Mencuri Menurut Pandangan Agama Islam

Oleh KH. Ainur Rofiq & Ustadz Makinun Amin

Pengertian mencuri menurut agama adalah mengambil barang simpanan secara sembunyi-sembunyi milik orang lain dengan persyratan tertentu. Mengambil harta orang lain secara diam-diam merupakan syarat menjadi pengertian mencuri. Makanya tidak dapat disebut mencuri bilamana mengambil barang orang lain tersebut secara terang-terangan, karena hal itu disebut merampas atau merampok. Hujjah atau dalil kewajiban dipotong tangannya bagi seorang pencuri adalah firman Allah,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Lelaki yang mencuri dan wanita yang mencuri,potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri,maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Mâidah: 38-39)

Kriteria Pencuri

  1. Balig: Pengrtian balig adalah dewasa, sehingga tidak boleh dipotong tangan bagi pencuri anak-anak.
  2. Berakal: yang dimaksud berakal adalah orang yang waras sehingga orang gila yang mencuri tidak dapat dihukum.
  3. Tanpa Paksaan: Maksudnya adalah mencuri harus atas kesadarannya sendiri, berarti bila pencurinya sedang tidak sadar karena ngelindur atau dipaksa orang lain maka dia tidak bisa disebut pencuri.
  4. Pencuri sudah mengerti hukum mencuri menurut hukum negara maupun agama, sehingga bagi mereka yang belum pernah mengerti akan resiko mencuri seperti kasusnya tarzan maka tidak boleh dihukum potong tangan.

Bagikan Artikel Ini Ke