Keutamaan Ziarah Kubur

Manfaat bagi peziarah

Dapat melembutkan hati

Ziarah kubur memiliki manfaat besar bagi para peziarahnya maupun bagi ahli kuburnya. Bagi para peziarah dengan mendatangi kubur akan mudah melembutkan hati, dan zuhud terhadap dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena ziarah dapat melembutkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan akhirat. Dan janganlah kalian mengucapkan ucapan batil.”(Hadits riwayat Al Hakim 1/376)

Dapat mengingatkan akhirat

Suasana kuburan yang hening mendukung seseorang untuk berfikir hakikat kehidupan ternyata sangat sebentar. Semua kemewahan harta dunia akan menjadi sia-sia bila tidak dipersembahkan pada jalan Allah. Hidup di dunia hanyalah sementara, sedangkan keabadian hidup adalah akhirat. Dengan ziarah kubur seorang muslim akan senantiasa terpaut jiwanya dengan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1558)

Dapat mengingat kematian

Seseorang akan merasa lebih berhati-hati dalam memanfaatkan hidupnya, sebab mereka khawatir tentang nasibnya kelak ketika sudah masuk ke alam kubur. Apakah masuk ke dalam golongan yang selamat atau terlaknat. Seringkali aktifitas sehari-hari mendorong seseorang hidup hedonisme yang berpeluang terjerumus pada cinta dunia yang berlebihan. Agar hidupnya tidak semu karena pengaruh hidup hedonisme maka sangat dibutuhkan untuk mengingat kematian. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan ziarah kubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Menambah kebaikan

Dengan berkecamuknya jiwa seseorang tentunya akan berdampak pada terkendalinya perilaku sehari-hari lebih positif. Banyak kebaikan dalam amalan ziarah kubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَكُلُوا مِنْهَا مَا شِئْتُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ الْأَشْرِبَةِ فِي الْأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِي أَيِّ وِعَاءٍ شِئْتُمْ وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku pernah melarang kalian dari tiga hal; ziarah kubur, sekarang berziarahlah, semoga dengan berziarah akan menambah kebaikan. Aku pernah melarang kalian dari memakan daging sembelihan (Adlha) lebih dari tiga hari, sekarang makanlah sesukamu. Dan aku juga pernah melarang kalian dari beberapa minuman dalam beberapa bejana, sekarang minumlah dalam bejana mana saja sesuka kalian, dan jangan minum sesuatu yang memabukkan.” (Hadits Nasai Nomor 5559)

Manfaat bagi ahli kubur

Manfaat ziarah kubur bukan hanya diperoleh bagi mereka yang berziarah, melainkan ahli kuburnya ternyata juga dapat merasakan manfaatnya. Berikut beberapa hal yang mana manfaatnya dapat dirasakan oleh ahli kubur. Di antaranya;

Mendapat manfaat salam

Perintah mengucapkan salam bukan hanya ditujukan kepada sesama saudara muslimnya yang masih hidup. Namun agama mensyari’atkan mengucapkan salam juga kepada mereka yang sudah meninggal dunia.

Arti ucapan salam sendiri adalah: keselamatan dan kesuksesan dari Allah bagimu. Ucapan salam dari seseorang kepada orang lain berfaidah mendapat perlindungan dan penjagaan dari Allah, karena as-Salâm adalah salah satu dari nama-nama Allah yang maha Indah. (Penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 4/117). Sedangkan faidah ucapan salam bagi yang mengucapkan akan mendapat balasan cinta. Ikatan cinta antar sesama muslim akan terjalin walaupun sudah dipisah dengan maut. Oleh karenanya disunnahkan mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan agar ahli kubur mendapatkan manfaatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ إِذَا أَتَى عَلَى الْمَقَابِرِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendatangi kuburan, beliau berdoa: “Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kalian wahai penghuni kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin, dan kami insya Allah akan bertemu kalian, kalian bagi kami sebagai pendahulu dan kami bagi kalian sebagai pengikut. Aku memohon keselamatan kepada Allah bagi kami dan kalian.” (Hadits Nasai Nomor 2013)

Mendapat manfaat doa

Salah satu amalan yang disyariatkan ketika ziarah kubur adalah para peziarah disunnahkan untuk mendoakan ahli kubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka”. (HR. Ahmad 6/252)

Panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup merupakan perintah agama. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Berdasarkan hadits di atas, mendoakan orang yang sudah meninggal merupakan perintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga sering mencontohkan berdoa untuk orang yang meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا

“dari [Abu Ibrahim Al Anshari] dari [bapaknya] bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a saat menshalati mayit, “Ya Allah berilah ampunan bagi yang masih hidup di antara kami dan yang sudah meninggal dunia, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, kaum laki-laki di antara kami dan kaum wanita, orang yang masih muda di antara kami dan orang yang sudah tua.” (Hadits Nasai Nomor 1960)

Terutama doa seorang anak yang masih hidup akan terus mengalir kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Karena doa anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal akan sangat bermanfaat saat berada di alam akhirat. Hukum ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits Muslim Nomor 3084)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَرُوِيَ إنَّ الرَّجُلَ لَيَمُوتُ وَالِدَاهُ وَهُوَ عَاقٌّ لَهُمَا فَيَدْعُو اللَّهَ لَهُمَا مِنْ بَعْدِهِمَا فَيَكْتُبُهُ اللَّهُ مِنْ الْبَارِّينَ

Artinya, “Diriwayatkan bahwa seorang anak yang kedua orang tuanya wafat sementara ia pernah berdurhaka terhadap keduanya, lalu ia berdoa kepada Allah sepeninggal keduanya, niscaya Allah mencatatnya sebagai anak yang berbakti,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Selengkapnya baca artikel berikut; Kirim Manfaat Doa kepada Orang Tua yang sudah Meninggal

Mendapat manfaat bacaan dzikir

Amalan yang juga disyariatkan ketika ziarah kubur adalah para peziarah disunnahkan untuk berdzikir seperti tasbih, tahlil, dan takbir, shalawat, dan lainnya dengan niat pahalanya dikirimkan kepada ahli kubur. Bacaan kalimat thayyibah (baik) tersebut sangat bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan dzikir tahlil ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin (menuntun) di antaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:

اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)

“Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: ucapkanlah dzikir tahlil “La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali”. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berpalinglah ia.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya)

Kiriman pahala dari ibadah jasadi seperti dzikir istighfar sangat bermanfaat bagi ahli kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“dari [Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi] ia berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau. Laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?” beliau menjawab: “Ya. Mendoakan dan (membaca dzikir istighfar) memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahmi mereka dan memuliakan teman mereka.” (HR. Abu Daud Nomor 4476)

Memperbanyak kiriman pahala bacaan dzikir istighfar dapat mengangkat derajat ahli kubur di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi? ‘ lalu dijawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun (kirim pahala dzikir istighfar) untukmu’.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3650)

Terutama dzikir yang dibacakan tepat setelah seseorang dikubur sangat bermanfaat bagi ahli kubur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Selengkapnya baca artikel berikut; Hukum Kirim Pahala Dzikir pada Orang Mati

Mendapat manfaat bacaan Al-Qur’an

Amalan yang disyariatkan ketika ziarah kubur adalah para peziarah disunnahkan untuk membacakan Al-Qur’an dengan niat pahalanya dihadiahkan kepadanya ahli kubur. Lebih-lebih disunnahkan kepada anak-anak dan keluarga ahli kubur sebagai bentuk bakti mereka kepada kedua orang tuanya tentunya tidak akan segan untuh sering membaca Al-Qur’an saat menziarahi makamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Berdasarkan Hadits tersebut seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal.

Begitu juga bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi ahli kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi ahli kubur saat berziarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi ahli kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada orang-orang yang sudah meninggal baik pada saat setelah mayit dikubur atau ketika saat berziarah kubur, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Jadi tidak salah ketika syariat membaca Al-Qur’an kemudian pada akhirnya menjadi pada sebagian masyarakat muslim di berbagai belahan dunia dan khususnya di Indonesia seperti ziarah kubur, nyekar atau nyadran, karena memang ada dukungan dari syariat agama Islam. Maka tidak perlu ragu-ragu lagi untuk sering berziarah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada ahli kubur, sebab amalan tersebut telah dicontohkan dan dianjurkan Nabi.

Baca Selengkapnya; Hukum Kirim Pahala Bacaan Al-Qur’an untuk Arwah Orang Mati

Mendapat manfaat taburan bunga di atas kuburannya

Di antara amalan yang juga bermanfaat bagi ahli kubur saat berziarah kubur adalah menyirami pusara dengan air dan dan taburan bunga. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu az-Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan (tafa’ul) agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin. Beliau berkata,

وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين, ص.۱٥٤)

“Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.”

Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

“Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran. Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diterangkan dalam hadits,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba.” Kemudian beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?” beliau menjawab: “Semoga siksa keduanya diringankan selama batang pohon ini basah.” (Hadits Bukhari Nomor 211)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadits di atas bersifat mutlak dan umum, sehingga dibolehkan bagi siapa saja untuk meletakkan pelepah kurma atau pun bunga-bunga dan semua tumbuh-tumbuhan yang masih basah di atas kuburan. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan hal itu dianjurkan.

Baca selengkapnya; Hukum Tabur Bunga di atas Kuburan

Sedekah atas nama orang tua

Lalu bagaimana sebuah kebiasaan dari sebagaian umat Islam yang bersedekah setelah mereka melakukan ziarah kubur, seperti memberi uang kepada para peminta-minta atau kepada warga miskin di sekitar pemakaman. Terkait hal ini ternyata juga tidak masalah, sebab sedekah bagi mereka yang masih hidup dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal ternyata juga bermanfaat. Terutama sedekah dari seorang anak atas nama kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Banyak dalil tentang anjuran bersedekah dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَمْ تُوصِ وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ فَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا وَلِيَ أَجْرٌ قَالَ نَعَمْ

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; ‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak memberikan wasiat. Aku perkirakan apabila ia dapat berbicara, maka niscaya ia melakukan sedekah, apakah ibuku dan diriku mendapat pahala apabila aku menyedekahkan hartanya? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Ya.'” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2708, Hadits Bukhari Nomor 2554, Hadits Bukhari Nomor 1299, Hadits Muslim Nomor 3082, Hadits Nasai Nomor 3589, dan Hadits Malik Nomor 1255)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan hartanya sendiri dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Baja juga: Ziarah Kubur#

Seorang wanita mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berbicara kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَوْلَا ذَلِكَ لَتَصَدَّقَتْ وَأَعْطَتْ أَفَيُجْزِئُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقِي عَنْهَا

“bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba, jika tidak terjadi hal tersebut niscaya ia telah bersedekah dan memberi. Apakah sah saya bersedekah untuknya? Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2495)

Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berwasiat kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan ia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya ia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahalanya jika aku bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 1672)

Hadits-hadits di atas sebetulnya intinya sama tentang hukum boleh bersedekah dengan niat pahalanya dikirimkan atau dihadiahkan kepada orang lain yang sudah meninggal. Namun terdapat beberapa perbedaan namun sifatnya hanya jalur periwayatannya dan redaksi penulisan haditsnya saja.

Baca Selengkapnya: Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Jadi, silahkan bersedekah sebanyak-banyaknya ke tempat, lembaga, sekolah, masjid atau kepada orang yang membutuhkan dengan niat pahalanya untuk orang yang sudah meninggal terutama sedekah dari seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke