Menghemat Air Dalam Ibadah Juga Merupakan Kesunnahan Agama

Menjaga kebersihan dan kesucian merupakan ajaran yang sangat penting dalam ajaran agama Islam. Hal ini terlihat dari beberapa nash berikut;

Agama Islam itu agama yang bersih,

اَﻻِسْلَامُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَاِنَّهُ ﻻَيَدْحُلُ الْجَنَّةَ اﻻَّ نَظِيْفٌ ٠﴿ﺮﻭﺍﻩ ﺍلبيهقى﴾

“Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”” (HR. Baihaqi)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Surat Al-Baqarah Ayat 222)

Jangan kamu shalat sedang kamu dalam keadaan tidak suci,

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ

“(jangan pula hampiri mesjid untuk shalat) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (Surat An-Nisa’ Ayat 43)

Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka berwudlu’lah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Bersihkanlah pakaianmu,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“dan bersihkanlah pakaianmu,” (Surat Al-Muddassir Ayat 4)

Dianjurkan bangun tidur untuk membasuh tangan,

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Dan jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam bejana air wudlunya, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam.” (Hadits Bukhari Nomor 157)

Cucilah pakaian menggunakan pewangi,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ دَمِ الْحِيضَةِ يَكُونُ فِي الثَّوْبِ فَقَالَ اغْسِلِيهِ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَحُكِّيهِ بِضِلَعٍ

“Aku pernah bertanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang darah haid yang mengenai pakaian, beliau menjawab: “Cucilah dengan air dan sidr (sejenis tumbuhan-tumbuhan beraroma wangi yang ditumbuk dan dikeringkan, biasanya dipakai untuk campuran mencuci), dan keriklah dengan kayu (atau sejenisnya) “. (Hadits Darimi Nomor 1001)

Bersuci adalah setengah dari iman,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci adalah setengah dari iman,” (Hadits Muslim Nomor 328)

Bahkan ajaran ini salah satu pembeda dengan ajaran agama lain. Di mana sudah kita ketahui pada agama lain ajaran tentang menjaga kebersihan dan kesucian bukan terlalu menjadi prioritas, atau bahkan tidak diajarkan sama sekali. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَهِّرُوْا أَفْنِيَتَكُمْ فَإِنَّ الْيَهُوْدَ لاَ تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah halaman rumah kalian. Sebab orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah mereka “ (Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath 11/2 dari Al-Jam’u Baina Zawaidil-Mu’jamain).

Namun ketahuilah bahwa walaupun Islam mengajarkan menjaga kebersihan dan kesucian tidaklah kemudian menyebabkan Islam sebagai agama membenarkan ummatnya berprilaku sesukanya dan bertindak boros dan berlebihan dalam menggunakan dan memanfaatkan air. Islam mengajarkan umatnya untuk bijaksana dalam menggunakan sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita. Seperti ketika datangnya musim hujan kita tidak meniru perilaku kebanyakan dari manusia yang menyia-nyiakan air yang sangat melimpah ruah di mana-mana.

Air hujan merupakan rezeki yang Allah berikan kepada makhluk ciptaa-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Salah satu fungsi hujan diturunkan adalah untuk mensucikan umat manusia. Allah subhaanahu wa taala berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu”. (Surat Al-Anfal Ayat 11)

Namun kenyataannya tidak semua dari hambanya di muka bumi ini memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati anugerah dan rizki berupa air tersebut. Saat ini banyak daerah di belahan bumi ini yang sedang mengalami kekeringan. Jangankan untuk mengairi sawah atau mencuci baju, untuk mandi bahkan minum sekalipun mereka sangat kekurangan. Tidak elok rasanya bila kita membuang-buang air bersih apalagi yang didapatkan dengan gratis seperti di tempat wudhu masjid.

Hal ini dilakukan bukan semata untuk berhemat, namun sebagai bentuk simpati dan empati dari sisi kemanusiaan kita pada penduduk bumi yang sedang kekurangan bahkan kesulitan air. Maka dari itu, kita sebagai hamba yang bersyukur harus bisa memanfaatkan air itu dengan sebaik dan sebijak mungkin.

Salah satu ajaran agama Islam adalah berwudhu sebelum mengerjakan ibadah shalat. Jika kita barada dalam kondisi berhadats (tidak suci), kemudian hendak melaksanakan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu. Maka, shalat kita tidak akan sah, karena syaratnya orang yang shalat ialah dalam keadaan suci. Maka dari itu berwudhu merupakan hal yang sangat penting saat akan melaksanakan ibadah kepada Allah.

Perlu kita ketahui bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana cara untuk menghemat air agar tidak boros dalam penggunaannya. Seperti yang telah tercantum dalam hadits berikut ini;

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ (empat mud) hingga lima mud.” (Hadits Bukhari Nomor 194 dan Hadits Muslim Nomor 490)

Satu sha’ sama dengan empat mud. Satu mud kurang lebih setengah liter atau kurang lebih (seukuran) memenuhi dua telapak tangan orang dewasa. (Shahih Fiqh  sunah 1/126 dan Shifat Wudhu Nabi, hal. 37.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan cara untuk menghemat air ketika beliau hendak melaksanakan ibadah, kemudian bagaimana jika kita mengunakan air untuk selain kebutuhan ibadah kepada Allah SWT?. Pastinya kita harus lebih menghemat serta menggunakannya sesuai dengan kebutuhan tanpa menyia-nyiakannya untuk keperluan yang tidak penting.

Patutlah kita mencontoh suri tauladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mana beliau hanya menggunakan satu mud air untuk berwudhu. Menjaga kesucian dan kebersihan memang penting, namung lebih penting lagi adalah menjaga alam semesta dari kehancuran disebabkan perilaku boros kita jauh lebih penting. Allah subhaanahu wa taala berfirman,

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;” (Surat Asy-Syu’ara’ Ayat 183)

Namun sayangnya rasa empati dan simpati dari kalangan umat Islam terlihat rendah. Hal ini nampak sangat terlihat dari perilaku kebanyakan umat Islam, dengan alasan kesucian dan dengan alasan jumlah air berlimpah sehingga menggunakan air di masjid-masjid sesukanya. Apalagi ketika seseorang dijangkiti penyakit was-was, mereka berwudhu’ berulang-ulang. Bahkan kran air tidak ditutup sempurna sehingga air terus mengalir sepanjang hari ketika ditinggalkan. Perilaku berlebih-lebihan sangat dibenci Nabi, hal ini terihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَتَوَضَّأُ فَقَالَ لَا تُسْرِفْ لَا تُسْرِفْ

“dari [Ibnu Umar] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang lelaki yang sedang berwudlu, kemudian bersabda: “Jangan berlebih-lebihan, jangan berlebih-lebihan.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 418)

Ikutilah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan (menggunakan air). Tujuannya adalah sebagai peringatan adanya keutamaan untuk bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Oleh karena itu, dianjurkan bagi yang mampu menyempurnakan wudhunya dengan kadar air yang sedikit untuk berhemat dalam menggunakan air dan tidak melebihi kadar tersebut. Karena sikap boros dan berlebih-lebihan dilarang dalam syariat. Allah subhaanahu wa taala berfirman,

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Surat Al-Isra’ Ayat 27)

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Yazid Fathur Rozy dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 108
    Shares