Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Banyak muncul perdebatan dan perbedaan amaliah dan ibadah di kalangan kaum muslimin disebabkan satu prinsip hukum “Apakah orang mati masih bisa mendapatkan kiriman pahala dari amal perbuatan manusia yang masih hidup”. Terkait dengan pokok perkara ini telah berkembang luas perdebatan-perdebatan dan perbedaan-perbedaan amaliah umat Islam di mana tidak jarang akhirnya memicu permusuhan dan bahkan konflik. Walaupun perbedaan amaliah kaum muslim sulit dihindari, namun dari tulisan ini diharapkan memberi pemahaman bagi kaum muslimin, sehingga sedikit meredakan perdebatan yang kurang produktif. Berikut penjelasannya,

Pertama, Walau amal terputus sebab mati, namun pahala tetap mengalir

Walaupun terdapat banyak dalil yang menyebutkan kebenaran akan bisa dan bolehnya mengirimkan pahala dari amal shalih dan amal ibadah yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk mereka yang sudah meninggal. Namun tetap saja ada sebagian kaum muslimin yang menolak realitas syariat agama Islam ini. Di antara argumen yang mereka gunakan adalah apabila manusia telah mati maka amalnya terputus. Dalil yang dipergunakan mereka adalah sebuah riwayat hadits berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits Muslim Nomor 3084, Hadits Tirmidzi Nomor 1297, Hadits Abu Daud Nomor 2494, dan Hadits Nasai Nomor 3591)

Dalil yang juga digunakan untuk menolak kebolehan kirim dan sampainya pahala pada mayit adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (Surat An-Najm Ayat 39)

Sanggahan;

Pengertian Amal dan Pahala

Amal menurut pandangan agama Islam adalah perbuatan manusia yang masih hidup, di mana amal tersebut akan dibalas pahala bilamana shalihah (amal baik). Dan akan dibalas dosa bilamana sayyi’ah (buruk). Jadi amal (perbuatan) tersebuh hanya dapat dilakukan oleh manusia yang masih hidup. Sedangkan mereka yang sudah mati maka terhentilah (terputuslah) perbuatannya.

Pahala dalam agama Islam adalah penghargaan dari sebuah perbuatan baik (amal shalih dan ma’ruf) yang pernah diperbuat oleh manusia yang masih hidup. Namun pahalanya masih bisa diterima walaupun dia sudah meninggal selama manfaat dari amal shalih dan amal ma’rufnya masih dirasakan oleh mereka yang masih hidup. Dengan begitu pahala adalah buah yang dihasilkan dari amal (perbuatan).

Putus amal dengan putus pahala itu sangat jauh berbeda

Dalam memahami Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim Nomor 3084 tersebut, kaum Salafi mengalami kerancuan berfikir sehingga berdampak pada kebelinger (tesesat)nya penetapan hukum.

Dalam hadits tersebut hanya dikatakan bahwa bilamana seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya. Namun oleh golongan Salafi difahami sebagai teputusnya pahala. Bilamana makna terputus amalnya difahami sebagai terputus pahalanya, maka otomatis bertentangan dengan banyak dalil yang mana orang mati masih dapat menerima kiriman pahala dari amal yang dilakukan oleh orang yang masih hidup. Sebagaimana pahala amal sedekah, haji, umroh, puasa, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya sangat mustahil. Dengan demikian yang dimaksud dari hadits tersebut adalah putus amalnya namun tidak putus pahalanya.

Sebetulnya kedudukan dalil di atas sama sekali tidak salah, namun kesalahannya terletak pada pemahamannya karena mereka memahami sepotong dalil namun mengigkari dalil lainnya. Perlu difahami bahwa maksud yang dikehendaki hadits di atas adalah ketika seseorang telah meninggal dunia adalah terputus amalnya namun tidak terputus pahalanya.

Bila telah disepakati bahwa makna dari hadits di atas adalah hanya putus amalnya, maka konsekwensi pemahamannya adalah sesuai dengan definisi di atas bahwa amal adalah perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang masih hidup. Hal ini sangat masuk akal bahwa bagaimana mungkin manusia yang sudah meninggal masih bisa ber-amal (berbuat), yang jelas siapapun manusia bila sudah meninggal maka semua amal (perbuatan)nya sendiri pasti akan terputus (terhenti). Sebab pengertian amal adalah perbuatan dari seseorang yang masih hidup, jadi bila ada orang yang sudah mati perbuatan apapun darinya maka sudah tidak bisa lagi disebut amal.

Maksudnya adalah memang ketika seseorang sudah meninggal telah terputus amalnya karena dia sudah tidak bisa lagi menambah jumlah amal shalihnya, tidak lagi bisa meneruskan usahanya, dan sudah tidak lagi bisa menjalankan ibadahnya. Bagaimana dia akan bisa menambah amal manakala dia sendiri sudah mati. Namun yang perlu difahami adalah putusnya amal karena mati bukan berati pustunya pahala. Dengan begitu, amal usaha baiknya (amal shalih) yang pernah dilakukan semasa hidup selama masih tidak musnah kemanfaatannya dan dapat dirasakan oleh mereka yang masih hidup maka pahalanya tetap terkirim dan dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal.

Amal dan pahala itu harus dibedakan, ibarat pohon itu sebagai amalnya, sedangkan pahala itu merupakan buahnya, ini menunjukkan bahwa amal usaha seseorang itu berbeda dengan pahala dari hasil amal yang dilakukan seseorang. Amal adalah sebuah usaha kebaikan yang dilakukan seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain yang mana karena manfaat yang ditimbulkan tersebut kemudian Allah memberi imbalan pahala kepada pelakunya.

Jadi pengertian yang dikehendaki hadits di atas adalah ketika seseorang mati hanya amalnya saja yang terputus namun tidak dengan pahalanya. Dengan bahasa sederhananya adalah walaupun amalnya sudah putus namun tidak dengan pahalanya, karena setiap orang akan senantiasa mendapatkan pahala dari setiap apa yang pernah diusahakannya di masa hidupnya walaupun pelakunya sudah meninggal. Pengertian ini sangat sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana berikut,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang (walaupn sudah) mati dan Kami (tetap) menuliskan apa (pahala) yang telah mereka kerjakan (atau usakahan semasa hidupnya-red) dan bekas-bekas (amal usaha) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Ya Sin Ayat 12)

Dalam ayat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman (yang sudah meninggal), dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan (yang masih hidup), Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (melalui kiriman pahala kebaikan), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Tur Ayat 21)

Bila mereka menolak pemahaman ini (tidak dapat kirim pahala kepada orang mati) hanya berdasarkan pada satu dalil semisal hadits yang diriwayatkan Imam Muslim nomor 3084 saja dan pemahamannya tidak digabungkan dengan dalil lainya, maka mereka termasuk golongan yang sudah layak disebut “INKARRUSSUNNAH” karena mereka telah menolak dalil lain (semisal surat Yasin ayat 12) yang jelas-jelas menyatakan bahwa pahala orang mati akan tetap terus terkirim kepada seseorang walaupun sudah meninggal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa walaupun seseorang yang sudah mati amalnya terputus namun tidak akan berlaku terhadap terputusnya pahala dari amal yang pernah dikerjakan semasa hidupnya dan pahala dari amalan orang-orang lain yang masih hidup dengan niat mengirimkan (menghadiahkan) pahala untuk si mayit. Baik kiriman pahala dari anaknya sendiri yang mengerjakan, ataupun dari orang lain. Baik dikerjakan karena kerelaan dari pelakunya sendiri, atau karena jasanya disewa oleh orang lain.

Menggunakan jasa orang lain untuk melakukan amal yang pahalanya dikirim pada arwah mayit merupakan syariat agama yang juga ada tuntunannya. Seperti menyewa jasa orang lain untuk melakukan ibadah haji dari orang yang telah meninggal (badal haji). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلَيْهِ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحُجِّي عَنْهُ

“dari [Ibnu Abbas] dari [Al Fadll] bahwasanya; Seorang wanita dari Khats’am berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku adalah seorang yang sudah tua renta, ia masih memiliki kewajiban haji, sementara ia tidak mampu lagi menunggang di atas Untaranya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Kalau begitu, hajikanlah ia.” (Hadits Muslim Nomor 2376)

Bila dalam Hadits di atas beramal untuk orang yang masih hidup dibenarkan oleh Nabi. Sedangkan hadits di bawah beramal untuk mewakili mereka yang sudah meninggal juga diizini oleh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“bahwa ada seorang wanita dari suku Juhainah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya. Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar”. (Hadits Bukhari Nomor 1720)

Dua hadits di atas sekaligus sebagai sanggahan bahwa sebuah amal ataupun ibadah ternyata bisa diusahakan (diwakilkan) oleh orang lain.

Namun ada sebagian ulama mengecualikan dari hukum di atas, yakni tidak berlaku mewakilkan ibadah yang kaitannya dengan badaniyyah (walaupun sebetulnya haji, umrah, doa, dzikir, dan baca Al-Qur’an juga termasuh ibadah badaniyah -red) seperti shalat dan puasa (kecuali puasa dan shalat nadzar), maka hal itu tidak boleh diwakilkan kepada orang lain semasa hidupnya (Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (2/334). Pandangan ini didasarkan pada sebuah riwayat hadits berikut,

لاَ يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلاَ يُصَلِّ يأَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ

“Tidak boleh seseorang puasa untuk orang lain dan tidak boleh pula seseorang shalat untuk orang lain.” (HR. Abd Razzaq)

Namun pendapat tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh ulama lain. Bahwa hutang shalat atau puasa bisa dibayar dengan cara diwakilkan.

وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةٌ فَلا قَضَاءَ وَ لاَ فِدْيَةَ. وَ فِيْ قَوْلٍ كَجَمْعِ الْمُجْتَهِدِيْنَ أنَّهَا تَقْضَى عَنْهَا لِخَبَرِ البُخَارِي وَ غَيْرِهِ. وَ مِنْ ثَمَّ اخْتاَرَهُ جَمْعٌ مِنْ أئِمَّتِناَ وَ فَعَلَ بِهِ السُبْكِي عَنْ بَعْضِ أَقاَرِبِهِ

Artinya; Siapa meninggal dunia sedang ia punya hutang shalat, baginya tak perlu diqadha. Tetapi menurut sebagian besar ulama Mujtahidin: bagi keluarganya tetap terkena kewajiban membayar karena ada hadits riwayat Imam Bukhari, dll. Rupanya pendapat terakhir ini cenderung diikuti ulama-ulama, Syafi’iyah, antara lain Imam Subki dan sebagian sahabatnya. (Lihat Ahkamul Fuqoha, Juz II, hal 50)

الصَّحِيْحُ هَوَ الإفْتاَءُ الأوَّلُ بِإخْرَاجِ الْفِدْيَةِ أرْبَعِيْنَ مُدًّا لِتَرْكِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فِيْ خَمْسِ مَكْتُوْباَتٍ

Artinya; Yang benar adalah fatwa pertama yang mengatakan: harus mengeluarkan fidyah (denda) 40 mud (1 mud = 6 ons) bagi yang telah meninggalkan shalat selama 8 hari, yang seharusnya dia mengerjakan shalat 5 kali sehari. (Lihat dalam I’anatut Thalibin, Juz II, hal 229)

Di samping itu, penolakan hukum boleh menggantikan ibadah badaniyah seperti puasa bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya.” (Hadits Muslim Nomor 1935)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa (sebagai pengganti) untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2879)

Sudah sangat nahwa kematian seseorang hanya akan memutus (menghentikan) amala perbuatannya saja. Namun tidak akan menghentikan pahala atau dosa yang bersifat jariah (mengalir dikarenakan kebaikan atau keburukannya masih dirasakan oleh orang lain) dari amal perbuatan baik atau buruknya selama dia masih hidup.

Kedua: Seseorang tetap bisa mendapat pahala dari amal orang lain

Bila ada sekelompok umat Islam berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan pahala dari usaha kebaikan orang lain sedangkan seseorang tersebut tidak ikut mengerjaka kebaikan itu hanya menggunakan dasar satu dalil ini,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (sendiri),” (QS. An-Najm Ayat 39

Maka aqidah tersebut telah sesat karena sangat betentangan dengan dalil lain yakni sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim Nomor 4831)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya (walaupun yang menunjukkan tidak ikut melakukannya-red).” (HR. Muslim Nomor 3509)

Barangsiapa beranggapan orang lain berkeyakinan bahwa orang lain tidak bisa mendapat kiriman pahala dari amal baik orang lain sebagai imbal balik kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya berarti mereka telah layak disematkan sebagai golongan “INKARRUSSUNNAH” karena hanya menggunakan satu dalil dan menafikan dalil lainnya.

Ketiga: Seseorang tetap bisa mendapat dosa dari perbuatan orang lain

Bila ada pemahaman bahwa seseorang tidak dapat menanggung dosa orang lain sebagaimana tidak dapat menerima kiriman pahala dari orang lain, maka pemahaman ini juga keliru karena beberapa hujjah berikut,

Pertama, Bisa dipastikan semua dalil (asal jangan dipotong-potong dalilnya) yang menunjukkan tidak bisanya seseorang menanggung dosa orang lain adalah konteks dan berlakunya hanya di akhirat saat kiamat telah tiba, perhatikan sampel ayat-ayat berikut,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (PADA HARI KIAMAT). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Az-Zumar: 7)

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari (kiamat) di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. Al-Baqarah: 122-123)

Catatan: Hitob (objek) ayat ini saat hari kiamat tiba, bukan untuk manusia yang masih di dunia, karena ayat ini termasuk ayat-ayat kisah, yang mengisahkan tentang perbedaan kaum kafir dengan kaumnya nabi Musa yang beriman. Pada ayat ini menggambarkan tentang kondisi di hari perhitungan dimana amal dan syafaat sudah tertutup sehingga setiap manusia hanya akan mempertanggungjawabkan amal baik dan amal buruknya sendiri-sendiri. Indikasi bahwa yang dimaksud “hari” pada ayat tersebut adalah hari kiamat pada indikator yang ditunjukkan di dalam ayat itu sendiri dan juga ditunjukkan pada pada ayat-ayat lainnya seperti di bawah berikut,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. Ta Ha: 109)

Kedua, Dalil semisal Al-Qur’an Surat Az-Zumar: 7 tidak boleh berdiri sendiri karena akan bertentangan dengan banyak ayat yang mana seseorang dapat menanggung dosa orang lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-‘Ankabut Ayat 13)

Hal senada juga disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 25,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“(sikap mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl Ayat 25)

Ini bukti yang nyata bahwa seseorang dapat menanggung dosa orang lain, namun walaupun begitu tidak berlaku sembarangan karena harus memenuhi kriteria. Yakni seseorang dapat menanggung dosa orang lain ketika seseorang lalai terhadap apa-apa yang menjadi tanggungjawabnya.

Pemimpin lalai terhadap yang dipimpinnya, sebagaimana sabda nabi,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Nomor 4801)

Orang baik lalai menyampaikan kebenaran dengan berdakwah amar-ma’ruf nahi munkar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak (atau diam saja) niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa (karena mendapat limpahan dosa) dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Tirmidzi Nomor 2095)

Kesimpulan

Dengan begitu, kita tetap menghormati mereka yang menolak untuk berbuat baik pada orang mati yang telah berjasa kepada hidup kita dengan kirim pahala dari sebuah amal yang kita kerjakan. Namun terlalu banyak dalil yang tidak terbantahkan bahwa amalan dan ibadah maliyah dan badaniyah seperti dzikir, doa, haji, umrah, sedekah, dan bacaan Al-Qur’an sangat dianjurkan oleh Nabi yang sangat bermanfaat bagi mayit maupun bagi mereka yang melakukannya.

وَاللهَ أَعْمُ بِالصَّوَابِ

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyi Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 134
    Shares