Konsep Atau Cara Membuat (Menetapkan) Hukum Dalam Islam

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Islam merupakan salah satu agama di dunia, agama ini mengatur semua aspek kehidupan bagi para pemeluknya. Pemeluknya harus taat dan patuh atas semua perintah dan larangan agamanya. Dalam menjalani kehidupannya harus mengacu pada, pertama; Al-Qur’an yang diyakini berasal dari Allah sebagai Tuhannya, dan kedua berdasarkan Hadits yang diyakini berasal dari semua perilaku yang dicontohkan oleh Muhammad sebagai penghubung antara manusia dengan tuhan Allah. Di dalam Islam memiliki aturan-aturan yang levelnya berbeda; Ada keharusan yang diistilahkan WAJIB, ada larangan yang diistilahkan HARAM, ada kebaikan yang diistilahkan SUNNAH, ada keburukan yang diistilahkan MAKRUH, dan ada kebolehan yang diistilahkan MUBAH. Lalu bagaimana konsep terjadinya hukum-hukum tersebut? Berikut gambaran singkatnya,

A. CARA MENENTAPKAN HUKUM WAJIB, BILA:

  1. Berasal dari perintah nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan.
  2. Tidak ada satupun nash lain yang menunjukkan makna yang berlawanan atau bertolak belakang.
  3. Perintah itu bersifat wajib apabila diiringi janji pahala dan surga bagi para pelakunya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi yang meninggalkannya.
  4. Contoh Kasus: Seperti ibadah shalat 5 waktu dihukumi WAJIB karena sudah sesuai dan memenuhi semua kriteria diatas. Semua nash serempak menyebutkan perintah mengerjakan shalat tanpa ada satupun dalil yang berlawanan (seperti nabi di lain waktu pernah meninggalkan dengan sengaja atau pernah membiarkan sahabat tidak melakukannya). Disamping itu tidak ada qorinah atau indikator lain yang menunjukkan perintah berbeda. Bahkan bagi yang lupa, wajib menggantinya dan bagi yang sengaja meninggalkannya maka diancam dosa.
  5. Salah satu dalil yang menunjukkan hukum wajibnya shalat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

    “…maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

    Di samping dalil di atas masih terdapat banyak dalil lain yang bermuatan perintah wajibnya shalat lima waktu, dan tidak ada satu dalilpun yang berlawanan atau menyimpangkan kepada makna selain wajib.

SEBALIKNYA;

B. KONSEP ATAU CARA MENENTAPKAN HUKUM HARAM, BILA:

  1. Berasal dari larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan.
  2. Tidak ada satupun nash lain yang menunjukkan makna yang berlawanan atau bertolak belakang.
  3. Larangan itu bersifat haram apabila diiringi janji pahala dan surga bagi yang meninggalkannya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi para pelakunya.
  4. Contoh Kasus: Seperti memakan daging babi dihukumi HARAM karena sudah sesuai dan memenuhi semua kriteria diatas. Semua nash serempak menyebutkan LARANGAN memakan daging babi tanpa ada satupun dalil yang berlawanan (seperti nabi di lain waktu pernah memakannya atau pernah membiarkan sahabat memakannya). Disamping itu tidak ada qorinah lain yang menunjukkan perintah berbeda. Bahkan bagi yang lupa wajib segera meninggalkannya dan bagi yang sengaja mengerjakannya maka diancam dosa.
  5. Salah satu dalil yang menunjukkan hukum haramnya daging babi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Di samping dalil di atas masih terdapat banyak dalil lain yang bermuatan larangan memakan daging babi, dan tidak ada satu dalilpun yang berlawanan atau menyimpangkan kepada makna selain haram.

C. KONSEP ATAU CARA MENENTUKAN HUKUM MUBAH, SUNNAH, MAKRUH, AFDHAL, BILA:

  1. Berasal dari perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan, namun kalimatnya bersifat tidak mutlak alias muqayyad/bersyarat.
  2. Terdapat banyak nash yang menunjukkan makna bervariasi; Ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang mengerjakan. Dan ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang tidak mengerjakan.
  3. Agama hanya menjanjikan sebuah pahala dan surga bagi yang mau mengerjakan dan atau tidak mengerjakannya. Namun agama tidak sampai mengancam dosa dan neraka bagi yang mau mngerjakan dan atau tidak mau mengerjakannya.
  4. Contoh Kasus:
  • Sunnah: Seperti ibadah shalat berjamaah; Nabi dan sahabat pernah mengerjakan dan juga pernah tidak mengerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat tambahan pahala 27 derajat, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak mengerjakan shalat berjamaah.

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ عَلَى صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dari [Malik] dari [Nafi’] dari [Ibnu ‘Umar] bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Nasai Nomor 828)

  • Makruh: Seperti makan menggunakan tangan kiri; Nabi dan sahabat pernah menggunakan dan juga pernah tidak menggunakan. Bagi yang menggunakan mendapat tambahan pahala, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak menggunakan tangan kiri untuk makan.
  • Mubah: Seperti makan, minum dan bercanda; Nabi dan sahabat pernah melakukan dan juga pernah tidak melakukan. Kedua-duanya sama sekali tidak berdampak apakah dia mendapatkan pahala atau dosa.
  • Aula/Afdhal/Lebih Utama: Seperti diam; Nabi mengatakan bilamana manusia tidak memiliki manfaat dalam pembicaraan maka lebih utama manusia itu diam.

D. KONSEP ATAU MEMAHAMI HUKUM KHILAFIYAH ATAU IJTIHADIAH:

Hukum yang tergolong KHILAFIYAH/IJTIHADIYAH/PERTENTANGAN/PERBDEDAAN adalah hukum-hukum yang belum dan atau tidak ada kesepakatan antara para ahli agama (mujtahid) dalam sebuah persoalan agama. Berikut beberapa faktor penyebabnya,

  1. Terdapat dua dalil yang memiliki makna jelas namun bertoak belakang dalam sebuah persoalan agama.
  2. Terdapat dalil-dalil yang tidak menunujukkan makna yang jelas dalam sebuah persoalan agama sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para penelitinya.
  3. Atau tidak adanya dalil yang dapat mewakili sebuah kasus agama, karena persoalan itu baru muncul setelah nabi tiada.
  4. KAIDAH: Bila ada dua dalil yang bersifat jelas namun bertolak belakang dalam satu masalah agama maka tidak bisa dihukumi wajib atau haram, melainkan masuk dalam hukum sunnah atau makruh karena masuk dalam katagori masalah khilafiyah/ijtihadiyah.
  5. Contoh Kasus: Seperti mengenakan cadar, berjenggot, sebagian ulama ada yang menghukumi wajib dengan berbagai dalil kuat yang disodorkan, namun begitu juga ada lebih banyak lagi ulama yang tidak mengatakan wajib untuk bercadar dengan juga menyodorkan tidak sedikit dalil-dalil yang juga kuat. Kalau boleh saya pribadi mengatakan sebetulnya memang terdapat dua kelompok dalil yang memang dalilnya sendiri yang masing-masing maknanya menunjukkan pertentangan.

Dalil-dalil yang terkesan wajibnya cadar;

إِذَا كَانَ عِنْدَ مُكَاتَبِ إِحْدَاكُنَّ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ

“Jika budak mukatab (budak yang ada perjanjian dengan tuannya bahwa dia akan merdeka jika telah membayar sejumlah uang tertentu -pen) salah seorang di antara kamu (wanita) memiliki apa yang akan dia tunaikan, maka hendaklah wanita itu berhijab (menutupi diri) darinya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

وَقَدْ كَانَ -صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ- يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil yang terkesan tidak wajibnya cadar;

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk menaati-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bersedekah, karena mayoritas kamu adalah bahan bakar neraka Jahannam!” Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Karena kamu banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal. (HS. Muslim, dan lainnya)

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا

Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud)

Cara/Metode Penyelesaian Pertentangan Antar Dalil;

Dalam mengahadapi ta`arudh al-adillah atau pertentang antara dua dalil secara zhahir dapat dilakukan dengan beberapa metode penyelesaian, yaitu :

1) Naskh (Menghapus salah satu dalil dengan syarat bukti-bukti dan indikatornya jelas seperti tahun lahirnya hadits)

Secara bahasa naskh mengandung dua pengertian, pertama naskh berarti penghapusan atau peniadaan. Kedua naskh berarti pemindahan dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam QS al-Jasiyat: 29 yaitu:

إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat atau memindahkan apa yang telah kamu kerjakan.

Secara istilah ada dua definisi naskh yang dikemukakan para ahli ushul fiqh. Definisi pertama seperti yang diungkapkan oleh Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami:

النسخ هو بيان انتهاء أمدحكم بط شرعي متراخ عنه

Naskh adalah penjelasan berakhirnya masa berlaku suatu hukum melalui dalil syara` yang datang kemudian.

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa hukum yang dinaskh atau dihapus itu atas kehendak Allah dan penghapusan ini sebagai pertanda berakhir masa berlakunya hukum tersebut.

Definisi kedua seperti yang diungkapkan oleh Abd al-Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh yang menyatakan bahwa:

النسخ هو رفع حكم شرعي بدليل شرعي متأخر منه

Naskh adalah pembatalan hukum syara` yang telah ditetapkan terdahulu dengan dalil syara` yang datang kemudian.

Dari kedua dafinisi tersebut diatas dapat dipahami beberapa hal sebegai berikut :

  1. Naskh atau pembatalan itu dilakukan dengan khitab atau tuntutan Allah. Atas dasar ini naskh tidak dapat dilakukan oleh selain Allah. Adapun perbuatan Nabi Saw yang kadangkala sebagai naskh sebenarnya hanya sebagai dalil yang menginformasikan tentang adanya tuntutan dari Allah untuk membatalkan suatu hukum. Khitab atau tuntutan naskh tidak dapat berasal dari Nabi karena beliau tidak memiliki kekuasaan untuk membatalkan hukum syara`.
  2. Yang dibatalkan tersebut adalah hukum syara` yang mengandung perintah, larangan atau berita. Atas dasar ini pembatalan terhadap hukum yang didasarkan pada akal atau hukum yang didasarkan pada prinsip ibahah al-asliyah sebelum datang syara` dan hukum yang didasarkan pada adat istiadat tidak disebut sebagai naskh.
  3. Hukum yang membatalkan hukum terdahulu datangnya kemudian. Hukum yang dibatalkan labih dahulu datangnya daripada hukum yang membatalkannya. Dengan demikian hukum yang berkaitan dengan istisna dan syarat tidak dapat disebut sebagai naskh.

2) Tarjih (Mengambil satu dalil dan membuang dalil lainnya yang berbeda)

Secara bahasa tarjih berarti menguatkan. Kajian tentang tarjih erat kaitannya dengan adanya dua dalil yang bertentangan secara zhahir dan sederajat. Untuk menyelesaikan pertentangan itu digunakan cara al-jam`u wa al-taufiq. Apabila cara ini tidak dapat menyelesaikan pertentangan antara dalil tersebut digunakan cara tarjih. Dalil yang dikuatkan disebut rajih dan dalil yang dilemahkan disebut marjuh.

Secara terminologi ada sejumlah definisi tarjih yang dikemukakan oleh para ulama diantaranya seperti yang dikemukakan al-Amidi sebagai berikut :

عبارة عناقتراد الصالحين لدلالة على المطلوب مع تعارضهما بما يوجب العمل به واهمل الاخر

Ungkapan mengenai diiringi salah satu dari dua dalil yang pantas menunjukkan kepada apa yang dikehendaki di samping keduanya berbenturan yang mewajibkan untuk mengamalkan satu diantaranya dan meninggalkan yang lain.

Kalangan Hanafiyyah mendefinisikan tarjih sebagai berikut :

اظهار زيادة الأحد المتماثلين على الاخر بما لا يستقل

Menjelaskan ada tambahan pada salah satu dari dua dalil yang sederajat, dimana dalil tambahan itu tidak berdiri sendiri.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa dalil yang bertentangan itu mesti memiliki kualitas yang sama. Untuk itu al-Qur`an tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari hadits ahad dan hadits ahad tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari qiyas. Sebab al-Qur`an tidak sama kualitasnya dengan hadits ahad dengan qiyas. Disamping itu dalil yang menjadi pendukung dalil yang bertentangan itu tidak berdiri sendiri. Ia tidak terpisah dari dalil yang saling bertentangan.

Sedangkan kalangan Syafi`iyyah mendefinisikan tarjih sebagai berikut :

تقوية إحدالأمارتين (أى الدليلين الظنيين) على الأخرىليعمل بها

Menguatkan salah satu indikator dalil zhanni atas yang lain untuk diamalkan.

Definisi ini mengisyaratkan bahwa tarjih hanya dapat terjadi terhadap dua dalil zhanni yang saling bertentangan karena tarjih tidak berlaku dintara dalil yang qhat`i dengan zhanni.

Dari ketiga definisi tersebut dapat dirumuskan beberapa syarat tarjih, yaitu :

  1. Ada dua dalil yang bertentangan dan tidak mungkin untuk mengamalkan keduanya melalui cara apapun.
    b. Kedua dalil yang bertentangan itu memiliki kualitas yang sama untuk memberi petunjuk kepada yang dimaksud.
  2. Ada indikator yang mendukung untuk mengamalkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan dan meninggalkan dalil yang satu lagi.

Para ulama Ushul Fiqh menyimpulkan ada dua cara dalam melakukan tarjih, Pertama al-tarjih bain al-nushush yaitu dengan menguatkan salah satu dari nash yang bertentangan dapat diamati dari beberapa segi yaitu segi sanad, segi matan, segi hukum yang dikandung nash, dan menggunakan dalil lain diluar nash. dan al-tarjih bain al-‘aqyisah yaitu dengan tarjih dari segi hukum asal, hukum furu`, illat, dan dari segi faktor luar.

3) Al-Jam`u wa al-Taufiq

Al-Jam`u wa al-Taufiq adalah menghubungkan dua dalil yang nampak bertentangan, sehingga keduanya bisa dipakai dan diamalkan dengan didapatkan makna yang berserasian. Dengan maksud bahwa agama memang memberikan pilihan variasi beramal dalam beragama.

4) Tasaqut al-Dalalain (Abstain, dipending atau mauquf)

Tasaqut al-Dalalain adalah upaya menangguhkan penyelesaian atau keputusan dari dua dalil yang tempak beralawanan karena sulit ditempuh dangan al-jam`u wa al-taufiq, tarjih, maupun naskh. Cara ini sebenarnya bukanlah penyelesaian tetapi penangguhan untuk sementara waktu, sementara belum didapatkan keterangan atau alasan-alasan lain yang menunjang atau menguatkan salah satunya.

E. SEBUAH SIKAP DEWASA DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN:

Namun pada kenyataannya menetapkan konsep hukum tersebut tidaklah semudah yang kita fikirkan. Ada beberapa alasan hukum sebuah masalah dalam Islam sulit untuk ditetapkan karena faktanya tidak semua dalil-dalil mendukung untuk itu seiring perkembangan persoalan agama seiring perkembangan zaman. Disamping itu sumber hukum sudah terhenti sejak meninggalnya nabi Muhammad.

Karena kebutuhan mengatur persoalan ummat namun sumber hukum sudah terhenti, maka para ahli agama melakukan obeservasi untuk agar tetap bisa menjawab pesoalan ummat, namun karena minimnya sumber hukum yang ada maka terjadilah perbedaan hukum sebuah persoalan agama dari perbedaan persepsi oleh para ahli agama yang diistilahkan IKHTILAFIYAH atau IJTIHADIYAH.

Disinilah akar masalah dalam agama Islam kenapa akhirnya terdapat banyak perbedaan dan kelihatannya tidak ada tanda-tanda akan tuntas. Bagi orang awam mungkin hal ini dirasa mustahil atau  bahkan dirasa amat disayangkan kenapa dalam agama yang diyakini kesuciannya ada dua dalil yang berbeda, mereka beranggapan tidak mungkin ada perbedaan karena Nabi Muhammad suci dan terhindar dari ketidak jelasan.

Namun inilah fakta dalam Islam, karena Islam merupakan agama yang terlahir dari proses perjalanan seseorang yang bernama Muhammad dengan masa proses perjalanan sebagai pribadi selama 40 tahun dan proses perjalanan Muhammad sebagai nabi selama 23 tahun, maka genaplah proses perjalanan lahirnya agama Islam selama 63 tahun. Jika kita sadari sebuah agama yang lahir secara berangsur-angsur maka semua sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan dalam proses perjalanannya. Dalam hal perbedaan perbedaan dalam aga Islam sudah diakui sendiri oleh nabi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. (HR. Tirmidzi)

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13)

Perbedaan dalam Islam itu memang fitrah dan rahmah dari Allah,

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ

“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”(Al-Ma’idah 48)

Kenapa perbedaan dalam Islam disebut fitrah karena potensi perbedaannya memang berasal dari teks-teks agama yang memang beda. Dari teks agama maka memiliki potensi berbedanya persepsi para pembacanya. Sebagaimana Allah sendiri yang menyatakan bahwa memang ada nash Al-Qur’an yang samar,

هُوَ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَـأَمَّا الَّذِيْنَ فِي قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِـغَاءَ الْفِـتْنَةِ وَابْتِـغَاءَ تَأْوِيْلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْـلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوْا اْلأَلْبَابِ

Maknanya : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada Muhammad. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur’an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur’an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang  yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat)  melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal” (QS. Al-Imran: 7)

Nabi mungkin pernah melakukan dan juga mungkin pernah tidak dilakukan. Tindakan nabi mungkin pernah disaksikan oleh sahabat dan juga mungkin tidak pernah disaksikan oleh para sahabatnya. Maka disinilah potensi berfariasinya hadits-hadit yang dihimpun oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Walaupun terdapat perbedaan dalam urusan agama, namun nabi sendiri telah menjamin bagi mereka yang berusaha mencari kebenaran walaupun berbeda tetap mendapatkan pahala,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari Nomor 268, Muslim Nomor 1716)

Pemikiran orang awam tersebut mungkin tidak salah namun mereka tidak memahami bahwa Islam sebagai agama juga menjalani proses perjalanan yang panjang untuk menjadi sebagai agama yang sempurna. Maksud dari Allah telah menyempurnakan agama Islam adalah Allah telah menghentikan sumber hukum Islam dengan meninggalnya nabi,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Dalam masalah ini para ulama sulit untuk mencapai kata sepakat dalam masalah hukum, karena masing-masing merasa didukung oleh dalil-dalil yang cukup kuat. Namun walaupun para ulama tidak dapat menyepakati dalam masalah hukumnya mereka telah bersepakat dalam masalah menyikapinya, yakni kesepakatan yang telah diambil adlah;

  1. Boleh memilih pendapat atau hukum mana yang lebih diyakini kebenarannya selama juga didasari dengan dalil dari nas agama. Dengan catatan,
  2. Harus saling menghargai tidak boleh memaksakan kehendak,
  3. Tidak boleh merasa paling benar.
  4. Tidak boleh menuduh pihak lain melakukan kesyirikan, kurafat, dan bid’ah karena beda dalah masala hlafiyah.
  5. Tidak boleh menghukumi pihak yang berbeda sebagi pihak yang salah, sesat atau bahkan kafir.
  6. Tidak boleh menghukumi pihak yang berbeda sebagi pihak yang salah, sesat atau bahkan kafir. Kusus bagi mereka yang suka mengkafirkan hanya karena perbedaan ijtihadiyah maka ada hukum tersendiri. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda :

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Tidak boleh memaksakan kehendak,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS: Yunus: 99)

Inilah sikap golongan Sunni yakni golongan yang berpegang teguh pada Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengambil jalan yang seimbang, harmonis dan moderat, tidak condok ke kanan terlalu keras dan juga tidak condong ke keri terlalu lembek. Inilah jalan ummat yang diridhoi Allah. Firman Allah swt,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat Pertengahan, supaya kamu menjadi saksi ( pembawa keterangan ) kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)