Membid’ahkan Tanpa Ada Dalil Larangan Yang Spesifik Itu Kedustaan Agama

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Perlu diketahui bahwa dibanding menghalalkan yang haram dengan mengharamkan yang halal ternyata hukumnya lebih berat. Hal itu sangat beralasan karena dalam mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan telah terjadi penyempitan hukum Allah. Serta bertentangan dengan prinsip umum syariah yang memberi kemudahan dan menghilangkan kesulitan. Agama itu luas jangan dipersempit, agama itu mudah jangan dipersulit, agama itu ringan dangan diperberat berbagai larangan dengan alasan bid’ah dan tidak dicontohkan oleh nabi, karena Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya, sebagamana firman-Nya,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَوَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

َ“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Mengharamkan yang halal lebih berat dosanya dibandingkan menghalalkan yang haram. Hati-hati, jangan mudah menuduh bid’ah atas amalan orang lain tanpa dasar dalil yang jelas. Banyak orang mudah mengharamkan dan membid’ahkan amalan orang lain dengan dua dalil yang pertama menggunakan dalil aqal, yakni sering kita mendengar orang ngomong bid’ah hukumnya amalan seseorang karena NABI TIDAK PERNAH MELAKUKAN DAN MENCONTOHKAN. Dalil ini merupakan dalil yang sifatnya retorika akal saja yang tidak berdasar karena mereka menuduhkan semua hal agama termasuk perkara-perkara yang tergolong khilafiyah.

Kedua membid’ahkan dengan sebuah dalil naql mutasyabihat/dalil yang tidak jelas makna dan objeknya “SETIAP SESUATU YANG BARU BID’AH DAN SETIAP BID’AH SESAT”. Berikut sebagian dalil-dalil yang digunakan oleh sebagaian kelompok umat Islam untuk mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah,

Dalil Pertama,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. (HR. Nasai Nomor 1560)

Dalil Kedua

فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dalil Ketiga

أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Dalil Keempat

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Hadits-hadits diatas termasuk hadits-hadits mutasyabihat, yakni hadits-hadits yang tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kadarnya, dan sangat umum maknanya. Apakah yang dimaksud nabi itu urusan ibadah, politik, ekonomi, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Terkait golongan tertentu memaknai kalimat “perkara baru dalam urusan kami ini” dengan perkara agama itu berarti mereka telah melakukan takwil atau pemalingan kepada makna lain tanpa didasari dalil yang jelas.

Perhatikan saja kata perkata dalam hadits-hadits bid’ah tersebut nabi tidak menyebut secara spesifik maksud perkara tersebut adalah perkara agama. Karena dalil-dalil tentang bid’ah merupakan dalil yang absurd/membingungkan atau tidak spesifik; tidak jelas, kadar, ukuran, objeknya maka dalil-dalil tersebut tergolong dalil mutasyabihat yang dilarang keras oleh Allah untuk digunakan sebagai hukum. Bagi yang memaksakan dalil-dalil umum untuk menghukumi sesuatu yang sifatnya khusus sangat bahaya sekali, sebagaimana firman Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS.Ali Imran: 7)

(Dialah yang menurunkan kepadamu Alquran, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat) jelas maksud dan tujuannya (itulah dia pokok-pokok Alquran) yakni yang menjadi pegangan dalam menetapkan (sedangkan yang lainnya mutasyabihat) tidak dimengerti secara jelas maksudnya, misalnya permulaan-permulaan surah. Semuanya disebut sebagai ‘muhkam’ seperti dalam firman-Nya ‘uhkimat aayaatuh’ dengan arti tak ada cacat atau celanya, dan ‘mutasyaabiha’ pada firman-Nya, ‘Kitaaban mutasyaabiha,’ dengan makna bahwa sebagian menyamai lainnya dalam keindahan dan kebenaran.

(Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan) menyeleweng dari kebenaran, (maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah) di kalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya (dan demi untuk mencari-cari takwilnya) tafsirnya (padahal tidak ada yang tahu takwil) tafsirnya (kecuali Allah) sendiri-Nya (dan orang-orang yang mendalam) luas lagi kokoh (ilmunya) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya: (Berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihat) bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, (semuanya itu) baik yang muhkam maupun yang mutasyabih (dari sisi Tuhan kami,” dan tidak ada yang mengambil pelajaran) ‘Ta’ yang pada asalnya terdapat pada ‘dzal’ diidgamkan pada dzal itu hingga berbunyi ‘yadzdzakkaru’ (kecuali orang-orang yang berakal) yang mau berpikir. Mereka juga mengucapkan hal berikut bila melihat orang-orang yang mengikuti mereka.

Hadit-hadit BID’AH merupakan hadits-haditr yang tergolong hadits fitnah, karena dengan mudahnya ada golongan tertentu menyesatkan golongan lain hanya dengan menggunakan hadits mutasyabihat tersebut. Sebaiknya kita berhati-hati, jangan sampai mudah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah tanpa menggunakan dalil yang jelas dan spesifik.” Terkadang kita jumpai sebagian orang yang terlalu bermudah-mudah dalam melarang, mengharamkan, dan membid’ahkan sesuatu. Celaka sekali apabila memutuskan tanpa ilmu dan tanpa dalil yang jelas. Menghalalkan yang haram merupakan tindak kelancangan terhadap hukum Allah, sebagaimana halnya mengharamkan yang halal pun demikian. Allah berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَاماً وَحَلاَلاً قُلْ آللّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللّهِ تَفْتَرُونَ، وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَشْكُرُونَ

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan (kedustaan) terhadap Allah?’ Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Yūnus [10]: 59-60)

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl [16]: 116)

Biasanya, menghalalkan yang haram berasal dari mereka yang cenderung selalu mengikuti nafsu syahwatnya dan suka menimbulkan fitnah agama, sedangkan tindakan mengharamkan yang halal lahir dari orang-orang yang terlihat agamis pada mereka akantetapi mereka bersikap kaku karena pendeknya akal pikiran mereka.

Kedua sikap tersebut tentu bukan merupakan sikap yang benar. Bahkan keduanya termasuk dalam hal menuruti hawa nafsu. Hanya saja, yang pertama terkait dengan nafsu syahwat, sedangkan yang kedua terkait dengan nafsu berlebih-lebihan dalam agama. Yang benar adalah sikap pertengahan, yakni menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta melapangkan apa yang telah Allah lapangkan bagi manusia. Namun sayangnya, sungguh sedikit orang yang bersikap demikian.

Meskipun mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram adalah sama dari sisi kelancangan terhadap hukum Allah, namun mengharamkan yang halal lebih parah dan lebih berat hukumnya, karena hal itu menyempitkan dan memberatkan kehidupan manusia, serta bertentangan dengan prinsip umum syariah yang memberi kemudahan dan menghilangkan kesulitan (haraj). Sebagaimana Allah berfirman:

اللّٰـهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak ingin menyulitkankamu, tetapi Dia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu,supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 6)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِيالدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

ِ“Dia sekali-kali tidak menjadikanuntuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّٰـهِ الَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِىَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkanperhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan(siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah:”Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupandunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kamimenjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.’”(QS. Al-A`rāf [7]: 32)

Dari Sa`d Ibn Abī Waqqāsh dengansanad yang valid, Nabi—shallaLlāhu `alaihi wa sallam—bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ

“Sesungguhnya yang paling besardosa dan kejahatannya dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang halyang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan karenapertanyaannya tadi.” (HR. Bukhāri: VI/2658/6859.)

Dan dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْن فِي الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ أَمْرٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ

“Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosa dan kejahatannya terhadap (sesama) kaum muslimin adalah yang bertanya tentang perkara yang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadidiharamkan kepada manusia karena pertanyaannya tadi.” (Riwayat Muslim:IV/1831/2358; Ahmad: I/179/1545; Abū Dāwūd: II/612/4610; dan lain-lain.)

قَالَ حَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَوَعَدَنِي فَأَوْفَى لِي وَإِنِّي لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلَالًا وَلَا أُحِلُّ حَرَامًا

Beliau bersabda: ‘Dari mereka telah berbicara denganku, membenarkanku, berjanji denganku dan menepati janjinya. Dan sesungguhnya aku bukan ingin mengharamkan sesuatu yang halal, bukan pula sebaliknya. (HR. Muslim No. 4484)

Dalam agama tidak ada pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan. Jangan mudah mengharamkan sesuatu tanpa dasar dalil yang muhkamat, jelas dan spesifik karena hukum asal segala sesuatu adalah halal sepanjang belum ada dalil yang jelas, muhkamat, dan spesifik yang mengharamkannya.

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalahhalal (sampai ada dalil yang mengharamkannya).”

إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي فِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عِبَادِي حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَجَمِيَّهُمْ وَعَرَبِيَّهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Rabbku azza wa jalla menyuruhku mengajari kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui, dari yang diajarkan-Nya kepadaku hari ini. (firman-Nya); Segala harta yang aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal, Aku ciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian setan mendatangi mereka, menyesatkannya dari agama mereka, mengharamkan apa yang Aku halalkan untuk mereka, memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan penjelasan tentangnya, kemudian Allah melihat penduduk bumi dan Allah murka kepada mereka, baik yang berkebangsaan arab maupun non arab selain sisa-sisa ahli kitab. (HR. Ahmad No. 16837)

Dilarang berdusta atas nama agama, dosa besar bagi mereka yang mudah menghukumi sesuatu tanpa dasar bagi pelakunya terjerumus pada kekufuran. Allah telah berfirman,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An-Nahl: 105)

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan iniharam, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalahkesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan rasulNya, tetapi hendaklah kamu bertakwakepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui…(QS. Al-Hujurat: 1)

Laknat dari nabi bagi mereka yang mudah dan sangat berlebih lebihan dalam mengharamkan, dan membid’ahkan.

“Ingatlah! Mudah-mudahan binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu.” (3 kali). (HR. Muslim)

Jadilah ummat yang penuh toleran yang bersikap menghargai dan lapang dada apalagi sesuatu yang sifatnya perkara agama yang ikhtilaf yakni perkara-perkara agama yang masing-masing berbeda namun kedua-duanya juga didasari oleh dalil yang juga tidak lemah,

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan: “Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

 أَحَبٌّ الدِّيْنِ إِلىَ اللهِ الحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَة

[agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang berorientasi pada semangat mencari kebenaran secara toleran dan lapang].

Firman Allah: “Aku ciptakanhamba-hamba Ku ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidakturunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Janganlah bersikap berlebih-lebihan dalam mengharamkan sesuatu yang tidak secara jelas diharamkan oleh Allah. Demikian, semoga ada manfaatnya. Semoga kita menjadi orang yang berhati-hati dalam menghukumi sesuatu.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan Artikel Ini Ke