Kewajiban Muslim Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup

Sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diwajibkan senantiasa menjaga ketaqwaaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat An-Nahl Ayat 128)

Berdasarkan ayat tersebut menunjukkan bahwa efek dari ketakwaan adalah timbulnya kebaikan-kebaikan dari seorang hamba, mulai kebaikan berbentuk fikiran, ucapan, maupun tindakan. Dengan kata lain Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan. Sebaliknya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Surat Al-Qasas Ayat 77)

Akhir-akhir ini sering kita mendengar dan melihat banyak terjadi bencana alam di Tanah Air kita, mulai gempa bumi, banjir, angin topan, gunung meletus, dan bahkan sunami yang mengakibatkan timbulnya banyak korban jiwa, terluka atau cacat, dan kerusakan sarana dan prasarana kehidupan masyarakat. Walaupun bencana alam tersebut sebetulnya fenomena alam yang biasa saja, namun bila diamati lebih jauh ternyata timbulnya korban jiwa tersebut pemicunya berasal dari ulah manusia sendiri, seperti penggundulan hutan, eksploitasi mineral bumi yang berlebihan, pengeprasan bukit, pengerukan tanah, penumpukan sampah, pengolahan lahan berlebihan, pemukiman manusia tanpa memperhatikan karakter tanah, dan lain-lain. Mengenai ulah manusia ini dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Surat Ar-Rum Ayat 41)

Timbulnya kerusakan alam tersebut menyebabkan kesengsaraan hebat bagi umat manusia, baik bagi kita sekarang, maupun kelak bagi generasi anak keturunan kita, sebab lingkungan hidup yang juga menjadi sumber hidup telah mengalami kerusakan. Maka kita sebagai umat Islam yang baik harus ikut bertanggung jawab untuk ikut melestarikan alam semesta.

Keberadaan bumi sebagai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sangat banyak disinggung dalam Al-Qur’an. Tidak kurang dari 461 kata ardh (bumi) terdapat dalam kitab suci tersebut. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan dalam banyak ayat agar manusia jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 64)

Dalam menghadapi kenyataan banyaknya kerusakan lingkungan hidup, yang disebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, marilah kita umat Islam kembali kepada tuntunan Islam sebagaimana digariskan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tersebut tadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan serta tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Salah satu wujud kebaikan kita adalah menjaga perilaku atau akhlaq kita bukan hanya kepada sesama manusia, namun juga akhlaq kita kepada lingkungan hidup. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Hakim)

Berdasarkan Hadis tersebut sesungguhnya setiap muslim dituntut memiliki akhlak yang mulia. Dalam Islam, akhlak mempunyai pengertian yang luas, yaitu menyangkut hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan hewan, dengan tetumbuhan, dan dengan benda-benda alam. Maka dalam konteks ini, hendaknya setiap muslim bersikap dan berperilaku yang baik terhapap benda-benda alam di sekelilingnya.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang mana syari’atnya tidak hanya untuk umat Islam saja tapi bagi semesta alam sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Bahkan diutusnya Nabi adalah sebagai rahmat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Surat Al-Anbiya Ayat 107)

Sayangilah alam semesta, niscaya alam semesta juga akan menyayangi umat manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para penyayang akan disayangi oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit.” (Hadits Abu Daud Nomor 4290)

Dengan turut melestarikan alam semesta, akan ada banyak keuntungan yang didapat umat manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الْأَرْضَ أَرْضُ اللَّهِ وَالْعِبَادَ عِبَادُ اللَّهِ وَمَنْ أَحْيَا مَوَاتًا فَهُوَ أَحَقُّ

“dari [‘Urwah] ia berkata; aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa bumi ini adalah bumi Allah, dan para hamba adalah hamba Allah, dan barang siapa yang menghidupkan (melestarikan) lahan mati maka ia yang lebih berhak terhadapnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2672)

Kandungan dari hadist diatas adalah Nabi Muhammmad shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui Al-Qur’an dan Hadist mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan kelangsungan kehidupan manusia itu tergantung pada lestarinya lingkungan alam, maka hendaklah kita menjaga, merawat, dan melestarikan alam lingkungan di mana kita bergantung padanya.

Marilah kita hindari perbuatan merusak benda-benda alam yang merupakan lingkungan hidup kita, dan sebaliknya kita justru berupaya memelihara kelestarian alam ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikaruniakan kepada umat manusia.

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke