Mengenal Salafi Bagian 01; Mengenal Allah Swt

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad Dan Tim LDSI


Tanya:

Kewajiban apa yang pertama kali bagi setiap orang?

Jawab:

Kewajiban yang pertama kali bagi setiap orang Mukallaf adalah mengenal Allah,yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Ia diciptakan olehnya semata-mata untuk beribadah. Mengenal pada mulanya memerlukan untuk mengetahui yang disembah, yakni mengetahui Dzat, Sifat dan Perbuatan-Nya, menurut cara yang terpuji.

Allah SWT berfirman:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku”.

Tanya:

Bagaimana cara mengenal Allah SWT?

Jawab:

Cara mengenal Allah itu ada dua, yaitu:

Pertama, dengan cara mendengar dan mengutip, artinya mendengar apa yang telah diberitakan oleh Allah SWT tentang nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang sempurna di dalam kitab – kitab sucin-Nya dan melalui lisan-lisan para Rasul-Nya. Dia berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dialah maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Hassyr: 22-24)

Didalam hadist disebutkan:

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 Asma; barang siapa menghafal semuanya akan dimasukkan kedalam surga”.

1, Allah (Tuhan), 2. Ar-Rahman (Pengasih), 3. Ar-Rahim (Penyayang), 4. Al-Malik (Merajai), 5. Al-Quddus (Suci), 6. As-Salam (Sejahtera), 7. Al-Mu’min (Pembari Keamanan), 8. Al-Muhaimin (Yang Menyatakan Dirinya Esa), 9.Al-‘Aziz (Gagah Tak Terkalahkan), 10. Al-Jabar (Kuat dan Gagah), 12, Al Khaliq (Pencipta Makhluk), 14. Al-Musauwwir (Pembenyuk Makhluk), 15. Al-Ghoffar (Pengampun Dosa), 16. Al-Qohhar (Gagah Perkasa), 17. Al-Wahhab (Pemberi), 18. Ar-Razaq (Pemberi Rizki), 19. Al-Fattah (Pembuka Pintu Rahmat), 20. Al-‘Alim (Maha Tahu Segalanya), 21. Al-Qobidh (Penahan), 22. Al-Basith (Pemberi Rizki Dengan Mudah), 23. Al-Khafidz (Yang Menurunkan), 24. Ar-Rafi’ (Yang Mengangkat), 25. Al-Mu’izz (Yang Memberi Kemuliaan), 26. Al-Mudzil (Yang Memberi Kehinaan), 27. Al-Sami’ (Yang Mendegar), 28. Al-Bashir (Yang Melihat), 29. Al-Hakam (Maha Bijaksana), 30. Al-‘adl (Maha Adil), 31. Al-Lathif (Halus), 32. Al-Khabir (Yang Mengetahui Yang Tersembunyi), 33. Al-Halim (penyantun), 34. Al-‘Adzim (Besar), 35. Al-Ghafur (Pengampun), 36. As-Syakur (Pemberi Upah), 37. Al-‘Ali (Tinggi), 38. Al-Kabir (Besar), 39. Al-Hafidz (Pemelihara), 40. Al-Muqith (Pemberi Makan), 41. Al-Hasib (Pemberi Makanan), 42. Al-Jalil (Penghitung), 43. Al-Karim (Yang Mulia), 44. Al-Raqiib (Yang Mengamati), 45. Al-Nujib (Yang Paling Mulia), 46. Al-Wasi’ (Yang luas ilmunya), 47. Al-Hakim (Yang Pintar), 48. Al-Wadud (Penyayang), 49. Al-Majid (Yang Paling Mulia), 50. Al-Ba’its (Yang Membangkitkan), 51. Al-Syahid (Yang Menghadiri Seluruhnya), 52. Al-Haqqu (Yang Tetap Ada), 53. Al-Wakil (Yang Mengurus Pekerjaan Hambanya), 54. Al-Qawi (Kuat), 55. Al-Matin (Kukuh-Kuat), 56. Al-Wali (Yang Menjaga Makhluk), 57. Al-Hamid (Yang Dipuja), 58. Al-Mushi (Yang Menghitung), 59. Al-Mubdi’ (Yang Menciptakan), 60. Al-Mu’id (Yang Menghidupkan Kembali), 61. Al-Muhyi (Yang Menghidupkan), 62. Al-Mumit (Yang Mematikan), 63. Al-Hayyu (Yang hidup), 64. Al-Qayyum (Yang Tegak), 65. Al-Wajib (Yang Memberi Sesuatu), 66. Al-Majid (Yang Besar Keadaan-Nya), 67. Al-Wahid (Tunggal), 68. As-Shomad (Yang dituju), 69. Al-Qadir (Yang Kuasa), 70. Al-Muqtadir (Yang Kuasa), 71. Al-Muqaddim (Yang Mendahulukan), 72. Al-Mu-akhir (Yang Mengemudiakan), 73. Al-Awwal (Yang Qodim Tak Berpermulaan), 74. Al-Akhir (Yang Baqa’ Selama-lamanya), 75. Al-Zahir (Yang memperlihatkan wujud-Nya dengan tanda-tanda-Nya), 76. Al-Bathin (Yang tersembunyi dzat-Nya), 77. Al-Wali (Yang menguasai seluruhnya), 78. Al-Muta’ali (Yang bersih dari sekalian sifat kekurangan), 79. Al-Barru (yang banyak kebaikanya), 80. At-Tawwab (penerima taubat), 81. Al-Muntaqim (Yang menghukum siapapun yang patut dihukum), 82. Al-‘Afuwwu (Yang memberi maaf siapa tang patut dimaafkan), 83. Al-Ra’uf (Besar kasih sayang-Nya), 84. Al-Malikul Mulki (Raja sekalian raja), 85. Dzul Jalali wa al Ikram (Mempunyai kebesaran dan kemuliaan), 86. Al-Muqsith (Yang memperhatikan orang teranianya), 87. Al-Jami’ (Penghimpun makhluk di hari kiamat), 88. Al-Ghany (Yang kaya raya), 89. Al-Mughniy (Yang mengayakan), 90. Al-Mani’ (Yang melarang), 91. Ad-Dharr (Yang memberi madlorot), 92. An-Nafi’ (Banyak memberi manfaat), 93. An-Nur (pemberi cahaya), 94. Al-Hadi (pemberi petunjuk), 95. Al-Badi’ (Yang mengadakan sesuatu), 96. Al-Baqi’ (Yang kekal selama-lamanya), 97. Al-Waris (Yang kekal sesudah semuanya habis), 98. Al-Rasyid (Yang cerdik cendekia), 99. As-Shabur (penyantun tak terburu-buru).

Kedua, dengan akal, maksudnya memfungsikan akal fikiran untuk merenungkan tentang alam raya (makhluk) ini dan mengambil pelajaran dari semua kejadian, kemudian menjadikan semua itu sebagai dalil atau bukti Yang Maha Menciptakan-Nya, yang tiada lain adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Pemurah dan Maha penyayang.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُون

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.Al-Baqarah: 164).

Sumber: Al-Ajwibah al Damighah fi al Raddiala al-Aqa’id al-Za’ighah