Ittiba’ Nabi Melalui Pemahaman Keempat Imam Madzhab Itu Lebih Selamat

Generasi terbaik umat Islam menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka sebaik-baik manusia. Nabi membaginya ke dalam tiga masa atau kurun. Mereka adalah para sahabat di mana mereka merupakan generasi masa-masa hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas disusul generasi Tabi’in, yakni mereka yang hidup setelah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang ketiga adalah generasi Tabi’ut Tabi’in, mereka yang hidup setelah para Tabi’in. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Mereka adalah manusia-manusia terbaik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami ajaran agama Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (As-Salafu ash-Shalih).

Sebuah keniscayaan bila Nabi sendiri sudah menatapkan bahwa mereka merupakan generasi terbaik dalam pemahaman agama Islam bila generasi berikutnya, seperti generasi yang hidup pada saat ini bila hendak mengamalkan ajaran agama Islam lebih mendahulukan merujuk pada fatwa-fatwa para ulama yang hidup pada tiga generasi tersebut. Dan hindarilah lebih mengutamakan ulama-ulama di generasi terbaru. Sebagaimana bila terdapat pertentangan fatwa antara ulama yang hidup pada tiga generasi terbaik itu dengan ulama yang lahir di zaman terbaru maka tinggalkan pendapat ulama yang lahir pada zaman ini.

Sebagaimana kita kenal bahwa empat imam mujtahid seperti Imam abu Hanifah yang tergolong Tabi’in, dan Imam Malik, Imam Syafi’i, serta Imam Hambali di mana mereka ternyata tergolong Tabi’ut Tabi’in. Berbeda dengan semisal Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Sebagai gambaran bahwa Nabi Muhammad lahir di Mekkah pada tahun 571 M. Dan meninggal di Madinah 632 M. Kemudian empat Imam madzhab masih masuk ke dalam kategori Salafus Shalih, yakni; Abu Hanifah (Irak 699 M. – Irak 767) jarak hidup dari Nabi 128 tahun. Beliau termasuk Tabi’in, dan pendiri madzhab Hanafi. Malik bin Anas (Madinah 711 M. – Madinah 711 M.) jarak hidup dari Nabi 140 tahun. Beliau Termasuk Tabi’ut Tabi’in, dan Pendiri madzhab Maliki. Imam Asy-Syafi’i (Palestina 767 M. – Mesir 819 M.) jarak hidup dari Nabi 196 tahun. Beliau pendiri madzhab Syafi’i. Dan Imam Hambali (Turkmenistan 780 M. – Irak  855 M.) jarak hidup dari Nabi 209 tahun. Beliau pendiri madzhab Hambali.

Sedangkan ulama yang digaung-gaungkan oleh golongan Salafi sebagai Salafus Shalih ternyata faktanya tidak, sebut saja ulama mereka seperti Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Riyadh 1909 M. – Mekkah 1999 M.) jarak hidup dari Nabi 1338 tahun. Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Albania 1914 M. – Yordania 1999 M.) jarak hidup dari Nabi 1343 tahun. Dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Saudi 1925 M. – Jeddah 2001 M.) jarak hidup dari 1354 Nabi tahun. Mereka ulama Salafi atau yang lebih dikenal sebagai Wahabi ternyata sangat jauh sekali jarak hidupnya dari Nabi.

Jadi, bila umat Islam sekarang lebih mengagungkan pendapat ulama Salafi seperti Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz  dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dengan mengabaikan fatwa ke empat Imam madzhab yang jelas-jelas sebagai Salafus Shalih sebab mereka tergolong Tabi’in dan Tabiut-Tabi’in maka mereka sangat salah besar.

Dengan begitu ke empat Imam Madzhab tersebut lebih layak disebut sebagai Salafus Shalih. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentitahkan kita untuk mengikuti mereka generasi Salafus Shalih. Menapaki jalan yang mereka tempuh, berperilaku selaras dengan apa yang telah mereka lakukan. Menapaki cara pandang hidup (manhaj) yang sesuai dengan cara pandang mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

Dengan begitu para sahabat Nabi, para Tabi’in seperti Imam Hanafi, para Tabi’ut Tabi’in seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali adalah orang yang jelas-jelas pemahamannya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib kita lebih mengutamakan untuk mengikuti jalan mereka, perkataan-perkataan mereka, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dan (Allah) memberi petunjuk kepada (agama)-Nya, orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syura: 13)

Secara mutlak istilah as-salafu ash-shalih tidak boleh disematkan kepada selain mereka. Dan batal hukumnya bilamana ada ulama selain tiga kurun yang utama tersebut mengklaim dirinya sebagai ulama as-salafu ash-shalih. Sebagaimana golongan Salafi yang mengklaim bahwa ulama-ulamanya, di mana kenyataannya mereka lahir di zaman modern sebagai as-salafu ash-shalih.

Umat Islam yang lahir pada generasi terbaru berkewajiban untuk mengikuti para ulama seperti ke empat imam madzhab tersebut karena mereka jelas sebagai as-salafu ash-shalih. Kita wajib berada di atas manhaj as-salaf dengan mengikuti mereka dari aspek pemahaman, i’tiqad, perkataan maupun amal. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam mereka orang-orang yang memilih jalan-jalan selain jalan yang ditempuh as-salafu ash-shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

As-Salafiyah bukan semata-mata perkara penisbahan (pengakuan), namun istilah tersebut simbol dari sebuah tekad untuk memurnikan keikhlasan untuk mengabdi dan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ghirah kita untuk ittiba’ Nabi memiliki keterbatasan jarak waktu yang sangat jauh dan juga kita tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Nabi. Maka tidak ada pilihan lain agar supaya pemahaman kita lebih selamat, maka kita ittiba’ pada Nabi dengan cara mengambil fatwa, penjelasan, dan penafsiran pemahaman para Salafus Shalih seperti ke empat imam Madzhab tersebut. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِـي ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Hadits Riwayat Bukhari, Nomor 7311)

Berikut daftar generasi terbaik menurut Sunnah;

Generasi awal

Rasul Muhammad dan para sahabatnya

Generasi kedua (Tabi’in)

Abdul Rahman bin abdillah, Abu Hanifah, Abu Muslim al-Khawlani, Abu Suhail an-Nafi’ bin ‘Abdul Rahman, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, Al-Rabi bin Khuthaym, Ali Akbar, Ali bin Abu Talha, Ali bin Husayn (Zain al-‘Abidin), Alqama bin Qays al-Nakha’i, Amir bin Shurahabil ash-sha’bi, Ata bin Abi Rabah, Atiyya bin Saad, Fatimah binti Sirin, Hasan al-Bashri, Iyas bin Muawiyah al-Muzani, Masruq bin al-Ajda’, Muhammad bin al-Hanafiya, Muhammad bin Wasi’ al-Azdi, Muhammad bin Sirin, Muhammad al-Baqir, Muhammad bin Muslim bin Shihab al-Zuhri, Muhammad bin Munkadir, Musa bin Nussayr, Qatadah Rabi’ah al-Ra’iy, Raja bin Haywah, Rufay bin Mihran, Sa’id bin Jubayr, Said bin al-Musayyib, Salamah bin Dinar (Abu Hazim Al-A’raj), Salih bin Ashyam al-Adawi, Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Shuraih al-Qadhi, Tawus bin Kaysan, Umar bin Abdul-Aziz, Umm Kulthum binti Abu Bakr, Urwah bin al-Zubayr, dan Uwais al-Qarni,

Generasi ketiga (Tabi’ut Tabi’in)

Abd al-Rahman al-Ghafiqi, Ja’far ash-Shadiq, Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’i, Imam Hanbal, dan Tariq bin Ziyad.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, dengan begitu sudah sangat jelas bahwa ke empat Imam Madzhab tersebut; Imam Hanafi, Imam, Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali bermanhaj as-salaf dan lebih layak untuk diikuti fatwa-fatwanya dibandingkan dengan ulama-ulama yang terlahir di era-era modern seperti saat ini. Sebab ke empat Imam Madzhab tersebut berdasarkan sabda Nabi masih masuk ke dalam kategori as-salafu ash-shalih.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

 

Artikel yang sama;

Tiga Generasi Terbaik Umat Islam

Ke Empat Imam Madzhab Lebih Layak Disebut Sebagai Salafus Shalih Dibanding dengan Ulama-Ulama Salafi

Ulama-ulama Salafi tidak Layak Mengklaim Sebagai Ulama Salafus Shalih

Daftar Ulama Salafus Shalih Berdasarkan Sunnah

Ittiba Nabi Melalui Manhaj Salafus Sahalih

Kewajiban Bermanhaj Salafus Sahalih

Benarkah Ulama Salafi Lebih Berhak Dinisbatkan Sebagai Salafus Shalih Dibanding Ke Empat Imam Madzhab?

Imam Hanafi Tergolong Tabi’in Berdasarkan Sunnah

Imam Maliki Tergolong Tabi’ut Tabi’in Berdasarkan Sunnah

Imam Syafi’i Tergolong Tabi’ut Tabi’in Berdasarkan Sunnah

Imam Hambali Tergolong Tabi’ut Tabi’in Berdasarkan Sunnah

Bagikan Artikel Ini Ke