Dari 73 Golongan Umat Islam Hanya Wahabi Penganut Faham Takfiri

Dalam Islam Hanya Dikenal Istilah KAFIR Bukan TAKFIR (Mengkafirkan). Apa bedanya kafir dengan takfir? Kafir sebuah istilah yang memang diperkenankan syariat untuk dipakai sebagai pembeda dari mereka yang telah nyata mengikrarkan diri tidak beriman/meyakini Allah sebagai tuhan. Sedangkan takfir adalah sebuah istilah yang tidak disyariatkan namun dipakai oleh sebagaian kaum muslimin untuk menjastifikasi pihak lain yang tidak sepaham dan tidak menerima pemahaman kelompoknya. Memang dalam Islam hanya ada perintah mentauhidkan Allah, namun bukan berarti ketika kita mentauhidkan diri atas Allah, lalu kita boleh mengkafir pihak lain secara serampangan. Apalagi umat Islam yang masih jelas-jelas bersyahadat…
 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.” (HR. Muslim No. 91)
Faham TAKFIRI lebih bahaya dimbanding faham komunis, syi’ah, atau bahkan kafir itu sendiri. Karena dalam faham TAKFIRI tidak ada toleransi. Tidak ada penghargaan atas perbedaan. Bila tidak ada penghargaan maka akan terjebak pada penghukuman, dan bila sudah menghukumi maka mereka akan beranggapan semua darah dari mereka yang bukan golongannya halal untuk dialirkan di atas bumi. Perhatikan saja fatwa-fatwa ulama Wahabi yang seenaknya mengkafirkan dan mewajibkan masuk neraka kepada orang tua Nabi. Mereka berakidah aneh karena beranggapan hanya Umat Islam saja yang masuk surga, lalu pertanyanannya para Nabi sebelum Muhammad apa juga Masuk neraka karena agamanya tidak Islam sedangkan mereka juga beriman kepada Allah.
Padahal faham sunni yang asli (bukan Wahabi) meyakini bahwa sebelum turunnya Islam manusia shaleh juga dapat masuk surga melalui cara iman seperti nabi-nabi sebelumnya. Sedangkan orang tua nabi bernama ABDULLAH itu yang jelas-jelas bermakna hamba Allah, namun oleh Wahabi dihukumi kafir dan masuk neraka. Inilah bahanyanya faham takfiri, jangankan kita sebagai umat Nabi di akhir zaman, sedangkan orang tua nabipun tidak selamat dari tuduhan kaum Wahabi Takfiri. Bahkan lebih bahaya lagi faham TAKFIR merupakan faham inkarussunnah, yang mengingkari ketetapan Allah dimana Dia sebagai Tuhan telah mentakdirkan manusia diciptakan memang BERBEDA dan harus saling menghargai. Faham takfir itu bukan hanya melawan manusia bahkan telah melawan Allah, Firman Allah,
 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS: Yunus: 99)
 
Padahal yang berhak memaksa hamba mendapat hidayah hanya Allah,

قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ

Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk ialah petunjuk (hanya milik) Allah (QS. Ali Imran)
(Dan Al-Qur’an surat Al Qashash/28 : 56)

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam ber-agama (Islam); (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
 
Kita diwajibkan menghargai perbedaan karena itu sudah ketetapan Allah,
 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْد اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (saling menghargai dan menghormati). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13)
 

حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

 
Rasullah saw. pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, kemudian beliau menjawab: al-Hanifiyyah al-Samhah (agama lurus yang penuh toleransi). (HR. Ahmad Nomor 2003. kitab min musnad bani hasyim bab bidayah sanad Abdullah ibn ‘Abbas)
 
Kita tidak perlu risau dengan kekafiran orang lain karena Allah sudah meminta pertanggungjawaban masing-masing kelak di akhiratnya, jangan mengkafirkan pihak lain karena kita sendiri belum tentu selamat dari kekafiran…

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-nahl: 125)
Inilah bahaya laten Wahabi karena menganut faham takfiri, namun kenapa banyak orang awam mudah terkecoh karena dalam faham Wahabi yang dijual amaliyah yang terkesan Islami berbaju dan bermodus tauhid namun terselip aqidah yang salah satunya adalah takfir…
Oleh al-faqier Ainur Rofiq Sayyid Ahmad
Indonesia, 5 Maret 2017
 
#bahayawahabibukansyariahnyatapiaqidahnya