Iftirasy atau Tawaruk Saat Shalat yang Hanya Memiliki Satu Duduk Tasyahud

Sebagian kalangan berpendapat bahwa duduk tawarruk itu disyariatkan pada shalat yang memiliki dua tasyahud, dan dilakukan pada tasyahud yang terakhirnya. Sehingga ia ada pada semua shalat wajib kecuali shalat shubuh. Maka duduk tawarruk itu dilakukan pada tasyahud terakhir pada shalat rubai’iyyah (yang empat rakaat) dan tsulatsiyyah (yang tiga rakaat). Sedangkan untuk shalat yang hanya memiliki dua rakaat atau satu tasayahud maka duduknya dengan model iftirasy.

Pendapat di atas dianut oleh salah satunya adalah mazhab Hanbali yang berpandangan bahwa disunnahkan duduk iftirasy untuk shalat yang hanya ada satu tasyahud. Sebab duduk tawaruk hanya berlaku untuk shalat yang memiliki dua duduk tasyahud sebagai pembeda antara dua tasyahud tersebut. (Nihayatul Muhtaj, 1/520, Raudhatuth Thalibin, 1/261). Madzhab ini mendasarkan pendapatnya pada hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول: فِي كُل رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 498)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى

“Nabi shallallahu’alaihi wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pandangan tersebut ditolak oleh Madzhab Syafi’i, beliau berpandangan bahwa kesunnahan duduk tawaruk pada duduk yang terdapat salamnya, entah itu shalat yang memiliki dua duduk tasyahud maupun hanya yang memiliki satu duduk tasyahud seperti shalat Shubuh, Shalat Jum’at, Shalat Hari Raya, Shalat Gerhana, dan Shalat Sunnah Lainnya.

Dengan kata lain duduk tawarruk adalah duduk yang menduduki tempat duduknya dan bukan duduk diatas kaki kiri, telapak kaki kiri dimasukan sebagaian kebagian kaki kanan, sedangkan kaki kanan tetap ditegakan. Duduk ini biasanya dilakukan ketika tasyahhud akhir baik pada shalat yeng berjumlah dua, tiga, atau empat rakaat. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

”Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 828)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam”

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke