Menghormat dan Menyelamatkan Ibadah Ramadhan

KHUTBAH JUM’AT

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ ضَاعَفَ فِىْ رَمَضَانَ الْحَسَنَاتِ، وَمَحَا فِيْهِ الْخَطِيْئَاتِ، وَرَفَعَ عَلَى الصَّائِمِيْنَ دَرَجَاتٍ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَجْزَلَ ثَوَابِ الْمُطِيْعِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِدَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِىْ اِلَى الْخَيْرَاتِ وَتَرْكِ الْمَنْهِيَّاتِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ الْحِسَابِ، اَمَّا بَعْدُ

فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Mulia

Saya wasiyat untuk pribadi saya beserta para hadirin semua. Mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan cara berusaha sekuat tenaga melakukan semua perintahNya dan menjahui larangan-larangaNnya.

Hadirin sidang Jum’ah yang berbahagia

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Ramadhan merupakan bulan mulia, bulan utama serta banyak berkah yang terkandung di dalamnya. Barang siapa memuliakannya, maka akan mendapat keberkahan yang setimpal melebihi kadar hormatnya pada bulan suci tersebut. Nabi bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan Ramadlan (memuliakan) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Hadits Bukhari Nomor 36 dan Hadits Muslim Nomor 1268)

Hadirin Jamaah Jum’ah Yang Mulia

Berdasarkan hadits tersebut, di samping kita harus melaksanakan kewajiban puasa, zakat dan lain sebagainya, mari kita berusaha sekuat-kuatnya, di bulan suci Ramadhan ini kita menghormati Ramadhan dengan menggunakan kesempatan sebaik mungkin dengan cara mengisi berbagai macam ibadah sunnah dengan harapan kita mendapat ridlo Allah SWT.

Hadirin Yang Berbahagia

Adapun di antara sunnah yang perlu kita perhatikan adalah bersegera dalam buka puasa dan mengakhirkan sahur. Keduanya memang cukup sering kita laksanakan, namun alangkah lebih tepatnya jika kita sertai niat dalam melakukannya dalam rangka mengikuti perilaku Nabi kita Muhammad SAW.

Selain itu ada pula yang cukup penting kita perhatikan adalah tentang nilai spiritual dan sikap pribadi yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sabda Nabi Muhammad SAW,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1680)

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الظَّمَأُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Berapa banyak orang yang melaksanakan puasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali dahaga. Berapa banyak orang yang beribadah di malam hari, namun ia tidak mendapatkan apapun dari ibadanya selain hanya begadang.” (Hadits Darimi Nomor 2604)

Dalam kitab Al Fawaidul Mukhtaroh disebutkan karena apa manusia yang berpuasa sampai tidak mendapatkan pahala ? para ulama menjelaskan sebagai berikut :

Pertama, Dia berpuasa namun melakukan hal yang menggugurkan pahalanya,

خَمْسُ خِصَالٍ يُفْطِرْنَ الصِّيَامَ وَيُنْقِضُ الْوُضُوْءَ، اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ،

Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa dan wudlu’, yaitu bohong, menggunjing, adu domba, melihat dengan syahwat serta sumpah palsu

Kedua, Dia berpuasa karena ingin dinilai orang lain selain Allah, itulah riya’. Barang siapa yang berpuasa, dan dalam puasanya terkandung unsur pamer atau riya, maka puasa itu tida ada harganya di sisi Allah SWT. karena riya sesungguhnya mengandung unsur kemusyrikan. Yaitu menyekutukan tujuan berpuasa. Tidak semata-mata karena Allah, tetapi juga karena yang lain. Sebagaimana difirmankan Allah swt dalam al-Kahfi 110,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Surat Al-Kahf Ayat 110)

Ketiga, Berbangga diri. Ia merasa hebat, merasa lebih baik dari orang lain yang tak berpuasa,

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسـول الله صلى الله عليه و سلم قال: فَأَمَّا اْلمـُهْلِكَاتُ فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ اْلمـَرْءِ لِنَفْسِهِ

Dari Ibnu Umar radliyalllahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath)

Ujub terjadi apabila seseorang itu merasa kagum akan kelebihan diberikan llahi kepada dirinya, lalu kekaguman itu menumbuhkan rasa istimewa dalam hatinya jika dibandingkan dengan orang lain. Lantas dirinya merasa hebat dengan apa yang diberikan Allah lantas terpesona dengan kelebihan dan kebolehannya itu sendiri. Dalam sebuah hadits juga disebutkan,

أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa, ” lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda: ” Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan keridloanNya.” (Hadits Nasai Nomor 3089)

  1. Ia berbuka puasa dengan makanan haram

Agama Islam Islam sangat memperhatikan perkara halal-haram dalam apa yang dikonsumsinya dari makanan dan minuman? Karena makanan yang halal menjadi penyebab diterimanya amal ibadah dan dikabulkannya doa. Sebaliknya, sesuatu yang haram menyebabkan tidak diterimanya amal dan dikabulkannya doa. Oleh sebab itu, setiap perkara yang menghalangi dari diterimanya ibadah hendaklah dihindari. Nabi bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686)

Hadirin Yang Mulia

Mari kita berdoa, semoga kita, keluarga kita benar-benar mendapat berkah Ramadhan, diberi ringan menjalankan aktifitas ibadah, mendapat ridlo Allah SWT dan pada akhirnya kita mati husnul khotimah, masuk sorga Allah SWT, amin ya Robbal Alamin.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

امَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Oleh KH. Muhammad Shofi Al Mubarok

Nuline, Jakarta, Kamis, 02 Juli 2015

Bagikan Artikel Ini Ke