Keutamaan Bulan Sya’ban

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Diantara dua belas bulan Hijriyah terdapat beberapa bulan yang dimuliakan. Begitu mulianya sampai-sampai Allah mengabadikan bulan tersebut dalam firman-Nya yang berbunyi,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At-Taubah[9]: 36)

Dari empat bulan tersebut salah satunya ialah bulan Sya’ban hal ini dijelaskan dalam hadits shahih yang berbunyi:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Zaman (masa) terus berjalan dari sejak awal penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan al-Muharam serta Rajab yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari No. 2958)

Di antara bulan yang diistemawakan oleh Allah adalah bulan Sya’ban. Sya’ban (شعبان), merupakan bulan ke delapan dalam kalender hijriyah. Nama Sya’ban berarti ‘pemisahan’[1], disebut demikian karena tradisi orang-orang Arab sebelum datangnya agama Islam berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air. Sebetulnya amalan bulan Sya’ban ini berasal dari kebiasaan dan tradisi orang Arab yang berpencar menjadi beberapa kelompok untuk mencari air atau melakukan peperangan dimana sebelumnya pada bula Rajab mereka membatasi diri untuk tidak beraktifitas lebih untuk memuliakan bulan Rajab atau mereka beranggapan bahwa bulan Rajab merupakan bula celaka sehingga mereka berpantangan untuk keluar rumah. Dari tradisi-tradisi baik dari orang Arab ini kemudian tetap dilestarikan oleh Nabi sebagai syariat agama sebagaimana tradisi orang Yahudi dan Arab Jahiliyah berpuasa bulan Rajab juga dilanjutkan oleh Nabi untuk diamalkan oleh umat Islam.

Dalam bulan Sya’ban ini juga dikenal sebuah istilah Nisfu Sya’ban, yakni sebuah peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan (Sya’ban) dari kalender Islam. Hari ini juga dikenal sebagai Laylatul Bara’ah atau Laylatun Nisfe min Sha’ban di dunia Arab, istilah ini dimaksudkan sebagai menjadi “malam pengampunan dosa”, “malam berdoa” dan “malam pembebasan”, dan seringkali diperingati dengan berjaga sepanjang malam untuk beribadah. Di beberapa daerah, malam ini juga merupakan malam ketika nenek moyang yang telah wafat diperingati dengan banyak berziarah ke makam leluhurnya dan bersedah untuk mereka.[2]

Beberapa Keutamaan Bulan Sya’ban

  1. Bulan dimana nabi sangat menyukai untuk melakukan puasa selain puasa di bulan Ramadhan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ سَمِعَ عَائِشَةَ تَقُولُ كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“dari [Abdullah bin Abu Qais], ia mendengar [Aisyah] berkata; bulan yang paling Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sukai untuk berpuasa adalah Bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan. (HR. Abu Daud Nomor 2076)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَفْرُوضَةِ صَلَاةٌ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَقُلْ قُتَيْبَةُ شَهْرٌ قَالَ رَمَضَانُ

“dari [Abu Hurairah], ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam puasa yang paling baik setelah Bulan Ramadhan adalah bulan Allah Al Muharram, dan sesungguhnya shalat terbaik setelah shalat wajib adalah shalat pada malam hari. Qutaibah tidak mengatakan; bulan. Ia mengatakan; Ramadhan. (HR. Abu Daud Nomor 2074)

  1. Bulan dimana Allah akan banyak mengampuni orang-orang yang menjauhi keburukan dan memperbanyak amal shalih seperti berpuasa, shalat, dzikir, dan sedekah.

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). (HR. Ibnu Majah Nomor 1380)

  1. Puasa Sya’ban sebagai peringatan atas catatan amal manusia yang sedang ditampakkan oleh Allah

قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad Nomor 20758)

Cara Mengistimewakan Bulan Sya’ban

  1. Nabi Muhammad mengistimewakan bulan Sya’ban dengan memperbanyak melakukan puasa sunnah,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“dari [Abu Salamah] ia berkata, saya pernah bertanya kepada [Aisyah] radliallahu ‘anha tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia pun berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berpuasa hingga kami mengira bahwa beliau akan puasa seterusnya. Dan beliau sering berbuka (tidak puasa) sehingga kami mengira beliau akan berbuka (tidak puasa) terus-menerus. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa terus sebulan penuh kecuali Ramadlan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak dariada puasanya di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban hingga sisa harinya tinggal sedikit.” (HR. Muslim Nomor 1957)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

“dari [Aisyah] Ummul Mukminin, bahwa ia berkata; “Sudah biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa beberapa hari, hingga kami mengira bahwa beliau akan berpuasa terus. Namun beliau juga biasa berbuka (tidak puasa) beberapa hari hingga kami mengira bahwa beliau akan tidak puasa terus. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasanya sebulan penuh, kecuali Ramadlan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak daripada puasanya ketika bulan Sya’ban.” (HR. Muslim Nomor 1956)

Di Antara Keistimewaan Bulan Sya’ban Adalah Nisfu Sya’ban

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (HR. Ibnu Majah Nomor 1379)

Hadits ini menunjukkan anjuran kepada setiap umat Islam agar semakin meningkatkan amalan ibadahnya saat Nisyfu Sya’ban yaitu pertengahan malam bulan Sya’ban dengan berbagai macam amalan ibadah, seperti semakin memperbanyak shalat sunnah mutlaq, memperbanyak dzikir, berpuasa di siang harinya, dan memperbanyak sedekah, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Hal ini semakin diperkuat dengan sabda Nabi SAW dalam hadits berikut,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. “ (HR. Ibnu Majah Nomor 1378)

Syubhat Syariat

Walaupun sangat dianjurkan memperbanyak puasa bulan Sya’ban namun kita juga dianjurkan untuk tidak menyerupakan bulan Sya’ban dengan bulan Ramadan. Maksudnya bila berpuasa di bulan Ramadhan harus penuh, maka janganlah kita berpuasa penuh pada bulan Sya’ban.

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya”. (HR. Bukhari Nomor 1781)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَقِيَ نِصْفٌ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ عَلَى هَذَا اللَّفْظِ وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ مُفْطِرًا فَإِذَا بَقِيَ مِنْ شَعْبَانَ شَيْءٌ أَخَذَ فِي الصَّوْمِ لِحَالِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُشْبِهُ قَوْلَهُمْ حَيْثُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَدَّمُوا شَهْرَ رَمَضَانَ بِصِيَامٍ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ صَوْمًا كَانَ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ وَقَدْ دَلَّ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّمَا الْكَرَاهِيَةُ عَلَى مَنْ يَتَعَمَّدُ الصِّيَامَ لِحَالِ رَمَضَانَ

dari [Abu Hurairah] dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” Abu ‘Isa berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits diatas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya’ban baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan.” Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan. (HR. Tirmidzi Nomor 669)

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  1. Bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban merupakan bulan pengampunan, dimana bulan yang sangat tepat untuk memperbanyak dzikir istighfar, menambah pahala dengan lebih memperbanyak amalan-amalan shalih seperti shalat sunnah mutlaq, sedekah, dzikir, berdoa, berpuasa, dan bersedekah, serta berziarah. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain atau untuk orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal. Intinya semua amalan baik boleh lebih ditingkatkan untuk dilakukan pada bulan Sya’ban.
  2. Mayoritas ulama membolehkan memperbanyak amal di malam Nishfu Sya’ban dengan berbagai kaifiyat maupun berbagai jumlah bilangan, mereka menegaskan bahwa boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendirian di malam ini. Karena tidak ada dalil satupun yang melarang umat Islam melakukan amalan sunnah khusus di malam Nishfu Sya’ban, bahkan banyak terdapat dalil yang menganjurkan untuk meningkatkan amal ibadah dan amal shalih di bulan-bulan Muharram termasuk di bulan Sya’ban. Sehingga, setiap umat Islam dibolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apapun bentuk ibadahnya dan

“HARAM HUKUMNYA MEMBATAS-BATASI SEBUAH AMALAN YANG MENGGUNAKAN DASAR DALIL UMUM DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TANPA MENGGUNAKAN DALIL KHUSUS YANG JUGA DARI AL-QUR’AN DAN HADITS”

  1. Pada prinsipnya setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal ibadah sunnah menggunakan dasar keumuman dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits,

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah. (QS. An-Nisa’: 173)

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ‌ۙ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ۬ 

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, [bahwa] untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ma’idah: 9)

Selama tidak ada larangan khusus maka kita sangat dilarang mempersoalkan dikarenakan itu bentuk kebohongan dan kelancangan terhadap kewenangan Allah, Allah SWT berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalahkesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

Dan bila mereka mempersoalkan amalan-amalan sunnah mutlaq seperti memperbanyak shalat malam pada nisfu sya’ban, berziarah ke makam, memperbanyak sedekah, dan lain sebagainya tanpa bisa menunjukkan satupun hadits yang melarangny, maka mereka telah melakukan KIDZBAH (berdusta atas nama agama), sedangkan perbuatan KIDZBAH lebih besar dosanya dibandingkan BID’AH, laknat Allah SWT,


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Syakban

[2] Jamal J. Elias, Islam: Religions of the world, Psychology Press, 1999, ISBN 978-0-415-21165-9… Laylat al-bara’a … fortune for the coming year is popularly believed to be registered in Heaven … prayer vigils and by feasting and illumination … oblations are made in the name of deceased ancestors …