Kewajiban Mencari Rezeki yang Halal

Semangat mencari rizki harus diimbangi pula dengan semangat untuk mencari rizki yang baik dan halal. Sebab apa yang sedang kita himpun tujuan akhirnya adalah untuk kita berikan kepada mereka yang kita sayangai, anak, istri, orang tua dan keluarga. Tentunya kita tidak berharap keluarga kita kotori dengan dinafkahi dari materi yang kotor, haram dan najis.

Jangan sembarangan dalam mencari rezeki. Jangan berprinsip materialistik, yakni demi kebutuhan tercukupi tidak penting perkara halal dan haramnya usaha kita. Jangan menggunakan prinsip dari kebanyakan manusia yang mengatakan “Yang haram saja susah apalagi yang halal”. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

“Akan datang suatu zaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram”. (Hadits Bukhari Nomor 1918)

Oleh sebab itu, mencari rizki yang halal dan baik tentu menjadi tekad kita sebagai seorang pemimpin rumah tangga yang baik. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qudamah t dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin: “Ketahuilah bahwa mencari yang halal adalah fardhu atas tiap muslim”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 168)

Mencari rizki yang haram merupakan wujud keimanan seseorang. Tidak berlaku keimanan seseorang yang mana hidupnya berasald ari harta-harta yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 88)

Jangan karena ambisi kita lebih memilih harta yang haram dibandingkan harta yang halal di mana Allah telah menyediakan untuk kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Surat An-Nahl Ayat 114)

Di samping perintah untuk mencari rizki yang halal, Allah dan Nabi-Nya melarang dan memperingatkan kita dari penghasilan yang haram. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686)

Bukan hanya perintah untuk mencari rizki yang halal. Cara yang dipergunakanpun sangat dilarang menggunakan cara-cara bathil. Allag Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 188)

Dengan mencari rizki yang halal, hidup akan lebih menjadi tenang, damai, dan berkah. Semoga kita diberi kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh persaingan ini. Semoga Allah senantiasa memberi taufiq dan perlindungan agar kita terhindar dari godaan syetan yang senantiasa hendak menjerumuskan umat manusia dari pekerjaan dan usaha yang kotor dan keji. Semoga kita tetap istiqamah dalam mencari rizki yang baik dan halal, agar hidup menjadi berkah dan menjadi sebab mendapatkan ridha Allah. Amin.

Dihimpun oleh; KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 47
    Shares