Inilah Alasan Bulan Sya’ban Sangat Istimewa

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  1. Kenapa bulan Sya’ban sangat diistimewakan oleh agama Islam?
  2. Adakah hari-hari istimewa untuk berpuasa dalam bulan Sya’ban?
  3. Adakah dalilnya? Dan,
  4. Adakah amalan khusus yang dianjurkan untuk dilakukan dalam bulan Ramadhan?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa dalam agama Islam, di samping dimana bulan ini merupakan bulan dimana amal manusia dilaporkan kepada Allah, juga karena ada beberapa peristiwa penting yang terjadi sebagaimana perang Badar.
  2. Semua hari dalam bulan Sya’ban Istimewa, dan lebih istimewa lagi hari-hari dalam Nishfu Sya’ban
  3. Banyak dalil yang menyebutkan hari dalam Nishfu Sya’ban (hari pertengahan bulan Sya’ban) itu lebih istimewa, di antaranya hadits riwayat Ibnu Majah Nomor 1379.
  4. Selain amalan puasa sunnah dalam bulan Sya’ban adalah shalat sunnah mutlaq, ziarah qubur, sedekah, dan lain sebagainya.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MARAJI’:

Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa dalam agama Islam, di samping dimana bulan ini merupakan bulan dimana amal manusia dilaporkan kepada Allah, juga karena ada beberapa peristiwa penting yang terjadi sebagaimana perang badar.

Peralihan Kiblat

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit (untuk berdoa), maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab (taurat dan injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Ayat di atas diturunkan dalam Shalat Dhuhur (beberapa ulama mengatakan dalam Shalat Ashar) pada pertengahan bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Ketika itu Rasulullah SAW sedang berada di Masjid Quba dan kemudian memberi tahu kepada para penduduk Quba akan berita gembira ini.

Kabar pun disebarkan, termasuk juga oleh seorang sahabat yang memiliki rumah di daerah Bani Salimah. Dengan bergegas, dia pun kembali ke perkampungannya membawa berita ini.

Perang Badar

Pada bulan Sya’ban terjadi peperangan Bani Mustalik pada tahun kelima Hijrah, kemenangan berpihak kepada Islam dan terjadinya perang Badar yang terakhir pada tahun keempat Hijrah.

Amal Manusia Dihadapkan Kepada Allah

Bulan Sya’ban merupakan bulan dimana amal-amal kita diangkat untuk dihadapkan kepada Tuhan.

قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad Nomor 20758)

  1. Bulan dimana nabi sangat menyukai untuk melakukan puasa selain puasa di bulan Ramadhan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ سَمِعَ عَائِشَةَ تَقُولُ كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“dari [Abdullah bin Abu Qais], ia mendengar [Aisyah] berkata; bulan yang paling Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sukai untuk berpuasa adalah Bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan. (HR. Abu Daud Nomor 2076)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَفْرُوضَةِ صَلَاةٌ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَقُلْ قُتَيْبَةُ شَهْرٌ قَالَ رَمَضَانُ

“dari [Abu Hurairah], ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam puasa yang paling baik setelah Bulan Ramadhan adalah bulan Allah Al Muharram, dan sesungguhnya shalat terbaik setelah shalat wajib adalah shalat pada malam hari. Qutaibah tidak mengatakan; bulan. Ia mengatakan; Ramadhan. (HR. Abu Daud Nomor 2074)

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“dari [Abu Salamah] ia berkata, saya pernah bertanya kepada [Aisyah] radliallahu ‘anha tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia pun berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berpuasa hingga kami mengira bahwa beliau akan puasa seterusnya. Dan beliau sering berbuka (tidak puasa) sehingga kami mengira beliau akan berbuka (tidak puasa) terus-menerus. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa terus sebulan penuh kecuali Ramadlan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunnah dalam sebulan yang lebih banyak dariada puasanya di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban hingga sisa harinya tinggal sedikit.” (HR. Muslim Nomor 1957)

  1. Bulan dimana Allah akan banyak mengampuni orang-orang yang menjauhi keburukan dan memperbanyak amal shalih seperti berpuasa, shalat, dzikir, dan sedekah.

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). (HR. Ibnu Majah Nomor 1380)

Semua hari dalam bulan Sya’ban Istimewa, dan lebih istimewa lagi hari-hari dalam Nishfu Sya’ban

Banyak dalil yang menyebutkan hari dalam Nishfu Sya’ban (hari pertengahan bulan Sya’ban) itu lebih istimewa, di antaranya hadits riwayat Ibnu Majah Nomor 1379.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban (Nisfu Sy’aban) Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (HR. Ibnu Majah Nomor 1379)

Hadits ini menunjukkan anjuran kepada setiap umat Islam agar semakin meningkatkan amalan ibadahnya saat Nisyfu Sya’ban yaitu pertengahan malam bulan Sya’ban dengan berbagai macam amalan ibadah, seperti semakin memperbanya shalat sunnah mutlaq, memperbanyak dzikir, berpuasa di siang harinya, dan memperbanyak sedekah, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Hal ini semakin diperkuat dengan sabda Nabi dalam hadits berikut,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. “ (HR. Ibnu Majah Nomor 1378)

Selain amalan puasa sunnah dalam bulan Sya’ban adalah shalat sunnah mutlaq, memperbanya membaca Al-Qur’an, memohon ampun kepada Allah, ziarah qubur, sedekah, dan lain sebagainya.

Bulan dimana Allah akan banyak mengampuni orang-orang yang menjauhi keburukan dan memperbanyak amal shalih seperti berpuasa, shalat, dzikir, dan sedekah.

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). (HR. Ibnu Majah Nomor 1380)

Diriwayarkan dari Anas ra, berkata,

“Adalah orang-orang muslim apabila masuk bulan Sya’ban, mereka membuka mushaf-mushaf Al Qur’an dan membacanya, mengeluarkan zakat dari harta mereka untuk memberi kekuatan kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin untuk melakukan puasa Ramadan.”

Rasulullah SAW pada setiap setiap malam tanggal 15 Sya’ban selalu melakukan shalat malam dengan sangat lama, menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, sehingga Al-Hafidh Al-Baihaqi dalam kitab Musnadnya meriwayatkan hadits dari A’isyah ra katanya,

“Rasulullah SAW pada suatu malam bangun, lalu melakukan shalat. Beliau memperlama sujud, sehingga aku mengira beliau telah wafat. Setelah aku melihat yang demikian itu, aku bangun sehingga menggerakkan ibu jari beliau, dan ibu jari beliau bergerak.”

Pada setiap malam nisfu Sya’ban, Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra menceritakan sebagai berikut,

“Susungguhnya Rasulullah SAW keluar pada malam ini (malam nisfu sya’ban) ke Baqi’ (kuburan dekat masjid Nabawi) dan aku mendapatkan beliau dalam keadaan memintaan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan para syuhada.”

كُلَّمَا كَانَتْ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا وَإِيَّاكُمْ مُتَوَاعِدُونَ غَدًا أَوْ مُوَاكِلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermalam di tempat Aisyah, beliau keluar ketika malam telah berlalu menuju ke Baqi’, lalu berdoa: Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada penghuni rumah kaum mukminin, bagi kami dan kalian apa yang telah dijanjikan kelak, atau saling memberi syafa’at dan persaksian, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni kubur Baqi’ Al Gharqad.” (HR. Nasai Nomor 2012)

Subhanallah…

Dengan begitu, pada malam ke-15, umat Islam berkesempatan memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Sebab pada malam ke 15 bulan Sya’ban inilah catatan perbuatan manusia akan disetorkan ke hadapan Allah SWT.