Larangan Mencela Makanan

Oleh KH. Ainur Rofiq & Ustadzah Lina Nazila

Mencela itu termasuk kebiasaan buruk yang dilarang dalam Islam, baik mencela orang lain, agama lain, mencela kaum lain, mencela hewan, mencela tumbuhan, dan mencela apapun ciptaan Allah, termsuk mencela soal soal makanan. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

  كَانَ اِذَا اشْهَاهُ اكَالَهُ وَاِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ. مَاعَابَ النَّبِيُّ طَعَامًا قَطٌّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Sesorang dikatakan mencela suatu makanan adalah ketika seseorang menikmati hidangan, lalu dia berkomentar tentang hidangan tersebut. Seperti, tidak matang, kurang asin, terlalu asin, terlalu matang dan sebagainya. Makanan tidak boleh dicela karena makanan juga ciptaan Allah. Di samping itu mencela makanan, itu juga juga menimbulkan ketersinggungan (sakit hati) dari orang yang membuat dan menyajikan makanan tersebut. Bagaimana pembuatnya tidak  tersinggung bilamana jerihpayahnya ketika membuat makanan berbuah celaan dari orang lain. Oleh sebab itu, syariat Islam mengajarkan untuk tidak mencela makanan. Karena, bisa menyebabkan hati seseorang menjadi sedih.

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ

“Orang yang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling saya benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencaci maki orang lain dengan kata-katanya.” (HR. Ahmad No 17077)

Bukan berarti bilamana ada makanan yang kurang enak atau kurang cocok nabi memaksa kita untuk tetap memakannya, melainkan kita hanya dilarang mencemooh. Sikap terbaik nabi yang diajarkan kepada ummatnya adalah beliau diam dan tidak memakan makanan yang sekira nabi kurang cocok tanpa meninggalkan celaan. Seperti sabda nabi,

كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Cercaan atas makanan itu berbeda dengan pendapat dan penilaian untuk kebaikan, dalam artian bila kita berpendapat atas hasil masakan orang lain demi kebaikan itu boleh saja, seperti kita mengatakan bahwa masakan ini enak namun lebih enak lagi bila begini atau begitu.

Bahkan nabi sangat gemar memuji makanan-makanan yang disajikan terhadap beliau sebagai bentuk menghargai mereka-mereka yang telah bersusah payah menyuguhkannya, sebagaimana dalam sabdanya,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Abu ‘Awanah] dari [Abu Bisyr] dari [Abu Sufyan] dari [Jabir bin Abdullah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada istrinya-istrinya mengenai lauk, lalu mereka menjawab; “Kita tidak punya apa-apa selain cuka.” Beliau menyuruh diambilkan kemudian beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda: ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.’ (HR. Muslim No. 3824)

Kandungan Hikmah;

  1. Alangkah mulianya akhlak Rasulullah SAW. beliau begitu menghargai perasaan orang lain, sehingga beliau tidak pernah mencela pekrjaan yang telah mereka lakukan, tidak menyakiti hati mereka dan tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka sedih.
  2. Namun bila terkait dengan makanan yang diharamkan oleh agama secara tegas nabi menyatakan keharamannya sebagai tuntunan kepada ummatnya.
  3. Nabi telah memberikan tuntunan yang baik yakni bila kita disuguhkan makanan yang kurang berkenan maka dianjurkan ditinggalkan tanpa diiringi celaan.
  4. Sebagai sebuah penghargaan bagai mereka yang telah bersusah payah menyediakan makanan maka hendaklah kita memujinya.