Memperbaiki Diri untuk Menyambut Ramadhan

Muqaddimah

Allah SWT. mengistimewakan sebagian waktu di atas sebagian waktu lainnya. Sebagaimana Allah juga yang mengistimewakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Ayat ini ditafsirkan oleh Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dengan mengatakan, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (zaman) maupun tempat” (Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” hal. 622).

Ramadhan merupakan bulan yang lebih diistimewakan dari pada bulan-bulan yang lainnya, sehingga Allah memilih bulan ini untuk ditetapkannya puasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Ada beberapa penyebab Ramadhan lebih dimuliakan oleh Allah taala. Di antaranya; Ramadhan adalah bulan yang disyariatkan puasa, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan tadarus dan tadabbur Al-Qur’an, bulan dianjurkan meningkatkan dakwah, Bulan terjadinya malam Lailatul Qadar, bulan banyak berkah, bulan penuh ampunan, bulan depnjaranya setan, bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, dan bulan dilipatgandakannya pahala setiap amal.

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak. Jadikanlah bulan ini sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan amal kebaikan dan amal ibadah agar kita tergolong sebagai hamba yang bertakwa.

Menggapai Ketakwaan dengan Puasa Ramadhan

Tujuan utama diwajibkannya puasa Ramadhan adalah untuk menggapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala, yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati (Manhajul Anbiya’ fii tazkiyatin nufuus” (hal. 19-20). Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Surat Al-Baqarah Ayat 183)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/289)

Kata taqwa itu sendiri secara harfiah bermakna takut, lebih condong pada usaha pencegahan diri dari melaksanakan berbagai larangan Allah. Berbeda dengan tha’at yang memiliki arti keta’atan dan ketundukan menjalankan berbagai perintah-Nya.

Barang siapa yang ingin bertaqwa kepada Allah swt, maka ia harus merasa takut akan neraka yang disediakan oleh-Nya untuk para pendosa. Dan barang siapa yang takut kepada ancaman siksa-Nya, secara otomatis ia akan menjauhi hal-hal yang dapat menariknya ke neraka. Karena setiap mereka yang takut pasti akan lari menjauh, dan siapa yang cinta pasti akan datang mendekat. Sebagai mana seorang yang takut akan ular, pasti akan menghindari ular. Siapa yang takut dengan singa pasti menjauh dari singa. Dan begitulah sebaliknya barang siapa yang mencintai keluarganya, ia pasti ingin selalu dekat dengan keluarganya. Barang siapa mencintai kekasihnya, tak mau ia jauh sedikitpun darinya. Demikian yang dikatakan Dzunnun al-Misry

كل خائف هارب وكل راغب طالب

Siapa yang takut pastilah akan menghindar (menjauh), dan siapa yang cinta pasti akan mencari (mendekat)

Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

  • Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
  • Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.
  • Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
  • Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.
  • Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa (Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan”, hal. 86).

Sikap terbaik dalam menyambut bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan kemuliaan ini, terdapat keistimewaan yang luar biasa yaitu, dilipatgandakannya pahala, ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibukanya pintu-pintu surga, dan disyariatkan amalan ibadah yang agung.

Oleh sebab itu, bulan ini adalah kesempatan yang sangat berharga dan dinanti-nanti oleh setiap seorang muslim yang ingin mendapatkan rahmat dan juga ridha-Nya.

Dan karena mulianya keutamaan bulan Ramadhan ini, Nabi Muhammad SAW, menyampaikan kabar gembira ketika akan datang bulan Ramadhan, kepada sahabatnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. (Latha-iful ma’aarif hal. 174)

Agar puasa kita di bulan Ramadhan tidak sia-sia, maka ada beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk menyambut bulan mulia ini. Di antaranya,

Pertama, Mempersiapkan Ilmu

Ilmu merupakan pangkal keabsahan dari semua amal dan ibadah, tanpanya niscaya semua apa yang kita lakukan akan sia-sia. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah seorang ulama sekaligus khalifah dari kekhalifaan Umayyah yang berkuasa pada tahun 717 berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15).

Allah dalam Al-Qur’an juga mengisyaratkan amal manusia menjadi sia-sia dikarenakan tanpa didasari dengan ilmu. Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan Ayat 23

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”

Jangan remehkan kedudukan ilmu, karena dengannya kebaikan perkara akan kita dapatkan. Terkadang banyak manusia yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan tujuannya adalah baik, namun malah keburukan dan kerusakan yang ditimbulkannya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan apa yang dilakukan tidaklah didasarkan pada ilmu. Diriwayatkan dalam sebuah Atsar Abu Abdurrahman mengatakan,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya,” (Hadits Darimi Nomor 206)

Dengan demikian, agar amal ibadah dan amal shalih kita selama di bulan Ramadhan tidak sia-sia, maka sudah selayaknya kita memperbanyak ilmu dengan mengaji dan mengkaji. Pelajari tentang hukum puasa bulan Ramadhan, pelajari syarat rukun puasa, pelajari keutamaan puasa, pelajari perkara-perkara yang membatalkan puasa, pelajari ancaman bagi yang meninggalkan puasa, pelajari amalan-amalan tambahan untuk menyempurnakan ibadah puasa kita, dan apa-apa saja dari ilmu yang dapat menyempurnakan ibadah kita sehingga apa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan tidak sia-sia dan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Taala.

Kedua, mempersiapkan mental

Setelah ilmu kita dapatkan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan adalah mempersiapkan mental. Di antaranya adalah,

Bergembira,

Di antara kesiapan mental adalah merasa bergembira dan penuh harap dengan kedatangan bulan Ramadhan. Nabi bersabda,

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Walaupun hadits tersebut dianggap lemah oleh sebagian ulama, namun kedudukannya sangat kuat dikarenakan terdapat hadits lain yang menunjangnya, bahwa bilamana muncul sebuah harapan dalam hati disebabkan kegembiraan atas kedatangan bulan yang diwajibkan puasa niscaya dosa-dasanya akan diampuni sehingga menjadi sebab terhindarnya masuk neraka. Nabi bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh harap, maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa bangun (shalat) pada malam lailatul Qadr dengan keimanan dan penuh harap, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Hadits Abu Daud Nomor 1165)

Tujuan Seorang muslim yang baik manakala hendak berjumpa dengan bulan suci Ramadhan adalah dengan bersikap penuh suka cita. Bulan inilah sangat ditunggu oleh muslim seluruh dunia, betapa banyak keutamaan di dalamnya. Beragam cara dilakukan dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini. Di antaranya mempersiapkan diri dengan mempelajari keilmuan yang terkait dengan segala sesuatu sebagai penyempurna amal kita di dalam bulan Ramadhan yang agung ini.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang mulia dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Salah satu penyebab mulianya bulan Ramadhan adalah Al-Qur’an diturunkan dalam bulan ini. Serta pahala amal ibadah dan amal kebaikan akan dilipat gandakan oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan ini.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Ramadlan telah datang kepada kalian, -ia adalah- bulan berkah, Allah -Azza wa Jalla- telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Di bulan itu pintu langit dibuka, dan pintu neraka Jahim ditutup dan syetan pembangkang dibelenggu. Demi Allah di bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (Hadits Nasai Nomor 2079)

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?” (Latha-iful ma’aarif, hal. 174).

Umat Islam selayaknya menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita dan penuh kebahagian, sebab siapa saja yang menyambut datangnya Ramadhan dengan hati yang bergembira, niscaya Allah akan memberi rahmat kepadanya.

Bertaubat,

Salah satu yang dapat mempersiapkan mental kita untuk menyambut bulan Ramadhan adalah membersihkan diri dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Dengan taubat dan istighfar dosa-dosa kita niscaya diampuni Allah bila kita melakukannya dengan kesungguhan hati dan penuh keyakinan. Allah berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,” (Surat Nuh Ayat 10)

Dengan memperbanyak istighfar niscaya batin kita akan lebih siap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan karena hati yang sempit dan gundah akan menjadi lapang dan tenang. Nabi bersabda,

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (Hadits Abu Daud Nomor 1297)

Sebagai wujud taubat kita adalah menyesali semua dosa yang pernah dilakukan, bertekad meninggalkan segala keburukan dan bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Dia antara bentuk taubat adalah menyelesaikan persoalan yang masih terkait dengan sesama manusia baik dengan meminta maaf maupun dengan memohon keikhlasannya.

Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Semoga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.

Ketiga, mempersiapkan fisik

Fisik yang prima dapat menopang kesempurnaan ibadah. Hampir mayoritas ibadah dalam Islam mengandalkan kesehatan fisik, mulai dari shalat, haji, hingga berpuasa di bulan Ramadhan. Seorang Muslim tidak akan maksimal dalam berpuasa jika fisiknya lemah. Oleh sebab itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik dengan cara istirahat yang cukup, makan yang cukup, dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dengan cara itu berarti kita telah dapat mensyukuri nikmat Allah yang sering dilupakan, sebagaimana sabda Nabi,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (Hadits Bukhari Nomor 5933)

Menjaga kesehatan adalah bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu berulang kali Rasulullah saw. mengingatkan umatnya agar meminta kesehatan kepada Allah dan menjaganya supaya tidak merugi, karena kesehatan adalah salah satu modal terpenting kita untuk kuat dalam beribadah, terutama beribadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Nabi bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. (Hadits Muslim Nomor 4816)

Dengan demikian sudah selayaknya bagi kita umat Islam mempersiapkan sejak dini untuk menyambut kedatangan bulan mulia ini dengan berbagai bekal agar bulan ini menjadi bulan yang mendatangkan berkah. Dan hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah dan kebaikan dalam bulan Ramadhan. Di antara doa yang dapat kita panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang di mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. Ya Allah, sungguh aku memohon surga memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3836)

Doa lain yang biasa dipanjatkan menjelang Ramadhan adalah,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballignaa Ramadhan”, Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. (Hadits Riwayat Imam Ahmad 1/259)

Penutup

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran), (“Silsilatul ahaaditsish shahiihah”, no. 2623). Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas (Latha-iful ma’aarif” (hal. 177), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“bahwa ia mendengar [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla telah berfirman; ‘Setiap amal anak Adam adalah teruntuk baginya, kecuali puasa, karena ia adalah bagi-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.’ Maka demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh, bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1942)

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Surat Az-Zumar Ayat 10)

Sangat jelas sekali bahwa sifat sabar sangat erat dengan ketakwaan, di mana tujuan utama dari puasa adalah meraih derajat takwa.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa” (Kitab “Latha-iful ma’aarif”, hal. 177).

Umat Islam jangan sampai menyia-nyiakan seruan-seruan kebaikan yang datang kepadanya. Perbanyak dan tingkatkanlah berbuat kebaikan semenjak awal Ramadhan tiba. Niscaya kita akan terhindar dari siksa api neraka, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wa taala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

“Jika tiba waktu awal malam di bulan ramadlan maka setan-setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, “Hai orang yang mencari kebaikan, teruskanlah. Hai orang yang mencari keburukan, berhentilah. Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1632)

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala(selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)” (Ibnu Rajab al-Hambali “Latha-iful ma’aarif”,hal. 174).

Bekal yang harus dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan bukanlah dengan memakan makanan yang banyak ketika sahur dan makan dengan menggunakan nafsunya sendiri ketika berbuka puasa. Juga bukanlah dengan melihat acara televisi yang tidak ada manfaatnya serta mengisi waktu luang dengan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tapi bekal yang harus dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya. Yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya. Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مِنْكُمْ مَنْ يُصَلِّي الصَّلَاةَ كَامِلَةً وَمِنْكُمْ مَنْ يُصَلِّي النِّصْفَ وَالثُّلُثَ وَالرُّبُعَ حَتَّى بَلَغَ الْعُشْرَ قَالَ سُرَيْجٌ فِي حَدِيثِهِ حَتَّى بَلَغَ الْعُشْرَ

“Di antara kalian ada yang mengerjakan shalat dengan mendapatkan (pahala shalat) secara lengkap, ada yang setengahnya, ada pula yang sepertiganya, seperempatnya hingga ada yang sepersepuluhnya.” Suraij berkata dalam haditsnya, sampai ada yang mendapat sepersepuluhnya. (Hadits Ahmad Nomor 14974)

Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الظَّمَأُ

“Berapa banyak orang yang melaksanakan puasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali dahaga. (Hadits Darimi Nomor 2604)

Demikianlah kajian tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bisa bermanfaat dan barokah bagi setiap muslim yang ingin mendapatkan kemuliaan bulan Ramadhan, serta bisa menjadi motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam menyambut bulan Ramadhan, dan semoga bisa menjadikan diri pribadi seorang muslim bisa terbenahi serta menjadi diri yang dirahmati dan diridhahi oleh Allah SWT. Perbanyaklah kebaikan dan hentikanlah kemaksiatan dan kemungkaran, niscaya kita akan meraih derajat takwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِي رَمَضَانَ تُفَتَّحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغَلَّقُ أَبْوَابُ النَّارِ وَيُصَفَّدُ فِيهِ كُلُّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ وَيُنَادِي مُنَادٍ كُلَّ لَيْلَةٍ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ هَلُمَّ وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ أَمْسِكْ

“Pada bulan Ramadlan, pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, serta setiap syetan akan dirantai. Kemudian pada setiap malam sang penyeru akan menyerukan, ‘Wahai para pencari kebaikan, mendekatlah. Dan wahai pencari keburukan, tahan dan berhentilah.'” (Hadits Ahmad Nomor 18041)

Oleh Ustadz Yazid Faturrozi, dan telah disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke