Mengoptimalkan Ibadah Di Bulan Sya’ban

Muqaddimah

Bulan Sya’ban adalah bulan istimewa yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan di mana jika umat Islam melakukan amal ibadah dan amal kebaikan niscaya pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah Taala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan ummatnya melaksanakan ibadah-ibadah sebagai bentuk menyambut dan memuliakan bulan ini. Di antara yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbanyak berpuasa sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

Bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena banyak cabang kebaikan dalam bulan ini. Sayyid Muhammad Alwi dalam kitabnya menyebutkan asal-usul kata “Sya‘ban”.

وسمي شعبان لأنه يتشعب منه خير كثير، وقيل معناه شاع بان، وقيل مشتق من الشِعب (بكسر الشين) وهو طريق في الجبل فهو طريق الخير، وقيل من الشَعب (بفتحها) وهو الجبر فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك.

Artinya, “Bulan (kedelapan) hijriyah ini dinamai dengan sebutan ‘Sya‘ban’ karena banyak cabang-cabang kebaikan pada bulan mulia ini. Sebagian ulama mengatakan, ‘Sya‘ban’ berasal dari ‘Syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berpendapat bahwa di saat penamaan bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab,

وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ.

“Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” [Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban]

Banyak kaum muslimin melalaikan keutamaan bulan ini hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan bulan ini. Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Selanjutnya aku [Usamah] berkata; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (Hadits Ahmad Nomor 20758)

Berikut beberapa amalan apa yang disyariatkan pada bulan ini;

Memperbanyak puasa

Puasa ada dua jenis; wajib dan sunnah. Puasa wajib ialah puasa yang diharuskan dikerjakan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Misalnya, puasa Ramadhan. Sementara puasa sunnah ialah puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dikerjakan dan tidak berdosa orang yang meninggalkannya. Jenis puasa sunnah ada banyak macamnya, mulai yang mingguan, bulanan, dan tahunan.

Dari sekian banyak puasa sunnah, puasa Sya’ban termasuk puasa yang paling banyak dikerjakan oleh Rasulullah sallalhu alaihi wa sallam karena memiliki banyak keutamaan dan sangat dianjurkan untuk mengerjakannya. Oleh sebab itu, Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatul Zein mengatakan:

صوم شعبان لحبه صلى الله عليه وسلم صيامه فمن صامه نال شفاعته صل الله عليه وسلم يوم القيامة

“Puasa Sya’ban (disunnahkan) karena Rasulullah SAW menyukai puasa pada bulan itu. Siapa yang puasa Sya’ban, dia akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW di hari akhirat kelak.”

Dari sekian banyak puasa sunnah, puasa Sya’ban termasuk puasa yang paling banyak keutamaan dan sangat dianjurkan untuk mengerjakannya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri sangat senang melakukan puasa Sya’ban dan memperbanyak puasa di bulan tersebut. Oleh sebab itu, Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatul Zein mengatakan:

صوم شعبان لحبه صلى الله عليه وسلم صيامه فمن صامه نال شفاعته صل الله عليه وسلم يوم القيامة

“Puasa Sya’ban (disunnahkan) karena Rasulullah SAW menyukai puasa pada bulan itu. Siapa yang puasa Sya’ban, dia akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW di hari akhirat kelak.”

Pendapat Syekh Nawawi ini diperkuat oleh banyak hadis dan kesaksian sahabat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri sangat senang melakukan puasa Sya’ban dan memperbanyak puasa di bulan tersebut. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dan Sunan Abu Daud menampilkan sebuah riwayat dari ‘Aisyah, dia berkata:

كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

bulan yang paling Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sukai untuk berpuasa adalah Bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan. (Hadits Abu Daud Nomor 2076)

Dalam riwayat al-Bukhari, ‘Aisyah mengatakan:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnat) kecuali di bulan Sya’ban”. (Hadits Bukhari Nomor 1833)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada bulan ini lebih banyak dibanding pada bulan-bulan lain.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian sering melaksanakan shaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka (tidak shaum), namun beliau juga sering tidak shaum sehingga kami mengatakan seolah-olah Beliau tidak pernah shaum. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnat) kecuali di bulan Sya’ban”. (Hadits Bukhari Nomor 1833 dan Hadits Muslim Nomor 1956)

Begitu pula istri Nabi yang lain Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan;

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

dari [Ummu Salamah] dia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadlan. (Hadits Tirmidzi Nomor 668 dan Hadits Nasai Nomor 2312)

Dalam Haits lain disebutkan,

حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

Ummul Mukminin Aisyah juga meriwayatkan kebiasaan Rasulullah SAW itu dalam sebuah hadits yang berbunyi.

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban. (HR. Bukhari)

Syaikh Muhyidin Mistu, Mushthafa Al-Bugha, dan ulama lainnya mengomentari menjelaskan dalam Nuzhatul Muttaqin, “Berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri. Sekaligus untuk persiapan menghadapi puasa Ramadhan. Selain itu, di bulan Sya’banlah semua amal perbuatan manusia dinaikkan kepada Allah”.

Kedudukan puasa pada bulan Sya’ban dan bulan Syawal sama halnya dengan kedudukan shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah. Meskipun hanya sebagai ibadah sunnah namun memiliki peran penting untuk menutupi kekurangan puasa wajib di bulan Ramadhan. Seperti shalat fardhu, shalat fardhu memiliki shalat sunnah rawatib, yaitu: qabliyah dan ba’diyah. Jadi puasa pada bulan Sya’ban kedudukannya sebagai penyempurna ibadah wajib pada bulan Ramadhan.

Dalam soal berpuasa di bulan Sya’ban tidak ada ketentuan khsus kapan waktu pelaksanaannya, karena hal ini masuk pada perkara ibadah sunnah mutlak atau ibadah pilihan, yaitu suatu ibadah yang mana ummatnya diberi kebebasan untuk mengatur waktu, kadar, dan situasi sesuai dengan keadaannya, selam yang dikreasi tidak terkait dengan syarat dan rukun pokok ibadah tersebut. Oleh karenanya agama memberi keleluasaan kepada umatnya untuk berpuasa kapanpun dia mau dan berapapun dia mampu. Puasa di bulan Sya’ban dapat dilakukan pada awal bulan, pertengahan bulan, atau di akhir bulan. Juga boleh dikerjakan hanya beberapa hari atau satu bulan penuh.

Dengan begitu telah sepakat bahwa memang terdapat dalil yang kuat akan kesunnahan berpuasa pada bulan Sya’ban. Namun begitu terkait dengan bilangan hari berapa seharusnya umat Islam menjalankan berpuasa dalam bulan puasa Sya’ban tersebut, dalam hal ini masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Karena perkara ini tidak ditemukan aturan khususnya dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Terdapat beberapa dalil berapa seharusnya umat Islam menjalankan puasa pada bulan Sy’aban di antaranya merujuk pada salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Nabi bersabda dalam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian sering melaksanakan shaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka (tidak shaum), namun beliau juga sering tidak shaum sehingga kami mengatakan seolah-olah Beliau tidak pernah shaum. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnat) kecuali di bulan Sya’ban”. (Hadits Bukhari Nomor 1833 dan Hadits Muslim Nomor 1956)

Dari keterangan tersebut dapat dipahami, Nabi memberi petunjuk bahwa berpuasa di bulan-bulan mulia termasuk Sya’ban hendaknya dilakukan sebanyak-banyaknya, namun tidak dilakukan secara terus-menerus. Jumhur ulama menghukumi bahwa puasa Nabi dalam bulan Sya’ban dilakukan hanya beberapa hari saja. Nabi bersabda,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ

“dari Abu Salamah dari ‘Aisyah bahwa dia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban, beliau dulu sering berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja bahkan beliau sering berpuasa sebulan penuh.” (Hadits Tirmidzi Nomor 668)

Walaupun puasa pada bulan Sya’ban hukumnya sunnah dan mayoritas dilakukan hanya beberapa hari saja, namun boleh dilakukan secara penuh dalam satu bulan. Nabi bersabda,

كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ إِلَّا قَلِيلًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa (pernah) berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja (Hadits Nasai Nomor 2149 dan Hadits Muslim no. 1156)

Puasa pada bulan Sya’ban hukumnya sunnah, agar sebuah amalan sunnah tidak diasumsikan sebagai ibadah wajib sebaiknya menjelang masuk awal puasa Ramahan tidak berpuasa Sya’ban. Namun larangan dalam hadits di atas bukanlah sebuah keharusan. Pertama, Nabi pernah berpuasa penuh dalam bulan Sya’ban. Kedua, bila seseorang telah memiliki kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu seperti puasa Senin dan Kamis maka tidaklah masalah bila puasanya tersambung hingga masuk bulan Ramadhan. Nabi bersabda,

لَا تُقَدِّمُوا صَوْمَ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ صَوْمٌ يَصُومُهُ رَجُلٌ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الصَّوْمَ

“Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan satu hari atau dua hari, kecuali puasa yang biasa dilakukan oleh seseorang, maka silahkan ia melakukan puasa tersebut!” (Hadits Abu Daud Nomor 1988)

Namun dari semua hari yang ada dalam bulan Sya’ban, hari pada pertengahan bulan yang disebut nisfu Sya’ban yang diyakini lebih istimewa untuk kaum muslimin melaksanakan puasa Sya’ban. Hal ini diasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah. Nabi bersabda,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا

“Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, (Hadits Ibnu Majah Nomor 1378)

Walaupun sangat disunnahkan berpuasa pada hari-hari di bulan Sa’ban, terkait dengan kapan harinya sebaiknya kita berpuasa, hal itu tidaklah penting karena esensinya bukanlah kapan kita berpuasa, namun lebih pada sejauh mana kita ingin memuliakan bulan tersebut untuk mengharap ridha Allah. Nabi bersaba,

حَدَّثَتْنِي مُعَاذَةُ الْعَدَوِيَّةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

“telah menceritakan kepadaku [Mu’adz Al ‘Adawiyah] bahwa ia bertanya kepada [‘Aisyah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah setiap bulan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam selalu berpuasa tiga hari? Ia menjawab: Ya. Aku bertanya lagi kepadanya: Pada tanggal berapa beliau berpuasa? Ia menjawab: Beliau tidak terlalu mempersoalkan pada hari apa saja beliau berpuasa.” (Hadits Muslim Nomor 1974 dan Hadits Tirmidzi Nomor 694)

Dengan begitu, dalam soal berpuasa di bulan Sya’ban tidak ada ketentuan khusus kapan waktu pelaksanaannya, karena hal ini masuk pada perkara ibadah sunnah mutlak atau ibadah pilihan, yaitu suatu ibadah yang mana ummatnya diberi kebebasan untuk mengatur waktu, kadar, dan situasi sesuai dengan keadaannya, selama yang dikreasi tidak terkait dengan syarat dan rukun pokok ibadah tersebut. Oleh karenanya agama memberi keleluasaan kepada umatnya untuk berpuasa kapanpun dia mau dan berapapun dia mampu. Puasa di bulan Sya’ban dapat dilakukan pada awal bulan, pertengahan bulan, atau di akhir bulan. Juga boleh dikerjakan hanya beberapa hari atau satu bulan penuh.

Simpulannya, berpuasa Rajab tidak ada batasan berapa hari yang baik untuk dipuasai. Namun menyesuaikan dengan batas kemampuan setiap orang. Bisa satu hari, tiga hari, satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan penuh. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan dapat dipahami dengan baik.

Memperbanyak Shalat Malam pada Nisfu Sya’ban

Salah satu penyebab bulan Sya’ban istimewa adalah dikarenakan di dalamnya terdapat sebuah waktu yang sangat istimewa, yaitu nisfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.

Kaum muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru. Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan).

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh. Nabi bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1379)

Dalam hadits lain disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu mengampuni manusia sejumlah rambut (bulu) kambing.” (Hadits Tirmidzi Nomor 670)

Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam anugerah, sebab semua permohonan yang dihaturkan kepada Allah akan dikabulkan. Nabi bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1378)

Adapun malam nishfu Sya’ban, sebagaimana hadits di atas ia memang memiliki keutamaan. Imam Al Taqyudin Al Subuki menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban dapat melebur dosa-dosa setahun, dan malam Jum’at dapat melebur dosa-dosa satu minggu dan malam Lailatul Qodar dapat melebur dosa-dosa satu umur.

Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi’in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu Sya’ban. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah karena didasarkan pada keumuman perintah dari banyak hadits yang sahih. Di antaranya,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.’ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.’ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.’ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tak bakalan celaka karena mereka.’ (Hadits Muslim Nomor 4854)

Berkumpul dan membuat perkumpulan untuk berdoa bersama, dzikir bersama dan beribadah bersama sangat dianjurkan. Lebih-lebih hal itu di lakukan pada waktu dan bulan-bulan mulia seperti bulan Sya’ban dan lebih khusus lagi pada nisfu Sya’ban tentunya akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Terkait mayoritas kaum muslimin yang melaksanakan shalat malam dengan berbagai macam cara, entah shalat yang disebut shalat alfiyah karena mereka melaksanakan sebanyak seribu rakaat atau shalat raghaib karena mereka melaksanakan sebanyak 12 rakaat hal itu tidaklah mengapa, sebab; Pertama, mereka yang mengerjakan baik shalat alfiyah maupun shalat raghaib hakekatnya kedua shalat tersebut masih tergolong ke dalam shalat malam yang kebetulan dilaksanakan pada malam nisfu Sya’ban dengan jumlah yang ditingkatkan berharap agar mendapat ridha dan ampunan karena memuliakan bulan Sya’ban. Kedua, tidak ada satupun dalil yang membatasi atau melarang seseorang untuk melaksanakan ibadah sunnah mutlak seperti membaca Al-Qur’an, puasa, dzikir, dan juga shalat malam sebanyak yang dia mampu. Pemahaman ini dapat diambil dari beberapa sabda Nabi berikut,

Membaca sebanyak kita mampu,

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عِشْرِينَ لَيْلَةً قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepdaku: “Bacalah (Khatamkanlah) Al Quran sekali pada setiap bulannya.” Saya berkata, “Saya masih kuat dari itu.” beliau bersabda: “Kalau begitu, pada setiap dua puluh hari sekali.” Saya berkata lagi, “Saya masih kuat kurang dari itu.” beliau bersabda: “Kalau begitu, bacalah (khatamkanlah) pada setiap tujuh hari sekali, dan jangan kamu menguranginya lagi.” (Hadits Muslim Nomor 1964)

Berpuasa sebanyak yang kita mampu,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا نَوْفَلِ بْنَ أَبِي عَقْرَبٍ يَقُولُ سَأَلَ أَبِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّوْمِ فَقَالَ صُمْ يَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي وَأُمِّي زِدْنِي قَالَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زِدْنِي زِدْنِي صُمْ يَوْمَيْنِ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي وَأُمِّي زِدْنِي فَإِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا قَالَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا إِنِّي أَجِدُنِي قَوِيًّا قَالَ فَأَلْحَمَ أَيْ أَمْسَكَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ لَنْ يَزِيدَنِي قَالَ ثُمَّ قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Telah menceritakan kepada kami [‘Affan], telah mengabarkan kepada kami [Al Aswad bin Syaiban] ia berkata; aku mendengar [Abu Naufal bin Abu ‘Aqrab] berkata; [Ayahku] bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentang puasa, lalu beliau bersabda: “Puasalah sehari setiap bulan!.” Lalu ia meminta tambah seraya berkata; “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, aku lebih kuat -melakukan lebih dari itu- maka tambahkanlah untukku!.” Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “tambahkan, tambahkan, berpuasalah dua hari setiap bulan.” Dia berkata lagi; “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, tambahkanlah untukku, karena aku lebih kuat -melakukan lebih dari itu-.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh aku masih kuat, sungguh aku masih kuat, sungguh aku masih kuat.’ Beliau tetap mendesak maksudnya menahan hingga aku menyangka beliau tidak akan menambahkan lagi untukku, ” ayahku berkata; “Kemudian beliau bersabda: “Puasalah tiga hari setiap bulan.” (Hadits Ahmad Nomor 19742)

Berdzikir sebanyak yang kita mampu,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa [berdzikir] shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Terserah.” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: Dua pertiga?”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2381)

Dari beberapa hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam soal kaum muslimin hendak menjalankan ibadah-ibadah sunnah mutlak tidak ada pembatasan. Jabi bilamana ada pihak-pihak yang mencoba membatasi berapa jumlah ibadah sunnah mutlak hal itu tentunya sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam bilamana golongan yang melarang umat Islam lainnya tanpa juga disertai dengan dalil yang jelas.

Jangan kau haramkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh agama. Allah berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Surat An-Nahl Ayat 116)

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Orang muslim yang paling besar dosanya terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang mempertanyakan (mempertentangkan) sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu tersebut diharamkan.” (Hadits Muslim Nomor 4349)

Ayat dan hadits tersebut sangat jelas bahwa melarang tanpa didasari dalil yang jelas terhadap sesuatu amalan yang didasarkan pada dalil-dalil umum hukumnya dosa besar dan terlaknat. Jadi jangan mudah sedikit-dikit menuduh amalan kaum muslimin lain tanpa didasari dalil yang shahih (pasti) dan sharih (jelas) hal tersebut berarti kita telah melampaui wewenang Allah dan Nabi. Karena di samping ada wilayah halal yang berdasarkan dalil pasti dan wilayah haram yang berdasarkan dalil pasti ternyata ada wilayah mubah, di mana umat muslim diberi kebebasan untuk berkreasi sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Nabi bersabda,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang (sudah jelas ada dalilnya) dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah (sudah jelas ada dalilnya) apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan (tidak ada dalilnya) adalah sesuatu yang Dia maafkan”. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Dengan demikian, sebaiknya kita tidak mudah mempersoalkan amalan pihak lain selama; Pertama, kita tidak memiliki landasan dari dalil yang jelas-jelas melarangnya. Kedua, selama mereka melakukan tersebut masih didasari oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits walaupun dalil-dalil yang bersifat umum atau dalil-dalil yang dianggap lemah sepanjang kelemahannya tidak terlalu dan sepanjang amalan yang dilakukan hanya persoalan fadhailul a’mal dan bukan perkara hukum dan aqidah.

Daripada energi umat Islam dihabiskan untuk suatu pertentangan di mana masing-masing merasa memiliki dalilnya, maka lebih baik jalankan amalan sesuai yang diyakininya masing-masing tanpa harus mempersoalkan amalan orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.

Membaca Al-Qur’an

Bulan Sya’ban juga disebut sebagai bulan Al-Qur’an, sebab pada bulan ini para Salafus Shalih akan lebih giat dan memperbanyak membaca Al-Qur’an manakala telah memasuki bulan Sya’ban. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Begitu pula yang dilakukan oleh ‘Amr bin Qais rahimahullah apabila beliau memasuki bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan mengosongkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an. (Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 138)

Dengan membaca Al-Qur’an terutama bila dibaca bersama-sama dalam sebuah perkumpulan tentunya pahala yang akan didapat berlipat ganda serta akan diliputi banyak rahmat. Nabi bersabda dalam sebuah Hadits,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ… عَلَى الْمُعْسِرِ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.’ … memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan.’ (Hadits Muslim Nomor 4867)

Dari hadits di atas dapat diambil sebuah pengertian bahwa Sebelum kita menyesal ditinggal bulan Sya’ban dan nisfu Sya’ban yang sangat mulia ini, marilah kita memperbanyak amal ibadan dan amal  shalih. Juga sebagai bentuk jariah, kita ajak keluarga, saudara, dan tetangga untuk menghidupkan perkumpulan-perkumpulan kebaikan, baik di rumah, di majlis kebaikan maupun di rumah-rumah Allah dengan memperbanyak qiyamul lail, dzikir, doa, istighatsah dan membaca Al-Qur’an, insyaallah kita akan mendapatkan rahmat Allah amin.

Menghindari perbuatan syirik dan murtad

Bulan Sya’ban adalah bulan ampunan, di mana Allah akan mengampuni semua hambanya kecuali mereka yang tidak beriman kepada Allah, tidak berbuat kesyirikan, dan keluar dari Islam.

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1380)

Sebagian ulama menafsiri kata musyahin dengan permusuhan antar sesama manusia. Penafsiran tersebut berdasarkan sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Haditsnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ فِي كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis. Maka Allah mengampuni dosa setiap hamba-Nya yang tidak musyrik, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya (sesama muslim). Maka dikatakan kepada mereka; Tunggulah dahulu kedua orang ini hingga berdamai! Tunggulah dahulu kedua orang ini hingga berdamai!” (Hadits Muslim Nomor 4653)

Maha benar Allah dengan segala janjinya, pergunakanlah bulan Sya’ban untuk memohon peleburan segala dosa dan taubat dengan berbagai macam amal ibadah seperti berdoa dan istighatsah. Meningkatkan silaturahim kepada mereka yang mungkin kita pernah berbuat salah untuk kita meminta maaf kepadanya.

Mengerjakan amalan-amalan shalih

Seluruh amalan shalih disunnahkan dikerjakan di setiap waktu. Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika di bulan Ramadhan. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Sya’ban adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan:

مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.

“Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.” (Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 130.)

Di antara amalan-amalan kebaikan yang dapat dilakukan dan lebih ditingkatkan dalam bulan Sya’ban ini adalah sebagai berikut,

Bersedekah

Bersedekah meskipun dengan setengah biji kurma sehingga Allah akan mengharamkan badan kita dari api jahanam. Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as pernah ditanya tentang keutamaan berpuasa di bulan Rajab. Beliau berkata,

“Mengapa kalian lupa dengan puasa di bulan Sya’ban?” Perawi berkata, “Wahai putra Rasulullah, apakah pahala orang yang berpuasa satu hari di bulan Sya’ban?” “Demi Allah, surga adalah pahalanya,” tegas beliau. Ia bertanya kembali, “Wahai Putra Rasulullah, apakah amalan terbaik di bulan ini?” Beliau berkata, “Bersedekah dan istighfar. Sesiapa bersedekah di bulan Sya’ban, Allah Swt akan memelihara sedekah tersebut sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak untanya sehingga pada hari kiamat sedekah tersebut sampai di tangan pemiliknya seperti Gunung Uhud besarnya.”

Senada dengan hadits di atas bahwa sedekah memiliki banyak keutamaan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik berikut,

مَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا طَيِّبًا كَانَ إِنَّمَا يَضَعُهَا فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ يُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dari usaha yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya dia telah meletakkannya di telapak tangan Yang Maha Pengasih. Allah akan memeliharanya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya, hingga (sedekah itu) menjadi seperti gunung.” (Hadits Malik Nomor 1581)

Bersedekah itu sendiri sudah merupakan amal kebaikan, apalagi dilakukan pada waktu-waktu istimewa seperti pada bulan Sya’ban, hal ini tentunya akan berlipat ganda pahala sedekah yang kita lakukan.

Dengan banyaknya orang yang berpuasa di bulan Sya’bân ini maka banyak pula peluang bagi orang baik yang memiliki kecukupan untuk bersedekah kepada mereka yang berpuasa, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa (untuk berbuka), dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (Hadits Tirmidzi Nomor 735)

Begitu pula bagi yang merasa selalu berbuat dosa maka ini peluang besar baginya untuk membersihkan dosa-dosanya dengan bersedekah, berkata Allâh Subahânahu wa Ta’âlâ:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima berbagai sedekah dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (Surat At-Taubah Ayat 104)

Bersedekah pada bulan Sya’ban ini pada hakikatnya kedudukannya sama dengan sedekah-sedekah pada bulan lain, hanya saja walaupun sama dengan bulan lain pahalanya lebih banyak dikarenakan diniatkan untuk menyambut dan memuliakan bulan yang dimuliakan Allah ini.

Sedekah yang diberikan dapat berupa bahan makanan pokok atau makanan yang sudah matang, baik sedekah untuk diri sendiri maupun sedekah untuk orang-orang yang kita cintai yang sudah meningal dunia. Nabi bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَلِي أَجْرٌ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“’dari [‘Aisyah], bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan saya kira jika dia dapat bicara dia akan bersedekah, apakah saya juga akan mendapatkan pahala jika saya bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 3082)

Bersedekahlah sebanyak kita mampu, apalagi bersedekah di waktu-waktu mulia seperti pada bulan Sya’ban yang disucikan oleh Allah.

Ziarah Qubur

Amalan baik yang juga akan semakin baik bila dilakukan pada bulan baik seperti pada bulan Sya’ban adalah berziarah kubur, terutama kepada orang tua kita, kepada guru-guru kita, dan kepada orang-orang shalih semasa hidupnya. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Nabi berziarah setiap tahun pada bulan Sya’ban untuk mengenang keluarga, kaum muslimin, dan jasa-jasa perjuangan dari mereka para syhuhada di pemakaman Baqi’. Hal ini dapat kita ketahui dari banyak hadits yang diriwayatkan oleh banyak sahabat berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“dari [‘Aisyah] ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada (berziarah) di pemakaman Baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit (seraya berdoa), beliau lalu bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?” ia menjawab, “Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. ” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1379)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“dari [‘Aisyah] dia berkata, Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu saya keluar, ternyata saya dapati beliau sedang berada (berziarah) di pemakaman Baqi’, beliau bersabda: ” Apakah kamu takut akan didzalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” saya berkata, wahai Rasulullah, saya mengira tuan mendatangi sebagian istri-istrimu, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu mengampuni manusia sejumlah rambut (bulu) kambing.” (Hadits Tirmidzi Nomor 670)

Terkait ada segolongan umat Islam yang mempersoalkan amalan orang lain yang lebih meningkatkan ziarah quburnya pada bulan Sya’ban karena mencontoh sunnah Nabi, hal tersebut tidaklah berdasar karena Nabi sendiri sangat jelas berziarah pada bulan Sya’ban. Di samping itu tidak ada larangan untuk kita berziarah pada bulan Sya’ban, apalagi hukum berziarah itu sendiri boleh dan bahkan sangat dianjurkan karena terdapat banyak hikmah di dalamnya.

Ziarah kubur akan menambah banyak kebaikan. Nabi bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari tiga hal; ziarah kubur, sekarang berziarahlah, semoga dengan berziarah akan menambah kebaikan. (Hadits Nasai Nomor 5559)

Dengan ziarah qubur akan mengingatkan kematian. Nabi bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Dengan ziarah qubur akan mengingatkan kita pada kehidupan akhirat. Nabi bersabda,

وَمَنْ أَرَادَ زِيَارَةَ الْقُبُورِ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

“Siapa ingin menziarahi kubur, maka itu akan mengingatkan kepada hari akhirat. (Hadits Nasai Nomor 5557)

Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa berziarah kubur sangat dianjurkan karena banyak kebaikan yang timbul darinya, apalagi dilakukan pada bulan mulia Sya’ban. Terkait ada sebagian besar kaum muslimin berziarah qubur dengan berbagai macam istilah seperti nyadran, arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar JawaTimur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Hal ini hanyalah perbedaan sebuah istilah di masing-masing daerah, namun hakikatnya adalah tetap ziarah kubur. Dan hal tersebut tidaklah mengurangi keutamaan ziarah kubur itu sendiri karena dalilnya sangat sahih dan sangat sharih.

Bagi golongan yang mempersoalkan ziarah kubur, lebih-lebih berziarah yang dikhususkan pada bulan Sya’ban juga tidak memiliki hujjah, mereka hanya menggunakan argumen yang dibuat-buat sendiri dengan mengatakan “amalan ziarah kubur pada bulan Sya’ban tidak ada pada zamanNabi”. Argumentasi semacam ini bukanlah dalil yang dibenarkan, namun ini disebut retorika yang mereka buat sendiri, padahal mereka seringkali menuduh amalan pihak lain tidak absah karena tidak menggunakan dalil. Padahal golongan mereka sendiri yang sering tidak konsisten dengan melarang-larang amalan pihak lain bukan menggunakan dalil namun hanya menggunakan nalar logika yang mereka buat-buat sendiri.

Dan bukan hanya yang disebut di atas saja amalan baik yang dapat dilakukan dan lebih ditingkatkan pada bulan Sya’ban. Masih banyak lagi amalan-amalan yang dapat dilakukan pada bulan Sya’ban di mana amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya, seperti silaturahmi, meningkatkan kebersihan kampung, rumah, melaksanakan umrah, dan lain sebagainya.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke