Jika Imam Shalat Sambil Duduk Maka Makmum Tidak Harus Shalat dengan Duduk

Menjalankan shalat fardhu dengan berdiri hukumnya wajib bila tidak ada udzur syar’i. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit atau lainnya terkadang seorang imam tidak bisa melaksanakan shalat dengan berdiri. Ketika keadaan imam shalat dalam keadaan duduk, ternyata makmum tidak harus mengikuti apa yang dilakukan oleh seorang imam tersebut. Pemahaman ini berdasarkan pada banyak riwayat Hadits. Di antaranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ : حَدَّثَنَا لَيْثٌ . ح وَحَدَّثَنَا مُحمَّدُ بْنُ رُمْحٍ : أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ: اشْتَكَى رَسُولُ اللّهِ . فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ، وَهُوَ قَاعِدٌ . وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ. فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَاماً، فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا، فَصَلَّيْنَا بِصَلاَتِهِ قُعُوداً. فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ: «إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ، يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلاَ تَفْعَلُوا، ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ: إِنْ صَلَّى قَائماً فَصَلُّوا قِيَاماً. وَإِنْ صَلَّى قَاعِداً فَصَلُّوا قُعُوداً

“Hadits ini secara hukum terjelaskan oleh hadits :  Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari mengendarai kudanya lalu terjatuh dan terhempas pada bagian lambungnya yang kanan. Karena sebab itu Beliau pernah melaksanakan shalat sambil duduk di antara shalat-shalatnya. Maka kamipun shalat di belakang Beliau dengan duduk. Ketika selesai Beliau bersabda: Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian. Dan jika ia mengucapkan sami’allahu liman hamidah (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah; rabbanaa wa lakal hamdu (Ya Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian). Dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk. Abu Abdullah berkata, Al Humaidi ketika menerangkan sabda Nabi SAW “Dan bila dia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk” dia berkata, kejadian ini adalah saat sakitnya Nabi SAW di waktu yang lampau. Kemudian setelah itu Nabi SAW shalat dengan duduk sedangkan orang-orang shalat di belakangnya dengan berdiri, dan beliau tidak memerintahkan mereka agar shalat sambil duduk (mengikuti beliau). Dan sesungguhnya yang dijadikan ketentuan adalah berdasarkan apa yang paling akhir dan terakhir dari perbuatan Nabi SAW. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Sesungguhnya imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti, apabila dia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, apabila dia rukuk maka rukuklah, apabila dia bangkit maka bangkitlah, apabila dia mengucapkan, ‘Sami’allaahu liman hamidah’ (Allah mendengar kepada orang yang memujiNya), maka ucapkanlah, ‘Rabbanaa Walakal Hamdu’ (Wahai Rabb Kami, segala puji hanya bagiMu), dan apabila dia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk.” (Hadits Sunan Abu Dawud Nomor 509)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا بِالْمَدِينَةِ فَصَرَعَهُ عَلَى جِذْمِ نَخْلَةٍ فَانْفَكَّتْ قَدَمُهُ فَأَتَيْنَاهُ نَعُودُهُ فَوَجَدْنَاهُ فِي مَشْرُبَةٍ لِعَائِشَةَ يُسَبِّحُ جَالِسًا قَالَ فَقُمْنَا خَلْفَهُ فَسَكَتَ عَنَّا ثُمَّ أَتَيْنَاهُ مَرَّةً أُخْرَى نَعُودُهُ فَصَلَّى الْمَكْتُوبَةَ جَالِسًا فَقُمْنَا خَلْفَهُ فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا قَالَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِذَا صَلَّى الْإِمَامُ جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا وَإِذَا صَلَّى الْإِمَامُ قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَلَا تَفْعَلُوا كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ فَارِسَ بِعُظَمَائِهَا

Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abi Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dan [Waki’] dari [Al-A’masy] dari [Abu Sufyan] dari [Jabir] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menaiki seekor kuda di Madinah, lalu kuda itu menjatuhkan beliau pada akar pohon kurma hingga kakinya keseleo. Maka kami menjenguk beliau, kami mendapati beliau di kamar ‘Aisyah sedang melaksanakan shalat sunnah dalam keadaan duduk. Dia (perawi) berkata; Maka kami pun berdiri di belakang beliau, namun beliau tidak berbicara dengan kami. Kemudian kami menjenguk beliau kembali (pada waktu yang lain), lalu beliau shalat wajib dengan duduk, sedangkan kami berdiri di belakang beliau, kemudian beliau memberikan isyarat kepada kami agar duduk, maka kami pun duduk. Dia (perawi) berkata; Tatkala selesai shalat, beliau bersabda: “Apabila imam shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk, dan apabila imam shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, dan janganlah kalian melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Persia kepada para pemimpin mereka.” (Hadits Abu Daud Nomor 510)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يُكَبِّرُ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا فَصَلَّيْنَا بِصَلَاتِهِ قُعُودًا فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنْ كُنْتُمْ آنِفًا تَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا

“Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sakit, kami shalat di belakangnya dan beliau dalam keadaan duduk, sedangkan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang, maka beliau menoleh kepada kami dan melihat kami dalam keadaan berdiri. Beliau lalu mengisyaratkan kepada kami agar kami shalat dengan duduk. Setelah salam (selesai) beliau bersabda: ‘Jika kalian seperti tadi, maka kalian melakukan perbuatan orang-orang Persia dan Romawi; mereka berdiri kepada raja-raja mereka yang sedang duduk. Janganlah kalian melakukan hal itu. Ikutilah imam-imam kalian, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah dengan duduk’.” (Hadits Nasai Nomor 1185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يُكَبِّرُ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا فَصَلَّيْنَا بِصَلَاتِهِ قُعُودًا فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنْ كِدْتُمْ أَنْ تَفْعَلُوا فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluh sakit, kami pun shalat di belakangnya sementara beliau shalat dengan duduk. Kemudian Abu Bakar bertakbir dengan takbir Rasulullah agar manusia dapat mendengarnya, beliau berpaling ke arah kami hingga beliau melihat kami sedang shalat dengan berdiri, beliau lalu berisyarat (agar kami shalat dengan duduk), maka kami pun shalat dengan duduk mengikuti beliau. Selesai salam beliau bersabda: “Janganlah kalian mengikuti perbuatan orang-orang Faris dan Rum, mereka berdiri sementara raja-raja mereka duduk. Ikutilah imam-imam kalian, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah dengan duduk. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1230)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Sesungguhnya dijadikannya imam adalah agar ia diikuti, apabila ia bertakbir maka bertakbirlah, apabila ia rukuk maka rukuklah, apabila ia sujud maka sujudlah, apabila ia mengucapkan; ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah; ‘RABBANAA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, kepada-Mu lah segala pujian). Dan apabila ia melakukan shalat dengan berdiri maka shalatlah dengan berdiri, apabila ia melakukan shalat dengan duduk maka shalatlah dengan duduk semua.” (Hadits Darimi Nomor 1277)

Maka dari hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan;

Pertama, Bahwa perkataan “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti” pada mulanya dimaksudkan untuk masalah shalat sambil duduk”.

Kedua, Namun belakangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan untuk mengikuti imam sama persis yaitu boleh makmum shalat sambil berdiri, sementara imam shalat sambil duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكِبَ فَرَسًا فَصُرِعَ عَنْهُ فَجُحِشَ شِقُّهُ الْأَيْمَنُ فَصَلَّى صَلَاةً مِنْ الصَّلَوَاتِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ قُعُودًا فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ الْحُمَيْدِيُّ قَوْلُهُ إِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا هُوَ فِي مَرَضِهِ الْقَدِيمِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَالنَّاسُ خَلْفَهُ قِيَامًا لَمْ يَأْمُرْهُمْ بِالْقُعُودِ وَإِنَّمَا يُؤْخَذُ بِالْآخِرِ فَالْآخِرِ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari mengendarai kudanya lalu terjatuh dan terhempas pada bagian lambungnya yang kanan. Karena sebab itu beliau pernah melaksanakan shalat sambil duduk di antara shalat-shalatnya. Maka kamipun shalat di belakang Beliau dengan duduk. Ketika selesai Beliau bersabda: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian. Dan jika ia mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah merndengar orang yang memuji-Nya) ‘, maka ucapkanlah; RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk.” Abu ‘Abdullah berkata, Al Humaidi ketika menerangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Dan bila dia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk’ dia berkata, “Kejadian ini adalah saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di waktu yang lampau. Kemudian setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan duduk sedangkan orang-orang shalat di belakangnya dengan berdiri, dan beliau tidak memerintahkan mereka agar duduk. Dan sesungguhnya yang dijadikan ketentuan adalah berdasarkan apa yang paling akhir dan terakhir dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Bukhari Nomor 648)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud, yaitu Abu Daud Aththayalisi telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Musa bin Abu Aisyah berkata; saya telah mendengar Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah menceritakan dari Aisyah “bahwa Rasulullah s.a.w. pernah memerintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam ketika beliau sakit yang beliau wafat ketika sakit tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di depan Abu Bakr, beliau shalat sambil duduk sedangkan Abu Bakar mengimami orang-orang di belakangnya (sambil berdiri).” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 24918)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Telah mengkabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Dawud dia berkata; telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Musa bin Abu ‘Aisyah dia berkata; “Aku mendengar ‘Ubaidullah bin Abdullah menceritakan dari ‘Aisyah r.a. , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Abu Bakar shalat mengimami orang-orang (sahabat). Aisyah lalu berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat sambil duduk di depan Abu Bakar, sedangkan Abu Bakar shalat bersama orang-orang, dan mereka shalat di belakang Abu Bakar.” (H.R. Nasa’i Nomor 788)

Ketiga, Jika Imam melakukan kesalahan gerakan atau urutan shalat sedangkan makmum sudah memperingatkan namun Imam tetap tidak menyadari kesalahannya, maka makmum tetap wajib mengikuti gerakan shalat Imam dan tidak boleh melakukan gerakan sendiri yang berbeda dengan Imam. Imam Ahmad bin Hambal Berkata,

“Saya telah membacakan kepada Abdurrahman; Malik dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, istri Nabi s.a.w. bahwasanya dia berkata; “Rasulullah s.a.w. pernah shalat di rumahnya dan beliau sedang sakit, lalu beliau shalat sambil duduk sedangkan kaum muslimin pun shalat berdiri di belakangnya, kemudian beliau memberi isyarat kepada mereka supaya mereka duduk. Tatkala beliau selesai, beliau bersabda: “Imam adalah untuk diikuti, apabila ia ruku’ maka ruku’lah, apabila ia mengangkat (kepalanya) maka angkatlah, dan apabila imam shalat sambil duduk maka shalatlah kalian sambil duduk.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 23994)

Keempat, Jika makmum terlambat bergabung dengan shalat berjamaah, atau memiliki niat shalat yang berbeda dengan imam (misalnya dalam kasus ia mengikuti imam yang ternyata sedang shalat sunah sementara makmum berniat shalat fardhu atau kasus-kasus lainnya) tetap wajib mengikuti gerakan shalat Imam sampai selesai dan tidak boleh melakukan gerakan sendiri yang berbeda dengan Imam.

Kelima, Perintah umum “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti” mencakup gerakan dasar dan urutan rakaat shalat dan tidak meliputi detil detilnya seperti cara takbiratul ihrom, posisi tangan di dada atau di perut, jari telunjuk dan lain-lain.

Oleh Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke