Kirim Pahala Amal dan Ibadah untuk Arwah Orang Mati

Pendahuluan

Dalam hal mindah-memindah pahala dari suatu amal atau ibadah merupakan syariat agama yang terdapat banyak tuntunannya dari Al-Qur’an maupun Hadits. Baik memindah pahala dari seseorang untuk orang lain atau untuk orang tuanya sendiri. Baik untuk mereka yang masih hidup maupun untuk mereka yang sudah meninggal. Baik dikerjakan sendiri oleh ahli warisnya, maupun oleh orang lain yang digunakan jasanya. Baik ibadah yang berupa maliyah, maupun ibadah yang bersifat badaniyah. Banyak dasar baik dari Al-Qur’an maupun Hadits yang membenarkan praktik ini. Berikut di antaranya,

Pahala ibadah membaca Al-Qur’an bisa dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal

Walaupun ada sebagian umat muslim enggan membacakan Al-Qur’an, dzikir, dan doa bagi mayit dengan alasan bahwa hal itu sia-sia. Namun fakta terdapat dalil yang tidak bisa ditolak bahwa membaca Al-Qur’an dengan niat pahalanya dikirim pada arwah mayit itu dibenarkan oleh Nabi, dan bahkan bisa memberikan faedah bagi pelaku dan mayitnya.

Sebagaimana bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah dan faedah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada mayit juga ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut,

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“Hadits Riwayat al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

Surat Al-Mulk juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai penghalang siksa kubur bagi yang sudah meninggal ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati dan dibaca dipemakaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan) “. sampai selesai, kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya, aku membuat kemahku di atas kuburan dan saya tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan, kemudian ada seseorang membaca surat TABARAK (surat) Al Mulk sampai selesai, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2815)

Seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Sudah sangat jelas, berdasarkan hadits di atas, kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dari mereka yang masih hidup terutama seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Dengan begitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat pahalanya diberikan pada arwah mereka yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat bagi mayit.

Menshalati mayit di mana di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an merupakan perintah

Hukum Shalat Jenazah adalah Fardhu Kifayah, artinya jika tidak ada yang menshalati, semua akan berdosa. Perintah ini berdasarkan salah satu hadits berikut,

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا

“dari [Salamah bin Al Akwa’ radliallahu ‘anhu] berkata: “Kami pernah duduk bermajelis dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihadirkan kepada Beliau satu jenazah kemudian orang-orang berkata: “Shalatilah jenazah ini”. (Hadits Bukhari Nomor 2127)

Sedangkan di antara hakikat shalat adalah bacaan-bacaan Al-Qur’an. Dengan begitu diperintahkan membaca Al-Qur’an untuk orang yang sudah mati. Dengan membacakan Al-Qur’an banyak faedah yang bisa didapatkan, baik manfaat bagi mereka yang hidup maupun manfaat bagi mereka yang sudah meninggal. Di antara manfaat bagi yang masih hidup adalah.pahala sebesar gunung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Hadits Bukhari Nomor 1240, Hadits Muslim Nomor 1570)

Di antara manfaat shalat jenazah adalah terkabulnya do’a-do’a mereka yang shalat janazah untuk si mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (Hadits Muslim Nomor 1576)

Pengampunan bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ إِذَا أُتِيَ بِجِنَازَةٍ فَتَقَالَّ مَنْ تَبِعَهَا جَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ صُفُوفٍ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا صَفَّ صُفُوفٌ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَيِّتٍ إِلَّا أَوْجَبَ

“Jika Malik bin Hubairah didatangkan jenazah kepadanya dan hanya sedikit orang yang akan menshalatkannya, maka ia membagi shaf menjadi tiga baris kemudian shalat. Setelah itu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tidaklah tiga shaf kaum muslimin berjajar menshalati jenazah, kecuali telah wajib (pengampunan Allah atas mayit). ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1479)

Shalat, do’a dan dzikirnya menjadi syafaat bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’a mereka untuknya.” (Hadits Muslim Nomor 1577)

Ketika shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah, sedangkan di antara hakikat shalat adalah bacaan-bacaan Al-Qur’an. Dengan begitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an bagi orang yang sudah meninggal hukumnya sunnah. Dan bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan doa orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal sangat berfaedah. Ada dua faedah, yakni faedah bagi yang hidup dan faedah bagi yang sudah mati. Salah satu faedah bagi orang yang hidup adalah pahala. Sedangkan salah satu faedahnya bagi orang yang sudah mati adalah syafaat (penolong) bagi mayit, sebagaimana yang telah ditunjukkan pada hadits di atas.

Pahala bacaan dzikir dan doa dihadiahkan pada mayit

Mendoakan, dan membacakan kalimat thayyibah dan dzikir tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istghfar, dll. yang mana hakikatnya adalah kutipan dari ayat-ayat Al-Qur’an hukumnya sunnah dan berfaedah bagi mayit.

Sedangkan keadaan mayit setelah dikubur sempurna maka malaikat akan datang untuk mengajukan beberapa pertanyaan sebagai ikhtibar (menguji) keimanannya. Sebagaimana sabda Nabi,

إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ

“Apabila (jenazah) seorang muslim sudah didudukkan dalam kuburnya maka dia akan dihadapkan (pertanyaan malaikat),”. (Hadits Bukhari Nomor 1280)

Agar mayit dapat menjawab pertanyaan malakiat tersebut dengan mudah, maka salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan oleh handai taulan yang hidup adalah mentalqin (menuntun) mayit dari atas tanah pekuburan dengan kalimat tauhid. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin diantaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:

اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)

“Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: katakanlah La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw, kemudian berpalinglah ia.” HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya)

Ketika membacakan kalimat-kalimat thayyibah (baik) seperti kali kalimat La Ilaha Illallah hukumnya disunnahkan bagi mayit yang telah dikuburkan. Sedangkan kalimat-kalimat thayyibah (baik) seperti kali kalimat La Ilaha Illallah (tahlil), takbir, tahmid, tasbih, istghfar, dan lain sebagainya tersebut hakikatnya adalah kutipan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan begitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an bagi orang yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan berfaedah bagi mayit.

Manfaat mendoakan orang yang sudah meninggal

Selain bacaan-bacaan dzikir yang bermanfaat bagi mayit, panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup juga bermanfaat bagi mayit. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Berdasarkan hadits di atas, mendoakan orang yang sudah meninggal merupakan perintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga sering mencontohkan berdoa untuk orang yang meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا

“dari [Abu Ibrahim Al Anshari] dari [bapaknya] bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a saat menshalati mayit, “Ya Allah berilah ampunan bagi yang masih hidup di antara kami dan yang sudah meninggal dunia, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, kaum laki-laki di antara kami dan kaum wanita, orang yang masih muda di antara kami dan orang yang sudah tua.” (Hadits Nasai Nomor 1960)

Di samping mendoakan mayit telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, doa juga bermanfaat sebagai penolong bagi mayit. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (Hadits Muslim Nomor 1576)

Sudah sangat jelah, bahwa di samping mendoakan mayit merupakan perintah Nabi, juga ia sangat bermanfaat bagi mereka yang sudah meninggal.

Baca juga artikel yang terkait berikut;

Penyelewengan Makna Hadits dari “Sudah Mati” Menjadi “Akan Mati”

Pahala amal sedekah bisa dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal

Bersedekah menggunakan hartanya sendiri atau menggunakan harta warisan dari orang tua boleh pahalanya diniatkan untuk dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَلِي أَجْرٌ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“dari [‘Aisyah], bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan saya kira jika dia dapat bicara dia akan bersedekah, apakah saya juga akan mendapatkan pahala jika saya bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 3082)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan hartanya sendiri dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh. Dalam sabda lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

“dari [Abu Hurairah], bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ayahku telah meninggal dunia dan meninggalkan harta, namun dia tidak memberi wasiat terhadap harta yang ditinggalkannya, dapatkah harta itu menghapus dosa-dosanya jika harta tersebut saya sedekahkan atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 3081)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan harta tinggalan dari orang tuanya dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Jadi, dengan begitu sangat boleh bersedekah untuk orang yang sudah meninggal. Baik dengan cara sedekahnya dihantar kepada si penerima, atau mengundang sanak saudara dan tetangga datang ke rumah dalam bentuk kenduri atau lebih dikenal selametan. Baik bersedekah saat masa berduka maupun masa-masa jauh setelah berduka. Baik bersedekah dengan bentuk uang, bahan makanan mentah, bahan makanan matang seperti berkat saat kenduri, barang-barang berharga, dan lain sebagainya.

Pahala ibadah puasa bisa dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal

Begitu juga menjalankan ibadah puasa yang masuk dalam kategori ibadah badaniyah dengan niat pahalanya dihadiahkan untuk arwah yang sudah meninggal hukumnya boleh. Berikut dalil-dalil pendukungnya,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya.” (Hadits Muslim Nomor 1935)

إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ فَقَالَ أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia masih memiliki hutang puasa selama satu bulan.” Maka beliau pun bersabda: “Bagaimana menurutmu jika ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu akan melunasinya?” wanita itu menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (Hadits Muslim Nomor 1936)

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa (sebagai pengganti) untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2879)

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

” Barang siapa yang meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa hendaknya ia memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya sebagai gantinya”. (Hadits Tirmidzi Nomor 651)

Abu ‘Isa berkata, kami tidak mengetahui hadits Ibnu Umar ini diriwayatkan secara marfu’ kecuali melalui sanad ini dan yang benar adalah hadits ini mauquf sampai kepada Ibnu Umar. para ahli ilmu berbeda pendapat, sebagian mereka yaitu Ahmad dan Ishaq berpendapat jika si mayyit bernadzar puasa, maka boleh diwakilkan. Namun jika dia memiliki kewajiban mengqadla’ puasa Ramadlan, maka sebagai gantinya hendaknya ia memberi makan orang miskin. Malik, Sufyan dan Syafi’i berpendapat, seseorang tidak boleh mewakili puasanya orang lain. Asy’ats ialah Ibnu Sawwar dan menurutku Muhammad disebut juga dengan Ibnu ‘Abdir Rahman bin Abu Laila.

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ

“Barangsiapa meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa ramadlan, maka hendaklah diganti dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1747)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; apabila seseorang sakit pada Bulan Ramadhan kemudian meninggal dan belum melakukan puasa maka diberikan makan untuknya dan ia tidak berkewajiban untuk mengqadha`, dan apabila ia memiliki kewajiban nadzar maka walinya yang mengqadha` untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2049)

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya (boleh) berpuasa untuknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1816)

Pahala ibadah haji bisa dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal

Haji masih termasuk ibadah badaniyah yang juga boleh diwakilkan. Sehingga boleh melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya dikirimkan kepada orang lain. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya.” (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?” beliau menjawab: “Boleh.” Dan hal itu terjadi pada saat haji wada’. (Hadits Muslim Nomor 2375 dan Hadits Muslim Nomor 2376

Sangat jelas bahwa walaupun haji merupakan ibadah bersifat badaniyah, namun pahalanya dapat dikirim pada orang yang sudah meninggal.

Pahala ibadah umrah bisa dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal

Masih sama dengan hukum mewakilkan dan mempersembahkan ibadah haji adalah ibadah umrah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلَا الْعُمْرَةَ وَلَا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

“dari [Abu Razin Al ‘Uqaili], bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, ia sudah tidak mampu melaksanakan haji, umrah maupun berpergian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kerjakan haji untuk bapakmu, dan berumrahlah kamu.’ (Hadits Ibnu Majah Nomor 2897, Hadits Ahmad Nomor 15595, dan Hadits Tirmidzi Nomor 852)

Muamalah bayar hutang dapat dilakukan atas nama orang yang sudah meninggal

Membayar hutang juga bisa ditanggung oleh orang lain. Baik bagi mereka yang menanggungnya maupun yang ditanggungnya juga sama-sama mendapatkan faedah. Nabi bersabda,

أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

” Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar”. (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Baca juga artikel terkait berikut;

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Kesimpulan

Dengan begitu, kita tetap menghormati mereka yang menolak untuk berbuat baik pada orang mati yang telah berjasa kepada hidup kita dengan kirim pahala dari sebuah amal yang kita kerjakan. Namun terlalu banyak dalil yang tidak terbantahkan bahwa amalan dan ibadah maliyah dan badaniyah seperti dzikir, doa, haji, umrah, sedekah, dan bacaan Al-Qur’an sangat dianjurkan oleh Nabi yang sangat bermanfaat bagi mayit maupun bagi mereka yang melakukannya.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 63
    Shares