Keistimewaan Bulan Ramadhan

Alasan kenapa Allah Taala mengistimewakan bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan lainnya, sebab Ramadhan memiliki banyak keistimewaan. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Dalam ayat tersebut Allah taala menuturkan dua keutamaan buraN Ramadhan, yaitu;

Pertama, Ramadhan bulan disyariatkan puasa

Pada bulan ini Allah taala menetapkan sebuah syariat kepada umat Islam, yakni berpuasa. Di mana ibadah puasa ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Sebagaimana firman Allah,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam, sebab ia bagian dari salah satu rukun Islam berdasarkan sabda riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan”. (Hadits Bukhari Nomor 7)

Kewajiban berpuasa Ramadhan bagi umat Islam berdasarkan ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Telah menjadi ijma kaum muslimin bahwa puasa Ramadhan adalah bagian dari syariat Islam. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadan, niscaya ia telah dianggap kafir. Sehingga kesepakatan ini berkonsekwensi terhadap kewajiban bagi setiap kaum muslimin yang telah memenuhi syarat untuk melaksanakan ibadah puasa pada waktu yang telah ditetapkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Namun manakala sedang berhalangan seperti sakit atau sedang dalam perjalanan boleh untuk tidak berpuasa. Sebagaimana firman Allah,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Walaupun dua kondisi tersebut membenarkan seseorang tidak berpuasa, namun bukan berarti seseorang tersebut kehilangan kewajiban untuk tidak berpuasa. Karena dia tetap diwajibkan mengganti puasanya di waktu lain.

Begitu juga dengan mereka yang mengalami halangan (udzur) syar’i secara permanen, seperti orang jompo, atau sakit yang sudah tidak lagi dapat diharapkan kesembuhannya. Maka mereka tetap dikenakan kewajiban berpuasa, namun dengan diganti membayar kaffarat (denda), yakni membayar fidyah dengan cara memberi makan orang miskin.

Menurut Muhammad Hasan Hitou dalam kitab Fiqhu Shiyam mengatakan bahwa sejarah diwajibkannya puasa adalah pada tahun kedua hijriah, tepatnya di bulan Sya’ban.

Jika memang kewajiban puasa bulan Ramadhan baru dibebankan pada tahun kedua hijriah, maka dapat ditarik pengertian bahwa selama 15 tahun kenabian, belum ada perintah puasa Ramadhan. Ya, karena Nabi hijrah pada tahun ke-13 kenabian, sedang wahyu puasa Ramadhan baru turun pada tahun kedua hijriah.

Lebih lanjut menurut Muhammad Hasan Hitou pensyariatan puasa pada masa awal Islam dimulai dengan puasa tiga hari di setiap bulannya, yang kemudian kita kenal sebagai ayyamul bidh. Ya, yaitu puasa selama tiga hari pada pertengahan bulan. Dimulai pada tanggal 13 dan kemudian berakhir di tanggal 15 di setiap bulannya.

Kedua, Ramadhan merupakan bulan di dalamnya diturunkan Al-Qur’an

Salah satu keutamaan yang terkandung dalam bulan Ramadhan adalah pada bulan ini diturunkannya Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan firman Allah,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Al-Qur’anul Karim merupakan kitab suci umat Islam, ia merupaka panduan bagi semua kehidupan umat Islam agar selamat kelak di akhiratnya. Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, dengannya manusia dapat membedakan mana perkara yang haq dan mana perkara yang batil. Kitab ini sebagai petunjuk bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” (QS. Al Baqarah: 185).

Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al-Qur’an itu sekali sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar. Perkataan Ibnu ‘Abbas didukung oleh firman Allah Ta’ala di ayat lainnya

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar: 1).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad Dukhon: 3).

Begitulah keistimewaan bulan Ramadhan sebab menjadi bulan yang dipilih oleh Allah untuk menurunkan Al-Qur’an yang agung.

Ketiga, Ramadhan merupakan bulan tadarus dan tadabbur Al-Qur’an

Hal yang membuat Ramadhan menjadi bulan yang begitu istimewa adalah bulan Ramadhan merupakan musim tadarus dan menghatamkan Al-Qur’an, serta tadabbur Al-Qur’an. Hal ini seringkali dilakukan oleh Nabi bersama-sama malaikat Jibril. Dalam sebuah hadits disebutkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus”. (Hadits Bukhari Nomor 1769)

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas tersebut, terdapat pelajaran bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perhatian penuh pada Al-Qur’an. Sehingga sebagian besar waktu sebaiknya dicurahkan pada perenungan Al-Qur’an.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al-Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 302).

Juga disebutkan dalam hadits bahwa”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyetorkan Al-Qur’an pada Jibril di setiap tahunnya sekali dan di tahun diwafatkan, beliau menyetorkannya sebanyak dua kali. Dan yang paling bagus Al-Qur’an disetorkan di malam hari karena ketika itu telah lepas dari kesibukan. Begitu pula hati dan lisan semangat untuk merenungkannya.”

Kebiasaan kaum muslimin saat Ramadhan lebih banyak tadarus di malam hari dibanding dengan siang hari bukanlah tanpa alasan dan tanpa dasar. Di samping malam hari waktu rehat dari aktifitas bekerja di siang hari, juga malam hari merupakan waktu yang tepat untuk lebih memahami isi kandungan Al-Qur’an. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzammil: 6).

Salah satu bukti bahwa bulan Ramadhan dikenal dengan bulannya Al-Qur’an adalah ayat-ayat Al-Qur’an banyak dibaca pada shalat malam pada bulan ini dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya.

Begitu juga menghatamkan Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan selalu diamalkan langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa salam. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata,

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِي الْعَام الَّذِي قُبِضَ فِيهِ

“Biasa Jibril mengecek bacaan Al Qur`an Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekali pada setiap tahunnya (pada bulan Ramadhan). Namun pada tahun wafat nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Jibril melakukannya dua kali. Dan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf sepuluh hari pada setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (Hadits Bukhari Nomor 4614)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka.

Begitu pula ‘Umar bin Khottob pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303.

Dan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa salam juga sudah banyak menjelaskan keutamaan tentang orang-orang yang gemar membaca Al-Qur’an, seperti salah satu sabda Rasulullah berikut ini,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ وَيُرْوَى

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2835)

Sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Salam yang lain, yaitu;

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang membaca seratus ayat pada malam hari, maka dicatat baginya ketaatan sepanjang malam.” (Hadits Darimi Nomor 3315)

Berikut hadits yang senada dengan hadits di atas,

مَنْ قَرَأَ فِي لَيْلَةٍ مِائَةَ آيَةٍ لَمْ يُحَاجَّهُ الْقُرْآنُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَمَنْ قَرَأَ فِي لَيْلَةٍ مِائَتَيْ آيَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ وَمَنْ قَرَأَ فِي لَيْلَةٍ خَمْسَ مِائَةِ آيَةٍ إِلَى الْأَلْفِ أَصْبَحَ وَلَهُ قِنْطَارٌ فِي الْآخِرَةِ قَالُوا وَمَا الْقِنْطَارُ قَالَ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا

“Barangsiapa yang membaca seratus ayat pada malam hari, maka Al Qur’an tidak mencelanya pada malam itu, dan barangsiapa yang membaca dua ratus ayat pada malam hari maka dicatat baginya ketaatan sepanjang malam, serta barangsiapa yang membaca lima ratus sampai seribu ayat pada malam hari maka pagi harinya ia akan mendapatkan satu qinthar di akhirat.” Mereka bertanya; Berapa satu qinthar itu? Beliau menjawab: “Dua belas ribu.” (Hadits Darimi Nomor 3324)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bulan Ramadhan merupakan bualan di mana Al-Qur’an menjadi primadona untuk selalu dibaca. Semoga kita diberi kesehatan dan hidayah dari Allah SWT. Supaya kita dapat merasakan dampak dari mulianya bulan Ramadhan. Amin.

Keempat, Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu

Salah satu keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda;

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”. (Hadits Bukhari Nomor 3035 dan Hadits Muslim Nomor 1793)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Pada malam pertama bulan Ramadlan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan”. (Hadits Tirmidzi Nomor 618 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1632)

Ramadhan merupakan bulan dibukanya pintu-pintu surga

Berdasarkan hadits di atas, di antara alasan kenapa Ramadhan menjadi bulan yang istimewa adalah dalam bulan ini pintu-pintu surga dibuka oleh Allah. Hadits terebut menunjukkan bahwa saat bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar. Penyebab dibukanya pintu-pintu surga karena dalam bulan ini banyak amal ibadah dan amal kebaikan yang disyariatkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (Surat An-Nahl Ayat 32)

Oleh karenanya terbukanya semua pintu surga merupakan bentuk rahmat Allah yang ingin memberikan kesempatan bagi hambanya yang hendak menghimpun bekal pahala sebanyak-banyaknya di bulan ini. Mungkin bagi seorang hamba selama aktifitas setahun belum sempat memperbanyak amalan ibadahnya, Ramadhanlah kesempatan terbaiknya. Sebab sekecil apapun suatu amalan pahalanya akan berlipat ganda. Itulah makna pintu-pintu surga dilipatgandakan.

Ramadhan merupakan bulan ditutupnya pintu-pintu neraka

Ramadhan menjadi istimewa disebabkan ditutupnya pintu-pintu neraka di bulan ini. Berkurangnya maksiat akibat meningkatnya ketakwaan kaum muslimin menjadi pendorong pitu-pitu neraka ditutup, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (QS. An-Nazi’at: 37-39).

Begitu juga dengan firman Allah berikut,

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (QS. Jin [72]: 23).

Lagi-lagi Allah memperluas rahmatnya dengan menjadikan Ramadhan sebagai sarana menebus dosa-dosa yang telah tercipta selama setahun dengan menutup pintu neraka selama bulan mulia ini. Lalu bagaimana bisa kita menyia-nyiakan kesempatan tertutupnya pintu-pintu neraka tersebut dengan tidak menggunakan Ramadhan sebagai sarana peningkatan amal kebaikan dan amal ibadah kita. Kesempatan rahmat ini selayaknya kita gunakan untuk menghapus segala dosa dengan taubat, penyesalan, istighfar dan memohon ampunan terhadap Allah.

Selama bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu

Berdasarkan hadits di atas tentunya akan memunculkan sebuah pertanyaan; “Jika syaitan dibelenggu selama Ramadhan, lalu kenapa masih terjadi kemaksiatan dan kemungkaran?”. Sebagai seorang yang beriman tetaplah harus meyakini apa yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam sabdanya tentu merupakan sebuah kebenaran. Namun, bila sebuah nash yang telah dinyatakan sahih ternyata tidak sesuai dengan realitas yang ada, maka para ulama berusaha memahami makna yang terkandung dalam hadits tersebut dengan berbagai pendekatan,salah satunya adalah menggunakan metode al jam’u wa at taufiq, yaitu mengaitkan dan mengkompromikan riwayat tersebut dengan hadits-hadits lainnya sehingga didapatkan pemahaman yang selaras dengan nalar realitas.

Terkait pembahasan ini menurut Nashirul Haq beberapa ulama telah memberikan penjelasan tentang makna hadits tersebut. Secara umum dapat disimpulkan sebagai-berikut;

Pertama, bahwa di bulan Ramadhan ini, kemaksiatan dan kemungkaran relatif berkurang sebab jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas melancarkan godaannya terhadap seorang hamba yang bertakwa dengan disibukkan dengan berbagai amal shalih dan amal ibadah seperti puasa, baca Al-Qur’an sedekah dan ibadah lainnya yang dapat mengendalikan nafsu syahwat.

Kedua, bahwa di bulan Ramadhan ini terjadi pengurangan kemaksiatan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain dikarenakan kesadaran sosial lebih meningkat dampak dari kesadaran spiritual umat Islam yang juga meningkat. Maksudnya perbuatan maksiat berkurang, sebab suasana peningkatan spiritual tersebut mempengaruhi antar umat Islam saling mengingatkan sehingga tempat-tempat maksiat akan lebih banyak tutup. Tentu saja hal ini dapat mengurangi terjadinya praktek maksiat pada bulan suci Ramadhan.

Ketiga, bahwa kemaksiatan itu hanyalah berkurang dari orang-orang yang berpuasa dengan benar, yaitu mereka yang menunaikan puasanya sesuai tuntunan agama, memenuhi syarat, rukun dan menjaga adab-adabnya. Sedangkan mereka yang tidak menjalankan ketaatan tentulah tetap mudah terjerumus godaan setan.

Keempat, kita memang harus meyakini kebenaran bahwa seleuruh setan dibelenggu saat bulan Ramadhan. Namun perlu diingat bahwa godaan maksiat bukan hanya berasal dari setan golongan iblis, melainkan juga ada jenis godaan maksiat berasal dari setan golongan manusia dengan jiwa-jiwa kotornya.

Kelima, perlu diingat bahwa kemaksiatan yang dilakukan setiap manusia tidak mesti karena berasal dari godaan setan. Bahwa setan bertugas menggoda manusia memang benar, namun kedudukan setan hanya sebagai pemicu godaan bukan sebagai penentu manusia tergoda. Namun kemaksiatan yang dilakukan seseorang juga dapat berasal dari jiwa-jiwa manusia yang gelap, kotor dan penuh syahwat. Itu artinya tanpa ada godaan dari setanpun kecenderungan manusia bermaksiat dapat terjadi karena Allah telah membekali manusia dengan unsur syahwat. Jadi bagi seorang hamba yang mukallaf bila melakukan dosa dalam bulan Ramadhan, kemaksiatan tersebut bukan karena godaan setan melainkan murni dari inisiatif nafsunya sendiri yang mana berarti dosanya akan lebih berlipat. Maka bila seseorang melakukan dosa dalam bulan Ramadhan itu sudah tidak bisa lagi menjadikan syaitan sebagai alasannya.

Dapat disimpulkan bahwa dalam bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu adalah setan diciptakan memang ditugaskan menggoda manusia. Dengan kehadiran Ramadhan setan tidak diberikan keleluasaan untuk menggoda manusia lagi, khususnya bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya.

Berkat rahmat Allah yang membelenggu setan akan lebih memudahkan manusia yang sedang menjalankan ibadah puasa untuk tidak berpaling dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Berkat rahmat Allah hamba yang ikhlas berpuasa memiliki kesempatan besar untuk mengerjakan berbagai amal kebaikan.

Kelima, Setiap amal dilipatgandakan pahalanya

Tergolog dalam perkara yang menyebabkan bulan Ramadhan menjadi istimewa adalah bulan ini merupakan bulan di mana setiap amal kebaikan dan amal ibadah akan dilipatgandakan nilai pahalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Allah tidak mengecualikan amalan apa yang akan dilipatgandakan pahalanya. Dengan begitu semua jenis amalan, baik amalan ibadah maupun amalan shalih (kebaikan), baik amalan wajib maupun amalan sunnah tentunya masuk kategori amalan yang akan dilipatgandakan pahalanya. Berdasarkan riwayat di atas, satu amalan yang dikerjakan di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali.

Semua keberkahan Ramadhan ini sebagai bentuk kemurahan dari Allah untuk semua kaum muslimin yang berbahagia menyambut kedatangannya Ramadhan dan ikhlas dalam menjalankan segala kebaikan di dalamnya.

Berlipatnya pahala amalan di bulan Ramadhan ini mutlak untuk amalan apa saja sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili dalam kitabnya Tajridul Ittiba hal. 117-118.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 271).

Intinya, di antara pahala suatu amalan bisa berlipat-lipat karena amalan tersebut dilaksanakan di waktu yang mulia yaitu seperti pada bulan Ramadhan. Begitu amalan bisa berlipat pahalanya jika dilaksanakan di tempat yang mulia (seperti di Makkah dan Madinah) atau bisa pula berlipat pahalanya karena dilihat dari keikhlasan dan ketakwaan orang yang mengamalkannya. (Lathoif Al Ma’arif, hal. 269-271)

Tanpa mengurangi keutamaan-keutamaan amalan lainnya, berikut beberapa amalan yang secara khusus biasanya dikerjakan secara lebih meningkat oleh kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Berikut beberapa amalan di bulan Ramadhan yang berpahala besar

1. Berpuasa

Mengerjakan puasa dibulan Ramadhan pahalanya akan dilipatgandakan dibandingkan dengan amalan lainnya, hal tersebut dikarenakan bulan Ramadhan ialah bulan yang mulia, Allah menjadikan puasa Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Hadits Bukhari Nomor 37)

2. Menghidupkan malam lailatul qadar

Bukan hanya puasa wajib Ramadhan yang seharusnya kita kerjakan, namun semua amalan sunnah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan juga akan dilipat gandakan pahalanya. Terutama saat menghidupkan malam lailatul qadar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat, dzikir, baca Al-Qur’an) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya,” (Hadits Bukhari Nomor 1768)

3. Shalat Tarawih dan Witir

Shalat tarawih dan witir sebetulnya masih tergolong shalat malam yang lebih dianjurkan dikerjakan pada bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut-nyebut bulan ramadlan, beliau bersabda: ” (Ramadlan) adalah bulan yang Allah mewajibkan kalian berpuasa, dan aku sunnahkan shalat di malam harinya. Barangsiapa berpuasa di siangnya dan bangun di malamnya karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya akan keluar seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1318)

4. Tadarus Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an ialah hal yang sangat dianjurkan pada dibulan suci Ramadhan. Sebab Allah akan memberikan pahala besar / berlipat ganda bagi orang yang bersedia membacanya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus”. (Hadits Bukhari Nomor 1769)

5.Belajar Ilmu Agama

Kegiatan menuntut ilmu atau belajar ilmu agama memang termasuk salah satu cara memuliakan dan menghormati bulan Ramadhan, selain memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an, Gunakan juga waktu luang anda untuk memperdalami ilmu-ilmu agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam besabda,

Dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan hadist bersumber dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anh, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Barangsiapa hadir di majelis ilmu pada bulan Ramadhan maka Allah menulis bagi orang tersebut tiap-tiap jangkahan kakinya sebagai ibadah satu tahun”.

6. Memperbanyak dzikir, doa, dan istigfar

Dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar kepada Allah ketika di bulan suci Ramadhan. Sebab orang yang rajin dzikir, doa, dan istighfar kepada Allah saat orang berpuasa amalannya tidak tertolak oleh Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sungguh orang yang berpuasa mempunyai do`a yang dikabulkan dan tidak akan ditolak tatkala berbuka puasa. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1743)

7. Umrah

Umrah di bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda, sehingga disetarakan dengan pahala ibadah haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam besabda,

فَلْتَعْتَمِرْ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ

“Hendaklah ia melakukan umrah pada bulan Ramadan, karena pahala umrah pada bulan Ramadan seperti pahalanya ibadah haji.” (Hadits Ahmad Nomor 17169)

8. Bersedekah

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mulia dan penuh keberkahan. Salah satu berkahnya adalah pahala dari sedekah dalam bulan ini akan dilipatkgandakan.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling demawan dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus”. (Hadits Bukhari Nomor 1769)

Didukung oleh hadits berikut,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ

“Barangsiapa bersedekah makan orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka ia memperoleh pahala orang yang berpuasa tersebut dengan tanpa mengurangi dari pahalanya sedikitpun.” (Hadits Darimi Nomor 1640)

9. I’tikaf

I’tikah di bulan suci Ramadhan mempunyai pahala yang akan dilipatgandakan terutama bagi umat muslim yang beri’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan yakni bulan Lailatul Qodar, yang dimana semua doa, ibadah dan lain sebagainya akan diridhai oleh Allah. Nabi bersabda,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (Hadits Bukhari Nomor 1884)

Dalam redaksi Imam Muslim disebutkan juga,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki sepuluh terakhir (Ramadlan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah).” (Hadits Muslim Nomor 2008)

10. Amalan sunnah lainnya

Walaupun beberapa amalan khusus pada bulan Ramadhan di atas akan dilipat gandakan pahalanya. Akan tetapi masih banyak amalan-amalan lainnya yang juga dapat kita lakukan, seperti shalat sunnah rowatib, meningkatkan jamaah shalat lima waktu, berzakat di dalam bulan Ramadhan, Menyegerakan berbuka puasa dan mengakhiri sahur,

Penutup

Sesungguhnya berpuasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri, tapi juga mengisi hari-hari dan malamnya dengan amal ibadah dan amal shalih. Ini sebagai bentuk pembenaran akan janji Allah adanya pahala yang berlipat, limpahan rahmat, dan kucuran ampunan. Sesungguhnya orang yang diharamkan kebaikan pada bulan Ramadhan, sungguh benar-benar diharamkan kebaikan darinya.

Keenam, Ramadhan adalah Bulan Penuh Ampunan

Salah satu penyebab Ramadhan menjadi bulan istimewa adalah karena Ramadhan menjadi bulan ampunan. Ramadhan disebut juga syahrul maghfirah atau bulan ampunan. Karena di bulan inilah Allah Ta’ala menjanjikan ampunan atas dosa dosa yang telah kita perbuat selama ini. Berpuasa dan amalan-amalan sunnah lainnya insyaAllah akan mendatagkan ampunan atas dosa-dosa kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

Bukan hanya puasa wajib Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa seseorang, semua amalan sunnah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan juga dapat menghapus dosa-dosa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat, dzikir, baca Al-Qur’an) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya,” (Hadits Bukhari Nomor 1768)

Hadits di atas juga diperkuat dengan hadits-hadits yang lain. Di mana amal-amal ibadah ternyata dapat menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ وَالنَّهْيُ

‘Yaitu fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya. Dan (dosa) fitnah itu akan terhapus oleh amalan shalat, puasa, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Hadits Bukhari Nomor 494)

Dengan begitu Allah taala telah menjanjikan pengampunan semua dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar bila Allah sendiri yang menghendaki. Namun khusus untuk dosa besar bila berharap diampuni Allah perlu persyaratan tambahan, yakni bertaubat secara nashuha, yaitu taubat yang sungguh-sungguh dan tulus. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah Ta’ala dalam surat At Tahriim [66] ayat 8 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha, niscaya Rabb kalian akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Dengan begitu di samping shalat wajib, shalat Jum’at, puasa Ramadhan, shalat tarawih, shalat witir, membaca Al-Qur’an, bersedah, dan amal-amal kebaikan lainnya yang dikerjakan dalam bulan Ramadhan, harus kita iringi dengan taubat yang sungguh-sungguh atas semua dosa yang telah kita lakukan di masa lalu.

Ketujuh, Bulan terjadinya malam Lailatul Qadar,

Salah satu sebab Ramadhan menjadi itimewa adalah karena di dalamnya terdapat satu malam yang mana nilainya setara dengan seribu bulan. Malam Lailatu Qadar adalah suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al-Qur’an. Malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qadr

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat Al-Qadr Ayat 1-5)

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (Hadits Bukhari Nomor 1768, dan Hadits Muslim Nomor 1268)

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang terdapat banyak sekali keutamaan-keutamaan di dalamnya, maka dari itu setiap muslim seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan berusaha untuk meraihnya.

Kapankah datangnya malam Lailatul Qadar? Kemungkinan malam Lailatul Qadar jatuh pada malam 10 akhir bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (Hadits Bukhari Nomor 1880)

Lebih tepatnya pada malam sepuluh akhir bulan Ramadhan, pada malam-malam ganjil. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya,

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ فَمَطَرَتْ السَّمَاءُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَلَى عَرِيشٍ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فَبَصُرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ مِنْ صُبْحِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ

“Siapa yang telah beri’tilkaf bersamaku maka hendaklah dia beri’tikaf pada sepuluh malam-malam akhir. Sungguh aku telah diperlihatkan tentang malam Lailatul Qadar ini namun kemudian aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada malam sepuluh akhir dan carilah pada malam yang ganjil”. Kemudian pada malam itu langit menurunkan hujan. Pada waktu itu atap masjid masih terbuat dari dedaunan hingga air hujan mengalir masuk kedalam masjid. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada dahi Beliau ada sisa air dan tanah di waktu pagi pada hari kedua puluh satu”. (Hadits Bukhari Nomor 1887)

Malam Lailatul Qadar bisa saja terjadi pada tanggal-tanggal berikut, di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29. Semua pernah terjadi, sebagaimana sebuah riwayat menyebutkan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malan tanggal 21 Ramadhan, Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata,

وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ فَمَطَرَتْ السَّمَاءُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَلَى عَرِيشٍ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فَبَصُرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ مِنْ صُبْحِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ

“Sungguh aku telah diperlihatkan tentang malam Lailatul Qadar ini namun kemudian aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada malam sepuluh akhir dan carilah pada malam yang ganjil”. Kemudian pada malam itu langit menurunkan hujan. Pada waktu itu atap masjid masih terbuat dari dedaunan hingga air hujan mengalir masuk kedalam masjid. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada dahi Beliau ada sisa air dan tanah di waktu pagi pada hari kedua puluh satu”. (Hadits Bukhari Nomor 1887)

Dalam riwayat lain juga menyebutkan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malan tanggal 27 Ramadhan, Ubai bin Ka’ab berkata,

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَإِنَّمَا شَكَّ شُعْبَةُ فِي هَذَا الْحَرْفِ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَدَّثَنِي بِهَا صَاحِبٌ لِي عَنْهُ و حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ إِنَّمَا شَكَّ شُعْبَةُ وَمَا بَعْدَهُ

“Demi Allah, saya benar-benar mengetahuinya. Sejauh ilmu yang saya ketahui, lailatul Qadar adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kami untuk menegakkan (shalat di dalamnya), tepatnya adalah malam ke dua puluh tujuh.” Syu’bah hanya ragu terkait dengan kalimat ini, “Ia adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kami.” Ia berkata, dan telah menceritakannya kepadaku darinya. Dan telah menceritakan kepadaku [Ubaidullah bin Mu’adz] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dengan isnad ini, hadits semisalnya. Namun ia tidak menyebutkan; “Syu’bah hanya ragu terkait.” dan selanjutnya. (Hadits Muslim Nomor 1273)

Dari beberapa hadits di atas, antara hadits satu dengan yang lainnya berbeda, ini menandakan bahwa kedatangan malam Lailatul Qadar setiap tahunnya selalu berpindah-pindah. Mengapa malam Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah? Karena ada hikmah di balik itu semua, antara lain;

Pertama, Supaya ibadah yang dilakukan menjadi lebih banyak. Karena dengan dirahasiakannya kedatangan malam Lailatul Qadar membuat setiap orang akan terus memperbanyak ibadahnya kepada Allah, untuk mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar.

Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya.

Kedua, Sebagai bentuk ujian dari Allah untuk mengetahui para hambanya yang besungguh-sungguh dalam mencari malam Lailatul Qadar dan siapa yang malas serta meremehkannya. Maka dari itu kita harus bersungguh-sungguh di dalam mencari malam Lailatul Qadar. Dengan selalu menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah dan memperbanyak amalan-amalan pada malam harinya, agar kita bisa mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar.

Mungkin ada sebagian orang yang hanya mencari malam Lailatul Qadar hanya pada satu malam saja dalam setiap bulan Ramadhan, dengan alasan bahwa jatuhnya malam Lailatul Qadar hanya pada tanggal itu saja. Kedatangan malam Lailatul Qadar hanya Allah yang tahu, dan tugas manusia adalah berusaha mendapatkannya, namun kalau kita hanya mencari pada malam satu malam saja apakah kita akan mendapatkannya, sedangkan Nabi sendiri mencari malam Lailatul Qadar memasuki sepuluh terkhir Ramadhan, sebagaimana yang di sabdakan beliau dalm sebuah hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (Hadits Bukhari Nomor 1884, dan Hadits Muslim Nomor 2008)

Itulah keistimewaan Ramadhan, di mana banyak pahala yang dapat kita kumpulkan dari berbagai macam amalan ibadah yang telah disediakan Allah bagi hambanya yang mau bersungguh-sungguh dan mau menjadikan Ramadhan sebagai bulan melatih diri untuk beramal saleh, yang akan terus dilakukan. Di bulan Ramadhan kita berusah mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah maupun wajib.

Kedelapan, Bulan dianjurkan meningkatkan dakwah

Momen terbaik dalam berdakwah ialah pada bulan Ramadhan, karena kebanyakan orang lebih senang melakukan amal salih dan mendengarkan dakwah di bulan Ramadhan ini. Banyak para da’i menggunakan kesempatan ini untuk menyampikan dakwahnya. Entah melalui televisi, radio, internet, ataupun secara langsung.

Para da’i ialah seorang yang menyeru kepada Allah SWT. Dan hal ini mereka mendapat pujian dari Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

Yang dimaksud dalam ayat ini kata Ibnu Katsir rahimahullah bukanlah orang yang hanya sekedar berdakwah atau mengajak orang lain untuk baik. Namun mereka yang mengajak juga termasuk orang yang mendapat petunjuk, lalu mengajak yang lain. Ia mengajak kepada kebaikan, namun ia pun mengamalkannya. Begitu pula ia melarang dari suatu kemungkaran, ia pun menjauhinya. (Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Umat terbaik ialah umat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

Berkata Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Dan orang yang mengikuti dakwahnya pun tidak berkurang pahalanya sedikitpun. sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674)

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan;

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (Hadits Bukhari Nomor 1884)

Dalam redaksi Imam Muslim disebutkan juga,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki sepuluh terakhir (Ramadlan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah).” (Hadits Muslim Nomor 2008)

Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).

Itulah di antara keistimewaan bulan Ramadhan, dimana dakwah akan lebih efektif sampai kepada ummat dikarenakan kesadaran sosial lebih meningkat dampak dari kesadaran spiritual individu umat Islam yang juga meningkat. Maksudnya perbuatan umat Islam cenderung akan lebih bagus dalam bulan ini, sebab suasana peningkatan spiritual tersebut mempengaruhi antar umat Islam saling mengingatkan dalam dakwah.

Kesembilan, Bulan banyak berkah

Kata berkah memiliki kata turunan, yakni berkat, barakah, al-barakat, al-barkah, al-mubârak dan tabâruk. Menurut Ibn Mandzur, al-Fayyumi dan al-Fairuz Zabadi, kata al-barakah berarti “berkembang, bertambah dan kebahagiaan”. Menurut Imam al-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Sedangkan dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa barakah adalah ziyadatul khair ‘ala al ghair (sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama).

Tian berkah menurut menurut istilah adalah kebaikan berlimpah yang diberikan Allah kepada hambanya, baik berupa materi maupun moril. Dalam bentuk materi, bisa berkah harta, jabatan, anak, isteri, sedangkan dalam bentuk moril bisa jasmani, umur, ilmu, kesehatan, ketenangan, dan lainnya.

Keutamaan yang utama Ramadhan adalah ia sebagai bulan penuh berkah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Ramadlan telah datang kepada kalian, -ia adalah- bulan berkah, Allah -Azza wa Jalla- telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Di bulan itu pintu langit dibuka, dan pintu neraka Jahim ditutup dan syetan pembangkang dibelenggu. Demi Allah di bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (Hadits Nasai Nomor 2079)

Ramadhan memiliki banyak keberkahan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Di antaranya,

Keberkahan pertama,

Puasa Ramadhan merupakan penyebab terampuninya dosa-dosa dan terhapusnya berbagai kesalahan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Hadits Bukhari Nomor 37 dan Hadits Muslim Nomor 1268)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” (Hadits Muslim Nomor 344)

Keberkahan kedua,

Dalam bulan ini terdapat satu malam yang nilainya setara dengan seribu bulan, yaitu malam lailatul Qadar. Allah taala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat Al-Qadr Ayat 1-5)

Keberkahan ketiga,

Bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”. (Hadits Bukhari Nomor 3035 dan Hadits Muslim Nomor 1793)

Keberkahan keempat,

Semua amal kebaikan nilai pahalanya dilipat gandakan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Keberkahan kelima,

Keberkahan bulan ini adalah bagi yang berpuasa bau mulutnya kelak di akhirat seharum minyak kasturi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151)

Keberkahan keenam,

Ramadhan adalah bulan kebahagiaan sebab kenikmatan saat berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.

“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” (HR. Muslim no. 1151)

Dan tentunya masih banyak lagi keberkahan yang dimiliki bulan Ramadhan. Itulah keistimewaan yang dimiliki bulan Ramadhan. Sekian banyak keberkahan yang terkandung di dalam bulan mulia ini, maka tidak ada alasan untuk kaum muslim untuk tidak berupaya meneguk berbagai keberkahan itu sebagai bentuk usaha meraih predikat takwa kepada Allah Ta’ala.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke