Kedudukan Anak Susuan Dalam Hukum Waris Islam

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya mengangkat seorang anak yang kemudian kami susui, dengan niat kepada dialah akan saya gantungkan harapan untuk meneruskan apa yang telah kami lakukan selama hidup ini. Sebab hingga saat ini kami belum diberi karunia seorang anak kandung. Lalu yang mengganjal dalam benak ini adalah apakah dia bisa menerima warisan dari saya ketika saya telah meinggal? Mohon penjelasannya, jazakallah khairan. (hamba Allah/Tulungagung)

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari Nomor 2451, kedudukan anak persusuan secara otomatis seperti anak kandung sebab telah menjadi mahram.

Namun dalam segi waris tidak berlaku, sebab waris mewarisi terjadi disebabkan dua hal, yakni; disebabkan terjadinya pernikahan dan adanya pernasaban.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENJELASAN:

Dalam sebuah riwayat hadits Nabi memang disebutkan bahwa kedudukan mahram anak susuan itu sama dengan nasab (kandung). Nabi bersabda,

يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ

“Diharamkan karena sebab penyusuan apa-apa yang diharamkan karena nasab” (Hadits Bukhari Nomor 2451)

Dalam segi mahram, berdasarkan Hadits tersebut maka yang berlaku bagi anak kandung otomatis juga berlaku bagi anak persusuan. Di antaranya tidak berlakunya batas-batas aurat, boleh berkholwat, dan dilarang terjadi pernikahan.

Namun berbeda dengan status anak persusuan dalam hal warisan, menyusui itu hanya merubah status menjadi mahram, namun anak persusuan tidak diakui ke dalam jajaran ahli waris. Karena di antara sebab-sebab waris itu adalah Pernikahan (Suami-Istri), atau Nasab (keturunan).

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim (10/19) menjelaskan:

وأجمعت الأمة على ثبوتها (الحرمة) بين الرضيع والمرضعة وأنه يصير ابنها يحرم عليه نكاحها أبدا ويحل له النظر اليها والخلوة بها والمسافرة ولا يترتب عليه أحكام الأمومة من كل وجه فلا يتوارثان ولا يجب على واحد منهما نفقة الآخر ولا يعتق عليه بالملك ولا ترد شهادته لها …….. فهما كالأجنبيين في هذه الأحكام

“Umat ini telah ber’ijma’ atas ke-mahram-an antara yang menyusui dan disusui, dan ia menjadi anaknya yang haram dinikahi selamanya, dan ia boleh melihat kepadanya (auratnya) dan berkhalwat dengannya serta berpergian bersamanya. Dan tidak semua hukum per-ibu-an berlaku (akibat susuan), seperti bahwa ia tidak mewarisi satu sama lain, dan tidak wajib saling menafkahi, dan tidak membebaskan perbudakannya, dan juga tidak tertolak kesaksian keduanya untuk satu sama lain…..mereka dalam hukum-hukum ini seperti 2 orang asing”.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالـصَّـوَابِ

Bagikan Artikel Ini Ke