Kedudukan Syahadat Orang Bisu

Sebelumnya perlu difahami bahwa pembahasan ini masuk ke dalam perkara fiqh dan bukan perkara syariat. Maksudnya adalah perkara ini masuk ke dalam fikih sebab pokok perkara ini terkait dengan ajaran Islam namun tidak ditemukan satupun dalil naqli yang melandasinya. Berbeda dengan perkara yang masuk kategori syariat. Disebut syariat sebab terdapat nash (dalil naqli) yang jelas baik dari Al-Qur’an maupun Hadits. Jadi, sebagai umat Islam jangan beranggapan bahwa suatu ajaran yang dilakukan oleh umat Islam pasti ada dalil yang bersifat tekstual (dalil naqli). Karena sesuai kesepakat para ulama bahwa dalil itu ada dua, yakni dalil aqli dan dalil naqli. Oleh sebab itu perkara fiqih pastinya akan berdampak pada munculnya perbedaan pendapat dari kalangan ulama terkait hukumnya. Inilah hukum yang disebut dengan fiqih sebab dihasilkan dari ijtihad (penelitian) para ulama yang didasarkan pada prinsip-prinsip umum Al-Qur’an dan Hadits.

Salah satu syarat seseorang masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas bagaimana kedudukan jika ada seseorang yang masuk Islam menggunakan bahasa isyarat disebabkan dia tidak bisa bicara atau bisu? Berikut penjelasannya,

Para ulama telah sepakat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan beban taklif kepada para hamba-Nya melebihi batas kemampuanya. Ini merupakan prinsip umum dalam hukum Islam dan merupakan bentuk karunia serta rahmat Allah SWT. Kesepakatan para ulama tersebut salah satunya didasarkan kepada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah berikut,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”. (Surat Al-Baqarah Ayat 286)

Banyak contoh kasus dalam pokok perkaara ini, seperti bila dirasa berat dalam perjalanan seseorang dapat meringkas (qashar) dan menggabungkan (jama) shalatnya. Seseorang yang sakit dan tidak bisa shalat dengan berdiri, maka diperbolehkan baginya shalat sambil duduk. Jika masih tidak bisa maka sambil tidur. Jika memang sudah tak sanggup dengan tidur, maka boleh dengan isyarat. Karena itu kemudian dikatakan dalam salah kaidah fikih bahwa “Al-masyaqqah tajlibut taysir” (Kesulitan dapat menarik kemudahan). Bila dalam keadaan imergensi seseorang dimaafkan untuk makan bangkai, dan lain sebagainya.

Atas dasar ini, maka menurut hemat kami syahadat orang bisu adalah absah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam sepanjang bahasa isyarat yang digunakan dapat dipahami. Kendatipun ada pendapat (qila) yang menyatakan bahwa syahadat orang bisu dengan bahasa isyarat tidak dianggap abasah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Pandangan kedua ini merujuk pada pembacaan tekstual terhadap pendapat Imam Syafi’i (zhahiru nashshil Imam As-Syafi’i).

فَرْعٌ: يَصِحُّ إِسْلَامُ الْأَخْرَسِ بِالْإِشَارَةِ الْمُفْهَمَةِ وَقِيلَ لَا يُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ إِلَّا إِذَا صَلَّى بَعْدَ الْإِشَارَةِ وَهُوَ ظَاهِرُ نَصِّهِ فِي الْأُمِّ

Artinya, “Masalah cabang, keislaman orang bisu melalui bahasa isyarat yang dapat dimengerti dianggap sah. Tetapi dalam pendapat lain dikatakan, keislaman seseorang tidak diakui kecuali apabila setelah mengucapkan syahadat dengan bahasa isyarat ia menjalankan shalat. Ini adalah zhahir pendapat Imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Al-Umm,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, juz VII, halaman 282).

Namun, menurut An-Nawawi, pendapat Imam Syafi’i ini harus dibaca dalam konteks ketika isyarat yang digunakan orang yang bisu tersebut tidak dapat dipahami. Lain halnya ketika bahasa isyarat tersebut dapat dipahami maka dianggap absah.

وَالصَّحِيحُ الْمَعْرُوفُ اَلْأَوَّلُ وَحَمْلُ النَّصِّ عَلَى مَا إِذَا لَمْ تَكُنِ الْإِشَارَةُ مُفْهَمَةً

Artinya, “Pendapat yang benar dan dikenal adalah pendapat pertama. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i itu mesti dipahami dalam konteks ketika (syahadat) dengan bahasa isyarat tidak bisa dimengerti,” (Lihat An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, juz VII, halaman 282).

Oleh Ustadz Mahbub Maafi Ramdlan, dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 36
    Shares