Kontroversi Kesunnahan Puasa Rajab

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Yang Terhormat, sebelumnya mohon maaf, saya hendak mempertanyakan perihal anjuran puasa Rajab. Akhir-akhir ini fenomena yang terjadi beberapa kalangan mempersoalkan keabsahan puasa Rajab dengan alasan tidak ada hadits yang melandasinya. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Terima kasih. (Markum Wastoni/Maluku).

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Muqaddimah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga hidayah Allah SWT senantiasa membimbing kehidupan kita amin. Sebelum masuk pada pokok pembahasan, yang perlu difahami adalah bahwa ulama bersepakat segala sesuatu yang diamalkan oleh umat harus memiliki landasan dalam agama, yaitu Al-Quran, hadits, ijmak, atau qiyas. Berangkat dari filosofi atau prinsip dasar ini kemudian berakibat pada sebuah amalan dikategorikan sebagai amalan sunah apabila amalan tersebut memiliki pijakan dalam sumber agama Islam. Sedangkan amalan dikategorikan sebagai amalan bid’ah apabila amalan tersebut tidak memiliki pijakan dalam sumber agama Islam. Baik dalil-dalil yang bersifat umum (am) maupun dalil-dalil yang bersifat khusus (khas)

Namun yang perlu digaris bawahi pengertian amalan sunnah dan bid’ah yang dimaksud dalama hal ini menurut definisi syariah, bukan secara bahasa yang cakupannya terlalu umum sehingga apapun dapat dikenakan label bid‘ah sehingga akan menimbulkan masalah dan kontradiktif. Hal ini disebutkan oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut:

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).

Sebagaimana berzakat menggunakan berasa, melegalkan pernikahan dengan menerbitkan surat nikah oleh negara, pembuatan paspor dan visa sebagai syarat ibadah haji, pembukuan Al-Quran dan Hadits, dan masih banyak lagi contoh bid’ah dalam soal agama merupakan contoh bid’ah baik yang tetap memiliki landasan dalam sumber agama Islam.

Perihal hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan soal bid‘ah itu, Guru Besar Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syekh Musthafa Diyeb Al-Bugha membuat catatan singkat berikut ini.

من أحدث) اخترع (في أمرنا هذا) ديننا هذا وهو الإسلام (ما ليس فيه) مما لا يوجد في الكتاب أو السنة ولا يندرج تحت حكم فيهما أو يتعارض مع أحكامها وفي بعض النسخ (ما ليس منه) (فهو رد) باطل ومردود لا يعتد به

Artinya, “Siapa saja yang mengada-ada (membuat hal baru) di dalam urusan (agama) kami (agama Islam) yang bukan bersumber darinya (tidak terdapat dalam Al-Quran atau sunah, tidak berlindung di bawah payung hukum keduanya atau bertolak belakang dengan hukumnya), maka tertolak (batil, ditolak, tidak diperhitungkan),’ (Lihat Ta’liq Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha pada Jamius Shahih Al-Bukhari, Daru Tauqin Najah, Cetakan Pertama 1422 H, Juz IX).

Jadi yang perlu digaris bawahi dalam pokok atau prinsip perkara syariat adalah;

  1. BILA MEMERINTAHKAN SUATU AMALAN DIANGGAP SAH, BILA MEMILIKI PIJAKAN DALAM SUMBER AGAMA ISLAM. DAN, SEBALIKNYA BILA MELARANG SUATU AMALAN DIANGGAP BENAR, BILA JUGA MEMILIKI PIJAKAN DALAM SUMBER AGAMA ISLAM.
  2. BERARTI, BAIK MEMERINTAHKAN MAUPUN MELARANG SUATU AMALAN DI MANA SAMA-SAMA TIDAK MEMILIKI PIJAKAN DARI SUMBER AGAMA ISLAM, MAKA KEDUA-DUANYA BATIL.
  3. NAMUN, BILAMANA ADA SUATU PERKARA DI MANA AGAMA ISLAM MEMBIARKAN DAN MENDIAMKAN, DENGAN KATA LAIN AGAMA TIDAK MEMERINTAHKAN DAN JUGA TIDAK MELARANG, MAKA TETAP BOLEH DILAKUKAN. KARENAKAN DALAM SYARIAT AGAMA ISLAM DI SAMPING ADA WILAYAH PERINTAH DAN WILAYAH LARANGAN, JUGA ADA WILAYAH NETRAL DIMANA UMAT ISLAM DIBERI WEWENANG UNTUK BERKREASI DALAM HAL KEBAIKAN. DENGAN CATATAN TIDAK BERTENTANGAN DENGAN USHULUDDIN/POKOK-POKOK AGAMA, TERDAPAT KEMASLAHAT YANG DIRASAKAN, DAN DISANDARKAN TERHADAP DALIL-DALIL UMUM TENTANG KEBAIKAN.

Pemahaman ini didasarkan pada banyaknya dalil umum yang menganjurkan umat Islam memperbanyak melakukan amal muamalah maupun amal ibadah. Di antaranya,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan”. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Maksudnya ibadah-ibadah yang diperintahkan itu sudah jelas dan ibadah yang dilarang itu juga sudah jelas. Dalam hadits lain disebutkan,

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ

“Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan (tidak diatur) maka hukumnya dimaafkan (semuanya halal)” (Hadits Abu Daud Nomor 3306)

Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit. Sedangkan arena halal justru sangat luas. Sebab nash-nash yang shahih dan tegas untuk mengharamkan, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu yang tidak ada keterangan halal-haramnya, jumlahnya sangat banyak. Dalam hadits lain dijelaskan,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Rasulullah tidak ingin memberikan jawaban dan menerangkan satu persatu kepada si penanya dengan maksud hal-hal yang asalnya tidak diharamkan namun disebabkan terlalu banyak penjelasan dari Nabi malah menyebabkan menjadi diharamkan sehingga hal itu akan memberatkan umat Islam. Tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik. Dan sabda beliau juga,

إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة بكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan (sengaja tidak mengatur detail dan rinci) beberapa hal (ajaran agama Islam) sebagai tanda kasihnya kepada kamu (agar umat Islam memiliki keleluasaan untuk berkreasi), Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia. ” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Kaidah asal segala sesuatu adalah boleh ini tidak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan, pekerjaan yaitu yang biasa kita istilahkan dengan adat atau mu’amalat dan juga termasuk masalah ibadah.

Prinsip di atas, sesuai dengan apa yang disebut dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ زَادَ إِسْحَقُ قَالَ سُفْيَانُ لَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ الْقُرْآنُ

“Kami biasa melakukan azl (mencabut penis saat ejakulasi agar istri tidak hamil) di saat al-Qur’an masih turun. ” [Ishaq] menambahkan; [Sufyan] berkata; Sekiranya azl dilarang, tentu al-Qur’an akan melarang perbuatan kami. (HR. Bukahari dan Muslim No. 2608)

Ini menunjukkan, bahwa apa saja yang didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nash yang melarang dan mencegahnya.

Pemahaman yang dibolehkan untuk berkreasi dalam soal ibadah, terutama soal ibadah sunnah mutlak ini didasarkan pada banyaknya dalil umum yang menganjurkan umat Islam memperbanyak melakukan amal muamalah maupun amal ibadah. Di antaranya Allah berfirman,

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Al-Baqarah Ayat 148)

Dalam ayat lain disebutkan,

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Surat Al-Mu’minun Ayat 61)

Juga dalam ayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Surat An-Nahl Ayat 97)

Dalam ayat lain disebutkan,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Surat Al-Baqarah Ayat 62)

Dengan begitu umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak perbuatan baik, sebanyak yang dia mau dan sebanyak yang dia mampu, entah dalam soal muamalah maupun dalam soal ibadah.

Namun begitu, yang perlu difahami terkait dengan diperbolehkannya mengkreasi soal ibadah sunnah mutlak adalah bukan pada kaifiyat (tata cara) dasarnya yang berkaitan syarat rukunnya. Namun bolehnya berkreasi lebih pada soal waktu, tempat, dan jumlah berapa kali ibadah sunnah mutlak tersebut hendak dilakukan. Sebagaimana umat Islam boleh berkreasi ibadah sunnah mutlak dalam soal jumlah dan kadar hitungan. Nabi bersabda,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga? “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” (HR. Tirmidzi No. 2381)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan waktunya juga dibolehkan oleh Nabi sebagaimana sebuah Hadits berikut,

“bahwa [‘Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma] berkata; Disampaikan kabar kepada Rasulullah SAW. bahwa aku berkata; “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku. ” Maka Rasulullah SAW. bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata; “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?”. kujawab; “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya”. Maka Beliau berkata: “Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun. ” Aku katakan; “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”. Belau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam yang merupakan puasa yang paling utama”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Maka beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu”. (HR. Bukhari No. 3165)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan tempatnya juga dibolehkan oleh Nabi sebagaimana sebuah Hadits berikut,

الْأَرْضُ لَكَ مُصَلًّى فَصَلِّ حَيْثُ مَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ

“Dan bumi bagimu adalah masjid, maka shalatlah di manapun tempatnya ketika waktu shalat telah tiba. ” (HR. Ibnu Majah No. 745)

“dijadikannya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seseorang dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ. ” (HR. Nasai No. 429)

Bahkan dalam urusan ibadah sunnah mutlak dianjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan penggunaan redaksi sendiri juga dibolehkan oleh Nabi sebagaimana sebuah Hadits berikut,

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ أَوْ مَا أَحَبَّ

“Kemudian hendaklah dia memilih setelah itu (di dalam shalat) permintaan doa yang dia kehendaki atau dia inginkan. ” (HR. Muslim No. 609)

Dan masih banyak lagi kreasi-kreasi dalam hal ibadah yang dibenarkan oleh agama Islam. Dengan begitu bekreasi dalam hal ibadah selama tidak bertentangan dengan syarat rukunnya sangat dibenarkan dalam agama Islam, sebagaimana firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui, (QS. Az-Zumar: 39)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah SAW. bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. ” “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya. (HR. Muslim No. 1305)

Jawaban

Terkait dengan amalan puasa di Bulan Rajab memang harus diakui secara sharih (jelas dan spesifik) tidak ada hadits yang menyebutkan anjuran untuk mengamalkan puasa sunah Rajab. Karena anjuran berpuasa pada bulan Rajab hanya disandarkan pada isyarah dari beberapa hadits. Namun begitu yang perlu diingat, larangan untuk berpuasa di bulan Rajab juga tidak ditemukan di dalam Al-Quran dan hadits. Artinya, sesuai prinsip hukum Islam “manakala tidak ada perintah dan juga tidak ada larangan yang jelas pula maka perkara ini tidak dapat dipersoalkan”. Apalagi sebuah amalan apabila tidak ada larangan yang spesifik dari Al-Qur’an maupun Hadits sangat dibenarkan apalagi amalan tersebut disandarkan pada dalil-dalil yang sifatnya umum. Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi, ulama dari kalangan Syafi’iyah yang juga pakar hadits, berikut ini:

تنبيه) قال في كتاب الصراط المستقيم: لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضل رجب إلا خبر كان إذا دخل رجب قال: اللهم بارك لنا في رجب ولم يثبت غيره بل عامة الأحاديث المأثورة فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم كذب وقال النووي: لم يثبت في صوم رجب ندب ولا نهي بعينه ولكن أصل الصوم مندوب

Artinya, “(Peringatan) di Kitab Shiratul Mustaqim disebutkan, tidak ada riwayat yang tetap terkait keutamaan puasa Rajab dari Nabi Muhammad SAW kecuali hadits, ‘Jika masuk bulan Rajab, Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab.’ Tidak ada riwayat selain ini. Bahkan hadits Rasulullah SAW terkait keutamaan Rajab umumnya dusta.’ Imam An-Nawawi  mengatakan, tidak ada riwayat perihal puasa Rajab yang berisi anjuran dan larangan secara spesifik. Tetapi ibadah puasa pada prinsipnya dianjurkan dalam agama,” (Lihat Abdur Rauf Al-Munawi, Faidhul Qadir bi Syarhi Jami‘is Saghir, [Beirut, Darul Makrifah, 1972 M/1391 H], cetakan kedua, juz IV, halaman 18).

Dari keterangan Imam An-Nawawi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menganjurkan secara umum ibadah puasa di bulan dan hari apa saja kecuali hari-hari larangan puasa yang disebutkan oleh agama secara lugas, yaitu puasa di dua hari raya Id, hari tasyrik (11, 12,13 Dzulhijjah).

Namun begitu layak kiranya kita mengkaji beberapa dalil berikut, di mana faktanya ditemukan banyak isyarat yang kuat disunnahkannya mengerjakan puasa pada bulan rajab. Berikut penjelasannya.

Pertama, dalil umum

Hadits Muslim Nomor 1951

ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda: “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.”

Dari hadits tersebut Nabi nampak biasa melakukan ibadah puasa tiba-tiba dan atau membatalkan ibadah puasanya secara tiba-tiba pula. Dengan begitu umat Islam diperbolehkan melakukan berbagai macam ibadah yang tidak dikaitkan dengan sebab dan waktu, yang disebut dalam istilah syariat dengan ibadah sunnah mutlak (Lihat Hasyiah Ad-Dasuqy ‘Ala Asy-Syarh Al-Kabir 1/542).

Dalam hadits lain juga disebutkan,

Hadits Ahmad Nomor 18272

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّوْمِ فَقَالَ صُمْ مِنْ الشَّهْرِ يَوْمًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَقْوَى إِنِّي أَقْوَى صُمْ يَوْمَيْنِ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زِدْنِي زِدْنِي ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shaum (puasa). Beliau menjawab: “Berpuasalah satu hari dari setiap bulan.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya lebih kuat dari itu.” beliau bersabda: “Saya kuat, saya kuat, berpuasalah dua hari dari setiap bulan.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah lagi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tambahkan lagi, tambahkan lagi, berpuasalah tiga hari dari setiap bulannya.”

Umat Islam sangat diberi keleluasaan mau menjalankan puasa terus-menerus dan berturut-turut dalam setiap harinya, atau berpuasa dengan cara diputus-putus harinya, atau berpuasa manakala dia menginginkan saja di waktu kapan saja dalam setiap bulannya di sepanjang tahunnya. Sehingga bilamana ada pihak-pihak mempersoalkan seseorang melakukan puasa sekehendaknya hal itu jelas juga tidak berdasar.

Berkata Syeikh ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah:

والنافلة قد تكون مقيدة ومطلقة، فمن المقيد بالزمان نجد صيام ست من شوال، يوم عاشوراء، يوم عرفة، الإثنين والخميس، ثلاثة أيام من كل شهر، ومن الصوم المطلق قوله عليه الصلاة والسلام: ( من صام يوماً في سبيل الله باعد الله وجهه عن النار سبعين خريفاً )، أي يوم كان بدون تحديد.

“Ibadah nafilah (dianjurkan) ada yang muqayyad (terikat) dan ada yang bebas, diantara ibadah yang terikat dengan waktu: puasa 6 hari di bulan syawwal, puasa ‘Asyura, puasa Arafah, puasa senin kamis, puasa 3 hari setiap bulan. Dan termasuk puasa mutlak adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka, sejauh tujuh puluh tahun”, yaitu hari apa saja tanpa ditentukan (riwayat Bukhari dan Muslim). (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hadist ke 29)

Kedua, dalil umum yang mencakup dalil khusus

Banyak dalil yang menunjukkan anjuran berpuasa pada bulan-bulan haram. Di antaranya,

Hadits Abu Daud Nomor 2073

عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

dari [Mujibah Al Bahili], dari [ayahnya] atau pamannya bahwa ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian pergi, kemudian ia datang kepada beliau setelah satu tahun, dan keadaan serta penampilannya telah berubah. Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalku? Beliau berkata: “Siapa kamu?” Ia berkata; saya adalah Al Bahili yang telah datang kepada engkau pada tahun pertama. Beliau berkata: “Apakah yang telah mengubahmu? Dahulu penampilanmu baik.” Ia berkata; saya tidak makan kecuali pada malam hari semenjak saya berpisah dengan engkau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” kemudian beliau berkata: “Berpuasalah pada bulan yang penuh kesabaran (Bulan Ramadhan), dan satu hari setiap bulan.” Ia berkata; tambahkan untukku, karena sesungguhnya saya kuat. Beliau berkata: “Berpuasalah dua hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah tiga hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah sebagian dari bulan hurum (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram).” Beliau mengatakannya dengan memberi isyarat menggunakan ketiga jari-jarinya, beliau menggenggamnya kemudian membukanya.

Dalam hadits lain,

Hadits Ibnu Majah Nomor 1731

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku adalah seorang yang mendatangimu pada tahun pertama. ” Beliau bertanya: “Kenapa aku melihat tubuhmu menjadi kurus?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak makan di siang hari, aku makan di malam hari. ” Beliau bertanya: “Siapa yang memerintahkanmu untuk menyiksa diri?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, tapi aku mampu! ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan sabar (ramadlan) dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan ramadlan dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Puasalah pada bulan ramadlan, tiga hari setelahnya, dan pada bulan-bulan haram. “

Dengan begitu disunnahkan berpuasa pada bulan Rajab dikarenakan bulan Rajab termasuk ke dalam bulan haram (suci). Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 214). Ibnu ’Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 207)

Ketiga, dalil khusus

Dari sekian dalil yang menjelaskan keutamaan puasa bulan Rajab adalah terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim berikut,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

“telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim Al Anshari] ia berkata; Saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair] mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan (Rajab). Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar [Ibnu Abbas] radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka (karena Nabi berpuasa pada bulan Rajab tiada henti-red). Dan beliau juga pernah berbuka (tidak berpuasa Rajab) hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (HR. Muslim Nomor 1960)

Sangat jelas sekali Isyarat dalam hadits tersebut menunjukkan Nabi sangat sering menjalankan puasa khusus pada bulan Rajab sebagaimana sesering beliau juga tidak berpuasa pada bulan tersebut. Dengan kata lain bahwa ternyata dalam menghormati bulan Rajab di mana merupakan bagian dari bulan haram yang empat, Nabi sering menjalankan puasa khusus bulan Rajab. Namun seringnya Nabi berpuasa bulan Rajab tidak sampai dilakukan selama sebulan penuh.

Dengan begitu telah sepakat bahwa memang terdapat dalil yang kuat akan kesunnahan berpuasa pada bulan Rajab. Baik kesunnahan sebab ia bagian dari bulan haram ataupun karena kesunnahan berpuasa khusus bulan Rajab itu sendiri. Namun begitu terkait dengan bilangan hari berapa seharusnya umat Islam menjalankan berpuasa dalam bulan puasa tersebut, dalam hal ini masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Baca artikel; Jumlah Hari Puasa Rajab

Adapun perbedaan pendapat di tengah masyarakat terkait kesunnahan puasa bulan Rajab mesti disikapi dengan bijaksana. Setiap pihak tidak boleh memaksakan kehendaknya. Semuanya harus menghargai pandangan orang lain yang berbeda. Hal yang paling bijak adalah bagi yang meyakini terdapat keutamaan berpuasa pada bulan Rajab sebaiknya dikerjakan dengan sepenuh hati. Dan bagi yang tidak meyakini puasa bulan Rajab bukan sebagai syariat Islam juga sebaiknya menghargai tanpa mencela mereka yang meyakini dan menjalaninya, sebab bagi mereka yang meyakini juga memiliki dalil yang tidak kalah kuatnya. Wallahu a’lam bisshawab

Wassalamu ’alaikum wr. wb.

Diasuh oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 36
    Shares