Maksud Hadits Nabi Meninggalkan Qunut

Sebagian kalangan umat Islam menganggap doa qunut dalam shalat subuh bukanlah kesunnahan, sebagaimana Imam Hanafi rahimahullah dan Imam Hanbali rahimahullah tegas bahwa qunut tidak sunnah pada shalat shubuh, kecuali pada shalat witir. Bahkan lebih ekstrim lagi terdapat sebagian umat Islam menganggap doa qunut subuh sebagai perkara bid’ah yang mana mempersoalkan pihak lain yang meyakini doa qunut sebagai sunnah sebagai pihak yang sesat. Karena anggapan mereka sehingga polemik perkara ini hingga menimbulkan konflik dan permusuhan di tengah-tengah masyarakat. Asal muasal mereka yang berpandangan ekstrim ini mendasarkan pendapatnya pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dalam shalat shubuh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan qunut hanya selama satu bulan saja. Setelah itu Nabi meninggalkannya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah membaca qunut selama satu bulan, di dalamnya mendoakan keburukan bagi beberapa suku Arab, kemudian meninggalkannya.” (HR. Muslim)

Golongan madzhab Syafi’i tentunya menolak anggapan tersebut dengan dalil yang tidak kalah kuat tentunya. Memang awalnya Nabi tidak qunut, namun menjelang beliau meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah putus membaca doa qunut dalam shalat subuh. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.

“Dari Anas bin Malik, berkata: “Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam terus membaca qunut dalam shalat fajar (shubuh) sampai meninggalkan dunia.”(HR. Ahmad dan Baihaqi)

Dalil Ahmad rahimahullah dan Baihaqi rahimahullah tersebut oleh ulama Syafi’i rahimahullah dianggap sebagai penghapus (nasikh) dari semua hadits yang mengatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya melakukan qunut subuh sesekali saja. Al Imam Nawawi rahimahullah menjawab: “Adapun jawaban terhadap ucapan (stumma tarakahu) dalam riwayat Muslim, maka maksudnya adalah bukan doa qunut subuhnya yang ditinggalkan, namun yang ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah doa kecelakaan ke atas orang-orang kafir itu dan meninggalkan laknat terhadap mereka. Bukan meninggalkan seluruh qunut atau meninggalkan qunut pada selain subuh.” (Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 3/505). Berdasarkan hal tersebut, kalangan Syafiiyah konsekuen mengamalkan doa qunut subuh.

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid AHmad

Bagikan Artikel Ini Ke