Meluruskan Hadits Riwayat ‘Aisyah Terkait Shalat Tarawih Sebelas Rakaat

Muqaddimah

Setiap menjelang bulan Ramadhan hampir dipastikan selalu terjadi fenomena perdebatan sengit terkait dengan jumlah shalat tarawih, apakah dikerjakan sebanyak sebelas rakaat atau duapuluh tiga rakaat. Namun sebetulnya yang perlu dipersoalkan adalah sebetulnya bukan terkait dengan jumlah rakaatnya, karena perkara ini masuk pada pokok pembahasan fiqih. Yakni sebuah ajaran agama Islam yang didasarkan pada hasil ijtihad para ulama disebabkan tidak diketemukannya dalil qath’i (pasti) yang berasal dari Al-Qur’an maupun hadits. Bilamana dianggap adapun, maka hal itu sebatas hanya bersifat dzanni atau dalil-dalil yang bersifat samar dan masih diragukan. Seperti persoalan kebolehan berzakat dengan selain kurma, gandum, anggur. Hukum berdzikir secara keras atau pelan, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan fiqh adalah syariat, suatu ajaran agama Islam disebut syariat dikarenakan pokok perkara tersebut masuk dalam pembahasan yang mana berdasarkan sebuah dalil yang qath’i atau pasti jelas terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits. Kejelasan tersebut terkait dengan ketetapan kaifiyat, kadar, waktu, dan tempat pelaksanaan ajaran Islam tersebut. Seperti hukum berpuasa Ramadhan, hukum haji dan lain sebagainya.

Bilamana sebuah ajaran agama Islam masuk kategori fiqh maka pasti akan terdapat perbedaan pandangan antar ulama sampai kapanpun. Hal ini tidak perlu dirisaukan karena masing-masing golongan akan merasa benar sebab hal ini dikarenakan dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing golongan semuanya bersifat dzanni atau persangkaan saja.

Kalau perbedaan dalam persoalan fiqh sudah menjadi hal yang tidak dapat ditolak, maka sikap terbaik umat Islam adalah masing menghargai pendapat kelompok lain yang berbeda. Dan sikap bijak yang dapat dilakukan adalah kerjakan apa yang menjadi keyakinannya saja dan tidak perlu usik dengan menyalahkan apa yang dikerjakan oleh pihak lain.

Namun ternyata pemahaman seperti di atas, kaum muslimin tidak semua memiliki pemahaman yang utuh, sehingga sebagian kelompok sukanya hanya mengusik amalan pihak lain, namun sayangnya mereka lupa dan abai terhadap amaliyahnya sendiri. Inilah yang selayaknya difahami oleh setiap pribadi muslim agar tidak terjadi pertentangan, permusuhan dan bahkan perpecahan di antara kalangan umat Islam.

Dikarenakan terkait jumlah rakaat tarawih, tidak ada dalil satupun dari Al-Qur’an dan Hadits yang kuat (qathi) menjelaskan secara jelas sebetulnya berapa jumlah shalat tarawih yang ditetapka oleh Nabi bagi umatnya. Sebagaimana ketidak jelasan tarawih Nabi yang digambarkan oleh beberapa hadits, di antaranya,

ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat di masjid, maka orang-oang mengikuti shalat Beliau. Pada malam berikutnya Beliau kembali melaksanakan shalat di masjid dan orang-orang yang mengikuti bertambah banyak. Pada malam ketiga atau keempat, orang-orang banyak sudah berkumpul namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika pagi harinya, Beliau bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar shalat bersama kalian. Hanya saja aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian”. Kejadian ini di bulan Ramadhan. (Hadits Bukhari Nomor 1061)

Pada mulanya, shalat tarawih ditunaikan sendiri-sendiri. Rasulallah SAW khawatir, jika ditunaikan berjamaah maka hukumya akan wajib. Maka itu, beliau menunaikannya sendirian. Terkait perkara ini terekam jelas dalam sebuah riwayat berikut,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرَ رَمَضَانَ قَالَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا مِنْ الشَّهْرِ شَيْئًا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ قَالَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ الْآخِرُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ مِنْ صَلَاتِهِ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قُلْنَا وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ قَالَ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ

“dari [Abu Dzar], ia berkata; kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan namun beliau tidak melakukan shalat malam bersama kami pada bulan tersebut hingga tinggal tujuh hari. Abu Dzar melanjutkan; “Kemudian beliau melakukan shalat malam bersama kami sampai berlalu sepertiga malam.” Abu Dzar melanjutkan; “Tatkala malam keenam (yaitu malam ke dua puluh empat dari awal Ramadhan), beliau tidak melakukan shalat malam bersama kami, dan tatkala malam kelima (yaitu malam ke dua puluh lima dari awal Ramadhan) beliau melakukan shalat malam bersama kami hingga berlalu setengah malam terakhir. Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, seandainya anda tambahkan shalat sunah bagi kami pada sisa malam ini, maka itu lebih baik bagi kami.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang melakukan shalat bersama imam hingga selesai, maka akan dihitung baginya semalam suntuk untuk shalat malam.” Tatkala malam ke empat yaitu malam ke dua puluh enam dari awal Ramadhan, beliau tidak melalukan shalat malam bersama kami, dan ketika malam ke tiga (yaitu hari ke dua puluh tujuh dari awal Ramadhan), beliau mengumpulkan keluarga dan para isterinya serta para wanita, setelah itu beliau melakukan shalat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal falah.” Kami bertanya; “Apakah falah itu?” Abu Dzar menjawab; “yaitu sahur.” Abu Dzar berkata; “Kemudian beliau tidak melakukan shalat malam bersama kami di sisa hari, pada bulan tersebut.” (Hadits Darimi Nomor 1712)

Dari dua hadits tersebut membuktikan bahwa Nabi sendiri tidak menegaskan berapa sebetulnya jumlah rakaat shalat malam yang harus dikerjakan, sebab terkadang Nabi menampakkan shalat malam di hadapan para sahabat dengan melaksanakannya di masjid, dan pada kesempatan lain terkadang Nabi menyembunyikan shalat malam saat Ramadhan dengan dikerjakannya di rumahnya sendiri.

Seiring dengan semakin banyak dan menyebarnya umat Islam, dan seiring kebutuhan umat Islam terkait dengan kepastian berapa sebetulnya jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebaiknya dikerjakan umat Islam, sedangkan dalil-dalil qathinya tidak ditemukan satupun di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, maka terjadilah peluang untuk masing-masing para ulama berijtihad.

Dari ijtihad atau penelitian yang dilakukan oleh masing-masing ulama madzhab ternyata ditemukan banyak variasi hadits yang sifatnya dzanni atau samar. Karena terdapatnya banyak hadits yang berfariasi, maka timbullah perbedaan fatwa dari kalangan ulama mu’tabarah.

Mengenai masalah ini, di antara para ulama salaf terdapat perselisihan yang cukup banyak (variasinya) hingga mencapai belasan pendapat, sebagaimana di bawah ini.

  1. Sebelas rakaat(8 + 3 Witir), riwayat Malik dan Said bin Manshur.
  2. Tiga belas rakaat(2 rakaatringan + 8 + 3 Witir), riwayat Ibnu Nashr dan Ibnu Ishaq, atau (8 + 3 + 2),atau (8 + 5) menurut riwayat Muslim.
  3. Sembilan belas rakaat(16 + 3).
  4. Dua puluh satu rakaat(20 + 1), riwayat Abdurrazzaq.
  5. Dua puluh tiga rakaat(20 + 3), riwayat Malik, Ibn Nashr dan Al Baihaqi. Demikian ini adalah madzhab Abu Hanifah,Syafi’i, Ats Tsauri, Ahmad, Abu Daud dan Ibnul Mubarak.
  6. Dua puluh sembilan rakaat(28 +1).
  7. Tiga puluh sembilan rakaat(36 +3), Madzhab Maliki, atau (38 + 1).
  8. Empat puluh satu rakaat(38 +3), riwayat Ibn Nashr dari persaksian Shalih Mawla Al Tau’amah tentang shalatnya penduduk Madinah, atau (36 + 5) seperti dalam Al Mughni 2/167.
  9. Empatpuluh sembilan rakaat(40 +9); 40 tanpa witir adalah riwayat dari Al Aswad Ibn Yazid.
  10. Tiga puluh empat rakaat tanpa witir (di Basrah, Iraq).
  11. Dua puluh empat rakaat tanpa witir (dari Said Ibn Jubair).
  12. Enam belas rakaat tanpa witir.

Begitulah realitas sebuah ajaran agama Islam yang didasarkan pada fiqh, sebab tidak ada satupun dalil qathi yang menetapkannya. Sehingga tidaklah perlu diperpanjang perdebatannya, cukup kerjakan apa yang menjadi pilihan dan keyakinannya saja. Sebab masing-masing telah merasa memiliki dail.

Namun walaupun berdasarkan banyaknya riwayat hadits jumlah rakaat shalat tarawih bervariasi, ada dua kelompok besar di Indonesia yang tidak henti-hentinya terus berpolemik, sehingga tidak jarang menimbulkan gejolak sosial dalam beragama. Sebagian ada yang menjalankan sebelas rakaat dan sebagian besar duapuluh tiga rakaat.

Tepatkah Hadits ‘Aisyah Sebagai Hujjah Shalat Tarawih 11 Rakaat

Pada kesempatan kali ini kami khususkan untuk mengkritisi secara ilmiyah dalil hadits yang digunakan oleh golongan yang menyakini bahwa shalat tarawih berjumlah sebelas rakaat beserta witirnya.

Sebab kenapa kami khususkan pembahasan atas hujjah shalat tarawih sebelas rakaat, karena terjadi kerancuan berasal dari hadits yang diriwayatkan Aisyah tersebut sehingga muncul ajaran bahwa shalat tarawih Nabi berjumlah sebelas rakaat? Berikut beberapa akar masalah sebagai pemicunya. Di antaranya adalah;

Pertama, persepsi yang mucul kenapa shalat tarawih sebelas rakaat berawal dari penyampaian hadits tersebut kebanyakan tidak utuh, melainkan hanya potongannya saja. Banyak kalangan yang menyampaikan hadits tersebut biasanya berbentuk potongan sebagaimana berikut,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1079 dan Muslim no. 1219)

Bila membaca hadits hanya sepotong di atas tersebut hampir dapat dipastikan bagi kalangan awam yang basic ilmu keagamannya rendah akan mempersepsikan bahwa hadits tersebut merupakan dalil bagi shalat tarawih.

Padahal potongan hadits di atas berasal dari redaksi panjang yang utuh berikut ini,

Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1079;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Yusuf] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqbariy] dari [Abu Salamah bin ‘Abdurrahman] bahwasanya dia mengabarkan kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada [‘Aisyah radliallahu ‘anha] tentang cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya (Ramadhan) lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka’at”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”.

Hadits Riwayat Muslim Nomor 1219

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] katanya; aku menyetorkan hapalan kepada [Malik] dari [Said bin Abu Said Al Maqbari] dari [Abu Salamah bin Abdurrahman] bahwa dia pernah bertanya kepada [‘Aisyah]; “Bagaimanakah shalat (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnah baik ketika Ramadhan atau diluar ramadhan tak lebih dari sebelas rakaat, beliau mengerjakan empat rakaat, kamu tidak usah menanyakan kualitas dan panjangnya shalat beliau, setelah itu beliau mengerjakan empat rakaat, kamu tidak usah menanyakan kualitas dan panjangnya shalat beliau, kemudian beliau shalat tiga rakaat.” Aisyah berkata; lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, kedua mataku memang tidur, namun hatiku tidak.”

Kedua, munculnya persepsi bahwa hadits tersebut dianggap sebagai dalil shalat tarawaih karena terkecoh dengan lafadz RAMADHAN di mana seakan-akan hadits ini sedang membahas shalat tarawih di bulan Ramadhan. Yang jarang difikirkan oleh orang awam adalah kalimat berikut; dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya”. Kalimat ini sebetulnya sudah mempertegas bahwa hadits ini bukan terkait shalat tarawih, sebab mana mungkin ada shalat tarawih dikerjakan pada selain bulan Ramadhan.

Ketiga, hadits ini sudah mempertegas terhadap dirinya sendiri bahwa hadits ini bukan terkait shalat tarawih ketika dalam bagian akhir dari hadits yang panjang ini ‘Aisyah menegaskan bahwa Nabi sedang shalat malam yang di dalamnya mencakup shalat witir.

Kesimpulan

Dari analisis di atas secara ilmiyah, sebetulnya hadits tersebut sulit untuk bisa dijadikan hujjah atau landasan bagi shalat tarawih dengan jumlah sebelas rakaat. Dengan kata lain, bahwa Hadits ini bukan dalil untuk shalat tarawih dengan beberapa pertimbangan berikut. Di antaranya,

Pertama, hadits di atas lebih tepat sebagai dalil shalat malam yang dikerjakan pada bulan Ramadhan atau pada bulan-bulan di luar Ramadhan. Sedangkan shalat tarawih walaupun masih tergolong sebagai shalat malam namun memiliki kekhususan dikarenakan shalat tarawih disyariatkan hanya padda bulan Ramadhan dan bukan pada selain bulan Ramadhan.

Kedua, dalam hadits di atas tidak ada petunjuk atau kata “TARAWIH” sama sekali bahwa yang dimaksud adalah shalat tarawih, melainkan shalat malam yang termasuk di dalamnya adalah shalat witir.

Ketiga, bilamana hadits di atas dipaksakan sebagai dalil shalat tarawih maka akan muncul kejanggalan bahwa adakah shalat tarawih dilakukan di luar Ramadhan? Padahal menurut kesepakatan jumhur ulama shalat tarawih merupakan shalat malam yang dikhususkan pada bulan Ramadhan saja.

Keempat, “Imam Bukhari meletakkan hadits ini pada Bab pada menyatakan Qiyam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم pada waktu malam pada bulan Ramadhan dan pada bulan selainnya merupakan petunjuk kuat bahwa Imam Bukhari juga berpendapat bahwa hadits ini bukan dalil shalat Tarawih, tetapi sebagai dalil shalat Tahajjud atau shalat Malam yang dikerjakan dalam bulan Ramadhan dan luar Ramadhan.

Wallahu a’lamu bish-shawab semoga bermanfaat.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 72
    Shares