Jumlah Hitungan Dzikir Setelah Shalat Sesuai Sunnah

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ketika mengikuti beberapa jamaah shalat di beberapa masjid, saya kok bingung karena jumlah hitungan dzikir yang diamalkan berbeda-beda! Sebetulnya berapa jumlah hitungan dzikir setelah shalat yang ditetapkan oleh Nabi? Dan bolehkan saya menghitung dzikir sejumlah yang saya kehendaki?. (Usman/Banyuwangi)

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dalam masalah jumlah hitungan dzikir memang terdapat perbedaan yang disebabkan perbedaan dalam sumber haditsnya. Di samping itu dalam mengamalkan dzikir setelah shalat ada ketentuan jumlah hitungannya. Namun ketentuan itu bukan berarti tidak bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Dengan kata lain boleh menghitung jumlah hitungan dzikir sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Penjelasannya di sini; Hukum Mengkhususkan Jumlah Hitungan dan Kadar dalam Ibadah

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENJELASAN:

Tema ini masih menjadi bagian dari artikel; Dzikir Setelah Shalat

Di antara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad (disyari’atkan) waktunya adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir. Sedangkan jumlah hitungan dzikir yang diajarkan oleh Nabi sebetulnya tidak paten dan sangat bervariasi. Sebab satu hadits dengan hadits lainnya meriwayatkan varian bacaannya, varian lafadznya, varian urutannya, dan varian jumlah hitungannya. Riwayat hadits berikut menujukkan perbedaan hitungan dari para sahabat Nabi.

Sama-sama diperintahkan berdzikir tasbih, tahmid, dan takbir namun hitungannya berbeda. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

“barangsiapa mengamalkan dzikir semisal tasbih (Subhaanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) setiap selesai dari shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kemudian setelah itu di antara kami terdapat perbedaan pendapat. Di antara kami ada yang berkata, “Kita bertasbih tiga puluh tiga kali, lalu bertahmid tiga puluh tiga kali, lalu bertakbir empat puluh tiga kali.” Kemudian aku kembali menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu bersabda: “Bacalah ‘Subhaanallah walhamdulillah wallahu Akbar’ hingga dari itu semuanya berjumlah tiga puluh tiga kali.” (Hadits Bukhari Nomor 798)

Hadits yang diriwayatkan Muslim ini menunjukkan hitungan dzikir tasbih 33x, tahmid 33x, takbir 43x. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً

“Beberapa amalan penyerta, siapa saja yang mengucapkan dan mengamalkannya, maka dirinya tidak akan merugi, yaitu mengucapkan tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali setiap usai shalat wajib.” (Hadits Muslim Nomor 937 dan Hadits Muslim Nomor 938)

Hadits yang diriwayatkan Bukhari ini menunjukkan hitungan dzikir tasbih 10x, tahmid 10x, takbir 10x. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَمْرٍ تُدْرِكُونَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَتَسْبِقُونَ مَنْ جَاءَ بَعْدَكُمْ وَلَا يَأْتِي أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا جِئْتُمْ بِهِ إِلَّا مَنْ جَاءَ بِمِثْلِهِ تُسَبِّحُونَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَتَحْمَدُونَ عَشْرًا وَتُكَبِّرُونَ عَشْرًا

” Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu perkara, yang tidak akan menyamai orang sebelum kalian dan tidak pula akan di dahului oleh orang-orang setelah kalian kecuali dan tidak akan terjangkau kecuali oleh orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan? ‘ Yaitu; kalian bertasbih seusai shalat sebanyak sepuluh kali, bertahmid sebanyak sepuluh kali bertakbir sebanyak sepuluh kali.’ (Hadits Bukhari Nomor 5854 dan Hadits Nasai Nomor 1331)

Hitungan yang berbeda juga ditunjukkan pada hadits riwayat Muslim berikut. Hitungan dzikir tasbih 33, tahmid 33, takbir 33, dan tahlil 1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, -dan beliau menambahkan- dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.” (Hadits Muslim Nomor 939 dan Hadits Abu Daud Nomor 1286 dan Hadits Malik Nomor 439)

Dengan begitu dapat difahami bahwa hitungan-hitungan dalam dzikir bukan merupakan batasan yang harus dilakukan. Maksudnya walaupun Nabi mengatakan hitungan 10x, 33x, atau 34x namun umat Islam boleh membaca kurang atau lebih dari hitungan tersebut. Sebagai dasardari pemahaman ini adalah sebuah hadits di bawah ini yang menunjukkan bahwa ketika Nabi menyebutkan hitungan dzikir 100x, namun umat Islam boleh membaca lebih banyak dari hitungan tersebut.

Dalam Hadits riwayat Muslim nomor 4857. Dzikir [لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ] boleh dibaca lebih dari seratus kali. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha ilIallaahu wahdah, Iaa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ (Tiada tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki alam semesta dan segala puji hanya bagi-Nya. Allah adalah Maha Kuasa atas segaIa sesuatu) dalam sehari seratus kali, maka orang tersebut akan mendapat pahala sama seperti orang yang memerdekakan seratus orang budak dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus keburukan untuknya. Pada hari itu ia akan terjaga dari godaan syetan sampai sore hari dan tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya, kecuali orang yang membaca lebih banyak dan itu. Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.” (Hadits Muslim Nomor 4857)

Varian jumlah hitungan dzikir setelah shalat bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan karena terkait dengan dzikir itu sendiri sebetulnya tergolong ibadah ghairu mahdhah. Di mana ibadah ghairu mahdhah merupakan ibadah yang dapat divariasi dan dikreasikan. Baca selengkapnya; Perbedaan Ibadah Mahdhah dengan Ibadah Ghairu Mahdhah

SYUBHAT SYARIAT

Jadi sudah sangat jelas bahwa banyak dalil yang mengisyaratkan bolehnya berdzikir dengan jumlah hitungan yang berbeda sesuai kebutuhan. Namun apabila golongan Salafi yang mempersoalkan dengan alasan bahwa hal tersebut dilarang dan tidak ada dalilnya atau tidak pernah dicontohkan Nabi. Maka tuduhan mereka itulah sejatinya bid’ah yang nyata.

Sebab pengertian (hakikat) bid’ah bukanlah perkara barau dalam agama. Namun sejatinya adalah kedustaan atas nama agama. Maksudnya adalah bila seseorang memerintahkan (menghalalkan) suatu perkara tanpa disertai dalil qath’inya sedangkan sebetulnya suatu perkara tersebut jelas-jelas ada dalil (baik dalil yang sifatnya muqayyad/khas/sharih/tersurat/tekstual maupun yang bersifat mutlak/am/kinayah/tersirat/kontekstual) yang mengharamkannya.

Atau sebaliknya bila seseorang melarang (mengharamkan/membid’ahkan) suatu perkara tanpa disertai dalil qath’inya sedangkan sebetulnya suatu perkara tersebut jelas-jelas ada dalil (baik dalil yang sifatnya muqayyad/khas/sharih/tersurat/tekstual maupun yang bersifat mutlak/am/kinayah/tersirat/kontekstual) yang menghalalkannya.

Maka dengan melarang atau memerintahkan mengatasnamakan agama namun tanpa landasan dalil tersebut sejatinya perbuatan bid’ah. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Diperkuat dengan makna Hadits berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.”. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Sudah sangat jelas, bahwa dalam agama di samping ada wilayah haram (yang dilarang) dan halal (yang dianjurkan) juga ada wilayah netral (didiamkan). Di mana tata cara pelaksanaan amaliah dan ibadah yang sifatnya netral tersebut hukumnya mubah dan diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Sempurnakan pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hakikat Bid’ah

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Membid’ahkan Tanpa Ada Dalil Larangan Yang Spesifik Itu Kedustaan Agama

Jadi bilama ada segolongan Salafi membid’ahkan, dengan begitu dakwahan merekalah yang sejatinya bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bahwa mereka telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Jadi mudah menuduh bid’ah dengan mudah mengharamkan perkara yang dibebaskan merupakan kelancangan terhadap wewenang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Jadi tuduhan mereka yang membid’ahkan berdzikir dengan jumlah hitungan yang berbeda sesuai kebutuhan merupakan perkara bid’ah yang batal dan batil.

Demikian, semoga bermanfaat, amin. Jazakallah Khair.

Bagikan Artikel Ini Ke