Kupas Tuntas Hukum Cadar

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

BAB I

KAJIAN HUKUM

Sebelum menentukan hukum mengenakan cadar dalam Islam, sebaiknya kita memahami konsep sederhana hukum syari’ah dalam Islam. Dalam Islam ada lima jenis hukum yang telah masyhur; Wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Menyangkut penyikapan persoalan keagamaan dari kelima hukum tersebut terbagi menjadi dua; Pertama adalah hukum-hukum yang telah mencapai kata sepakat oleh seluruh Ahli Agama Islam atau lebih dikenal dengan istilah IJMA’ ULAMA, dan kedua adalah hukum-hukum yang belum mencapai kata sepakat oleh seluruh Ahli Agama Islam atau lebih dikenal dengan istilah IKHTILAFUL ULAMA.

Dalam hal ijma ulama tentunya tidak ada persoalan dalam praktiknya. Namun persoalan akan mulai dirasakan bilamana menyangkut masalah-masalah ikhtilaful ulama. Untuk sedikit memahami kronologis atau asal usul kenapa dalam satu agama Islam terjadi perbedaan pendapat atau pandangan antara ulama, maka kita sebaiknya memahami konsep hukum dalam Islam secara dasarnya. Berikut adalah konsep, mekanisme, dan prosedur dasar menetapkan kriteria sebuah hukum,

A. Wajib Dan Haram

  1. Hukum ke-WAJIB-an atau ke-HARAM-an tersebut bila berasal dari PERINTAH atau LARANGAN nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak/absolut bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az-Zumar: 23)

  1. Tidak ada satupun nash lain yang menunjukkan makna yang berlawanan atau bertolak belakang dalam sebuah persoalan agama.
  2. Perintah itu bersifat WAJIB apabila diiringi janji pahala dan surga bagi para pelakunya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi yang meninggalkannya. Dan sebaliknya larangan itu bersifat haram apabila diiringi janji pahala dan surga bagi yang meninggalkannya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi para pelakunya.
  3. Contoh hukum kewajiban shalat lima waktu karena berasal dari perintah yang kalimatnya bersifat mutlak, sorih, muhkamat, dan tidak ada satupun dalil yang bertolak belakang,

فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“…maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

  1. Contoh hukum keharaman daging babi karena berasal dari larangan yang kalimatnya bersifat mutlak, sorih, muhkamat, dan tidak ada satupun dalil yang bertolak belakang,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Maa’idah: 3)

B. Selain Wajib Dan Haram (Sunnah, Makruh, Mubah)

  1. Hukum tersebut bila berasal dari perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan, namun kalimatnya bersifat tidak mutlak/absolut alias muqayyad/bersyarat.
  2. Atau larangan atau perintah tersebut berasal dari nash yang kalimatnya bersifat MUTASYABIHAT atau MERAGUKAN walaupun tidak ada dalil lain yang terkesan bertolak belakang. Maksudnya adalah dalam sebuah persoalan agama Islam tersebut dalil-dalilnya tidak menunujukkan makna yang jelas sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para penelitinya. Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 7)

  1. Terdapat banyak nash yang menunjukkan makna bervariasi dan atau bertolak belakang antara nas satu dengan nash yang lainnya; Sebagaimana ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang mengerjakan. Dan ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang tidak mengerjakan.
  2. Agama hanya menjanjikan sebuah pahala dan surga bagi yang mau mengerjakan dan atau tidak mengerjakannya. Namun agama tidak sampai mengancam dosa dan neraka bagi yang mau mngerjakan dan atau tidak mau mengerjakannya.
  3. Contoh Kasus:
  • Sunnah: Seperti ibadah shalat berjamaah; Nabi dan sahabat pernah mengerjakan dan juga pernah tidak mengerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat tambahan pahala 27 derajat, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak mengerjakan shalat berjamaah.
  • Makruh: Seperti makan menggunakan tangan kiri; Nabi dan sahabat pernah menggunakan dan juga pernah tidak menggunakan. Bagi yang menggunakan mendapat tambahan pahala, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak menggunakan tangan kiri untuk makan.
  • Mubah: Seperti makan, minum dan bercanda; Nabi dan sahabat pernah melakukan dan juga pernah tidak melakukan. Kedua-duanya sama sekali tidak berdampak apakah dia mendapatkan pahala atau dosa. Ada juga hukum,
  • Aula/Afdhal/Lebih Utama: Seperti diam; Nabi mengatakan bilamana manusia tidak memiliki manfaat dalam pembicaraan maka lebih utama manusia itu diam.

C. Ikhtilaful Ulama (Bisa Wajib, Haram, Sunnah, Makruh, Atau Mubah)

  1. Bisa jadi hukum tersebut berasal dari perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak/absolut bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan namun terdapat nash lain dengan tema sama dengan makna hukum yang bertolak belakang.
  2. Atau bisa jadi terdapat banyak nas dengan sebuah tema agama yang sama namun kesemuanya bersifat kalimat muqayyad/bersyarat bukan mutlak/absolut, bersifat kinayah/samar bukan sharih/jelas, atau kalimatnya bersifat mutasyabihat/meragukan bukan muhkamat/pasti, sehingga berpotensi menimbulkan banyak persepsi penafsiran dan bahkan penakwilan.
  3. Atau bisa jadi persoalan agama tersebut baru muncul ketika sumber hukum Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits sudah terhenti sepeninggalnya nabi Muhammad sedangkan tidak ada satu dalilpun dalam Al-Qur’an dan Hadits secara jelas yang dapat mewakili tema persoalan agama yang baru muncul tersebut.
  4. Contoh kasus masalah ikhtilaful ulama ini: Seperti hukum cadar, jenggot, isbal, dll.; Masalah-masalah tersebut para ulama ahli saling menunjukkan kekuatan dalil-dalinya walaupun sumber hukumnya sama-sama dari nash (Al-Qur’an dan Hadits). Biasanya para ulama dalam memutuskan persoalan ini berbeda karena berbedanya metode yang dipakai, yaitu;
  • Naskh

Bilamana terjadi dua dalil yang saling bertentangan secara zhahir dan sederajat, maka dihapus atau dibatalkan bila bukti-bukti dan indikatornya kuat dan jelas dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah, seperti kedua dalil yang bertentangan makna tersebut diketahui tahun rilisnya, dan ada dalil lain dari ayat atau hadits atas telah dibatalkannya nash tersebut. Firman Allah,

إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat atau memindahkan (Membatalkan) apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Jasiyat: 29)

  • Tarjih (Mengambil satu dalil dan membuang dalil lainnya yang berbeda)

Secara bahasa tarjih berarti menguatkan, yakni mengambil satu dalil dengan mengabaikan dalil lainnya. Dalil yang dikuatkan disebut rajih dan dalil yang dilemahkan disebut marjuh. Mereka yang menggunakan metode ini beralasan; a. Dua dalil yang bertentangan dan tidak mungkin untuk mengamalkan keduanya melalui cara apapun. b. Kedua dalil yang bertentangan itu memiliki kualitas yang sama untuk memberi petunjuk kepada yang dimaksud. c. Ada indikator yang mendukung untuk mengamalkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan dan meninggalkan dalil yang satu lagi.

  • Al-Jam`u wa al-Taufiq (Mengumpulkan dua dalil dengan dihukumi sunnah)

Al-Jam`u wa al-Taufiq adalah menghubungkan dua dalil yang nampak bertentangan, sehingga keduanya bisa dipakai dan diamalkan dengan didapatkan makna yang berserasian. Dengan maksud bahwa agama memang memberikan pilihan variasi beramal dalam beragama.

  • Tasaqut al-Dalalain

Tasaqut al-Dalalain adalah upaya menangguhkan penyelesaian atau keputusan dari dua dalil yang tempak beralawanan karena sulit ditempuh dangan al-jam`u wa al-taufiq, tarjih, maupun naskh. Cara ini sebenarnya bukanlah penyelesaian tetapi penangguhan /dimauqufkan atau di pending untuk sementara waktu, sementara belum didapatkan keterangan atau alasan-alasan lain yang menunjang atau menguatkan salah satunya.

Bila suatu persoalan hukum dalam Islam masih terjadi pertentangan antar para ulama ahli, maka secara otomatis hukumnya tidak bisa naik ke level wajib ataupun haram. Maksudnya walaupun sebagian ulama berpendapat bahwa masalah tersebut wajib atau haram maka bagi yang berbeda pendapat berbeda tidak serta merta dapat dihukumi berdosa apabila melakukannnya atau tidak melakukannya, karena persoalan tersebut tergolong masalah ikhtilafiyah yang masing-masing berhak melakukan ijtihad/meneliti hukumnya. Walaupun berbeda maka tidak bisa untuk salah satunya dihukumi salah dan berdosa, bahkan walaupun kedua-duanya menghasilkan hukum yang berbeda maka kedua-duanya tetap akan mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda nabi,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari Nomor 268, Muslim Nomor 1716)

Oleh karena itu tidak boleh persoalan khilafiyah atau ijtihadiyah dipaksakan dan ditetapkan ke dalam hukum haram atau wajib, pilihannya maksimal hanya dihukumi sunnah, makruh atau mubah saja. Karena untuk menetapkan apakah hukum sebuah persoalan agama itu haram/batal atau wajib/halal harus memenuhi beberapa kriteria yang ketat sebagaimana yang telah disebutkan di poin A (diatas). Disamping itu bila terdapat dua dalil sama-sama kuat namun bertolak belakang, tidak layak bagi kita hanya mengakui sala satunya dan mengingkari dalil lainnya, karena kedua-duanya juga merupakan dalil yang datangnya dari Allah SWT an Muhammad SAW. Oleh karena itu dari penjelasan diatas maka sebaiknya kita gabungkan dua dalil tersebut dengan diberlakukan sebuah kaidah,

“Bila ada dua dalil yang bersifat jelas namun bertolak belakang (Ikhtilaf) dalam satu masalah agama maka tidak bisa dihukumi wajib atau haram, melainkan masuk dalam kategori maksimal hukum sunnah, makruh, aula, khilaful aula, atau bahkan hukumnya mubah saja.”

 “Haram hukumnya mewajibkan atau mengharamkan persoalan yang masih dipertentangkan yang mana kedua-duanya sama-sama dapat mengajukan dalil yang tidak lemah”

BAB II

HUKUM CADAR

Harus diakui bahwa dari semua dalil yang terkait dengan aurat perempuan saling bertolak belakang antara satu dalil dengan dalil lainnya. Sehingga timbullah pertentangan antara para ulama ahli agama, masing masing dengan dalil-dalil penunjangnya. Bahkan kenyataannya tidak mudah mematahkan satu pendapat dengan pendapat lainnya karena masing-masing menganggap telah didukung dengan dalil yang mereka persepsikan kuat. Berikut kami sebutkan beberapa saja dari sekian banyak hadits mengenai menutup wajah yang saling bertentangan,

  1. Hadits-hadits yang berkonotasi makna wajib mengenakan cadar,

إِذَا كَانَ عِنْدَ مُكَاتَبِ إِحْدَاكُنَّ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ

“Jika budak mukatab (budak yang ada perjanjian dengan tuannya bahwa dia akan merdeka jika telah membayar sejumlah uang tertentu -pen) salah seorang di antara kamu (wanita) memiliki apa yang akan dia tunaikan, maka hendaklah wanita itu berhijab (menutupi diri) darinya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

وَقَدْ كَانَ -صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ- يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

  1. Hadits-hadits yang berkonotasi makna wajib mengenakan cadar,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk menaati-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bersedekah, karena mayoritas kamu adalah bahan bakar neraka Jahannam!” Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Karena kamu banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal. (HS. Muslim, dan lainnya)

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا

Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud)

Disebabkan karena terdapat dua dalil yang saling bertolak belakang yang sama-sama dianggap kuat, maka hukum mengenakan cadar tidak sampai naik pada level wajib dan bagi yang tidak mengenakannyapun tidak sampai dihukumi berdosa. Walaupun begitu hukum mengenakan cadar mayoritas ulama menghukumi hanya sebatas sunnah yang tetap mendapatkan pahala bagi yang mau melakukannya.

BAB III

KODE ETIK DALAM MASALAH IKHTILAFUL ULAMA

Dalam masalah ini para ulama sulit untuk mencapai kata sepakat dalam masalah hukum, karena masing-masing merasa didukung oleh dalil-dalil yang cukup kuat. Namun walaupun para ulama tidak dapat menyepakati dalam masalah hukumnya mereka telah bersepakat dalam masalah menyikapinya, yakni kesepakatan yang telah diambil adalah;

  1. Boleh memilih pendapat atau hukum mana yang lebih diyakini kebenarannya selama juga didasari dengan dalil dari nas agama. Dengan catatan,
  2. Harus saling menghargai
  3. Tidak boleh merasa paling benar.
  4. Tidak boleh menuduh pihak lain melakukan kesyirikan, kurafat, dan bid’ah.
  5. Tidak boleh menghukumi pihak yang berbeda sebagi pihak yang salah, sesat atau bahkan kafir. Kusus bagi mereka yang suka mengkafirkan hanya karena perbedaan ijtihadiyah maka ada hukum tersendiri. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Inilah sikap golongan Sunni yakni golongan yang berpegang teguh pada Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengambil jalan yang seimbang, harmonis dan moderat, tidak condok ke kanan terlalu keras dan juga tidak condong ke keri terlalu lembek. Inilah jalan ummat yang diridhoi Allah. Firman Allah swt,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat Pertengahan, supaya kamu menjadi saksi ( pembawa keterangan ) kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)

BAB IV

DAFTAR DALIL-DALIL TERKAIT CADAR

Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang diperepsikan kewajiban cadar bagi muslimah.

A. DALIL-DALIL UNTUK MEWAJIBKAN CADAR

  1. Dalil Pertama

وَقَدْ كَانَ –صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ– يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini ada keterangan mengenai kewajiban menutup wajah menggunakan jilbab kepada Shawfan bin Al-Mu’athal.
  1. Dalil kedua

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haidh menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”” (HR. Bukhari dan Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini ada keterangan mengenai kewajiban menutup wajah menggunakan jilbab kepada para perempuan haid saat menghadiri shalat hari raya.
  • Jilbab merupakan kain penutup bagian kepala dan leher namun bukan wajah.
  1. Dalil ketiga

إِذَا كَانَ عِنْدَ مُكَاتَبِ إِحْدَاكُنَّ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ

“Jika budak mukatab (budak yang ada perjanjian dengan tuannya bahwa dia akan merdeka jika telah membayar sejumlah uang tertentu -pen) salah seorang di antara kamu (wanita) memiliki apa yang akan dia tunaikan, maka hendaklah wanita itu berhijab (menutupi diri) darinya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini ada keterangan mengenai anjuran seorang budak wanita bila sudah merdeka menutup wajah menggunakan jilbab kepada para perempuan haid saat menghadiri shalat hari raya.
  • Jilbab merupakan kain penutup bagian kepala dan leher namun bukan wajah.
  1. Dalil keempat

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَفْلَحَ أَخَا أَبِي الْقُعَيْسِ جَاءَ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْهَا وَهُوَ عَمُّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ بَعْدَ أَنْ نَزَلَ الْحِجَابُ فَأَبَيْتُ أَنْ آذَنَ لَهُ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي صَنَعْتُ فَأَمَرَنِي أَنْ آذَنَ لَهُ

Dari ‘Aisyah bahwa Aflah saudara Abul Qu’eis, paman Aisyah dari penyusuan, datang minta izin untuk menemuinya setelah turun ayat hijab. ‘Aisyah berkata: “Maka aku tidak mau memberinya izin kepadanya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang maka aku memberitahukan apa yang telah aku lakukan, maka beliau memerintahkanku agar memberi izin kepadanya.” (HR. Bukhari)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar, melainkan tema yang terkandung adalah mengenai hijab (batasan interaksi antar lawan jenis yang bukan muhrim). Hijab yang dimaksud disini bukan sebuah kain penutup namun lebih pada batasan interaksi.
  • Tema hadits ini mengenai interaksi seorang istri dengan laki-laki lain harus atas izin seorang suami.
  • Walaupun bukan muhrimnya kalau memang seorang suami memberikan izin bagi seorang istri berinteraksi dengan laki-laki lain maka hukumnya boleh sebagaimana nabi mengizinkan Aisyah bertemu dengan Aflah.
  1. Dalil kelima

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita adalah aurat, jika dia keluar, setan akan menjadikannya indah pada pandangan laki-laki.” (HR. Tirmidzi)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Tema hadits ini mengenai perempuan merupakan aurat bila berada di luar rumah, namun sifatnya tidak spesifik melainkan sangat umum.
  1. Dalil keenam

خَرَجَتْ سَوْدَةُ بَعْدَ مَا ضُرِبَ عَلَيْهَا الْحِجَابُ لِتَقْضِيَ حَاجَتَهَا وَكَانَتِ امْرَأَةً جَسِيمَةً تَفْرَعُ النِّسَاءَ جِسْمًا لَا تَخْفَى عَلَى مَنْ يَعْرِفُهَا فَرَآهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ يَا سَوْدَةُ وَاللَّهِ مَا تَخْفَيْنَ عَلَيْنَا فَانْظُرِي كَيْفَ تَخْرُجِينَ

“Setelah diwajibkan hijab pada Saudah, dia keluar (rumah) untuk menunaikan hajatnya, dia adalah seorang wanita yang besar (dalam riwayat lain: tinggi), tubuhnya melebihi wanita-wanita lainnya, tidak samar bagi orang yang mengenalnya. Lalu Umar melihatnya, kemudian berkata: “Hai Saudah, demi Allah engkau tidaklah tersembunyi bagi kami, perhatikanlah bagaimana engkau keluar!” (HR. Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Hadits ini tidak mengandung sebuah hukum karena tidak ada sebuah kalimat larangan atau perintah, namun hadits ini lebih menunjukkan bahwa sahabat umar memperhatikan bodi seorang perempuan.
  1. Dalil ketujuh

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Dalam ayat ini ada keterangan mengenai anjuran para sahabat sebaiknya bila berinteraksi dengan istri-istri nabi tidak secara langsung, melainkan dibalik tabir.
  • Kalimat “Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” hanya menunjukkan kalimat tafdil atau keutamaan. Karena sifat kalimatnya tidak menunjukkan perintah yang mutlak, maka sesuai kaidah fikih belum bisa dinaikkah ke level hukum kewajiban.
  1. Dalil kedelapan

يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Dalam ayat ini menunjukkan dalam masalah aurat dan interaksi istri-istri nabi memiliki kedudukan yang berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Maksudnya istri-istri nabi bobot aurat dan interaksi lebih berat.
  • Dalam ayat tersebut ada dua makna yang ditunjukkan, pertama larangan terhadap khusus kepada keluarga nabi atau ahlul bait untuk berbicara yang sekiranya dapat memancing syahwat kaum laki-laki.
  • Kedua perintah yang ditunjukkan khusus kepada keluarga nabi untuk tetap tinggal di dalam rumah setelah terjdinya fitnah pada saat itu.
  • Ketiga larangan kepada keluarga nabi untuk berprilaku sebagaimana prilaku jahiliyah.
  • Dalam ayat ini lebih menekankan pada prilaku saja dan tidak ada pembahasan secara spesifik mengenai jilbab maupun cadar.
  • Penggunaan ayat ini sebagai dalil penggunaan cadar bukan berasal dari dzahirnya teks ayat melainkan hanya berasal dari makna yang disimpulkan.
  1. Dalil kesembilan

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

CATATAN:

  • Dalam hadits tersebut disisi tertentu kaum perempuan yang bersama nabi saat menjalankan ihram memang menutup wajahnya dari seorang laki-laki lain ketika melewatinya, namun disisi lain kaum perempuan tidak menutup wajah dihadapan nabi yang tentunya juga bukan muhrimnya.
  • Sedangkan pada hadits tersebut tidak semuanya yang melakukan menutup wajahnya namun hanya salah seorang saja.
  1. Dalil kesepuluh

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)

CATATAN:

  • Dalam ayat tersebut ada kewajiban atas diri seorang perempuan muslim untuk menutup badan. Setelah dikaji lebih lanjut bahwa pertama, perintah tersebut bersifat tidak bersifat mutlak melainkan bersifat muqayyad/bersyarat. Kebolehan perempuan membuka pakaian dengan syarat tidak memiliki hasrat kawin dan tidak niat sombong.
  • Ayat tersebut menjelaskan tentang pakaian bukan membahas terkait penutup kepala ataupun wajah.
  1. Dalil kesebelas

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada  mereka.” (QS. An Nur: 31)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Dalam ayat ini setelah dikaji lebih lanjut mengandung makna yang jelas bahwa keharusan menutup aurat bagi muslimah hanya sebatas dada.
  1. Dalil keduabelas

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Dalam ayat ini setelah dikaji lebih lanjut mengandung makna yang jelas bahwa keharusan menutup aurat bagi muslimah hanya sebatas dada.
  1. Dalil ketigabelas

لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا

“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Dalam ayat ini dijelaskan kebolehan perempuan berinteraksi dengan laki-laki tanpa batas hanya dengan kerabatnya saja. Ini sebagai bukti kewajiban menutup aurat perempuan terhadap laki-laki lain.
  1. Dalil keempatbelas

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Dahulu wanita-wanita mukmin biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menutupi tubuh mereka dengan selimut. Kemudian mereka kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak secara tegas ada terdapat kalimat perintah dari nabi untuk menutupi kepala dan wajah, kaum perempuan yang menutupi tubuh mereka hanya merupakan kebiasaan di waktu subuh saat mereka pergi ke tempat shalat bersama nabi.
  • Tidak mengenalnya antar sahabiyah hanya faktor gelapnya waktu subuh saja, tidak ada kejelassan karena menutup wajahnya.
  1. Dalil kelimabelas

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ

“Barang siapa menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana para wanita membuat ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sejengka.l” Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau begitu telapak kaki mereka akan tersingkap?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sehasta, mereka tidak boleh melebihkannya.” (HR. Tirmidzi)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan mengenai menutup wajah dan kepala menggunakan cadar.
  • Tema dalam hadits ini mengenai ancama akhirat karena kesombongan yang ditampakkan lewat menggunakan pakaian yang menjulur.
  • Secara tegas ada terdapat kalimat perintah dari nabi untuk menutupi kepala dan wajah, kaum perempuan yang menutupi tubuh mereka hanya merupakan kebiasaan di waktu subuh saat mereka pergi ke tempat shalat bersama nabi.
  1. Dalil keenambelas

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“Mudah-mudahan Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama-tama, ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab: 59), mereka merobek selimut mereka lalu mereka menutupi dengannya.” (HR. Bukhari, dan Abu Dawud)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Terdapat perintah yang jelas untuk menutup dada bagi kaum muslimah.
  1. Dalil ketujuhbelas

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita.” Seorang laki-laki Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana pendapat Anda tentang saudara suami (bolehkah dia masuk menemui wanita, istri saudaranya)? Beliau menjawab: “Saudara suami adalah kematian. (Yakni: lebih berbahaya dari orang lain).” (HR. Bukhari, Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini tidak ada keterangan yang jelas mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Tema hadits tersebut hanya terkait tentang interaksi perempuan dan laki-laki yang mana saudara perempuan istri masuk kategori yang tidak boleh berinteraksi secara langsung.
  1. Dalil kedelapanbelas

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Obyek ayat ini adalah pandangan perempuan, bukan laki-laki yang memandang. Maksudnya bukannya perintah terhaddap perempuan untukmenutup wajah agar laki-laki lain tidak dapat melihat. Melainkan perintah bagi perempuan matanya tidak jelalatan.
  • Tema lain dalam ayat ini perintah kaum perempuan tidak melakukan perzinahan dengan menjaga kemaluannya.
  1. Dalil kesembilanbelas

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Tema ayat ini larangan menampakkan perhiasan kecuali perhiasan yang umum berlaku di masyarakat. Masalah keumuman itu tidak dibatasi secara terperinci oleh Allah. Ini menandakan pembatasan perhiasan mana ssaja yang dianggap umum tergantung kebiasaan yang berlaku di sebuah daerah.
  1. Dalil keduapuluh

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Tema ayat ini bukan masalah aurat melainkan kesombongan, ayat ini hanya menerangkan tentang larangan sombong dengan memamerkan perhiasan.
  1. Dalil keduapuluh satu

غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Tema ayat ini bukan masalah aurat melainkan kesombongan, ayat ini hanya menerangkan tentang larangan sombong dengan memamerkan perhiasan.

B. DALIL-DALIL YANG TIDAK MEWAJIBKAN CADAR

  1. Dalil kesatu

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nuur: 31)

CATATAN:

  • Ayat ini mengandung perintah bagi perempuan untuk menyembunyikan perhiasannya yang tidak biasa nampak.
  • Namun ayat ini memberikanpengertian bahwa berarti pada zaman nabi ada perhiasan-perhiasan yang nampak biasa nampak dari kalangan perempuan.
  1. Dalil kedua

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

CATATAN:

  • Dalam ayat ini tidak ada keterangan mengenai menutup, leher, wajah dan kepala menggunakan jilbab atau bahkan cadar.
  • Kejelasan perintah menutup aurat hanya sebatas pada dada, tidak sampai ke leher, kepala, apalagi ke wajah.
  1. Dalil ketiga

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَايَصْنَعُونَ. وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 30,31)

CATATAN:

  • Ayat ini membuktikan bahwa pada diri wanita ada sesuatu yang memang terbuka dan terlihat. Sehingga Allah memerintahkan untuk menahan pandangan dari wanita. Dan yang biasa nampak itu menurut jumhur ulama yaitu wajah dan kedua telapak tangan.
  1. Dalil keempat

يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

“Wahai Ali, janganlah engkau turutkan pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua), karena engkau berhak (yakni, tidak berdosa) pada pandangan (pertama), tetapi tidak berhak pada pandangan (kedua).” (HR. Abu Dawud, dan Tirmidzi)

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ اصْرِفْ بَصَرَكَ

Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau bersabda, “Palingkan pandanganmu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

CATATAN:

  • Hadits ini menunjukkan bahwa pada masa nabi para perempuan terbiasa tidakmenutup wajahnya.
  1. Dalil kelima

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا

Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini menunjukkan bahwa anggota badan wajah dan tangan bukan termasusk aurat.
  1. Dalil keenam

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk menaati-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bersedekah, karena mayoritas kamu adalah bahan bakar neraka Jahannam!” Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Karena kamu banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal. (HR. Muslim)

CATATAN:

  • Hadits ini jelas menunjukkan wajah wanita bukan aurat, yakni bolehnya wanita membuka wajah. Sebab jika tidak, pastilah Jabir tidak dapat menyebutkan bahwa wanita itu pipinya merah kehitam-hitaman.
  1. Dalil ketujuh

أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ … فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا …

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan Al Fadhl bin Abbas… kemudian beliau berhenti untuk memberi fatwa kepada orang banyak. Datanglah seorang wanita yang cantik dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulailah Al Fadhl melihat wanita tersebut, dan kecantikannya mengagumkannya. Nabi ‘alaihi wa sallam pun berpaling, tetapi Al Fadhl tetap melihatnya. Maka nabi ‘alaihi wa sallam memundurkan tangannya dan memegang dagu Al Fadhl, kemudian memalingkan wajah Al Fadhl dari melihatnya…” (HR. Bukhari, Muslim)

CATATAN:

  • Bila pada masa semua wanita bercadar niscaya beliau tidak melihat kecantikan wanita tersebut.
  • Namun walaupun wajah wanita bukan aurat bagi yang memandangnya dianjurkan menahan pandangannya.
  1. Dalil kedelapan

أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ…

“Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menghibahkan diriku kepada Anda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau menaikkan dan menurunkan pandangan kepadanya. Lalu beliau menundukkan kepalanya……” (HR. Bukhari, Muslim)

CATATAN:

  • Dalam hadits ini jelas nabi juka memperhatikan ke sekujur adan termasuk wajahnya, ini pertanda pada masa itu kebiasaan para wanita tidak mengenakan cadar.
  1. Dalil kesembilan

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Dahulu wanita-wanita mukminah biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menutupi tubuh (mereka) dengan selimut. Kemudian (mereka) kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

CATATAN:

  • Dari perkataan ‘Aisyah, “Tidak ada seorangpun mengenal mereka karena gelap.” Ini menunjukkan bahwa tidak terlihatnya wajah para wanita bukan karena tertutup wajahnya, melainkan karena faktor gelapnya subuh.
  • Dan ini dapat dipahami, jika tidak gelap niscaya dikenali, sedangkan mereka dikenali menurut umumnya tradisi masa itu bahwa wajah perempuan memang terbuka.
  1. Dalil kesepuluh

أَنَّ أُمَّ شَرِيكٍ يَأْتِيهَا الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ فَانْطَلِقِي إِلَى ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى فَإِنَّكِ إِذَا وَضَعْتِ خِمَارَكِ لَمْ يَرَكِ فَانْطَلَقَتْ إِلَيْهِ …

“Bahwa Ummu Syuraik biasa didatangi oleh orang-orang Muhajirin yang pertama. Maka hendaklah engkau pergi ke (rumah) Ibnu Ummi Maktum yang buta, karena jika engkau melepaskan khimar (kerudung, penutup kepala) dia tidak akan melihatmu. Fathimah binti Qais pergi kepadanya…” (HR. Muslim)

CATATAN:

  • Hadits ini menunjukkan bahwa wajah bukan aurat.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan Fathimah binti Qais dengan memakai khimar dilihat oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa wajahnya tidak wajib ditutup, sebagaimana kewajiban menutup kepalanya.
  1. Dalil kesebelas

سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قِيلَ لَهُ أَشَهِدْتَ الْعِيدَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ وَلَوْلَا مَكَانِي مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ حَتَّى أَتَى الْعَلَمَ الَّذِي عِنْدَ دَارِ كَثِيرِ بْنِ الصَّلْتِ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِينَ بِأَيْدِيهِنَّ يَقْذِفْنَهُ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَبِلَالٌ إِلَى بَيْتِهِ

“Saya mendegar Ibnu Abbas ditanya, “Apakah Anda (pernah) menghadiri (shalat) ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Ya, dan jika bukan karena posisiku (umurku) yang masih kecil, niscaya saya tidak menyaksikannya. (Rasulullah keluar) sampai mendatangi tanda yang ada di dekat rumah Katsir bin Ash Shalt, lalu beliau shalat, kemudian berkhutbah. Lalu beliau bersama Bilal mendatangi para wanita, kemudian menasihati mereka, mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka aku lihat para wanita mengulurkan tangan mereka melemparkannya (cincin, dan lainnya sebagai sedekaah) ke kain Bilal. Kemudian Beliau dan Bilal pulang ke rumahnya.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Nasai)

CATATAN:

  • Ini menunjukkan bahwa wajah dan tangan sahabat muslimah bukan aurat.
  1. Dalil keduabelas

أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ ابْنِ خَوْلَةَ فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَكَانَ بَدْرِيًّا فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنْقَضِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ مِنْ وَفَاتِهِ فَلَقِيَهَا أَبُو السَّنَابِلِ يَعْنِي ابْنَ بَعْكَكٍ حِينَ تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا وَقَدِ اكْتَحَلَتْ (وَاحْتَضَبَتْ وَ تَهَيَّأَتْ) فَقَالَ لَهَا ارْبَعِي عَلَى نَفْسِكِ أَوْ نَحْوَ هَذَا لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ النِّكَاحَ

Bahwa dia menjadi istri Sa’d bin Khaulah, lalu Sa’d wafat pada haji wada’, dan dia seorang Badari (sahabat yang ikut perang Badar). Lalu Subai’ah binti Al Harits melahirkan kandungannya sebelum selesai 4 bulan 10 hari dari wafat suaminya. Kemudian Abu As Sanabil (yakni Ibnu Ba’kak) menemuinya ketika nifasnya telah selesai, dan dia telah memakai celak mata (dan memakai inai pada kuku tangan, dan bersip-siap). Lalu Abu As Sanabil berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru (atau kalimat semacamnya) mungkin engkau menghendaki nikah…” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

CATATAN:

  • Hadits ini nyata membuktikan kedua telapak tangan dan wajah atau mata bukanlah aurat. Karena jika merupakan aurat yang harus ditutup, tentulah Subai’ah tidak boleh menampakkannya di hadapan Abu As Sanabil.
  1. Dalil ketigabelas

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا

Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”. Dia berkata, “Itu wanita yang hitam, dia dahulu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku memiliki penyakit ayan (epilepsi), dan (jika kambuh, auratku) terbuka. Berdoalah kepada Allah untuk (kesembuhan) ku!”. Beliau menjawab, “Jika engkau mau bersabar (terhadap penyakit ini), engkau mendapatkan surga. Tetapi jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.” Wanita tadi berkata, “Aku akan bersabar. Tetapi (jika kambuh penyakitku, auratku) terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku agar (jika kambuh, auratku) tidak terbuka.” Maka beliau mendoakannya. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

CATATAN:

  • Hadits ini nyata membuktikan kedua telapak tangan dan wajah atau mata bukanlah aurat. Karena jika merupakan aurat yang harus ditutup, tentulah Subai’ah tidak boleh menampakkannya di hadapan Abu As Sanabil.
  1. Dalil keempatbelas

كَانَتِ امْرَأَةٌ تُصَلِّي خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْنَاءَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ فَكَانَ بَعْضُ الْقَوْمِ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ لِئَلَّا يَرَاهَا وَيَسْتَأْخِرُ بَعْضُهُمْ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ فَإِذَا رَكَعَ نَظَرَ مِنْ تَحْتِ إِبْطَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى (وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ (

Dahulu ada seorang wanita yang sangat cantik shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebagian laki-laki maju, sehingga berada di shaf pertama agar tidak melihat wanita itu. Tetapi sebagian orang mundur, sehingga berada di shaf belakang. Jika ruku’, dia dapat melihat (wanita itu) dari sela ketiaknya. Maka Allah menurunkan (ayat),

وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripadamu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).” (QS. Al Hijr: 24) (HR. Ash Habus Sunan).

CATATAN:

  • Hadits ini nyata menunjukkan kedua telapak tangan dan wajah atau mata bukanlah aurat.
  1. Dalil kelimabelas

رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَأَتَى سَوْدَةَ وَهِيَ تَصْنَعُ طِيبًا وَعِنْدَهَا نِسَاءٌ فَأَخْلَيْنَهُ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ رَأَى امْرَأَةً تُعْجِبُهُ فَلْيَقُمْ إِلَى أَهْلِهِ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita sehingga wanita itu membuat beliau terpesona, kemudian beliau mendatangi Saudah (istri beliau), yang sedang membuat minyak wangi dan di dekatnya ada banyak wanita. Maka wanita-wanita itu meninggalkan beliau, lalu beliau menunaikan hajatnya. Kemudian beliau bersabda: “Siapa pun lelaki yang melihat seorang wanita, sehingga wanita itu membuatnya terpesona, maka hendaklah dia pergi kepada istrinya, karena sesungguhnya pada istrinya itu ada yang semisal apa yang ada pada wanita itu.” (HR. Muslim dan Ad-Darimi)

CATATAN:

  • Hadits ini nyata menunjukkan bahwa wajah perempuan pada masa nabi terbiasa terbuka.
  1. Dalil keenambelas

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا آكُلُ بِشِمَالِي وَكُنْتُ امْرَأَةً عَسْرَاءَ فَضَرَبَ يَدِي فَسَقَطَتِ اللُّقْمَةُ فَقَالَ لَا تَأْكُلِي بِشِمَالِكِ وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكِ يَمِينًا أَوْ قَالَ وَقَدْ أَطْلَقَ اللَّهُ يَمِينَكِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku ketika aku sedang makan dengan tangan kiriku, karena aku seorang wanita yang kidal. Maka beliau memukul tanganku sehingga sesuap makanan jatuh. Lalu beliau bersabda, “Janganlah engkau makan dengan tangan kirimu, sedangkan Allah telah menjadikan tangan kanan untukmu.” Atau bersabda, “Sedangkan Allah telah menyembuhkan tangan kananmu.” (HR. Ahmad)

CATATAN:

  • Hadits ini nyata menunjukkan bahwa wajah perempuan pada masa nabi tangan bukan aurat.

Dari dalil-dali diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa;

  • Dari semua dalil diatas tidak ada satupun kalimat yang konkrit mengandung makna perintah atas menutup wajah perempuan.
  • Kalaupun dianggap ada itu hanya sebatas dari asumsi para peneliti ahli agama.
  • Tidak ada secara tegas merinci batasan aurat perempua muslim.
  • Semua makna hanya sebatas anjuran lebih baik bukan perintah yang nyata.
  • Kejelasan perintah menutup aurat hanya sebatas pada dada, tidak sampai ke leher apalagi ke wajah.
  • Tidak ada satupun kosa kata yang menunjukkan makna cadar, karena kebanyakan makna yang ditunjukkan hanyalah hijab yaitu batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan.
  • Dan banyak kebiasaan nbi juga berinteraksi dengan kaum perempuan tanpa batas dengan tangan wajah yang terbiasa terbuka.
  • Tidak ada satupun dalil yang secara konkrit menyebutkan kosa kata cadar.
  • Dengan kesimpulan bahwa wajah dan tangan bukan merupakan aurat.

wallahu a’lam bisshawab