ إسْنَادِهِ.

“sumber: MENJAWAB SYUBHAH HADITS “AJTAHIDU RA’YI