Maksud Seseorang Hanya Memperoleh Usahanya Sendiri

Tema ini masih bagian dari artikel;

Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Tulisan ini khusus menanggapi pemahaman golongan Salafi yang menganggap bahwa seseorang hanya akan memperoleh usahanya sendiri. Sekilas pemahaman mereka yang dijadikan keyakinannya terlihat biasa dan tidak ada yang salah. Namun ternyata dari pemahaman tersebut pada akhirnya berdampak banyak kerancuan dalam pelaksanaan ajaran agama Islam. Banyak ajaran yang sebelumnya seseorang bisa mendapat kiriman pahala dari mereka yang beramal dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada orang lain, baik orang lain tersebut masih hidup maupun sudah meninggal. Kerancuan dalam memahami kedua maksud tersebut maka juga akan berdampak pada kerancuan syariat Islam.

Ketika golongan Salafi menganggap bahwa kalimat seseorang hanya akan memperoleh usahanya sendiri, maka berdampak pada sikap mereka yang mudah membid’ahkan amalan mayoritas umat Islam yang sebelumnya yang diperbolehkan oleh banyak dalil shahih. Dari kesalahan pemahaman inilah maka timbul pertentangan yang akhirnya berdampak pada permusuhan dan pertikaian antar umat Islam.

Seseorang hanya memperoleh usahanya sendiri

Seseorang hanya akan mendapatkan dosa dan pahala dari hasil usaha dan jerih payahnya yang dilakukannya sendiri, dan mereka tidak akan mendapatkan pahala dari amal baik yang dikerjakan oleh orang lain. Pemahaman ini didapatkan karena mereka beranggapan bahwa bagaimana mungkin seseorang yang diam saja tanpa memiliki usaha sendiri dapat menerima aliran pahala dari usaha orang lain, hal ini tentunya mustahil disebabkan seseorang bila ingin mendapatkan sebuah pahala harus berusaha sendiri, dan bahaya bila tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk berusaha melakukan amal shalih akan berdampak pada tidak adanya semangat beribadah dan beramal karena sudah dapat diwakilkan kepada orang lain. Pemahaman ini didasarkan pada firman Allah SWT berikut,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (sendiri),” (QS. An-Najm Ayat 39)

Sanggahan

Dalil tersebut memang menyatakan bahwa seseorang mendapat pahala dari amal usahanya sendiri, namun ternyata amal usaha kita pahalanya semakin meningkat bila ada kontribusi dan sokongan dari orang lain. Sebagaimana makna yang dapat dari penjelasan dalil-dalil berikut,

Kita dapat tambahan 26 drajat pahala dari orang lain disebabkan kita melaksanakan jamaah bersama orang lain, sabda Nabi,

تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمِيعِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا…تَفْضُلُهَا بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian. …”(Shalat berjama’ah) dilebihkan dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari Nomor 612)

Semua amal ibadah yang kita lakukan pahalanya masih bernilai separuh selama kita belum menikah, karena dalam ibadah yang belum berada dalam status pernikahan nafsu birahinya belum tenang, sebagaimana yang telah disabdakan Nabi,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ini menunjukkan bahwa kedudukan dan usaha orang lain dalam masalah amal ibadah dapat melimpahkan pahala kepada orang lain.

Kedua: Bila dikatakan manusia tidak mendapatkan pahala dari apa yang diusahakan orang lain secara saklek/membabi buta maka akan sangat bertentangan dengan banyak dalil yang mana seseorang juga bisa mendapatkan pahala dari usaha orang lain walaupun dia tidak ikut mengerjakannya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan dia ikut terlibat atau sebagai penyebab orang lain bisa melakukan kebaikan, seperti ditunjukkan oleh makna dalil-dalil berikut,

Bila ada sekelompok umat Islam berkeyakinan bahwa seseorang tidak tidak bisa mendapatkan pahala dari usaha kebaikan orang lain sedangkan seseorang tersebut tidak ikut mengerjaka kebaikan itu, maka aqidah tersebut telah sesat karena sangat betentangan dengan sabda Nabi berikut ini,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim Nomor 4831)

Orang tua mendapatkan pahala dari anaknya walaupun belum baligh

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا مِنْ هَوْدَجٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang wanita yang mengangkat bayinya dari tandu seraya berkata; wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; apakah anak ini boleh melakukan haji? Maka beliau bersabda: “Iya, dan engkau mendapatkan pahala.” (HR. Nasai Nomor 2598)

Walaupun tidak mengamalkan kebaikan tetap mendapatkan pahala dari amalnya orang lain selama orang lain yang mengerjakan kebaikan tersebut ilmunya berasal dari yang mengajarkannya

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah Nomor 236)

Orang mati tetap mendapat limpahan pahala dari amal orang lain yang berasal dari pengajarannya

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim yang mempelajari satu disiplin ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” (HR. Ibnu Majah Nomor 239)

Hasil karya dan dakwah berkat ilmu yang dimilikinya selama mendatangkan kemanfaatan maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya walaupun sudah meninggal dunia. Seperti pembuatan karya teknologi, buku agama, buku ilmiyah, situs dakwah, dan media-media dakwah dan karya lainnya Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana sabda Nabi,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim Nomor 3509)

Mendapat pahala dari suri tauladan yang pernah dilakukan semasa hidupnya

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh.” (HR. Muslim Nomor 4830)

Jelas sekali pandangan bahwa orang lain tidak bisa mendapat pahala dari usaha orang lain merupakan pandangan yang sangat sesat dan menyesatkan.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap orang memang hanya akan mendapatkan pahala dari apa yang hanya diusahakannya, namun apabila amal usaha yang dilakukannya berdampak faedah kepada orang lain kemudian orang lain tersebut terinspirasi dan meniru kebaikan kita maka kita akan tetap bisa mendapatkan pahala dari pahala usaha orang lain walaupun kita tidak melakukan amal usaha kebaikan tersebut.

Olehkarena itu agar kita tidak banyak mendapat kiriman dosa walaupun kita diam saja, maka sebaiknya kita senantiasa bertanggungjawab terhadap lingkungan kita dan jangan saling menginspirasi keburukan. Dan dianjurkan kita salim mengirim pahala, Allah berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 85)

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا فَإِنِّي لَأُرِيدُ الْأَمْرَ فَأُؤَخِّرُهُ كَيْمَا تَشْفَعُوا

“Berilah syafaat (kemudahan) maka engkau akan mendapat pahala, sungguh aku sangat menginginkan perkara ini hingga aku menangguhkannya. Maka setiap kali kalian memeberi syafaat maka kalian akan mendapat pahala.” (HR. Abu Daud Nomor 4467)

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke