Kupas Tuntas Duduk Tawaruk pada Tasyahud Akhir dalam Shalat

Duduk tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai. Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk seperti pada tasyahud akhir pada shalat empat raka’at (seperti pada shalat Zhuhur) (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, Al Maktabah At Taufiqiyah, 1/347).

Dengan kata lain duduk tawarruk adalah duduk yang menduduki tempat duduknya dan bukan duduk diatas kaki kiri, telapak kaki kiri dimasukan sebagaian kebagian kaki kanan, sedangkan kaki kanan tetap ditegakan. Duduk ini biasanya dilakukan ketika tasyahhud akhir baik pada shalat yeng berjumlah dua, tiga, atau empat rakaat. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

”Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 828)

Tawarruk Disunnahkan Pada Tasyahud Akhir

Berdasarkan hadits di atas, hukum duduk tasyahud akhir adalah wajib dilaksanakan karena menjadi salah satu rukun shalat. Adapun mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali menganggap duduk tasayahud akhir adalah bagian dari rukun shalat. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 15/267,268) Mazhab Hanafi menganggap itu hukumnya fardhu. Durasi waktu duduknya selama bacaan tasyahud hingga pada kalimat “Abduhu wa rasuluhu.”

Berdasarkan hadis tersebut duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat yang wajib dilakukan. Dan ulama telah bersepakat bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:

فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير

“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)

Hukum duduk tasyahud akhir hukumnya wajib karena termasuk rukun shalat, sedangkan duduk dengan model tawaruk hukumnya sunnah. Jadi bila pada saat tasyahud akhir duduknya menggunakan model iftirasy atau yang lainnya, maka hukum shalatnya tidak batal alias tetap sah.

Dengan begitu, jumhur ulama fikih berpendapat bahwa pada tasyahud awal disunnahkan untuk duduk iftirasy. Sedangkan pada tasyahud akhir yang disunnahkan adalah duduk tawaruk. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 14/148)

Perbedaan Laki-laki dengan Perempuan

Madzhab Hanafi membedakan, yakni duduk iftirasy disunnahkan bagi laki-laki, baik di tasyahud awal ataupun di tasyahud akhir. Sedangkan duduk tawaruk disunnahkan bagi perempuan, baik di tasyahud awal ataupun tasyahud akhir.

Madzhab Hanbali berpandangan bahwa duduk iftirasy pada tasyahud awal disunnahkan bagi laki-laki, ketika pada tasyahud akhir disunnahkan dengan duduk tawaruk. Sedangkan bagi perempuan bebas untuk memilih, mau bersila, atau seperti tawaruk tapi kaki kanan dihamparkan ke arah kanan sebagaimana kaki kiri, sebagaimana biasa dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha. (Ibnu Abidin, 1/321, 341, Al-Qawanin al-Fiqhiyah, 69)

Perbedaan Antara Shalat yang Memiliki Satu Tasyahud dan Dua Tasyahud

Madzhab Syafi’i berpandangan bahwa disunnahkan duduk tawaruk untuk shalat yang hanya ada satu tasyahud seperti shalat Shubuh, Shalat Jum’at, Shalat Hari Raya, Shalat Gerhana, dan Shalat Sunnah Lainnya.

Sebaliknya mazhab Hanbali berpandangan bahwa disunnahkan duduk iftirasy untuk shalat yang hanya ada satu tasyahud. Sebab duduk tawaruk hanya berlaku untuk shalat yang memiliki dua duduk tasyahud sebagai pembeda antara dua tasyahud tersebut. (Nihayatul Muhtaj, 1/520, Raudhatuth Thalibin, 1/261). Madzhab ini mendasarkan pendapatnya pada hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول: فِي كُل رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 498)

Posisi Telapak Kaki Kiri Saat Duduk Tawaruk pada Tasyahud Akhir dalam Shalat

Pada prinsipnya posisi dan bentuk semua anggota tubuh duduk tawaruk saat tasyahud akhir dengan Iftirasy saat tasyahud awal adalah sama kecuali berbeda pada bentuk telapak kaki kirinya saja. Gambaran dudu iftirasy sebagai berikut; Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَأَقْبَلَ بِصَدْرِ الْيُمْنَى عَلَى قِبْلَتِهِ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَكَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ

“Seusainya (sujud) beliau duduk iftirasy (duduk di atas kaki kiri) dengan menghadapkan punggung kaki kanan ke arah kiblat, dan meletakkan telapak tangan kanan di atas lutut kanan, dan telapak tangan kiri di atas lutut kiri, sambil menunjuk dengan jari (telunjuk) nya.“ (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 627 dari Abu Humaid)

Sedangkan gambaran duduk tawaruk sebagai berikut; Semua anggota tubuh saat duduk tawaruk sama dengan model duduk iftirasy hanya sedikit merubah posisi telapak kaki kiri yang asalnya diduduki pantat menjadi dimasukkan di bawah pergelangan kaki kanan, Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا

“Ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan).“ (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 627 dari Abu Humaid)

Diriwayatkan dari Wail bin Hujr radliallahu ‘anhu,

عَنْ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ وَابْنِ الْمُبَارَكِ بَاب مِنْهُ أَيْضًا

“dari Ibnu Hujr ia berkata; “Ketika aku tiba di Madinah, aku berkata; “Sungguh, aku benar-benar akan melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat. Ketika duduk tasyahud beliau membentangkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya -yakni di atas paha kirinya- serta menegakkan kaki kanannya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Hadits ini diamalkan oleh kebanyakan para ahli ilmu. Ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri, penduduk Kufah dan bin Al Mubarak.” (HR. Tirmidzi Nomor 1/324)

Diriwayatkan dari Aisyah radliallahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلِكَنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ.

“dari Aisyah radhiyallahu’anha dia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membuka shalat dengan takbir dan membaca, ‘Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin’. Dan beliau apabila rukuk niscaya tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, akan tetapi melakukan antara kedua hal tersebut. Dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, niscaya tidak bersujud hingga beliau lurus berdiri, dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud niscaya tidak akan sujud kembali hingga lurus duduk, dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduknya setan, dan beliau melarang seorang laki-laki menghamparkan kedua siku kakinya sebagaimana binatang buas menghampar. Dan beliau menutup shalat dengan salam.” Dan dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid, “Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan.” (HR. Muslim Nomor 2/54)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu,

عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ يَرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَتَرَبَّعُ فِي الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فَفَعَلْتُهُ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ فَنَهَانِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَقَالَ إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى فَقُلْتُ إِنَّكَ تَفْعَلُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رِجْلَيَّ لَا تَحْمِلَانِي

“dari ‘Abdullah bin ‘Abdullah ia mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah melihhat ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma mengerjakan shalat dengan cara bersimpuh dengan kedua kakinya ketika duduk. Maka aku juga melakukan hal serupa. Saat itu aku masih berusia muda. Namun ‘Abdullah bin ‘Umar melarangku berbuat seperti itu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya yang sesuai sunnah adalah kamu menegakkan telapak kakimu yang kanan sedangkan yang kiri kamu masukkan dibawahnya (melipat).” Aku pun berkata, “Tapi aku melihat anda melakukan hal itu!” Dia menjawab, “Kakiku tidak mampu.” (HR. Bukhari Nomor 1/165)

Tangan Kanan di Atas Paha Kanan dan Tangan Kiri di atas Paha Kiri Saat Duduk Tasyahud Akhir dalam Shalat

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُووَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ

“Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari ayahnya katanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika duduk berdoa (Tasyahud), beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kananya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya dan beliau letakkan jempolnya pada jari tengahnya, sementara telapak kirinya menggenggam lututnya.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 910)

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَلَمْ يُجَاوِزْ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ

“‘Amir bin Abdullah bin Az Zubair dari Bapaknya berkata; Rasulullah jika duduk tasyahud meletakkan tangannya di atas paha kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri, menunjuk dengan telunjuknnya dan pandangan mata beliau tidak melewati telunjuknya.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15518, Abu Daud Nomor 8370, Muslim Nomor 911)

Berisyarat dengan Jari Telunjuk Saat Duduk Tawaruk dalam Shalat

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُووَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ

“Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari ayahnya katanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika duduk berdoa (Tasyahud), beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kananya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya dan beliau letakkan jempolnya pada jari tengahnya, sementara telapak kirinya menggenggam lututnya.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 910)

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“Kemudian beliau duduk dan menyilangkan kaki kirinya dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas pahanya dan lutut kirinya, dan beliau jadikan ujung siku kanannya diatas paha kanannya kemudian beliau menggenggam antara jari-jarinya dan beliau jadikan melingkar, kemudian beliau angkat telunjuknya dan kulihat beliau menggerak-gerakkannya sambil memanjatkan doa. (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 18115, Ad-Darimi Nomor 1323, Nasa’I Nomor 1251 dari Wail bin Hujr)

Telapak Tangan Kiri Menggenggam Lutut Kiri Saat Duduk Tawaruk dalam Shalat

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُووَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ

“Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari ayahnya katanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika duduk berdoa (Tasyahud), beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kananya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya dan beliau letakkan jempolnya pada jari tengahnya, sementara telapak kirinya menggenggam lututnya.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 910)

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“Kemudian beliau duduk dan menyilangkan kaki kirinya dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas pahanya dan lutut kirinya, dan beliau jadikan ujung siku kanannya diatas paha kanannya kemudian beliau menggenggam antara jari-jarinya dan beliau jadikan melingkar, kemudian beliau angkat telunjuknya dan kulihat beliau menggerak-gerakkannya sambil memanjatkan doa. (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 18115, Ad-Darimi Nomor 1323, Nasa’I Nomor 1251 dari Wail bin Hujr)

Pandangan Diarahkan Pada Jari Telunjuk Saat Duduk Tawaruk pada Tasyahud Akhir dalam Shalat

Pandangan mata saat tasyahud akhir dalam shalat sesuai yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diarahkan pada jari telunjuk. Maksdunya, disunnahkan saat duduk tasyahud akhir pandangan diarahkan ke arah isyarat telunjuk. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,

وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ، وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari telunjuknya ke arah kiblat, dan beliau mengarahkan pandangannya ke arah jarinya.” (HR. Nasa’i)

Dalam sebuah riwayat Hadits diesbutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَلَمْ يُجَاوِزْ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ

“‘Amir bin Abdullah bin Az Zubair dari Bapaknya berkata; Rasulullah jika duduk tasyahud meletakkan tangannya di atas paha kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri, menunjuk dengan telunjuknnya dan pandangan mata beliau tidak melewati telunjuknya.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15518, Abu Daud Nomor 8370, Muslim Nomor 911)

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke