Membid’ahkan Amalan Tanpa Disertai Dalil Yang Spesifik Maka Hukumnya Batal

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Ilustrasi;

Salafy: Amalan kamu bid’ah; sesat, tertolak, dan masuk neraka karena tidak ada dalilnya dan tidak dicontohkan Nabi!

Sunni: Mana dalil khusus yang melarangnya?

Salafy: Tidak ada

Sunni: Kalau tidak ada dalil khusus larangannya, berarti kamu telah berdusta atas nama agama!

Salafy: ???!!!

Sudah umum diketahui bahwa sumber hukum dalam agama Islam hanya dua, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dalam agama Islam sebuah Perintah (امر) merupakan sebuah hukum, sama halnya dengan larangan (نهى) juga merupakan sebuah hukum. Namun kedua-duanya baru bisa dikatakan sebuah hukum dalam Islam bila didasari dengan subuah dalil yang khusus, baik dalilnya berasal dari Al-Qur’an maupun dari Hadits. Sebuah perintah tanpa ada dasar dari Al-Qur’an atau Hadits maka hal itu tidak bisa dikatakan sebagai hukum Islam dan otomatis tidak bisa dijadikan sebagai landasan amaliah ibadah yang berkedudukan wajib ataupun sunnah. Begitu juga sebuah larangan tanpa ada dasar dari Al-Qur’an atau Hadits maka hal itu tidak bisa dikatakan sebagai hukum Islam dan otomatis tidak bisa dijadikan sebagai landasan amaliah ibadah yang berkedudukan haram maupun makruh.

Bila sebuah perkara dipaksakan untuk dianggap sebagai sebuah perintah agama Islam namun tanpa ada dasar dari dalil Al-Qur’an maupun Hadits maka hal itu akan disebut bid’ah yang mana hal itu tergolong sesat dan diancam neraka, sebagaimana sabda Nabi,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. (HR. Nasai Nomor 1560)

Dan sebaliknya, bila sebuah perkara dipaksakan untuk dianggap sebagai sebuah larangan agama Islam namun tanpa ada dasar dari dalil Al-Qur’an dan Hadits maka hal itu akan disebut kidzbah/kedustaan yang mana hal itu tergolong kelancangan sesat dan diancam neraka, sebagaimana firman Allah,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung (terlaknat).” (QS. An-Nahl [16]: 116)

Namun begitu, hadits-hadits BID’AH merupakan hadits-hadits yang tergolong rawan dan mudah menimbulkan fitnah keagamaan, hal ini terjadi karena hadits-hadits bid’ah tergolong memiliki makna mutasyabihat. Kenapa dapat dipastikan hadits-hadits tentang bid’ah masuk kategori mutasyabihat, karena hadits-hadits tersebut memiliki makna tidak jelas baik tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kaifiyatnya, tidak jelas waktunya, tidak jelas tempatnya, tidak jelas kadarnya, dan sangat umum maknanya.

Tidak diketahu secara pasti, apakah maksud makna bid’ah yang dikehendaki oleh Nabi itu urusan ibadah, politik, ekonomi, atau hal-hal yang bersifat duniawi semuanya tidak jelas karena kata yang digunakan dalam hadits tersebut menggunakan PERKARA. Terkait golongan tertentu memaknai kalimat “perkara baru dalam urusan kami ini” dengan makna “perkara agama” itu bukan makna qath’i namun makna yang dihasilkan dari sebuah pentakwilan atau pemalingan makna. Diantara kelompok yang getol mentakwil kata “AMRUN/PERKARA” dengan makna “PERKARA AGAMA” adalah firqah Salafiyun. Sepanjang kajian yang pernah dilakukan tidak ada satupun dalil yang mendukung baik dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menyatakan bahwa makna kata “AMRUN’ dalam semua hadits bertema BID’AH sepesifik bermakna “PERKARA AGAMA”.

Boleh-boleh saja membid’ahkan atau melarang sebuah amalan menggunakan dalil-dalil bid’ah yang tergolong mutasyabihat, namun tetap wajib hukumnya disertai dengan dalil lain yang bersifat khusus dan spesifik. Selama pembid’ahan tersebut tidak disertai dengan dalil-dalil lain yang lebih khusus dan lebih spesifik maka pendalihan dan pelarangan atas sebuah amalan itu tidak cukup dan batal. Kenapa berdalil dengan hadits-hadits yang bertema bid’ah dianggap batal, karena hadits-hadits ini sudah memenuhi syarat sebagai nash-nash mutasyabihat, yakni tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kaifiyatnya, tidak jelas waktunya, tidak jelas tempatnya, tidak jelas kadarnya, dan juga sangat umum maknanya. Hal ini sangat sesuai dengan kategori yang disampaikan Allah dalam firmannya,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas kategorinya), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (tidak jelas kategorinya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka (akan mudah) mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS.Ali Imran: 7)

Disinilah letak dimana hadits-hadits bid’ah tergolong hadits mutasyabihat, karena hadits-hadits bertema bid’ah berpotensi menimbulkan fitnah dalam keagamaan karena ketidak jelassan obyek perkaranya. Karena ketidak jelasan pbyek perkaranya sehingga mudah digunakan oleh golongan-golongan yang sukan menimbulkan fitnah keagamaan dengan menuduh dan menyesatkan pihak lain hanya dengan menggunakan hadits mutasyabihat tersebut. Sebaiknya kita berhati-hati, jangan sampai mudah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah tanpa menggunakan dalil yang jelas dan spesifik. Begitu mudahnya kita jumpai sebagian orang yang terlalu entenng dalam melarang, mengharamkan, dan membid’ahkan sesuatu. Celaka sekali apabila menetapkan hukum tanpa ilmu dan tanpa dalil yang jelas (muhkamat). Perlu diketahui bahwa mengharamkan yang tidak diharamkan oleh agama merupakan tindak kelancangan terhadap hukum Allah, sebagaimana halnya menghalalkan perkara yang tidak dihalalkan.

Walaupun dalam Islam ada dua dikotomi hukum antara perintah dan larangan yang berdampak pada resiko bid’ah dan kidzbah, ternyata di tengah-tengahnya ada satu hukum yang dikenal dengan istilah mubah atau netral. Mubah adalah sebuah hukum yaang mana sebuah amalan yang oleh agama tidak dilarang dan juga tidak diperintah. Hukum mubah ini bisa dikatakan sebagai hukum NETRAL, dimana umat Islam diberi kewenangan seluas-luasnya untuk berkreasi dan berinovasi terkait hal-hal umum selama tidak merubah esensi amaliyah ibadah mahdoh. Dalam agama tidak ada pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah telah diberi keleluasaan. Hukum mubah ini lahir diambil dari sebuah kaidah yang berbunyi,

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalah halal (sampai ada/datang dalil khusus yang mengharamkannya).”

Kaidah di atas didasarkan dari sebuah hadits,

إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي فِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عِبَادِي حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Rabbku azza wa jalla menyuruhku mengajari kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui, dari yang diajarkan-Nya kepadaku hari ini. (firman-Nya); Segala harta yang aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal, Aku ciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian setan mendatangi mereka, menyesatkannya dari agama mereka, mengharamkan apa yang Aku halalkan untuk mereka, memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan penjelasan tentangnya. (HR. Ahmad No. 16837)

Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatau hukum asalnya boleh dilakukan oleh umat Islam sepanjang;

  1. Tidak ada dalil khusus yang melarangnya
  2. Tidak merubah esensi ajaran agama
  3. Tidak mengandung unsur kesyirikan
  4. Tidak mengandung unsur kemaksiatan

Perkara-perkara yang berhukum mubah inilah yang dikenal dalam agama Islam dengan istilah amal shaleh atau ma’ruf, yaitu hal-hal baik menurut agama namun tidak diatur secara spesifik dalam teks-teks Al-Qur’an dan Hadits. Walau tidak diatur secara rinci dalam agama Islam namun memiliki nilai-nilai baik menurut pandangan umat Islam di suatu tempat dan di suatu era. Berikut devinisi amal shaleh dan ma’ruf,

Amal Shalih: Adalah segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridloi yang telah ditetapkan rinciannya dalam Al-Qur’an dan hadits. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (Al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (At-tark), seperti meninggalkan zina.

Pengertian amal shalih ini didasarkan atas firman Allah SWT,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)

Sedangkan pengertian ma’ruf menurut Ibnu Manzhur dalam op.cit., juz 9, hlm. 240

المعروف هو اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا عُرف مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ والإِحسان إِلَى النَّاسِ، وَكُلِّ مَا ندَب إِلَيْهِ الشرعُ وَنَهَى عَنْهُ مِنَ المُحَسَّنات والمُقَبَّحات وَهُوَ مِنَ الصِّفَاتِ الْغَالِبَةِ أَي أَمْر مَعْروف بَيْنَ النَّاسِ إِذَا رأَوْه لَا يُنكرونه

Ma’ruf adalah Ism Jâmi’ bagi setiap hal yang dikenal, baik itu berupa keta’atan kepada Allah, bertaqarrub kepada-Nya, dan berbuat baik sesama manusia, dan juga termasuk setiap hal-hal baik yang dianjurkan agama untuk melakukannya dan manjauhkan diri dari hal-hal buruk. Ma’ruf merupakan suatu hal yang umum dikenal, artinya perkara tersebut sudah lumrah dalam masyarakat, jika mereka lihat, maka mereka tidak akan mengingkari (kebaikannya).

Pengertian ini didasarkan atas firman Allah SWT,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)

Dengan kata lain ma’ruf adalah nilai-nilai kebaikan yang berasal dari kebiasaan masyarakat yang sudah ma’lum selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama Islam. Kenapa kebiasaan baik masyarakat dapat diadopsi oleh agama, karena tidak mungkin nilai-nilai kebaikan yang sangat luas seluas periode perubahan dari zaman ke zaman, dan seluas hamparan bumi yang ditinggali beragam ummat manusia dengan segala perbedaan kebiasaan yang dipengaruhi geografis dan kondisi alamnya secara terperinci dapat tertuang dalam lembaran-lembaran teks kitab suci. Pemahaman seperti ini bukan berarti kitab suci tidak lengkap, sebaliknya bahwa hal ini menunjukkan kesempurnaan kitab suci, dengan keuniversalan yang dimiliki oleh kitab suci dapat berintegrasi mengayomi kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku di masyarakat dan dapat dipergunakan sebagai dasar amaliah kehidupan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama Islam. Pemahaman ini didasarkan pada kaidah berikut,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”

Kaidah tersebut berdasarkan hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud).

Ini menunjukkan bahwa agama Islam sebetulnya sangat akomodatif dengan hal-hal baik yang datangnya berasal dari kebiasaan masyarakat namun dengan dua syarat selama kebaikan yang biasa di mayarakat tidak mengandung unsur-unsur kesyirikan dan kemaksiatan dapat dijadikan dasar hukum Islam. Seperti media internet yang sedang kita pakai sekarang ini maupun media sosial lainnya, ini menunjukkan karena prekembangan umat pasti berdampak pada perubahan kebiasaan umat. Kalau dulu dakwah membutuhkan tatap muka namun sekarang kita sudah bisa lebih efisien berdakwah tanpa harus tatap muka. Inilah yang disebut ma’ruf yakni kebaikan-kebaikan hasil inovasi yang berasal dari masyarakat itu memang tidak bisa ditolak. Sebagaimana Nabi juga sering dalam menetapkan hukum syariat agama Islam mengakomodasi kebiasaan baik masyarakat pada waktu itu seperti contoh pada hadits berikut,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ فَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistim salaf, yaitu membayar dimuka dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian, Maka Beliau bersabda: “Siapa yang mempraktekkan kebiasaan sebuah kaum dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya (tetap) dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang di ketahui”. (HR. Bukhari Nomor 2086)

Ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang sangat terbuka dan akomodatif. Islam dengan keuniversalannya tidak anti dengan kebaikan-kebaikan walaupun itu tidak berasal dari teks-teks nash agama. Islam sangat luas dan luwes mau menerima perubahan-perubahan yang akan terus terjadi seiring perubahan dan perkembangan zaman selama itu baik dan menimbulkan kebaikan maka tidaklah tertolak. Hal-hal yang ma’ruf dapat dijadikan sebagai dasar amaliah dalam kehidupan umat Islam, karena tidak semua amaliah (selain ibadah mahdoh) harus didasarkan pada nash-nash agama Islam, karena terkait menghadapi dan menyikapi perubahan kondisi zaman ummat Islam dianggap lebih mengetahui hal itu. Pemahaman ini sangat sesuai dengan hadits berikut,

وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik (diserahkan pada takdir-red).” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.’ (HR. Muslim Nomor 4358)

Kenapa agama Islam sangat terbuka terhadap inovasi kebaikan yang timbul dan diciptakan umatnya, karena nabi sendiri menyatakan bahwa umat manusia pada hakekatnya tidak akan membuat dan bersepakat atas kejahatan dan keburukan, seperti sabda Nabi berikut,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

“Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu/bersepakat di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di sawadul a’dzam (kelompok yang terbanyak).” (HR. Ibnu Majah Nomor 3940)

Makanya terhadap hal-hal yang baru yang timbul dari dampak perubahan zaman jangan mudah menuduh sedikit-sedikit bid’ah. Karena kata bid’ah itu sangat mutasyabihat/absurd yang tidak dapat digunakan sebagai dalil hukum kalau tidak didampingi dan disertai dengan dalil lain yang sifatnya khusus dan spesifik. Karena membid’ahkan sesuatu yang ma’ruf (adat kebiasaan masyarakat yang baik) tanpa didasari dalil yang jelas itu merupakan kedustaan dan kelancangan karena telah membuat-buat hukum baru di dalam Islam. Janganlah sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah kita mengharamkannya, karena hal itu sama halnya dengan berbohon atas nama Agama, Dilarang berdusta atas nama agama, dosa besar bagi mereka yang mudah menghukumi sesuatu tanpa dasar dalil yang nyata, bagi pelakunya terjerumus pada kekufuran. Allah telah berfirman,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)

Mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan sama halnya telah berprilaku berlebih-lebihan karena telah melangkahi kewenangan Allah, sebagaimana firman Allah,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [QS. Al-Mâ`idah[5]:77]

Janganlah lancang mendahului kewenangan Allah dalam hal memutuskan perkara Agama, Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan rasulNya, tetapi hendaklah kamu bertakwakepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui…(QS. Al-Hujurat: 1)

Jadilah ummat yang penuh toleran yang bersikap menghargai dan lapang dada apalagi sesuatu yang sifatnya perkara agama yang ikhtilaf yakni perkara-perkara agama yang masing-masing berbeda namun kedua-duanya juga didasari oleh dalil yang juga tidak lemah,

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan: “Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

أَحَبٌّ الدِّيْنِ إِلىَ اللهِ الحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَة

[agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang berorientasi pada semangat mencari kebenaran secara toleran dan lapang].

Berhati-hatilah dalam melarang sesuatu amalan dengan mengatasnamakan hukum Allah. Kalau kita menghukumi sebuah amalan dengan mudahnya mengatakan; ini bid’ah karena tidak ada dalilnya dan , itu bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Nabi namun juga tanpa (adanya) disertai dengan dalil larangan yang khusus dan spesifik maka itulah kedustaan. Mudah saja untuk menanggapi seseorang yang mudah membid’ahkan sebuah amalan hanya menggunakan keumuman makna dalil-dalil bid’ah. Bila mereka membid’ahkan sebuah amalan tanyakan saja mana dalil khusus yang spesifik melarang amalan kita yang menggunakan dalil umum. Sebagai contoh mereka biasanya membid’ahkan kirim pahala bacaan Al-Qur’an kepada mayit, maka tanyakanlah mana ada dalil yang melarang kita membaca Al-Qur’an untuk mayit. Bila mereka tidak dapat menunjukkan dalil khusus yang melarang berarti mereka telah berbuat kedustaan atas nama agama. Sedangkan antara pebuatan bid’ah dan perbuatan kidzbah (dusta) kedudukannya lebih jahat kidzbah di sisi Allah karena ancaman dosa bagi pelakunya.

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنجُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ

“Sesungguhnya yang paling besardosa dan kejahatannya dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang halyang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan karenapertanyaannya tadi.” (HR. Bukhāri: VI/2658/6859.)

Janganlah bersikap berlebih-lebihan dalam mengharamkan sesuatu yang tidak secara jelas diharamkan oleh Allah. Demikian, semoga ada manfaatnya. Semoga kita menjadi orang yang berhati-hati dalam menghukumi sesuatu.

Wassalam

 

SEBUAH CATATAN: Perlu difahami beberapa istilah dalam Islam yang sangat penting, tanpa memahami istilah ini maka akan terjadi kerancuan pemahaman.

Ibadah (Bila hanya disebut ibadah berarti yang dimaksud adalah ibadah mahdoh atau murni, yaitu sebuah ritual keagamaan Islam yang sudah ditetapkan langsung oleh pembuat syariat yakni Allah dan Muhammad akan kaifiyatnya/tatacaranya, waktunya, tempatnya, dan kadarnya) Terkait dengan ibadah mahdloh ini kita sebagai ummat sudah tidak boleh ikut mengotak atik, baik merubah, menambah maupun mengurangi, bila ini dilakukan maka kita telah berbuat bid’ah. Contoh: Shalat (Jumlah tidak boleh ditambah maupun dikurangi dari shalat dzuhur empat rakaan dikatakan lima rakaat ), haji (dikatakan bid’ah bila boleh hzji di luar Mekah), Zakat fitrah (dikatakan bid’ah bila boleh di selain hari raya Idul Fitri), puasa Ramadhan, dan lain sebagainya. Dalah hal ini dikatakan bid’ah bila telah merubah esensinya.

Amaliah (Atau biasa disebut amal ibadah, berarti yang dimaksud adalah sebuah amalan keagamaan yang bernilai pahalan. Istilah ini merujuk pada amal ibadah selain ibadah mahdhoh, dalam hal ini umat Islam diberi kewenangan untuk memodivikasi amal ibadah ini selama tidak merubah esensinya, contoh; Amaliah dzikir, doa, dll.). Bukan dikatakan bid’ah bila kita menambah bacaan-bacaan doa di dalam shalat fardhu selain doa yang diajarkan oleh nabi, bukan dikatakan bid’ah bila kita menambah bacaan dzikir, do’a dan shalawat di acara-acara syukuran atau peresmian-peresmian, atau peringatan-peringatan yang mana tidak ada larangan untuk melakukan itu. Bila itu tidak bisa dikatakan bidlah melainkan itu dikatakan perbuatan ma’ruf karena semula acara-acara yang kita lakukan tidak bernilai pahala namun menjadi bernilai pahala bila kita tambah dengan amalan-amalan seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, tahlil, doa, dan sebagainya.