Kemuliaan Seorang Ibu

Kedudukan seorang ibu sangat mulia dan terhormat dalam Islam. Hampir setiap anak pernah merasakan keistimewaan seorang ibu. Banyak hal yang menyebabkan seorang ibu mulia dan istimewa dibanding sosok lainnya. Dia adalah sosok yang tangguh, selain berperan sebagai sosok ibu, dalam situasi tertentu dia terkadang juga mampu menjadi sosok ayah. Dia mengandung selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan, menyusui, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu, begitu nampak Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kemuliaan seorang ibu dalam banyak sabdanya. Di antaranya,

Tiga derajad di atas ayah

Sangat tinggi derajat yang dimiliki seorang ibu, sampai-sampai Nabi memberi ukuran ketinggian derajatnya tiga level di atas seorang Ayah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (Hadits Bukhari Nomor 5514 dan Hadits Muslim Nomor 4621)

Yang mengalami proses persalinan hanya ibu

Kemuliaan ibu sebab terdapatnya rahim dalam perutnya. Hanya seorang ibu yang dapat merasakan sakitnya prosesi persalinan. Sebuah proses yang tidak ada satupun kata-kata yang dapat mewakili rasa sakitnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berifrman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Surat Al-Ahqaf Ayat 15)

Pengasuh yang tangguh

Seorang ibu mampu sekaligus mengemban aman sebagai seorang ayah. Namun belum tentu seorang ayah mampu sekaligus mengemban aman sebagai seorang. Itulah salah satu kemuliaan seorang ibu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Surat Luqman Ayat 14)

Surga berada di bawah telapak kakinya

Siapa yang tidak menginginkan surga? Ternyata salah satu surga Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di bawah telapak kaki ibu. Begitulah kemuliaan seorang ibu di mana derajatnya melebihi surga Allah. Maksudnya adalah salah satu kunci yang bisa membuka pintu surga adalah dengan berbakti kepada ibu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“bahwa Jahimah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; wahai Rasulullah, saya ingin berperang dan datang untuk minta petunjukmu, beliau bertanya: “Apakah engkau masih memiliki ibu?” ia menjawab; ya, beliau bersabda: “Jagalah ia, karena surga itu dibawah kakinya.” (Hadits Nasai Nomor 3053)

Lebih dilarang durhaka pada ibu

Bukan berarti ketika melebihkan bakti kepada ibu lantas membenarkan seorang anak durhaka kepada ayah. Anjuran untuk melebihkan untuk tidak durhaka kepada seorang ibu semata-mata kedudukan seorang ibu yang lebih mulia dibanding dengan makhluq lainnya di hadapan seorang anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesunhgguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup dan serta membenci kalian dari qiila wa qaola (memberitakan setiaapa yang didengar), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta”. (Hadits Bukhari Nomor 2231)

Ibu media taqarrub kepada Allah

Salah satu tujuan beramal dan beribadah adalah untuk mendekatkan diri pada Allah. Dari sekian cara yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala salah satunya adalah berbakti dan memuliakan ibu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih).

Pendidik terbaik

Kebutuhan seorang manusia bukan hanya hidup, namun menjadi manusia yang beradab merupakan kebutuhan setiap manusia. Menjadi manusia yang beradab tentunya membutuhkan pendidikan yang baik. Dan sebaik-baik seorang pendidik adalah seorang ibu, sebab dalam proses pendidikannya tesimpan rasa kasih sayang yang melebihi kasih sayang orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (Surat Maryam Ayat 32)

Doa seeorang ibu lebih diijabah

Hati-hati untuk melukai perasaan seorang ibu. Banyak yang hidup mulia sebab keridhan dan keikhlasan doa seorang ibu. Dan sebaliknya banyak yang hidupnya terhina sebab laknat seorang ibu yang kecewa. Jangan mudah membuat hati ibu kecewa agar kita terhindar dari laknatnya, dan agar terkabulnya doa ibu senantiasa mengiringi langkah hidup kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ فَقَالَ عُمَرُ هَلْ هَاهُنَا أَحَدٌ مِنْ الْقَرَنِيِّينَ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ إِنَّ رَجُلًا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ لَا يَدَعُ بِالْيَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللَّهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ الدِّينَارِ أَوْ الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

“bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada [Umar bin Khaththab], dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata; “Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran. Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo’a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.” (Hadits Muslim Nomor 4612)

Laknat seorang ibu

Laknat seorang ibu sangat berbahaya, sebab laknat seorang ibu yang sedang sakit hati kepada anaknya mudah didengarkan oleh Allah. Maka hendaklah menghndari untuk melukai perasaan seorang ibu agar kita terhindar dari laknatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ قَالَ حُمَيْدٌ فَوَصَفَ لَنَا أَبُو رَافِعٍ صِفَةَ أَبِي هُرَيْرَةَ لِصِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّهُ حِينَ دَعَتْهُ كَيْفَ جَعَلَتْ كَفَّهَا فَوْقَ حَاجِبِهَا ثُمَّ رَفَعَتْ رَأْسَهَا إِلَيْهِ تَدْعُوهُ فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ قَالَ وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ قَالَ وَكَانَ رَاعِي ضَأْنٍ يَأْوِي إِلَى دَيْرِهِ قَالَ فَخَرَجَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْقَرْيَةِ فَوَقَعَ عَلَيْهَا الرَّاعِي فَحَمَلَتْ فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقِيلَ لَهَا مَا هَذَا قَالَتْ مِنْ صَاحِبِ هَذَا الدَّيْرِ قَالَ فَجَاءُوا بِفُؤُوسِهِمْ وَمَسَاحِيهِمْ فَنَادَوْهُ فَصَادَفُوهُ يُصَلِّي فَلَمْ يُكَلِّمْهُمْ قَالَ فَأَخَذُوا يَهْدِمُونَ دَيْرَهُ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ نَزَلَ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا لَهُ سَلْ هَذِهِ قَالَ فَتَبَسَّمَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَ الصَّبِيِّ فَقَالَ مَنْ أَبُوكَ قَالَ أَبِي رَاعِي الضَّأْنِ فَلَمَّا سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْهُ قَالُوا نَبْنِي مَا هَدَمْنَا مِنْ دَيْرِكَ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ قَالَ لَا وَلَكِنْ أَعِيدُوهُ تُرَابًا كَمَا كَانَ ثُمَّ عَلَاهُ

“Suatu ketika Juraij beribadah di tempat ibadahnya.” Lalu ibunya datang -Hamid berkata; Abu Rafi menggambarkan sifat Abu Hurairah ketika mencontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ibunya memanggil Juraij seraya meletakkan tangannya pada bulu matanya lalu mengangkat kepalanya memanggil Juraij; ‘Wahai Juraij, saya ibumu jawablah!”Ternyata ibunya mendapati Juraij sedang shalat. Juraij pun berkata; ‘Ya Allah, ibuku atau shalatku yang harus aku penuhi? ‘ maka Juraij memilih untuk meneruskan shalatnya. Kemudian ibunya kembali mendatanginya (di tempat shalat), dan masih mendapati Juraij sedang shalat, ia berkata; ‘Wahai Juraij, aku ini ibumu, jawablah.’ Juraij berkata dalam hatinya; ‘Ya Allah, ibuku atau shalatku, ‘ maka ia tetap memilih shalatnya. Lalu ibunya mendatanginya dan mendapatinya sedang shalat, ia berkata; ‘Wahai Juraij, aku ini ibumu, jawablah aku, ‘ Juraij berkata dalam hatinya; ‘Ya Allah, ibuku atau shalatku, ‘ maka ia tetap memilih shalatnya. Dan akhirnya Ibunya berkata; ‘Ya Allah, Juraij ini adalah anakku, aku telah mengajaknya berbicara (memanggilnya) tetapi ia tidak menjawabku, Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia bertemu dengan seorang wanita pelacur.’ sekiranya ia berdoa supaya Juraij mendapatkan fitnah, maka Juraij pasti akan mendapatkan fitnah itu.” Abu Hurairah berkata; “Ada seorang penggembala kambing yang bernaung di rumah ibadahnya, ” Abu Hurairah berkata; “lalu wanita pelacur itu keluar dan berzina dengan penggembala kambing tersebut hingga melahirkan seorang bayi laki-laki, ” maka ditanyakan kepada wanita tersebut; ‘Bayi ini anak siapa? ‘ wanita pelacur itu menjawab; ‘Anak pemilik rumah ibadah.’ lalu orang-orang pun mendatangi rumah ibadah Juraij dengan membawa kapak dan sekop mereka, mereka memanggil Juraij namun ia ternyata sedang shalat dan enggan untuk menjawabnya. Akhirnya mereka menghancurkan rumah ibadahnya. Melihat hal itu, maka turunlah Juraij menemui mereka, mereka berkata; ‘Bertanyalah kepada wanita ini.'” Abu Hurairah berkata; “Juraij tersenyum, lalu mengusap kepala bayi itu seraya bertanya; ‘Siapa bapakmu? ‘ maka bayi itu menjawab; ‘Bapakku adalah penggembala kambing.’ Setelah mendengar hal itu dengan serta merta mereka berkata; ‘Wahai Juraij, kami akan membangun kembali rumah ibadahmu yang telah hancur dengan emas dan perak, ‘ tetapi Juraij menjawab; ‘Tidak, bangunlah dengan tanah kembali, ‘ lalu mereka pun melakukannya.” (Hadits Muslim Nomor 4625)

Selain yang telah disebut i atas, tentunya masih banyak lagi faktor-faktor yang menyebabkan seorang ibu lebih istimewa. Seorang ibu merupakan sosok wanita mulia yang di dalam ridhonya ada surga bagi anak anaknya. Doa seorang ibu sangat mustajabah. Kepengasuhan sangat lembut dan telaten.

Banyak manusia cemerlang hidupnya sebab didikan ari seorang ibu yangb shalihah. Dan juga banyak manusia hancur dan terhina hidupnya sebab laknat seorang ibu.

Kasih sayang seorang ibu biasanya melebihi orang lain, dia siap berkorban untuk kebahagiaan anaknya. Bukan sekedar korban materi dan tenaga, bahkan nyawanya sendiri siap ibu korbankan. Perbanyaklah kebaikan kepadanya. Berbaktilah pengabdian kepada seorang ibu, niscaya rahmat Allah akan mudah diperolah seorang anak.

Muliakan ibumu, hormati ibumu, dan jangan lukai hati seorang ibu sebab doanya dikabulkan dan laknatnya didengar oleh Allah. Ibu merupakan sosok yang layak untuk lebih dihormati. Begitu agung kemuliaan seorang ibu, sangat layak bagi kita untuk mencintai, menyayangi, dan menghormatinya. Semoga kita menjadi manusia yang mendapat rida Allah sebab keridhaan ibu kita. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 190
    Shares