Kontroversi Kesunnahan Puasa Rajab

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Yang Terhormat, sebelumnya mohon maaf, saya hendak mempertanyakan perihal anjuran puasa Rajab. Akhir-akhir ini fenomena yang terjadi beberapa kalangan mempersoalkan keabsahan puasa Rajab dengan alasan tidak ada hadits yang melandasinya. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Terima kasih. (Markum Wastoni/Maluku).

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Untuk lebih menyempurnakan pemahaman, sebelum membaca jawaban dari pertanyaan di atas, alangkah baiknya baca dulu artikel yang terkait berikut ini;

Berkreasi dalam Hal Ibadah Ternyata Dibenarkan oleh Agama Islam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Terkait dengan amalan puasa di Bulan Rajab memang harus diakui secara sharih (jelas dan spesifik) tidak ada hadits yang menyebutkan anjuran untuk mengamalkan puasa sunah Rajab. Karena anjuran berpuasa pada bulan Rajab hanya disandarkan pada isyarah dari beberapa hadits. Namun begitu yang perlu diingat, larangan untuk berpuasa di bulan Rajab juga tidak ditemukan di dalam Al-Quran dan hadits. Artinya, sesuai prinsip hukum Islam “manakala tidak ada perintah dan juga tidak ada larangan yang jelas pula maka perkara ini tidak dapat dipersoalkan”. Apalagi sebuah amalan apabila tidak ada larangan yang spesifik dari Al-Qur’an maupun Hadits sangat dibenarkan apalagi amalan tersebut disandarkan pada dalil-dalil yang sifatnya umum. Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi, ulama dari kalangan Syafi’iyah yang juga pakar hadits, berikut ini:

تنبيه) قال في كتاب الصراط المستقيم: لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضل رجب إلا خبر كان إذا دخل رجب قال: اللهم بارك لنا في رجب ولم يثبت غيره بل عامة الأحاديث المأثورة فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم كذب وقال النووي: لم يثبت في صوم رجب ندب ولا نهي بعينه ولكن أصل الصوم مندوب

Artinya, “(Peringatan) di Kitab Shiratul Mustaqim disebutkan, tidak ada riwayat yang tetap terkait keutamaan puasa Rajab dari Nabi Muhammad SAW kecuali hadits, ‘Jika masuk bulan Rajab, Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab.’ Tidak ada riwayat selain ini. Bahkan hadits Rasulullah SAW terkait keutamaan Rajab umumnya dusta.’ Imam An-Nawawi  mengatakan, tidak ada riwayat perihal puasa Rajab yang berisi anjuran dan larangan secara spesifik. Tetapi ibadah puasa pada prinsipnya dianjurkan dalam agama,” (Lihat Abdur Rauf Al-Munawi, Faidhul Qadir bi Syarhi Jami‘is Saghir, [Beirut, Darul Makrifah, 1972 M/1391 H], cetakan kedua, juz IV, halaman 18).

Dari keterangan Imam An-Nawawi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menganjurkan secara umum ibadah puasa di bulan dan hari apa saja kecuali hari-hari larangan puasa yang disebutkan oleh agama secara lugas, yaitu puasa di dua hari raya Id, hari tasyrik (11, 12,13 Dzulhijjah).

Namun begitu layak kiranya kita mengkaji beberapa dalil berikut, di mana faktanya ditemukan banyak isyarat yang kuat disunnahkannya mengerjakan puasa pada bulan rajab. Berikut penjelasannya.

Pertama, dalil umum

Hadits Muslim Nomor 1951

ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda: “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.”

Dari hadits tersebut Nabi nampak biasa melakukan ibadah puasa tiba-tiba dan atau membatalkan ibadah puasanya secara tiba-tiba pula. Dengan begitu umat Islam diperbolehkan melakukan berbagai macam ibadah yang tidak dikaitkan dengan sebab dan waktu, yang disebut dalam istilah syariat dengan ibadah sunnah mutlak (Lihat Hasyiah Ad-Dasuqy ‘Ala Asy-Syarh Al-Kabir 1/542).

Dalam hadits lain juga disebutkan,

Hadits Ahmad Nomor 18272

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّوْمِ فَقَالَ صُمْ مِنْ الشَّهْرِ يَوْمًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَقْوَى إِنِّي أَقْوَى صُمْ يَوْمَيْنِ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زِدْنِي زِدْنِي ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shaum (puasa). Beliau menjawab: “Berpuasalah satu hari dari setiap bulan.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya lebih kuat dari itu.” beliau bersabda: “Saya kuat, saya kuat, berpuasalah dua hari dari setiap bulan.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah lagi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tambahkan lagi, tambahkan lagi, berpuasalah tiga hari dari setiap bulannya.”

Umat Islam sangat diberi keleluasaan mau menjalankan puasa terus-menerus dan berturut-turut dalam setiap harinya, atau berpuasa dengan cara diputus-putus harinya, atau berpuasa manakala dia menginginkan saja di waktu kapan saja dalam setiap bulannya di sepanjang tahunnya. Sehingga bilamana ada pihak-pihak mempersoalkan seseorang melakukan puasa sekehendaknya hal itu jelas juga tidak berdasar.

Berkata Syeikh ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah:

والنافلة قد تكون مقيدة ومطلقة، فمن المقيد بالزمان نجد صيام ست من شوال، يوم عاشوراء، يوم عرفة، الإثنين والخميس، ثلاثة أيام من كل شهر، ومن الصوم المطلق قوله عليه الصلاة والسلام: ( من صام يوماً في سبيل الله باعد الله وجهه عن النار سبعين خريفاً )، أي يوم كان بدون تحديد.

“Ibadah nafilah (dianjurkan) ada yang muqayyad (terikat) dan ada yang bebas, diantara ibadah yang terikat dengan waktu: puasa 6 hari di bulan syawwal, puasa ‘Asyura, puasa Arafah, puasa senin kamis, puasa 3 hari setiap bulan. Dan termasuk puasa mutlak adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka, sejauh tujuh puluh tahun”, yaitu hari apa saja tanpa ditentukan (riwayat Bukhari dan Muslim). (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hadist ke 29)

Kedua, dalil umum yang mencakup dalil khusus

Banyak dalil yang menunjukkan anjuran berpuasa pada bulan-bulan haram. Di antaranya,

Hadits Abu Daud Nomor 2073

عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

dari [Mujibah Al Bahili], dari [ayahnya] atau pamannya bahwa ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian pergi, kemudian ia datang kepada beliau setelah satu tahun, dan keadaan serta penampilannya telah berubah. Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalku? Beliau berkata: “Siapa kamu?” Ia berkata; saya adalah Al Bahili yang telah datang kepada engkau pada tahun pertama. Beliau berkata: “Apakah yang telah mengubahmu? Dahulu penampilanmu baik.” Ia berkata; saya tidak makan kecuali pada malam hari semenjak saya berpisah dengan engkau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” kemudian beliau berkata: “Berpuasalah pada bulan yang penuh kesabaran (Bulan Ramadhan), dan satu hari setiap bulan.” Ia berkata; tambahkan untukku, karena sesungguhnya saya kuat. Beliau berkata: “Berpuasalah dua hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah tiga hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah sebagian dari bulan hurum (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram).” Beliau mengatakannya dengan memberi isyarat menggunakan ketiga jari-jarinya, beliau menggenggamnya kemudian membukanya.

Dalam hadits lain,

Hadits Ibnu Majah Nomor 1731

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku adalah seorang yang mendatangimu pada tahun pertama. ” Beliau bertanya: “Kenapa aku melihat tubuhmu menjadi kurus?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak makan di siang hari, aku makan di malam hari. ” Beliau bertanya: “Siapa yang memerintahkanmu untuk menyiksa diri?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, tapi aku mampu! ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan sabar (ramadlan) dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan ramadlan dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Puasalah pada bulan ramadlan, tiga hari setelahnya, dan pada bulan-bulan haram. “

Dengan begitu disunnahkan berpuasa pada bulan Rajab dikarenakan bulan Rajab termasuk ke dalam bulan haram (suci). Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 214). Ibnu ’Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 207)

Ketiga, dalil khusus

Dari sekian dalil yang menjelaskan keutamaan puasa bulan Rajab adalah terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim berikut,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

“telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim Al Anshari] ia berkata; Saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair] mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan (Rajab). Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar [Ibnu Abbas] radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka (karena Nabi berpuasa pada bulan Rajab tiada henti-red). Dan beliau juga pernah berbuka (tidak berpuasa Rajab) hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (HR. Muslim Nomor 1960)

Sangat jelas sekali Isyarat dalam hadits tersebut menunjukkan Nabi sangat sering menjalankan puasa khusus pada bulan Rajab sebagaimana sesering beliau juga tidak berpuasa pada bulan tersebut. Dengan kata lain bahwa ternyata dalam menghormati bulan Rajab di mana merupakan bagian dari bulan haram yang empat, Nabi sering menjalankan puasa khusus bulan Rajab. Namun seringnya Nabi berpuasa bulan Rajab tidak sampai dilakukan selama sebulan penuh.

Dengan begitu telah sepakat bahwa memang terdapat dalil yang kuat akan kesunnahan berpuasa pada bulan Rajab. Baik kesunnahan sebab ia bagian dari bulan haram ataupun karena kesunnahan berpuasa khusus bulan Rajab itu sendiri. Namun begitu terkait dengan bilangan hari berapa seharusnya umat Islam menjalankan berpuasa dalam bulan puasa tersebut, dalam hal ini masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Baca artikel; Jumlah Hari Puasa Rajab

Adapun perbedaan pendapat di tengah masyarakat terkait kesunnahan puasa bulan Rajab mesti disikapi dengan bijaksana. Setiap pihak tidak boleh memaksakan kehendaknya. Semuanya harus menghargai pandangan orang lain yang berbeda. Hal yang paling bijak adalah bagi yang meyakini terdapat keutamaan berpuasa pada bulan Rajab sebaiknya dikerjakan dengan sepenuh hati. Dan bagi yang tidak meyakini puasa bulan Rajab bukan sebagai syariat Islam juga sebaiknya menghargai tanpa mencela mereka yang meyakini dan menjalaninya, sebab bagi mereka yang meyakini juga memiliki dalil yang tidak kalah kuatnya. Wallahu a’lam bisshawab

Wassalamu ’alaikum wr. wb.

Diasuh oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 135
    Shares