Melakukan Niat Berpuasa Setelah Shubuh

Semoga Allah senantiasa memberi taufiq dan hidayahnya. Dan semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Apabila ada seorang muslim berniat ibadah puasa melewati batas waktu shalat subuh (siang hari), bagaimana hukum puasanya?

Terkait dengan hal itu ada beberapa hadits yang perlu diperhatikan, di antaranya;

Pertama,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; (Hadits Bukhari Nomor 1)

Kedua,

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah”.(Hadits Tirmidzi Nomor 662, Hadits Abu Daud Nomor 2098, dan Hadits Nasai Nomor 2293)

Ketiga,

Sebagaimana salah satu riwayat berikut,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

“dari [Aisyah] Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda: “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (Hadits Muslim Nomor 1951)

Dari beberapa Hadits di atas dapat diambil kesimpulan;

Pertama,

Berdasarkan hadits Imam Bukhari Nomor 1 di atas maka kedudukan niat dalam setiap amalan dan ibadah adalah penentu keabasan, terutama ibadah puasa menjadi sah bila disertai dengan niat.

Kedua,

Terkait ibadah puasa yang bersifat wajib seperti puasa Ramadhan, qadha’, nadzar, dan lain lainnya, maka berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi Nomor 662, Hadits riwayat Abu Daud Nomor 2098, dan Hadits riwayat Nasai Nomor 2293 harus dilakukan sebelum fajar. Bila niat dilakukan setelah fajar atau subuh maka konsekwensinya ibadah puasa yang dilakukan batal.

Dalam hal ini Imam Tirmidzi yang bermadzhab Syafi’i mengomentari hadits Nomor 662 dalam kitab Sunan Tirmidzinya dengan ucapannya,

وَإِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فِي رَمَضَانَ أَوْ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ أَوْ فِي صِيَامِ نَذْرٍ إِذَا لَمْ يَنْوِهِ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يُجْزِهِ وَأَمَّا صِيَامُ التَّطَوُّعِ فَمُبَاحٌ لَهُ أَنْ يَنْوِيَهُ بَعْدَ مَا أَصْبَحَ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ

Maksud dari hadits ini (Nomor 662) menurut para ulama ialah “Barang siapa yang tidak niat sebelum terbitnya fajar di bulan Ramadlan atau ketika mengqadla’ puasa Ramadlan atau ketika puasa nadzar, maka shaumnya tidak sah. Adapun puasa sunnah, maka boleh berniat sesudah terbitnya fajar. ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.

Ketiga,

Sedangkan untuk niat puasa sunnah, maka diperkenankan dilakukan pada siang hari, hal ini didasarkan oleh banyak Hadits seperti Hadits riwayat Muslim Nomor 1951, di mana Nabi terbiasa tiba-tiba berniat puasa di siang hari manakala tidak ada satupun yang dapat dimakannya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,”Pada dalil yang terdapat di atas adalah ditunjukan bagi kebanyakan para ulama bahwa berniat puasa pada waktu siang hari tanpa disengaja dibolehkan asalkan sebelum memasuki waktu zawal (matahari bergeser ke barat) tetapi dalil tersebut hanya ditunjukan untuk seseorang yang melaksanakan puasa sunah tidak untuk puasa wajib”.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Hanya Engkaulah yang memberikan hidayah-Mu kepada kita semua. Amin.

Oleh Ustadzah Khusnul Maryana, dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 173
    Shares