Menghitung Dzikir Menggunakan Alat Tasbih

Dzikir merupakan salah satu amalan dalam agama Islam yang telah disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya. Dzikir adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam berbagai situasi dan keadaan. Sebab manusia merupakan makhluk yang lemah dan membutuhkan ketergantungan dengan Khaliq-nya. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang mewajibkan umat Islam berdzikir. Di antaranya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 41)

Sebagaimana juga yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdzikir,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ الذِّكْرَ وَيُقِلُّ اللَّغْوَ وَيُطِيلُ الصَّلَاةَ وَيُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ وَلَا يَأْنَفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ لَهُ الْحَاجَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memperbanyak dzikir dan sedikit melakukan perbuatan sia-sia. Beliau juga memperpanjang shalat dan mempersingkat khutbah, serta tidak sungkan untuk berjalan bersama para janda dan orang-orang miskin lalu memenuhi kebutuhannya.” (Hadits Nasai Nomor 1397)

Berarti hukum mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib dan mengamalkan dzikir adalah sunnah, sebab sangat banyak manfaat yang akan didapat oleh setiap mukmin dan muslim. Di samping sebagai ladang pahala, dzikir akan menyelamatkan para pengamalnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga;

Hukum Menghitung Dzikir Menggunakan Tasbih

Hitungan dalam berdzikir

Walaupun dzikir tidak dibatasi dengan jumlah hitungan, namun ada beberapa situasi di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengjitung jumlah dzikirnya. Berikut jumlah hitungan dzikir yang tertera dalam beberapa riwayat Hadits,

Dzikir dengan jumlah tiga kali

قَالَ ذَلِكَ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ ذَكَرَ اللَّهَ وَسَبَّحَهُ وَحَمِدَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهَا بِمَا شَاءَ اللَّهُ فَعَلَ هَذَا حَتَّى فَرَغَ مِنْ الطَّوَافِ

Beliau mengucapkan hal tersebut (LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI IN QADIIR) sebanyak tiga kali, kemudian berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya serta memujinya kemudian berdoa di atasnya dengan yang dikehendaki Allah, beliau melakukan hal ini hingga selesai dari thawafnya. (Hadits Nasai Nomor 2925)

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majlisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majlis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: ‘ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu).” (Hadits Abu Daud Nomor 4216)

Dzikir dengan jumlah sepuluh kali

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يُسَبِّحُ أَحَدُكُمْ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَهِيَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ فِي اللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ وَإِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ أَوْ مَضْجَعِهِ سَبَّحَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَهِيَ مِائَةٌ عَلَى اللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ

“Ada dua perkara yang jika dilakukan oleh orang muslim maka ia masuk surga. Kedua perkara tersebut ringan, namun jarang yang mengamalkannya.” Abdullah bin ‘Amru melanjutkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda lagi: ‘Shalat lima waktu lalu setiap selesai shalat bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Semua hal tersebut bernilai seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus di mizan (timbangan amal di akhirat). Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghitung dzikir dengan jari-jarinya, lalu bersabda: ‘Jika kalian hendak menuju kasur atau tempat tidur, hendaklah bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, serta bertakbir tiga puluh empat kali, maka hal itu bernilai seratus kali di lisan dan seribu di mizan.” (Hadits Nasai Nomor 1331)

Dzikir dengan jumlah tiga puluh tiga kali

مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ يُسَبِّحُ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيَحْمَدُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيُكَبِّرُهُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

“Ada beberapa dzikir setelah shalat yang tidak merugikan bagi orang yang mengucapkannya, yaitu setiap selesai shalat bertasbih kepada Allah tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, serta bertakbir kepada Allah tiga puluh empat kali.” (Hadits Nasai Nomor 1332)

Dzikir dengan jumlah tujuh puluh kali

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Dzikir dengan jumlah seratus kali

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ

“Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadir Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (Hadits Bukhari Nomor 5924)

إِنَّهُ لَيُغَنُّ عَلَى قَلْبِي حَتَّى أَسْتَغْفِرَ اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sungguh, kalbuku akan terasuki kelalaian dari dzikir kepada Allah, sehingga saya beristighfar kepada Allah seratus kali.” (Hadits Ahmad Nomor 17175 dan Hadits Muslim Nomor 4870)

Hukum menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih”

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa perintah dzikir sebanyak-banyaknya tidak menghalangi seseorang untuk menghitung seberapa banyak jumlah dzikir yang telah dibacanya. Namun persoalannya adalah antara harapan untuk khusu’ dalam berdzikir menjadi berbenturan dengan maksud untuk menghitung seberapa banyak jumlah hitungan dzikir yang telah kita baca menyebabkan pecahnya konsentrasi. Dalam menyikapi hal ini sebagian besar orang islam menggunakan alat bantu berdzikir seperti “tasbih” atau alat lainnya utuk memudahkan dalam menghitung dzikir.

Namun sayangnya, Syaikh Albani dan golongan Salafi mengatakan bahwa dzikir banyak dengan jumlah tertentu menggunakan alat hitung “tasbih” adalah bid’ah. Bagi Albani semua bid’ah adalah sesat dan masuk neraka. Maka orang yang berdzikir banyak akan masuk neraka.

Syaikh Nashiruddin al-Albani sendiri adalah seorang ulama Hadits yang dijadikan rujukan oleh golongan Salafi atau lebih dikenal dengan golongan Wahabi, namun tidak diakui dan ditolak keulamannya oleh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Kalangan Sunni menolak keulamaan Syaikh Albani karena beberapa hal di antaranya keilmuan Syaikh Albani tidak bersanad (bersambung) sebab dalam belajar ilmu haditsnya tanpa guru (otodidak), dan fatwa-fatwanya di samping banyak menyelisihi ijma para ulama juga antara satu fatwa dengan fatwa lainnya saling bertentangan.

Berdzikir telah jelas manfaat dan pahalanya. Dan menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih” sudah biasa kita lihat dilakukan oleh banyak kaum muslimin. Namun ketika Syaikh Albani dan golongan Salafi menghukumi menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih” sebagai sesuatu amalan yang bid’ah, tentunya hal ini tidaklah benar.

Di antara pertimbangan pendapat Albani dan kaum Salafi tidaklah tepat adalah kenyataannya pada masa Salaf terdahulu para sahabat dan tabi’in sudah terbiasa menggunakan alat hitung tasbih untuk berdzikir. Tindakan para sahabat dan Salafus Shalih ini ternyata sangat dibenarkan oleh Nabi. Sebagaimana yang tergambar jelas dalam sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“dari [Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash] dari [ayahnya] bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui seorang wanita dan dihadapannya terdapat biji kurma, atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih. Kemudian beliau berkata: “Maukah aku kabarkan kepadamu mengenai apa yang lebih ringan bagimu dari hal ini atau lebih baik? Yaitu mengucapkan; SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA BAINA DZALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHALIQUN. ALLAAHU AKBAR MITSLA DZALIK, WAL HAMDULILLAAHI MITSLA DZAALIK, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLA DZAALIK. (Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan di langit, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptaan di bumi, Maha Suci Allah sebanyak apa yang ada diantara hal itu, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, Allah Maha Besar sebanyak itu, segala puji bagi Allah sebanyak itu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah sebanyak itu). (Hadits Tirmidzi Nomor 3491 dan Hadits Abu Daud Nomor 1282)

Hadits tersebut derajatnya shahih (dapat dilihat dalam kitab ‘Aunul Ma’bud jilid IV hal 366). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits di atas menetapkan jumlah bilangan dzikir. Tidak dijelaskan secara langsung, melainkan menggunakan sya’ir. Hadits ini juga menjadi dasar atas bolehnya bertasbih dengan menggunakan alat tasbih (semacam biji kurma, kerikil dan lain sebagainya), karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjumpai seorang perempuan yang berdzikir dengan benda-benda semacam itu, beliau tidak mengingkari dan tidak melarangnya.

Kata yang Rasul sampaikan pada saat itu adalah أخبرك بما هو أيسر عليك من هذا أو أفضل “Akan kuberitahu kepadamu tentang sesuatu yang lebih mudah dan lebih utamadari hal ini”. Kata ini mengandung Irsyad (petunjuk). Sebuah arahan kepada perkara yang lebih utama, tidak menghilangkan kebolehan bertasbih dengan alat tasbih. (Lihat: Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jilid IV, hal.366. Tuhfatul Ahwadzy Syarh Jami’ Turmudzi , Juz 9 hal. 366)

Dalam Hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ

“Hendaklah kalian bertasbih, tahlil dan taqdis (mengucapkan subhanal malikil qudus dan hitunglah dengan jari jemari, karena hal itu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap (apa yang ia lakukan) dan apa yang ia ucapkan. Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat (Allah).” (Hadits Tirmidzi Nomor 3507 dan Hadits Abu Daud Nomor 1283)

*Taqdis ialah ucapan سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ atau سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa ujung jari akan dimintai pertanggung jawaban dan akan ditanya, hal ini mengandung arti bahwa ujung jari tersebut menyaksikan tasbihnya seorang hamba, maka bertasbih dengannya adalah lebih utama dari pada bertasbih dengan alat tasbih. (Lihat: Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jilid IV, hal. 366).

Di sini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Maukah aku kabarkan kepadamu mengenai apa yang lebih ringan bagimu dari hal ini atau lebih baik?” bukan berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatasi atau melarang bertasbih dengan menggunakan alat hitung “tasbih”, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya hendak menunjukkan alat dzikir tasbih yang lebih baik, lebih ringan, dan lebih praktis digunakan dalam kondisi dan situasi apapun dibanding harus repot-repot membawa alat hitung kemana-mana, yakni jari tangan. Pemberi tahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan keutamaan berdzikir menggunakan tangan sebab, tangan yang dipergunakan dzikir akan menjadi saksi kelak di akhirat.

Hakim bin Ad-Dailamy mengatakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash bertasbih dengan menggunakan kerikil. Ibnu Sa’ad mengatakan dalam Thabaqat bahwa Fatimah binti Husain bin Ali bin Abi Thalib juga bertasbih dengan tali yang diikat (dibuat simpul-simpul). Ibnu Sa’ad juga mengatakan bahwa Abu Hurairah bertasbih dengan menggunakan biji kurma yang dikumpulkan, dan ia memiliki benang yang dibuat seribu ikatan, ia tidak tidur kecuali setelah bertasbih dengannya. (Tuhfatul Ahwadzy Syarh Jami’ Turmudzy, Juz 9 hal. 367)

Dengan begitu tuduhan dan dakwahan Syaik Albani terhadap penggunaan alat hitung dzikir “tasbih” tidaklah dibenarkan sebab bertentangan dengan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ijma ulama.

Kemudian, di hadits lain beliau shallla Allahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda;

مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ فِي آخَرِينَ قَالُوا حَدَّثَنَا عَثَّامٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ

“[Muhammad bin Qudamah] diantara orang-orang yang lain, mereka berkata; “Telah menceritakan kepada Kami [‘Atstsam] dari [Al A’masy] dari [‘Atho` bin As Saib] dari [ayahnya] dari [Abdullah bin ‘Amr], ia berkata; aku melihat Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam menghitung tasbih. Ibnu Qudamah berkata: yaitu dengan tangan kanannya.” (Hadits Abu Daud Nomor 1284)

Dari hadits ini dapat diketahui bahwa segala bentuk kebajikan, Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mendahulukan (mengutamakan) tangan kanan dari pada tangan kiri.

Bedasarkan penjelasan di atas dapat dismpulkan bahwa Dzikir termasuk ibadah yang masyru’ (disyari’atkan). Dan meskipun berdzikir lebih utama dilakukan dengan tangan kanan, namun bukan berarti berdzikir menggunakan alat tasbih itu sesuatu yang dilarang Nabi. Karena menggunakan alat hitung tasbih tidak ada dalil satupun yang melarangnya. Bilapun ada yang melarang dan disandarkan atas nama agama, maka itu hanya pendapatnya sendiri dan hal itu merupakan sejatinya bid’ah. Karena pengertian bid’ah yang lebih tepat bukan karena beramal yang tidak ada dalilnya, melainkan berdalil yang tidak ada dasarnya namun disandarkan pada agama.

Jadi, dengan begitu fatwa Syaikh Albani adalah bid’ah tersubut fatwa yang bid’ah. Maksud bid’ah fatwanya di sini adalah bahwa Syaikh Albani telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Untuk menyempurnakan pemahaman, baca juga artikel yang terkait berikut,

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Demikian, semoga bermanfaat, amin. Jazakallah Khair.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad. Dikembangkan dari artikel “Bid’ahkah Berdzikir Memakai “Tasbih”?. kiblat.net

Bagikan Artikel Ini Ke