Keutamaan Membaca Shalawat Kepada Nabi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Menurut Ibnu Katsir bershalawat memiliki arti kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad atau dengan mengucapkan Perkataan seperti: Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi. Perintah shalawat atas nabi sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

Nabi memiliki hak atas doa dan kiriman pahala bacaan shalawat dari umatnya yang masih hidup. Bacaan shalawat telah disyariatkan kepada ummat Islam. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri dan para Malaikat-Nya senantiasa bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat nabi masih hidup sampai nabi telah meninggal sekarang. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ السَّلَام

“Hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at -karena- pada hari itu Nabi Adam dicipta, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu ditiupnya terompet (menjelang kiamat), dan pada hari (mereka) dijadikan pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian disampaikan kepadaku.” Mereka (para sahabat) berkata; “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepada engkau, sedangkan engkau telah meninggal? -atau mereka berkata; “Telah hancur (tulangnya) “- Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu berkata: “Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi ‘Alaihimus Salam.” (HR. Nasa’i No. 1357)

Ini menunjukkan setiap kiriman pahala dari bacaan kebaikan termasuk shalawat dari mereka yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal bisa diterima (sampai). Kematian tidak dapat menghalangi setiap kebaikan yang kita kirimkan kepada mereka. Sebagaimana kita yang masih hidup dapat menerima kebaikan dari mereka yang sudah mati seperti harta warisa. Terutama mereka orang-orang sholeh dijamin oleh Allah tetap hidup,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah, itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki,” (QS. Ali ‘Imran: 169).

Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim No. 408)

Berikut beberapa keutamaan membaca shalawat

  1. Celakalah seseorang yang disebutkan namaku di hadapannya, lalu ia tidak membaca salawat untukku.

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya maka ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. (HR.Tirmidzi No. 3469)

  1. Barangsiapa segan membaca shalawat, tidaklah bagi mereka melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka di hari kiamat.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka.” (HR. Tirmidzi No. 3302)

  1. Barangsiapa membaca shalawat sekali maka para malaikat terus-menerus memohonkan ampunan.

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ وَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Bila kalian mendengarkan seorang muadzin, maka katakanlah seperti apa yang dikatakan oleh Mu’adzin, kemudian bershawatlah kepadaku, karena barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan membalas sepuluh kali shalawat, dan mohonlah wasilah untukku, karena ia adalah salah satu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada salah seorang dari hamba Allah dan aku berharap semoga aku menjadi orang tersebut. Barangsiapa memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak untuk mendapatkan syafa’at.” (HR. Tirmidzi No. 3547)

  1. Orang yang paling berhak mendapat syafaatku kelak di hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca salawat untukku.

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya orang yang membaca shalawat sekali untukku, maka Allah akan menganugerahkan sepuluh shalawat (rahmat) kepadanya, lalu mohonlah kepada Allah Azza wa Jalla Washilah (kedudukan yang tinggi) untukku. Karena washilah itu suatu kedudukan yang tinggi dalam surga, yang tidak pantas kecuali bagi seseorang di antara hamba hamba Allah Ta’ala, dan saya berharap semoga sayalah yang akan menempatinya. Barangsiapa yang memohonkan wasilah kepada Allah untukku, niscaya dia akan mendapat syafaat. (HR. Abu Daud No. 439)

Shalawat adalah do’a dan ibadah lisan yang nilai pahalanya dapat kita kirimkan kepada nabi yang sudah meninggal. Dalam ibadah bacaan shalawat bukan hanya diperuntukkan kepada nabi tapi juga dianjurkan kepada keluarganya nabi baik yang sudah meninggal atau keturunan beliau yang masih hidup. Hal ini menunjukkan bahwa bacaan doa dan pahala bacaan shalawat bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal.

Syubhat Syariat

Namun ada saja sekelompok kecil umat Islam yang selalu RESE yang selalu mempersoalkan amalan-amalan umat Islam lainnya. Mereka selalu berdalih dengan argumen “Tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al-Qur-an dan As-Sunnah.” Benarkah asumsi mereka ini? Coba kita kaji satu persatu berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits,

  1. Dalil bolehnya beramal ibadah sunnah mutlaq dengan cara yang kita kreasikan sendiri; Baik sendirian atau berjamaah, duduk atau berdiri, dalam ruangan maupun di tengah lapangan. Tidak ada batasan untuk itu sebagaimana firman Allah,

دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا

“dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri.” (QS Yunus: 12)

  1. Dalil bolehnya beramal ibadah sunnah mutlaq kapanpun baik secara umum maupun kita khususkan; Baik pagi maupun malam, baik setiap saat maupun waktu-waktu tertentu yang kita inginkan. Tidak ada batasan untuk itu sebagaimana firman Allah,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. An-Nisa: 103)

  1. Dalil bolehnya beramal ibadah sunnah mutlaq bagaimanapun formatnya; Baik bershalawat menggunakan redaksi sendiri maupun menggunakan redaksi yang diajarkan nabi. Berikut dalil diperbolehkannya bershalawat menggunakan redaksi sendiri,

وَعَنِ أَبِنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: اِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَحْسِنُوْا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ فَاِنَّكُمْ لاَتَدْرُوْنَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ

“Abdullah bin Mas’ud berkata: “Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka buatlah redaksi shalawat yang bagus kepada beliau, siapa tahu barangkali shalawat kalian itu diberitahukan kepada beliau.” (HR. Ibnu Majah No. 906)

ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ

“Kemudian terserah ia memilih do’a yang ia sukai untuk berdo’a dengannya.” (HR. An Nasa’i No. 1298)

Dan tidak ada satupun dalil yang mengatakan bacalah solawat dengan kalimat dariku saja dan janganlah menggunakan shalawat karangan kamu sendiri. Atau seperti masalah perintah doa kepada umatnya apakah harus menggunakan redaksi ini itu atau dilarang menggunakan doa menggunakan kalimat ini atau itu.

Bilamana dalam syariat tidak ada perintah dan atau larangan yang jelas maka hal itu masuk wilayah mubah yang sangat diberikan keleluasaannya bagi umat Islam berkreasi dan berinovasi selama tidak menyangkut esensinya. Bila redaksi dan permohonan doa harus sesuai kalimat dari Al-Qur’an dan Hadits dan dianggap tidak sah berdoa kalau bukan dari kalimat Al-Qur’an dan hadits lalu bagaimana repotnya ketika kita berdoa tidak dianggap sah semisal “YA ALLAH AKU MEMOHON KEPADAMU AGAR ENGKAU SUDI MEMBERIKU RIZKI HP” padahal zaman nabi tidak ada HP.

Tidak ada larangan bagi kita mengkhususkan sebuah amalan ibadah, kalau adapun dari segolongan umat Islam ynag melarang-larang itu hanya menggunakan persepsinya sendiri dari dalil-dalil yang sifatnya umum dan bermakna tidak jelas. Sebagaimana hadits mutasyabihat yang sering digunakan mereka untuk membatas-batasi sesuatu yang tidak dibatasi oleh Allah,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. Nasa’i no. 1578)

Perhatikan dua hadits diatas secara seksama. Dua hadits tersebut maknanya sangat luas sekali, arti bid’ah itu sendiri tidak jelas dan tidak sepesifik terkait masalah apa? Apakah terkait masalah dunia atau agama, apakah masalah politik atau apakah masalah ibadah. Nabi secara tidak tegas memberikan batasan makna bid’ah walaupun golongan Islam radikal menta’wil (memaksa memaknai) kata “PERKARA” tersebut dengan makna “PERKARA AGAMA”. Ini menunjukkan bahwa makna perkara agama tersebut hasil dari pentakwilan atau penyeewengan makna.

Bila ada sebuah ayat atau hadits memiliki makna yang terlalu luas karena dalil tersebut sifatnya absurd/membingungkan, tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kadarnya, tidak jelas ukurannya, tidak jelas obyeknya, tidak spesifik maksudnya, dan sangat umum maknanya. Apakah yang dimaksud nabi itu urusan ibadah, politik, ekonomi, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Maka dalil-dalil tersebut tergolong dalil mutasyabihat yang dilarang keras oleh Allah untuk digunakan sebagai hukum karena akan menimbulkan fitnah dar kerusakan dalam agama. Bagi yang memaksakan dalil-dalil mutasyabihat untuk menghukumi sesuatu yang sifatnya khusus sangat bahaya sekali bila dipaksakan,

  1. Dalil bolehnya beramal ibadah sunnah mutlaq berapapun kadarnya; Baik dibaca sekali, dua kali, atau berkali-kali, dan atau bahkan tanpa batas karena perintah syari’ahnya bacalah sebanyak-banyaknya. Namun ada saja segelintir umat Islam yang selalu mempersulit urusan amal ibadah yang sifatnya sunnah mutlak, mereka mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh dengan menggunakan persepsi mereka sendiri atas dalil yang sifatnya sangat umum sekali maknanya, sebagaimana firman Allah yang tergolong ayat mutasyabihat,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” [An-Nisaa’: 171]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.

“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ahmad No. 215, Nasa’i No. 268, Ibnu Majah No. 3029)

Bila dalil yang sifatnya mutasyabihat (dalil yang tidak disebutkan kaifiyatnya, waktunya, tempatnya, ukurannya, dan kadarnya) diatas digunakan sebagai hujjah ini boleh dan itu tidak boleh maka akan menimbulkan fitnah, sedangkan ini sangat dilarang oleh Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. (QS.Ali Imran: 7)

Padahal jelas sekali ketika mereka membatasi tanpa dalil spesifik terhadap ibadah-ibadah mutlak yang Allah sendiri tidak membatasi maka mereka telah melakukan dusta atas nama agama, sedangkan kelancangan itu diancam laknat oleh Allah,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalahkesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

Ada saja sekelompok umat yang selalu mempersoalkan dan membatasi sebuah amalan ibadah sunnah mutlaq seperti bacaan shalawat maka itu sama sekali tidak berdasar, karena dalam surat Al-Ahzab sudah jelas perintahnya kita dianjurkan membaca shalawat sebanyak-banyaknya.

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)

Maksud sebanyak-banyaknya bukan berarti itu berlebih-lebihan dalam agama. Sebagaimana firman Allah,

Bila seseorang memperbanyak shalawat karena perintah ayat. Maka ketika sebagian umat islam melarang dan membatas-batasi tanpa dalil konkrit batasannya maka itupun juga tergolong berlebih lebihan. Intinya memerintahkan dan atau melarang tanpa dalil yang jelas itu termasuk kategori berlebih lebihan. Sedangkan yang dimaksud tidak berlebih-lebihan adalah bilamana kita mampu dan sempat maka sebaiknya kita sebanyak-banyaknya untuk melakukan ibadah dan mengisi setiap waktu kita dengan segala macam ibadah.

Berdzikir kepada Allah SWT harus dilakukan sebanyak-banyaknya. Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an surat Al Azhab ayat ke-41. “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” Allah Azza waJalla telah menyediakan untuk orang-orang beriman yang banyak berdzikir ini ampunan dan pahala yang besar (QS 33:35). Bukan itu saja, Allah Azza waJalla juga menjajikan keberuntungan atau kemenangan dalam medan perang bagi orang-orang beriman yang senantiasa berdzikir sebanyak-banyaknya (QS 8:45).

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Kami telah banyak mendapatkan pengajaran tentang syari’at Islam, maka ajarkanlah kepada kami satu pintu yang menghimpun seluruh kebaikan yang bisa kami jadikan pedoman.” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR Musnad Ahmad No. 17020). Di dalam riwayat lain bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hendaknya lidahmu basah Karena berdzikir kepada Allah.” (HR Sunan Tirmidzi No. 3297). Di dalam riwayat lain bahwa Nabi Muhammad SAW bersada, “Selama lidahmu terus bergerak dengan berdzikir kepada Allah Azza waJalla.” (HR Sunan Ibnu Majah No. 3783).

Anjuran manusia beribah sebanyak-banyaknyantanpa batasan karena manusia diciptakan memang untuk beribadah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Memang ada ibadah-ibadah yang sama sekali tidak boleh diotak atik; Tidak boleh dikhususkan dan dirubah tanpa dalil adalah bila ibadah tersebut tergolong ibadah pokok yang sudah ditentukan kaifiyatnya, waktunya, caranya, dan kadarnya. Namun untuk amal ibadah yang sifatnya sunnah mutlak maka kita boleh berkreasi dan berinovasi terkait waktu tempat, dan kaifiyatnya, selama tidak bertentangan dengan dalil yang spesifik dan mengandung kemaksiatan dan bergeser pada kesyirikan.

Semoga dengan artikel ini kita semakin semangat untuk meningkatkan amal ibadah kita untuk mengharap ridlo-Nya, amin.