Ushul Fiqih Bagian 01; Kedudukan Ushul Fiqh Dalam Islam

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Pendahuluan[1]

Ijtihad oleh para pakar agama tidak dapat terelakkan ketika; Pertama, sumber hukum utama Al-Qur’an dan Hadits telah terputus semenjak Nabi wafat. Kedua, persolan agama semakin berkembang dan komplek seiring semakin jauhnya jarak waktu antara zaman Nabi dan para umatnya yang hidup di kemudian hari. Di samping itu semakin meluasnya pemeluk agama Islam dengan latar belakang ras, suku, budaya, dan wilayah tempat tinggalnya di seluruh belahan dunia.

Asal usul kata ushul fiqih

Ushul fiqih terdiri atas dua suku kata, kata ushul menurut bahasa bermakna fondasi sesuatu, seperti katah ushul yang tertera dalam firman Allah,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah mengumpamakan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: ‘akarnya’ kuat dan cabangnya menjulang tinggi ke langit.” (QS. Ibrahim 24).

Dan kata fiqih berarti pemahaman secara mendalam menggunakan daya kekuatan akal.

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskan kekakuan dari lisanku, agar mereka ‘memahami’ perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.” (HR. Ibnu Majah Nomor 216)

Pengertian ushul fiqih

Ushul fiqih (bahasa Arab: أصول الفقه) adalah ilmu hukum dalam Islam yang mempelajari kaidah-kaidah, teori-teori dan sumber-sumber secara terperinci dalam rangka menghasilkan hukum Islam yang diambil dari sumber-sumber tersebut. Dengan kata lain setiap prilaku umat Islam dianggap sah bila telah berdasarkan pada tuntunan agama dengan Al-Qur’an sebagai sumber hukum utamanya dan sunnah nabi sebagai penafsirnya.

Dasar hukum dan hukum menggunakan ilmu ushul fiqih

Sebagaimana yang disabdakan nabi bahwa tidak semua rincian hukum tertuang di dalam Al-Qur’an dan Sunnah disebabkan kondisi sosial yang terus mengalami perubahan dan perkembangan. Agar umat Islam tetap di bawah koridor panji-panji hukum Allah, maka orang-orang yang memiliki kemampuan dan pemahaman fikiran yang mendalam diperintahkan menggali hukum dari persoalan-persoalan yang sedang dihadapi umat menggunakan ijtihad ra’yinya atau penelitian fikirannya dengan tetap menggunakan dasar Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana sabda nabi,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapatku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi Nomor 1249)

Mencari hukum persoalan umat yang tidak tertuang secara rinci dalam Al-Qur’an dan Sunnah menggunakan kekuatan fikiran seorang Ahli Agama Islam hukumnya boleh atau bahkan wajib sebagai bentuk solusi persoalan yang sedang dihadapi umat. Hukum kebolehan tersebut dengan catatan tetap menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan utamanya, dan dengan catatan lagi tidak bertentangan dengan pokok-pokok dasar yang telah ditetapkan Allah dan Nabi dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Keijmalan Al-Qur’an menjadi sebab kenapa tetap membutuhkan metodologi (ushul fiqh) dalam menggali hukum darinya.

Setiap muslim wajib beramal dengan berpedoman pada firman Allah dalam Al-Qur’an, sunnah nabi dalam Hadits, dan fatwa ulama pakar dalam hasil ijtihadnya, sebagaimana firman Allah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُول

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan Uli al-Amri (ulama dalam hal agama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah). (Q S. Al-Nisa’: 59)

Namun sayangnya tidak semua firman Allah dapat difahami oleh orang awam, sebagaimana firman Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (tidak jelas). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat (tidak jelas) daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah….. (QS. Ali ‘Imran Ayat 7)

Dan tidak semua perbuatan umat Islam memiliki dasar dan penjelasan terinci di dalam Al-Qur’an disebabkan ilmu Allah terlalu luas bila harus dicantumkan semua di dalam Al-Qur’an yang terbatas hanya 30 juz, sebagaimana firman Allah,

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS. Al-Kahfi[18]: 109)

Bila seorang yang ditakdiran memiliki kemampuan dan keilmuan yang luas wajib menggali hukum-hukum agama menggunakan metodologi ilmu seperti ushul fiqh untuk memberikan solusi persoalan umat. Allah berfirman,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“….Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat (tidak jelas), semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal (berilmu). (QS. Ali ‘Imran Ayat 7)

Dan bagi orang awam (yang tidak ditakdirkan memiliki kemampuan) maka wajib mengikuti keputusan hasil dari ijithad ulama yang sudah disepakati kredibilitasnya, sebagaimana firman Allah SWT,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ruang Lingkup Dan Obyek Atau Pokok Pembahasan Kajian Ushul Fiqih

Meminjam analogi dari Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. dalam masalah ushul fiqh digambarkan sebagai sebuah pohon yang berbuah siap dipetik oleh pemiliknya. Dalam gambaran tersebut dapat dipilah menjadi empat pokok pembahasan;

  1. POHON diibaratkan sebagai SUMBER HUKUM:
  • Di dalam Islam sumber hukum terbagi dua; Pertama sumber hukum yang telah disepakati oleh jumhur ulama, yakni; Hukum Primer Al-Qur’an & Hadits, dan hukum sekunder Ijmak dan Qiyas. Maupun yang kedudukannya masih diperselisihkan, seperti istihsan dan maslahah al-mursalah.
  • Dalam masalah ini obyek kajiannya adalah menjelaskan macam-macam dalil dan permasalahannya. seperti dalil-dalil yang bersifat ijmali (global) sehingga berdampak pada kajian ijma’ dan qiyas.
  1. BUAH diibaratkan sebagai HUKUM:
  • Sedangkan hukum itu terbagi dua, kelompok dasar terdiri dari; wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram. Dan golongan pengembangan terdiri dari hasan, qabih, ’ada, qada, shahih, fasid, dan lain-lain.
  • Dalam masalah ini obyek kajiannya adalah menjelaskan macam-macam hukum dan jenis-jenisnya. Seperti dalil kulli ialah dalil umum yang dapat dimasukkan ke dalamnya beberapa kasus tertentu seperti amar, nahi, ‘am, mutlaq, ijma’, qiyas, wajib, haram, sah, batal/fasad, mani, azimah, dan rukhsah dan sebagainya. Wajib dinamakan hukum kulli karena ke dalamnya dapat dimasukkan berbagai perbuatan yang wajib, umpamanya, wajib memenuhi janji, wajib mengadakan saksi dalam perkawinan. Haram adalah hukum kulli yang masuk ke dalamnya beberapa macam perbuatan yang diharamkan, seperti haram berbuat zina, haram menuduh berbuat zina, haram mencuri, haram membunuh, dan sebagainya. Berbebeda denga ahli ushul adalah para fuqaha obyek pembahasannya adalah dalil dan hukum juz’i.
  1. PETANI diibaratkan sebagai MUJTAHID:
  • Seseorang yang memetik buah berupa hukum dari pohon yang merupakan sumber hukum itu adalah seorang mujtahid.
  • Dalam masalah ini obyek kajiannya adalah menjelaskan mustambith, yaitu mujthid dengan syarat-syaratnya. baik syarat-syarat umum, maupun syarat-syarat khusus keilmuan yang harus dimiliki mujtahid. Seperti seorang mujtahid harus menguasai tata bahasa Arab dengan seluk beluknya, Menguasai dan memahami Al-Qur’an seluruhnya, Menguasai Hadits baik dari segi riwayat maupun matan, mengetahui Ijma’ Para Sahabat, dan mengetahui dan memahami pokok-pokok adat kebiasaan manusia.

Di antara persyaratan menurut kalangan ulama Syafi’i adalah,

Pertama, menguasai bahasa Arab, tentu termasuk nahwu, sharaf dan balaghahnya karena Al-Qur’an dan Hadits berbahasa Arab. Tidak mungkin orang akan memahami Al-Qur’an dan Hadits tanpa menguasai bahasa Arab.

Kedua, Menguasai dan memahami (yakni pernah membaca, menghatamkan dan menghafalkan) Al-Qur’an seluruhnya, kalau tidak ia akan menarik suatu hukum dari satu ayat yang bertentangan dengan ayat lain.

Ketiga, Menguasai (yakni pernah membaca, menghatamkan dan menghafalkan sebagian besar) Hadits Rasulullah SAW baik dari segi riwayat hadits untuk dapat membedakan antara hadits yang shahih dan yang dlaif. Mengapa harus menguasai hadits? Karena yang berhak pertama kali untuk menjelaskan Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW, maka apabila tidak menguasai hadits, dikhawatirkan menarik kesimpulan suatu hukum bertentangan dengan hadits yang shahih tentu ijtihad tersebut tidak dapat dibenarkan artinya bathil.

وَأَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيِهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Kami turunkan kepada engkau peringatan (Al-Qur’an) supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka mudah-mudahan mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

وَمَاءَ اتَكُمُ الرَّسُوْلَ فَخُذُوْهُ وَمَانَهَكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْا وَاتَّقُوْااللهَ اِنَّ الله شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

“Dan apa yang Rasul berikan kepadamu hendaklah kamu ambil, dan apa yang Rasul larang kepadamu hendaklah kamu hentikan, dan takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksa-Nya.(Al-Hasyr: 7)

Keempat, mengetahui Ijma’ (kesepakatan hukum) Para Sahabat. Supaya kita dalam menentukan hukum tidak bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh sahabat, karena mereka yang lebih mengetahui tentang syareat Islam. Mereka hidup bersama Nabi dan mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan datangnya hadits.

Kelima, Mengetahui adat kebiasaan manusia. Adat kebiasaan bisa dijadikan hukum ( العادة محكمه) selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ijtihad pada zaman Nabi SAW tidak diperlukan, sebab apabila sahabat mempunyai persoalan langsung bertanya kepada Nabi dan Nabi langsung menjawab.

  1. CARA MEMETIK BUAH-ISTIDLAL/ISTINBAT:
  • Cara orang tersebut memetik buah adalah metode dalam mengeluarkan hukum suatu permasalahan dari sumber hukum itu sendiri.
  • Dalam masalah ini obyek kajiannya adalah menjelaskan cara mengeluarkan hukum (istinbat/istidlal) dari dalil-dalilnya atau menjelaskan ijtihad dan cara-caranya.[2] seperti kaidah mendahulukan hadits mutawatir dari hadits ahad dan mendahulukan nash dari zhahir. Juga seperti mencari jalan keluar dari dalil-dalil yang secara zahir dianggap bertentangan, baik melalui al-jam’u wa al-taufiq (pengompromian dalil), tarjih (penguatan salah satu dari dalil yang bertentangan), nash atau tasaqutal-dalilain (pengguguran kedua dalil yang bertentangan). Misalnya, pertentangan ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, atau pertentangan hadis dengan pendapat akal. Serta membahas tentang kaidah-kaidah yang digunakan dan cara menggunakannya dalam mengistinbatkan hukum dari dalil-dalil, baik melalui kaidah bahasa maupun melalui pemahaman terhadap tujuan yang akan dicapai oleh suatu nash (ayat atau hadits).

Nah, usul fikih adalah disiplin ilmu yang membahas itu semua: pohon, buah, orang yang memetik buah, serta cara orang tersebut memetik buah[3].

Tujuan dan Manfaat Ushul Fiqh

Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu ushul fiqh adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dalil syara’ yang terinci agar sampai kepada hukum-hukum syara’ yang bersifat ‘amali yang ditunjuk oleh dalil-dalil itu. Disamping itu ketika kita menguasai ilmu ushul fiqh kita dapat memahami proses yang dilakukan oleh imam mujtahid sehingga lahir sebuah hukum syar’i.

Perbedaan Fiqih dan Ushul Fiqih

Dari ta’rif fiqih dan ushul fiqih di atas maka dapat disimpulkan bahwa fiqh itu adalah mempelajari dan mengetahui hukum-hukum syari’at agama Islam, sedangkan ushul fiqih adalah kaidah-kaidah yang dibutuhkan untuk mengeluarkan hukum dan perbuatan-perbuatan manusia yang dikehendaki oleh fiqih.

Ushul fiqih merupakan timbangan atau ketentuan untuk istinbat hukum dan objeknya selalu dalil hukum, sementara objek fiqihnya selalu perbuatan mukallaf yang diberi status hukum. Walaupun ada titik kesamaan yaitu keduanya merujuk kepada dalil, namun konsentrasinya berbeda, yaitu ushul fiqih memandang dalil dari sisi cara penunjukan atas suatu ketentuan suatu hukum, sedangkan fiqih memandang dalil hanya sebagai rujukannya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalil pohon yang dapat melahirkan buah, sedangkan fiqih sebagai buah yang lahir dari pohon tersebut.

Ilmu fiqih adalah merupakan produk dari ushul fiqih. Ilmu fiqih berkembang karena berkembangnya ilmu ushul fiqih. Ilmu fiqih akan bertambah maju manakala ilmu ushul fiqih mengalami kemajuan, karena ilmu ushul fiqih adalah semacam ilmu alat yang menjelaskan metode dan sistem penentuan hukum berdasarkan dalil-dalil terperinci.

Ilmu ushul fiqih adalah ilmu alat-alat yang menyediakan bermacam-macam ketentuan dan kaidah, sehingga diperoleh ketetapan hukum syara’ yang harus diamalkan manusia. Untuk memudahkan pemahaman masalah ini, kami kemukakan seperti contoh tentang perintah mengerjakan sholat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

 “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat subuh, Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra: 78)

Sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.Bukhari no.6705, Ad-Darimi no.1225)

Dari firman Allah dan hadits Nabi di atas belum dapat diketahui, apakah hukumnya mengerjakan shalat itu, wajib, sunat, atau harus. Dalam masalah ini ushul fiqih memberikan dalil bahwa hukum perintah atau suruhan itu asalnya wajib, terkecuali adanya dalil lain yang memalingkannya dari hukumnya yang asli itu. Hal ini dapat dilihat dari kalimat perintah atau amar mengenai mengerjakan shalat bagi penganut agama Islam.

الأصل فى الأمر للوجوب

“Pokok dalam perintah (amar) menunjukkan (yaitu wajib perbuatan yang diperintahkan)

Berdasarkan kaidah Ushul Fiqih di atas jelaslah bahwa hokum shalat lima waktu adalah wajib.

Sejarah pertumbuhan dan Perkembangan Ushul Fiqh

Periode Nabi

Di zaman Rasulullah SAW., sumber hukum Islam hanya dua, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagai penafsirnya. Apabila ia muncul suatu kasus, Rasulullah SAW. menunggu turunnya wahyu yang menjelaskan hukum kasus tersebut. Apabila wahyu tidak turun, maka beliau menetapkan hukum kasus tersebut melalui ijtihad beliau, yang kemudian dikenal dengan hadits atau Sunnah. Para ulama ushul fiqh berpandangan terdapat indikasi dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW. seringkali menetapakan sebuah hukum melalui ijtihad beliau. Hal ini dapat diketahui melalui sabda Rassulullah SAW.:

قَدِمَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يَأْبُرُونَ النَّخْلَ يَقُولُونَ يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ فَقَالَ مَا تَصْنَعُونَ قَالُوا كُنَّا نَصْنَعُهُ قَالَ لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا فَتَرَكُوهُ فَنَفَضَتْ أَوْ فَنَقَصَتْ قَالَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, para penduduk Madinah sedang menyerbukkan bunga kurma agar dapat berbuah yang hal itu biasa mereka sebut dengan ‘mengawinkan’, maka beliaupun bertanya: apa yang sedang kalian kerjakan? Mereka menjawab: Dari dulu kami selalu melakukan hal ini. Beliau berkata: ‘Seandainya kalian tidak melakukannya, niscaya hal itu lebih baik.’ Maka merekapun meninggalkannya, dan ternyata kurma-kurma itu malah rontok dan berguguran. Ia berkata: lalu hal itu diadukan kepada beliau dan beliaupun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, oleh karenanya apabila aku memerintahkan sesuatu dari urusan dien (agama) kalian, maka ambillah (laksanakanlah) dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasar pendapatku semata, maka ketahuilah bahwa sungguh aku hanyalah manusia biasa. (HR. Muslim Nomor 4357)

Sabda nabi bahwa beliau juga hanya seorang manusia biasa merupakan dasar bahwa ijtihad untuk menggali hukum yang tidak diatur oleh Al-Qur’an itu memiliki dasar dan dibenarkan oleh agama Islam. Dalam beberapa kasus, Rasulullah SAW. juga sering menggunakan qiyas ketika menjawab pertanyaan para sahabat. Misalnya, ketika mejawab pertanyaan ‘Umar ibn al-Khaththab tentang batal-tidaknya puasa seseorang yang mencium istrinya. Rasulullah SAW. ketika itu bersabda:

عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ هَشَشْتُ فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ مَضْمَضْتَ مِنْ الْمَاءِ وَأَنْتَ صَائِمٌ قَالَ عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ فِي حَدِيثِهِ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِهِ ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَ فَمَهْ

[Umar bin Al Khathab] berkata; aku merasakan senang lalu aku mencium (istriku) sementara aku dalam keadaan berpuasa. Lalu aku katakan; wahai Rasulullah, pada hari ini aku telah melakukan suatu perkara yang besar. Saya mencium (istriku) sementara saya sedang berpuasa. Beliau berkata: “Bagaimana pendapatmu apabila engkau berkumur-kumur menggunakan air sementara engkau sedang berpuasa?” Isa bin Hammad berkata dalam haditsnya; aku katakan; tidak mengapa. Kemudian keduanya bersepakat mengatakan; beliau berkata; tahanlah! (HR. Abu Daud Nomor 2037)

Rasulullah SAW. dalam hadits ini, menurut para ushul fiqh, mengqiyaskan hukum mencium istri dalam keadaan berpuasa. Jika berkumur-kumur tidak membatalkan puasa, maka mencium istri pun tidak membatalkan puasa.

Periode Sahabat

Pada periode ini ijtihad juga terjadi meneruskan tradisi ijtihad nabi, hal ini dapat kita perhatikan dari beberapa keputusan sahabat mengenai persoalan agama yang dihasilkan dari ijtihad mereka. Di antaranya ijtihad yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar adalah memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat[4], Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mushaf[5], Mendirikan Lembaga Keuangan Bayt al-Mal[6], Penunjukkan ‘Umar oleh Abu Bakr sebagai penggantinya[7], Menolak Memberikan Tirkah Pada Fatimah[8], Menyamakanratakan Pembagian Harta Rampasan Perang[9]

Di antara ijtihad yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab adalah menolak melakukan had (hukum potong tangan) seorang pencuri[10], melaksanakan had (hukum dera) bagi seorang peinum khomr sesuai keadaan[11], Umar mengabaikan pembagian zakat kepada muallaf qulubuhum[12], Umar tidak memberikan harta rampasan perang kepada prajurit yang berperang[13], Umar ibn al-Khaththab seringkali mempertimbangkan kemaslahatan umat, dibanding sekedar menerapkan nashs secara zhahir, sementara tujuan hukum tidak tercapai.

Di antara ijtihad yang dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan adalah menetapkan adzan Jum’at dua kali, tidak menjalankan hukum qisas atas Ubadillah bin Umar al-Khattab yang telah membunuh Hurmuzan dan Jufainah, dan tidak menerapkan Hudud atas Al-Walid bin Uqbah yang minum khomr.

Di antara ijtihad yang dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan adalah  Ali bin Abi Thalib melakukan ijtihad dengan menggunakan qiyas yaitu mengqiyaskan hukuman orang yang meminum khamar dengan hukuman orang yang melakukan qadzaf(menuduh orang lain berzina). Alasan Ali bin Abi Thalib adalah bahwa sesorang yang mabuk karena meminum khamar akan mengigau. Apabila dia mengigau, maka ucapannya tidak bisa dikontrol, dan akan menuduh orang lain berbuat zina. Dan Ali bin abi thalib berpendapat bahwa wanita yang suaminya meninggal dunia dan belum dicampuri serta belum ditentukan maharnya, hanya berhak mendapatkan mut’ah. Ali menyamakan kedudukan wanita tersebut dengan wanita yang telah dicerai oleh suaminya dan belum dicampuri serta belum ditentukan maharnya, yang oleh syara’ ditetapkan hak mut’ah baginya, sebagaimana disebutkan dalam firman allah: (al-baqarah : 236).

Selain bertebarnya para sahabat di berbagai daerah yang saling berbeda budaya, dalam kasus yang sama, hukum di satu daerah dapat berbeda dengan di daerah lainnya. Perbedaan hukum ini berawal dari perbedaan cara pandang dalam menetapkan hukum pada kasus tersebut.

Periode Tabi’in

Di zaman tabi’in, permasalahan hukum yang muncul pun semakin kompleks. Para tabi’in melakukan ijtihad di berbagai daerah Islam. Di Madinah muncul berbagai fatwa berkaitan dengan berbagai persoalan baru, sebagaimana dikemukakan Sa’id ibn al-Musayyab. Di Irak muncul ‘Alqamah ibn Waqqas, al-Laits dan Ibrahim al-Nakha’i. Di Bashrah muncul pula mujtahid di kalangan tabi’in, seperti Hasan al-Bashri.

Titik tolak para Ulama tersebut dalam menetapkan hukum bisa berbeda; yang satu melihat dari sudut mashlahat, sementara yang lain menetapkan hukumnya melalui qiyas. Ulama ushul fiqh Irak lebih dikenal dengan penggunaan ra’yu, dalam setiap kasus yang dihadapi mereka berusaha mencari berbagai ‘illat-nya; sehingga dengan ‘illat ini mereka dapat menyamakan hukum kasus yang dihadapi dengan hukum yang ada nash-nya. Sikap ulama Irak ini bukan berarti meninggalkan Sunnah Rasulullah SAW., tetapi sikap itu mereka ambil karena sangat sedikit Sunnah Rasulullah SAW. yang bisa mereka temukan. Adapun para ulama Madinah banyak menggunakan Hadits-hadits Rasulullah SAW., karena mereka dengan mudah dapat melacak Sunnah Rasulullah SAW di daerah tersebut. Di sinilah awal perbedaan dalam mengistinbathkan hukum di kalangan ulama fiqh. Akibatnya, muncul tiga kelompok ulama, yaitu Madrasah al-‘Iraq, Madrasah al-Kufah, dan Madrasah al-Madinah. Penamaan ini menunjukkan perbedaan cara dan metode yang dugunakannya dalam menggali hukum. Pada perkembangan selanjutnya, Madrasah al-‘Iraq dan Madrasah al-Kufah lebih dikenal dengan sebutan Madrasah al-Ra’yi, sedangkan Madrasah al-Madinah dikenal dengan sebutan Madrasah al-Hadits.

Periode Imam Madzhab

Setelah itu muncul para imam mujtahid, khususnya imam mazhab yang empat, yaitu :

  1. Nu’man ibn al-Tsabit yang lebih dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M),
  2. Malik ibn Anas, yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik (93-179 H/712-795 M),
  3. Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, yang lebih populer dengan sebutan Imam al-Syafi’i (150-204 H/767-820 M),
  4. Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H/780-855 M).

Masing-masing imam merumuskan metode ushul fiqh sendiri, sehingga terlihat dengan jelas perbedaan antara satu imam dengan imam lainnya dalam mengistinbathkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah. Imam Abu Hanifah mengemukakan urutan dalil dalam mengistinbathkan hukum sebagai berikut: Al-Qur’an, Sunnah,  fatwa yang didasarkan atas kesepakatan para sahabat; fatwa para tabi’in yang sejalan dengan pemikiran mereka; qiyas dan istihsan. Imam Malik, disamping berpegang kepada Al-Qur’an, Sunnah, juga banyak mengistinbathkan hukum berdasarkan amalan penduduk Madinah (‘amal ahl al-madinah). Akan tetapi Imam Malik juga banyak menolak mengamalkan Sunnah, apabila terjadi pertentangan Sunnah dimaksud dengan al-Qur’an.

Selanjutnya Imam al-Syafi’i dengan metode-metode ijtihadnya dan sekaligus buat petama sekali membukukaan ilmu ushul fiqh yang dibarengi dengan dalil-dalilnya. Kitab ushul fiqh yang disusun Imam al-Syafi’i tersebut bernama al-Risalah. Kitab ini disusun berdasarkan khazanah fiqh yang ditinggalkan para sahabat, tabi’in, dan Imam-imam mujtahid sebelumnya. Imam al-Syafi’I berupaya mempelajari secara seksama perdebatan yang terjadi antara ahl al-hadits yang bermarkas di Madinah dengan ahl al-ra’yi di Irak. Dari kedua aliran ini Imam al-Syafi’i berusaha untuk mengompromikan pandangan kedua aliran tersebut, serta menyusun teori-teori ushul fiqhnya. Dalam kitabnya, al-Risalah, Imam al-Syafi’i berusaha memperlihatkan pendapat yang shahih dan pendapat yang tidak shahih, setelah melakukan berbagai analisis dari pandangan kedua aliran, Irak dan Madinah. Berdasarkan analisisnya inilah dia membuat teori ushul fiqh; yang diharapkan dapat dijadikan patokan umum dalam mengistinbathkan hukum, mulai dari generasinya sampai generasi selanjutnya.

Para Imam Mazhab dari ke empat Mazhab tersebut sepakat dengan dalil-dalil yang dikemukakan Imam al-Syafi’i, yaitu al-Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas. Tetapi masing-masing Mazhab menambahkan metode istinbath hukum lainnya, seperti yang dikemukakan di atas. Dalam analisis para ahli ushul fiqh kontemporer, seperti Husain Hamid Hasan, dari berbagai metode yang dikemukakan para Imam Mazhab di atas, ulama ushul fiqh Syafi’iyyah (para pengikut Imam al-Syafi’i) ternyata menerima metode ‘urf, mashlahah mursalah, dan sadd al-zari’ah. Akan tetapi, mereka menolak metode istihsan dan ijma’ ahl al-madinah, karena dipandang tidak dapat dijadikan salah satu metode dalam mengistibathkan hukum Islam.

Terlepas dari perbedaan pendapat kalangan ushul fiqh (termasuk di kalangan Imam Mazhab yang empat), tentang berbagai metode ijtihad yang ada, para analisis ushul fiqh menyatakan bahwa pada masa keempat Imam Mazhab tersebut ushul fiqh menemukan bentuknya yang “sempurna”, sehingga generasi-generasi sesudahnya cenderung hanya memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan kasus yang mereka hadapi pada zamannya masing-masing.

Pertumbuhan Ushul Fiqh tidak terlepas dari perkembangan hukum Islam sejak zaman Rasulullah SAW. sampai pada zaman tersusunnya ushul fiqh sebagai salah satu bidang ilmu pada abad ke-2 Hijriah. Di zaman Rasulullha SAW., sumber hukum Islam hanya dua, yaitu al-Qur’an dan sunnah. Apabila ia muncul suatu kasus, Rasulullah SAW. Menunggu turunnya wahyu yang menjelaskan hukum kasus tersebut. Apabila wahyu tidak turun, maka beliau menetapkan hukum kasus tersebut melalui sabdanya, yang kemudian dikenal dengan hadits atau Sunnah.

Kesimpulan

Ushul fiqih mempunyai pengertian al-ushul berarti dalil-dalil fiqih, seperti Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, Ijma’, Qiyas, dan lain-lain. Al-Fiqih berarti pemahaman yang mendalam yang membutuhkan pengarahan potensi akal.

Objek Kajian Ushul Fiqih menurut Al-Ghazali membahas tentang hukum syara’, tentang sumber-sumber dalil hukum, tentang cara mengistinbatkan hukum dan sumber-sumber dalil itu serta pembahasan tentang ijtihad.

Ruang lingkup ushul fiqih secara global adalah sumber dan dalil hukum dengan berbagai permasalahannya, bagaimana memanfaatkan sumber dan dalil hukum tersebut dan lain-lain.

Sejarah perkembangan ushul fiqih terlihat pada masa ushul fiqih sebelum dibukukan dan ushul fiqih sesudah dibukukan dan ushul fiqih pasca Syafi’i. Tujuan dan urgensi ushul fiqih adalah mengemukakan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seseorang mujtahid, agar mampu menggali hukum syara’ secara tepat dan lain-lain.

Refrensi

[1]

Syarifuddin Amir, 2011. Ushul Fiqh Jilid 1, Jakarta , Kencana.

Haroen, Nasrun, Haji UshulFiqih/NasrunHaroen, Jakarta logos, 1996.

Nazar Bakry, Fiqih dan Ushul Fiqih , 1996, Edisi. 1, Cet. 3, Jakarta. PT .Raja Grafindo Persada.

Syafe’i Rahmat., Ilmu Ushul Fiqih , 2010, Cet. IV, Bandung, Pustaka Setia.

Usul Al Fiqh, Taha Jabir Al Alwani

Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin, al-Ijtihâd wa al-Tajdîd fî al-Fiqh al-Islâmîy, al-Mu`assasah al-Dauliyah, Beirut, cet. I, 1999, hal. 46

Masdar F. Mas’udi, Hak-hak Reproduksi Perempuan; Dialog Fikih Pemberdayaan, Mizan, Jakarta, cet. I, 1997, hal. 28

Dr. Hani al-Mara’syali, al-‘Aql wa al-Dîn, al-Maktab al-‘Ilmi li al-Nasyr wa al-Tauzi’, Alexandria, cet. I, 2001, ha. 38

Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, diterjemahkan oleh Ali Audah, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad, Jalasutra, Yogyakarta, cet. I, 2002

Dr. Zaky Milad, Min al-Turâts ila al-Ijtihâd; al-Fikir al-Islâmîy wa Qadhâyâ al-Islâh wa al-Tajdid, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut, cet. I, 2004, hal. 276 – 278

Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS).

Majalah Pesantren No.2/Vol.II/1985. A. Nuril Huda, KH.

[2] Sementara itu, Muhammad Al-Juhaili merinci objek kajian ushul fiqih sebagai berikut:

[3] Analogi ini kami dapat dari Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. –hafizhahullah, di dalam pelajaran Usul Fikih tahun 2010.

[4] Al-Bukhari, S{ahih, juz 4, 257.

[5] Muhammad Husayn Haykal, al-S{iddiq Abu Bakr (Kairo: Dar al-Ma’arif, tt), 96.

[6] Jalal al-Din al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’ (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 74.

[7] Haikal, al-S{iddiq, 323-325.

[8] Fadl Allah, al-Ijtihad, 48.

[9] Fadl Allah, al-Ijtihad,49.

[10] Figh Umar bin Khottob Muwazinan bi Fiqh Asyhuril Mujtahidin, 1403 H, Beirut, Daar al Ghorbi al Islamy Juz 1 hal 23-28

[11] Figh Umar bin Khottob Muwazinan bi Fiqh Asyhuril Mujtahidin, 1403 H, Beirut, Daar al Ghorbi al Islamy Juz 1 hal 311

[12] Amiur Nuruddin, Ijtihad Umar Ibn al Khaththab: Studi tentang perubahan hukum dalam Islam, 1987, Jakarta, Rajawali Pers, hal 140

[13] Amiur Nuruddin, Ijtihad Umar Ibn al Khaththab: Studi tentang perubahan hukum dalam Islam, 1987, Jakarta, Rajawali Pers, hal 11