Khamer

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


Pendahuluan

Mengkonsumsi perkara yang memabukkan mungkin sudah menjadi fenomena sejak awal sejarah manusia diciptakan. Walaupun dari aktifitas tersebut menimbulkan efek negatif, namum tidak sedikit manusia tetap melakukan dengan berbagai macam alasan. Di antaranya,

Untuk Hiburan

Rutinitas seseorang terkadang menimbulkan tekanan hidup, mulai dari aktifitas keluarga maupun pekerjaan. Bagi mereka yang kurang mengenal dan mendalam agama Islamnya dalam menghibur hati dan jiwa kencenderungannya dengan mencari hiburan yang bersifat negataif. Salah satu bentuk hiburan yang dianggap dapat meringankan beban hidupnya adalah dengan mengkonsumsi khamer.

Untuk Rilaksasi

Bila beban hidup dirasa melampaui batas-batas kemampuan seseorang terkadang menimbulkan rasa stres. Untuk meredakan stres tersebut terkadang dilakukan dengan cara mengkonsumsi khamer. Menurut pakar kesehatan, memang efek alami yang dirasakan ketika tubuh diasupi khamer dalam jumlah yang normal dan taraf yang wajar adalah relaks. Oleh karena itu relaksasi menjadi salah satu alasan bagi para pengkonsumsi khamer.

Untuk Sosiaisasi

Tidak dipungkiri bahwa gaya hidup manusia dari berbagai macam kalangan dan level sosial ditandai dengan mengkonsumsi khamer. Tidak jarang terkadang mengkonsumsi khamer sudah menjadi kesepakatan sosial yang tidak tersulis diasumsikan sebagai simbol strata sosial. Dengan mengkonsumsi khamer di suatu tempat, di suatu waktu, dengan kalangan siapa dan dengan jenis minuman tertentu akan menunjukkan identitas sosial tertentu seseorang pula. Asumsi gengsi sosial inilah terkadang sulit meredakan praktik fenomena mengkonsumsi khamer. Dengan terlibat dan mengkonsumsi khamer seseorang merasa telah berada dan diterima dalam strata sosial yang dianggap bergengsi.

Untuk tradisi, adat istiadat, dan upaca keagamaan

Terutama di luar kalangan agama Islam, fenomena menyuguhkan dan mengkonsumsi khamer seperti meminum minuman keras bahkan telah menjadi bagian yang tidak terelakkan dari prosesi adat istiadat, tradisi atau bahkan ritual keagamaan mereka. Dengan menyuguhkan dan mempersembahkan minuman keras mereka yakini sebagai simbol sakral akan diterima pemujaan dan persembahan mereka kepada Tuhannya. Tak heran dalam kalangan-kalangan tertentu menyuguhkan dan mengkonsumsi minuman keras sudah menjadi bagian dari adat dan kebudayaan mereka. Dengan meminum minuman keras mereka berangaggapan telah ikut melestarikan tradisi dan budaya mereka.

Pengertian

Khamer atau minuman keras adalah minuman beretanol (salah satu jenis alkohol) yang dihasilkan dari penyulingan yang diproduksi dengan cara fermentasi biji-bijian, buah, atau sayuran. Seperti arak, vodka, tequila, dan wiski. Atau terkadang minuman keras dimasukkan juga kategoeri minuman fermentasi yang tidak disuling seperti bir, tuak, anggur, dan cider.

Sedangkan menurut pandangan Islam minuman keras atau diistilahkan dengan khamer menurut bahasa adalah sesuatu yang menutupi (mengacaukan akal), sedangkan dalam istilah fikih yaitu segala macam yang memabukkan. Dengan begitu zat narkotika, ganja, putau, sabu-sabu, dan sejenisnya juga dapat dimasukkan ke dalam pengertian khamer. Pengertian ini didasarkan pada sebuah Hadits Nabi,

Hadits Muslim Nomor 3735

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khamer dan setiap khamer adalah haram.”

Dalam hadits lain,

Hadits Bukhari Nomor 4253

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى مِنْبَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ وَهْيَ مِنْ خَمْسَةٍ مِنْ الْعِنَبِ وَالتَّمْرِ وَالْعَسَلِ وَالْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ

dari [Ibnu ‘Umar] dia berkata; Aku mendengar [‘Umar radliallahu ‘anhu] berkhutbah di atas mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia mengatakan; Amma ba’du, “Wahai manusia! Ketahuilah, sesungguhnya khamer telah diharamkan. Dan ia terbuat dari lima macam (buah); anggur, kurma, madu, terigu, dan gandum. Khamer adalah sesuatu yang menutupi (mengacaukan) akal.”

Hadits yang senada adalah;

Hadits Muslim Nomor 5360

Hadits Nasai Nomor 5484

Masuk dalam kategori khamer adalah Narkoba,

yaitu singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Lebih sering digunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa.

Bahan adiktif lainnya adalah zat atau bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak dan dapat menimbulkan ketergantungan. [UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika] bahan ini bisa mengarahkan atau sebagai jalan adiksi terhadap narkotika.

Dalam istilah para ulama, narkoba ini masuk dalam pembahasan mufattirot (pembuat lemah) atau mukhoddirot (pembuat mati rasa). Pemahaman ini didasarkan pada Hadits Abu Daud Nomor 3201.

Pengaruh narkoba secara umum ada tiga:

  1. Depresan, yakni; Menekan atau memperlambat fungsi sistem saraf pusat sehingga dapat mengurangi aktivitas fungsional tubuh. Dan dapat membuat pemakai merasa tenang, memberikan rasa melambung tinggi, member rasa bahagia dan bahkan membuatnya tertidur atau tidak sadarkan diri
  2. Stimulan, yakni; Merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan kegairahan (segar dan bersemangat) dan kesadaran. Dan dapat bekerja mengurangi rasa kantuk karena lelah, mengurangi nafsu makan, mempercepat detak jantung, tekanan darah dan pernafasan.
  3. Halusinogen, yakni; Dapat mengubah rangsangan indera yang jelas serta merubah perasaan dan pikiran sehingga menimbulkan kesan palsu atau halusinasi.

Keharaman narkoba berdasarkan sebuah Hadits,

Hadits Abu Daud Nomor 3201

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ وَمُفَتِّرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan dan melemahkan (mengacaukan akal).”

Jadi sangat jelas sekali dalam Hadits tersebut bahwa perkara apapun yang dapat melamahkan seperti narkoba adalah diharamkan.

Hukum

Awal mula hukum khamer tidak dilarang dalam Islam, karena Allah dalam firmannya mengakui bahwa juga ada sedikit kemanfaatannya dalam khamer di samping ternyata kemadorotannya lebih besar, sebagaimana dalam firmannya,

Awalnya tidak haram

Surat Al-Baqarah Ayat 219

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.

Di antara kemadhorotannya adalah menyebabkan pelakunya tidak sadarkan diri dan kecenderungannya melakukan banyak kesalahan. Walaupun kemanfaatan dalam khamer memang ada, namun agama Islam saat itu tidak serta merta langsung mengharamkan dikarenakan memang salah satu karakter dakwah dalam agama Islam adalah bertahap dan berproses.

Kemudian dibatasi selain saat shalat

Salah satu bentuk proses yang dilakukan oleh Allah adalah melarang umat Islam mengkonsumsi khamer saat menjelang ibadah shalat saja. Sebagaimana tergambar dalam sebuah Hadits berikut,

Hadits Abu Daud Nomor 3186

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَام أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ دَعَاهُ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَسَقَاهُمَا قَبْلَ أَنْ تُحَرَّمَ الْخَمْرُ فَأَمَّهُمْ عَلِيٌّ فِي الْمَغْرِبِ فَقَرَأَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ فَخَلَطَ فِيهَا فَنَزَلَتْ { لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ }

dari [Ali bin Abu Thalib] bahwa seorang laki-laki Anshar memanggil dirinya dan Abdurrahman bin ‘Auf, lalu ia memberi mereka minum khamer sebelum khamer diharamkan. Setelah itu Ali mengimami mereka dalam Shalat Maghrib. Ketika ia membaca Surat Al Ikhlash dan terbolak-balik dalam membacanya, maka turunlah ayat: ‘(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…) ‘ (Qs. An Nisaa`: 41).

Akhirnya diharamkan secara mutlak

Ketika dirasa keimanan umat sudah semakin kuat dan kemadhorotan yang ditimbulkan semakin banyak. Maka secara tegas kemudian Islam mengharamkan mengkonsumsi khamer. Sebagaimana firman Allah berikut,

Surat Al-Ma’idah Ayat 90-91

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dalam sebuah Hadits,

Hadits Bukhari Nomor 4251

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا كَانَ لَنَا خَمْرٌ غَيْرُ فَضِيخِكُمْ هَذَا الَّذِي تُسَمُّونَهُ الْفَضِيخَ فَإِنِّي لَقَائِمٌ أَسْقِي أَبَا طَلْحَةَ وَفُلَانًا وَفُلَانًا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ وَهَلْ بَلَغَكُمْ الْخَبَرُ فَقَالُوا وَمَا ذَاكَ قَالَ حُرِّمَتْ الْخَمْرُ قَالُوا أَهْرِقْ هَذِهِ الْقِلَالَ يَا أَنَسُ قَالَ فَمَا سَأَلُوا عَنْهَا وَلَا رَاجَعُوهَا بَعْدَ خَبَرِ الرَّجُلِ

 [Anas bin Malik radliallahu ‘anhu] berkata; ‘Kami tidak punya khamer kecuali Fadlikh kalian ini, yang biasa kalian sebut dengan Al Fadlikh. Aku pernah menjadi orang yang memberi minum Abu Thalhah, dan fulan, serta fulan. Lalu datang seseorang berkata; ‘Apakah telah sampai kepada kalian suatu kabar? Mereka bertanya; ‘Kabar apa itu? Dia menjawab; ‘ khamer telah diharamkan.’ Mereka berkata; Wahai Anas, bakarlah kendi-kendi ini! Mereka tidak pernah meminta dan kembali kepada memimum khamer lagi setelah mendengar kabar dari orang tadi.

Hukuman bagi peminum

Dari ayat dan Hadits di atas, sudah jelas bahwa Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan khamer dengan pengharaman yang tegas. Dan bahkan peminumnya dikenai hukuman had. Nabi bersabda,

Hadits Muslim Nomor 3218

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ أَرْبَعِينَ قَالَ وَفَعَلَهُ أَبُو بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَخَفَّ الْحُدُودِ ثَمَانِينَ فَأَمَرَ بِهِ عُمَرُ

 bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dihadapkan seorang laki-laki yang terbukti meminum khamer, lalu beliau menderanya dengan dua pelepah kurma sebanyak empat puluh kali, hal itu juga dilakukan oleh Abu Bakar. Ketika pada masa pemerintahan Umar, maka ia minta pendapat kepada orang-orang. Abdurrahman berkata, “Hukuman dera yang paling ringan adalah delapan puluh kali.” Lantas Umar memutuskannya seperti itu.”

Dalam Hadits lain,

Hadits Bukhari Nomor 6275

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ

dari [Anas bin Malik] radliallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memukul peminum khamar dengan pelepah kurma dan sandal, dan Abu Bakar pernah mencambuknya sebanyak empat puluh kali.

Hadits-hadits tersebut menunjukkan ditetapkannya hukuman minum khamer. Dan hukuman dera itu tidak kurang dari 40 kali. Dan tidak ada riwayat yang menerangkan, bahwa Nabi SAW membatasi 40 kali. Dan kadang-kadang beliau mendera dengan pelepah kurma, kadang-kadang dengan sandal, kadang-kadang dengan pelepah kurma dan sandal, kadang-kadang dengan pelepah kurma dan sandal serta pakaian dan kadang-kadang dengan tangan dan sandal. Oleh karena itu bisa dipahami, alat apa yang akan digunakan terserah kepada Hakim.

Sedikit atau banyak tetap haram

Keharaman khamer berlaku secara mutlak, entah meminum dengan jumlah banyak maupun dengan jumlah sedikit. Nabi bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ. احمد و ابن ماجه و الدارقطنى و صححه

Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Minuman yang dalam jumlah banyak memabukkan, maka sedikitpun juga haram”. [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daruquthni, dan dia menshahihkannya]

Senada dengan Hadits berikut,

Hadits Nasai Nomor 5487

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ إِنَّ أَهْلَنَا يَنْبِذُونَ لَنَا شَرَابًا عَشِيًّا فَإِذَا أَصْبَحْنَا شَرِبْنَا قَالَ أَنْهَاكَ عَنْ الْمُسْكِرِ قَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ

“Seorang laki-laki datang menemui [Ibnu Umar] dan berkata; “Keluarga kami membuat perasan sebagai minuman, lalu pada pagi harinya kami meminumnya?” Ibnu Umar berkata; “Engkau telah dilarang untuk minum sesuatu yang memabukkan, baik sedikit ataupun banyak.

Dalam Hadits lain Nabi bersabda,

Hadits Ibnu Majah Nomor 3383

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah haram, dan sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram, “

Tidak ada obat dalam keharaman

Lalu apa hukumnya mengonsumsi khamer dengan niat untuk obat, maka hukumnya tetap haram. Nabi bersabda,

Hadits Abu Daud Nomor 3376

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan bagi setiap penyakit terdapat obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram!”

Dalam Hadits lain,

Hadits Muslim Nomor 3670

أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهَا فَقَالَ إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

bahwa Thariq bin Suwaid Al Ju’fi pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai khamer, maka beliau pun melarangnya atau benci membuatnya.” Lalu dia berkata, “Saya membuatnya hanya untuk obat.” Maka beliau bersabda: “Khamer itu bukanlah obat, akan tetapi ia adalah penyakit.”

Apapun jenisnya dan apapun namanya tetap haram

Di samping itu apapun jenis dan nama khamer hukumnya tetap haram, sebagaimana sabda Nabi,

Hadits Ibnu Majah Nomor 4010

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, sebagian dari ummatku akan meminum khamer yang mereka namai dengan selain namanya,

Apapun yang terkait khamer tetap haram

Dampak hukum dari keharaman khamer adalah apapun transaksi yang terkait dengan khamer adalah juga haram. Nabi bersabda,

Hadits Ahmad Nomor 17310

وَإِنَّ الْخَمْرَ حَرَامٌ وَثَمَنَهَا حَرَامٌ

Sesungguhnya khamer itu haram dan haram pula uang hasil dari menjualnya. Sesungguhnya khamer itu haram dan haram pula uang hasil dari menjualnya. Sesungguhnya khamer itu haram dan haram pula uang hasil dari menjualnya.”

Ada sepulu keharaman terkait dengan khamer. Nabi bersabda,

Hadits Ibnu Majah Nomor 3371

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لُعِنَتْ الْخَمْرُ عَلَى عَشْرَةِ أَوْجُهٍ بِعَيْنِهَا وَعَاصِرِهَا وَمُعْتَصِرِهَا وَبَائِعِهَا وَمُبْتَاعِهَا وَحَامِلِهَا وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ وَآكِلِ ثَمَنِهَا وَشَارِبِهَا وَسَاقِيهَا

“Khamer dilaknat atas sepuluh bagian; dzatnya, yang memerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, yang minta dibelikan, yang membawanya, yang minta dibawakannya, yang memakan hasil penjualannya, peminumnya dan yang menuangkannya, “

Begitu dibencinya khamer sampai-sampai Nabi melarang umat Islam terlibat dengan apapun yang terkait dengan khamer, baik duduk maupun berada di suatu tempat dimana di situ terdapat khamer. Nabi bersabda,

Hadits Darimi Nomor 2000

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُشْرَبُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia duduk di hidangan yang terdapat khamer.”

Setiap muslim diperintah untuk menghentikan kemungkaran jika menyaksikan-nya. Tetapi jika tidak mampu, dia harus menyingkir atau meninggalkannya. Dalam salah satu kisah diceritakan, bahwa Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah mendera orang-orang yang minum khamer dan yang ikut menyaksikan jamuan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.

Karena besar dosa akibat minum khamar, maka yang mendapat laknat atau hukuman bukan saja orang yang meminum khamar, tapi juga pihak yang terlibat dengan khamar, seperti orang yang menghidangkan, menjual, memasok, membuat, mengusahakan dan yang menikmati hasil penjualan khamar.

Hikmah

Adapun hikmah mengapa diharamkan minum khamar, antara lain untuk menjaga prinsip dasar kehormatan manusia yaitu, akal dan agama. Karena jika seseorang telah terjerumus dalam candu khamar, maka prinsip dasar kehidupan manusia akan kacau dan berantakan. Berikut beberapa dampak negatif dari konsumsi khamer. Di antaranya,

Tidak akan masuk surga

Hadits Bukhari Nomor 5147

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا حُرِمَهَا فِي الْآخِرَةِ

“Barangsiapa meminum khamer di dunia dan tidak bertaubat, maka akan di haramkan baginya di akhirat kelak.”

Ibadah shalatnya tertolak

Hadits Darimi Nomor 1999

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ شَرْبَةً لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Barangsiapa meminum khamer satu teguk, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”

Doanya tidak dikabulkan

Mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram akan juga salah satu dari penyebab doa tidak dikabulkan Allah SWT. Nabi bersabda,

Hadits Muslim Nomor 1686

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.”

Sumber berbagai macam penyakit

Hadits Muslim Nomor 3670

أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهَا فَقَالَ إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

bahwa Thariq bin Suwaid Al Ju’fi pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai khamer, maka beliau pun melarangnya atau benci membuatnya.” Lalu dia berkata, “Saya membuatnya hanya untuk obat.” Maka beliau bersabda: “Khamer itu bukanlah obat, akan tetapi ia adalah penyakit.”

Khamer mengandung alkohol yang termasuk dalam zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan. Bila seseorang telah terjangkit candu khamer maka akan merusak kesehatan. Baik saraf maupun organ tubuh akan mengalami disfungsi, seperti organ hati yang berfungsi menetralkan racun dapat mengalami kerusaan, ginjal di mana salah satu fungsi utamanya menyaring darah juga akan mengalami kerusakan, dan yang paling utama dari efek khamer adalah akan merusak sistem saraf otak. Resiko terparah dari kecanduan khamer adalah bila terjadi over dosis maka dapat menyebabkan kematian.

Sumber berbagai macam tindak kriminal

Surat Al-Ma’idah Ayat 90-91

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Ketika sistem syaraf otak terganggu maka akan kehilangan kontrol atas pusat pencegahan ini sehingga kehilangan kendali diri. Akibatnya, seseorang yang tidak biasa mengucapkan kata-kata kasar menjadi bisa mengatakannya, seseorang yang tidak suka berbuat kerusakan justru akan melakukannya. Itulah yang menyebabkan seorang pemabuk lebih sering berbuat buruk karena tidak memiliki kontrol lagi.

Dengan terhambat kontrol pusat pencegahan, orang yang mabuk tidak bisa mengontrol perilakunya. Sebaliknya, dalam keadaan demikian justru perbuatan buruklah yang lebih banyak terjadi tindak kriminal seperti tindak kekerasan, perkelahian, pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan pun marak terjadi. Ini disebabkan karena mereka tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang tidak benar.

Kesimpulan

Khamer dilarang dalam Islam karena memiliki banyak mudharat atau akibat buruk yang dapat ditimbulkan. Daya saing dia sebagai pribadi maupun daya saing sebuah bangsa terhadap bangsa lainnya akan hilang sebab rendahnya tingkat produktifitas seseorang dalam segi ekonomi dan sosial. Sehingga mereka yang telah terjangkiti penyakit khamer akan senantiasa menjadi pribadi dan bangsa terjajah oleh mereka yang kuat sebab kesehatan diri dan fikirannya terjaga.

Oleh karena itulah agar manusia selamat dunia dan akhirat dianjurkan untuk senantiasa bertaqwa dan selalu beristiqomah di jalan Allah. Senantiasa mengamalkan segala ajaranNya dan menjauhi segala laranganNya seperti menjauhi untuk tidak konsumsi khamer. Seorang mukmin dapat dikatakan taqwa apabila mengamalkan ajaran agama Islam di dunia untuk mencapai akhirat yang Allah ridhoi.

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 19
    Shares