Ibadah-Ibadah Sunnah Mutlak yang Dianggap Bid’ah oleh Salafi

Salafi menuduh bid’ah terhadap kreasi ibadah sunnah mutlak dengan mengkhususkan kadar hitungannya, mengkhususkan tempat ibadah, mengkhususkan waktu dan kondisinya, kreasi menggunakan redaksi sendiri, kreasi dengan suara keras, dan kreasi dengan berjamaah dan dipimpin seorang imam. Mereka mengingkari kedudukan Hadits-Hadits yang memperbolehkan umat Islam melakukan hal tersebut sesuai keadaan, situasi, dan kebutuhan masing-masing dengan beberapa pertimbangan berikut;

  1. Dalil perintah melakukan ibadah sunnah mutlak seperti berdoa, shalat, sunnah, dzikir, dan membaca al-Qur’an bersifat mutlaq dan tanpa batas. Itu berarti Allah memberikan keleluasaan kepada kita untuk memperbanyak atau membatasi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita, di samping itu,
  2. Banyak Hadits yang menunjukkan kebolehan akan hal itu. Dan,
  3. Jelas-jelas tidak ada satu ayat maupun Hadits yang secara khusus melarang terhadap hal-hal tersebut.

Dengan demikian, beribadah sunnah mutlak dengan mengkhususkan kadar hitungannya, mengkhususkan tempat ibadah, mengkhususkan waktu dan kondisinya, kreasi menggunakan redaksi sendiri, kreasi dengan suara keras, dan kreasi dengan berjamaan dan dipimpin seorang imam, adalah hal yang diperbolehkan olah agama. Berikut dalil-dalil yang menunjukkannya,

Pertama, mengkhususkan kadar hitungannya

Dalil-dalil umum,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب:

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), denagn dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42)

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab Ayat 35)

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 39)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya.” (HR. Muslim No. 1305)

Dalil-dalil khusus,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga?”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (HR. Tirmidzi No. 2381)

Seorang sahabat dibenarkan oleh Nabi membuat hitungan sendiri dalam dzikir istighfar:

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Kedua, mengkhususkan tempat ibadah

Dalil-dalil umum,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS. Ali ‘ Imran[3]: 109)

الْأَرْضُ لَكَ مُصَلًّى فَصَلِّ حَيْثُ مَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ

“Dan bumi bagimu adalah masjid, maka shalatlah di manapun tempatnya ketika waktu shalat telah tiba. ” (HR. Ibnu Majah No. 745)

جُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيْنَمَا أَدْرَكَ الرَّجُلَ مِنْ أُمَّتِي الصَّلَاةُ يُصَلِّي

“Dijadikannya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seseorang dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ. ” (HR. Nasai No. 429)

Dalil-dalil khusus,

Bahkan dalam urusan ibadah sunnah mutlak dianjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah Allah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Nabi mengkhususkan tempat ibadah untuk dirinya sendiri

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan anjuran agar setiap kita memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan khusus muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Sebagaimana Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah seperti beberapa gua,

“Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira’, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal.” (HR. Bukhari No. 4572)

“Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan.” (HR. Muslim No. 231)

Seluruh bumi adalah masjid kecuali di atas kuburan dan kamar mandi

“Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi. “Abu Muhammad ditanya, “Apakah shalat di kuburan sah?” Ia menjawab, “Selama tidak di atas kuburan, maka shalatnya sah. ” (HR. Darimi No. 1354)

Hadits di atas menunjukkan bahwa kita sangat dianjurkan menjadikan semua tempat sebagai tempat memuja kepada Allah baik secara umum maupun sengaja kita khususkan.

Ketiga, mengkhususkan waktu dan kondisinya.

Dalam ketaatan tidak memiliki batasan waktu tertentu, semenjak kita lahir kemudian baligh hingga nyawa terlepas dari badan, kita tetap diwajibkan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangann-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang (waktu) kepadamu yang diyakini (ajal/kematian).” (QS. al-Hijr[15]: 99)

Selama manusia diberi kesehatan badan, dan sepanjang akal pikirannya masih berfungsi, maka umat Islam dituntut untuk melaksanakan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun dan bagaimanapun kondisinya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Di samping waktu yang telah ditetapkan dan waktu-waktu yang diutamakan secara syar’i, selebihnya merupakan waktu yang dibebaskan untuk kita melaksanakan ibadah, dzikir, dan doa sebanyak banyaknya. Seperti dalil-dalil berikut ini,

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمَلُّ

“Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak pernah jenuh hingga kalian merasa jenuh.” (HR. Nasai No. 754)

النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. ” (HR. Muslim No. 558)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. al-Furqan: 62)

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat-(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. an-Nisa: 103)

Sebanyak-banyaknya di sini tentunya Allah tidak memberikan batasan, dengan artian selama kita mampu dan tidak meninggalkan kewajiban yang lain, maka selama kita isi waktu-waktu kita untuk memperbanyak ibadah untuk peningkatan ketakwaan kita.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَقُولُ وَاللَّهِ لَأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلَأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهِ لَأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلَأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ قَالَ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ وَصُمْ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Bahwa [‘Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma] berkata; Disampaikan kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa aku berkata; “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku. ” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata; “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?”. kujawab; “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya”. Maka Beliau berkata: “Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun. ” Aku katakan; “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”. Belau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam yang merupakan puasa yang paling utama”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Maka beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu”. (HR. Bukhari No. 3165)

Keempat, kreasi menggunakan redaksi sendiri

Sebagian dari kalangan umat Islam ada yag mempersoalkan berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, padahal pandangan semacam itu tidaklah tepat, karena bertentangan dengan syariat Islam. Berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, sepanjang tidak melanggar ketentuan-kentuan syariat, maka diperbolehkan. Banyak dalil yang mengisyaratkan beribadah menggunakan redaksi sendiri, di antaranya,

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ

“Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah)” (HR. Ibnu Majah No. 896)

Diperbolehkan berdoa dengan apa yang disenangi sesuai dengan kondisi masing-masing,

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

Kemudian hendaklah memilih doa yang dia senangi dan berdoa dengannya. ” (HR. Bukhari No. 791)

Boleh meracik atau menyusun dari dzikir mana dulu yang kita baca,

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala; 1) Subhanallah, 2) al-Hamdulillah, 3) Laa ilaaha illallah, 3) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.” (HR. Muslim No. 3985)

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ أَوْ مَا أَحَبَّ

“Kemudian hendaklah dia memilih setelah itu (di dalam shalat) permintaan doa yang dia kehendaki atau dia inginkan. ” (HR. Muslim No. 609)

Pada Hadits-Hadits di atas terdapat isyarat dibolehkan berdoa sesuka kita (artinya dengan redaksi karangan sendiri terserah kita), yaitu setelah membaca doa tasyahud yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Nah jika di dalam shalat saja dibolehkan berkreasi dan berinovasi seperti memanjatkan doa dengan redaksi karangan sendiri, tentu di luar shalat lebih boleh lagi.

Nabi memuji doa seorang sahabat yang dikarang sendiri karena mengandung keagungan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala

عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ وَرَجُلٌ قَدْ صَلَّى وَهُوَ يَدْعُو وَيَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ بِمَ دَعَا اللَّهَ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Dari [Anas] ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid dan terdapat seorang laki-laki yang melakukan shalat dan berdoa dengan mengucapkan: (Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Memberi, Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tahukah kalian, dengan apakah orang tersebut berdoa kepada Allah? Ia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai doa maka Dia akan mengabulkannya. Dan apabila diminta maka Dia akan memberi. ” (HR. Tirmidzi No. 3467)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الَّذِي تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kami, tiba-tiba ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid, dan nafasnya masih tersengal-sengal, kemudian ia mengucapkan, ‘Allahu akbar, alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih (Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak serta pujian yang diberkahi) ‘, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tersebut? ‘ Orang-orang terdiam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi ‘Orang yang mengucapkan kalimat tadi tidak mengucapkan hal yang salah’. Lelaki tersebut lalu berkata. ‘Aku wahai Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam! Aku datang dalam keadaan nafasku yang tersengal-sengal. lalu aku mengucapkannya’. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku melihat dua belas malaikat berebut untuk mengangkat kalimat tersebut. ” (HR. Nasai No. 891)

Nabi membiarkan seorang sahabat merevisi doa dari Nabi dengan penambahan beberapa kalimatnya sendiri,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ تَلْبِيَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَزِيدُ فِيهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

“telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari [Nafi’] dari [Abdullah bin Umar] bahwa talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; “LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK LABBAIKA LAA SYARIIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WANNI’MATA LAKA WALMULK LAA SYARIIKALAK (Ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Segala puji, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu) “. Nafi’ berkata, “Abdullah bin Umar pernah menambahinya dengan, ‘LABBAIKA LABBAIK LABBAIKA WA SA’DAIK WAL KHAIRU BIYADAIKA LABBAIK WAR RAGHBA’U ILAIKA WAL ‘AMAL (Ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu. Hasrat dan perbuatan hanyalah milik-Mu). ” (HR. Malik No. 643)

Dalam atsar Ibnu Umar di atas jelas bahwa Ibnu Umar menambahkan doa karangan sendiri setelah doa talbiyah yang diajarkan oleh Nabi. Tentu saja doa ini tidak ada pada masa Nabi. Hal ini menunjukkan dibolehkannya doa tambahan dari susunan sendiri, setelah doa yang diajarkan oleh Nabi.

Kelima,kreasi dengan suara keras

Anggapan bid’ah mengkreasikan ibadah sunnah mutlak dengan suara keras. Berikut dalil yang terkesan melarang berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan suara keras,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia kebesaran-Nya”. (HR. Bukhari No. 2770)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. al-Isra’[17]: 110)

Dalil-dalil tersebut bertentangan dengan banyak dalil di bawah ini yang mana Nabi memperbolehkan berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah sunnah mutlak lainnya dengan suara keras,

جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شَعَائِرِ الْحَجِّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, suruh para sahabatmu mengeraskan suara talbiyah karena ia adalah syi’ar haji (agama). ” (HR. Ahmad No. 20689)

رَأَى نَاسٌ نَارًا فِي الْمَقْبَرَةِ فَأَتَوْهَا فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا هُوَ يَقُولُ نَاوِلُونِي صَاحِبَكُمْ فَإِذَا هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالذِّكْرِ

“Orang-orang melihat cahaya di sebuah kuburan, kemudian mereka mendatanginya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kuburan dan beliau berkata: “Serahkan kepadaku sahabat kalian!” Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang mengeraskan suara ketika berdzikir.” (HR. Abu Daud No. 2751)

Nabi berdzikir setelah shalat dengan suara keras,

كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

[Ibn Zubair] sering memanjatkan do’a; (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat. ” (HR. Muslim No. 935)

Mengeraskan suara dzikir setelah selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Bahwa [Ibnu ‘Abbas] radliallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya. ” (HR. Bukhari No. 796)

Talbiyah Nabi dengan suara keras

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ أَرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُونَ بِهِمَا جَمِيعًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka’at dan shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah dua raka’at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (hajji dan ‘umrah). (HR. Bukhari No. 1447)

Nabi bernyanyi dengan mengeraskan suaranya,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْقُلُ التُّرَابَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى أَغْمَرَ بَطْنَهُ أَوْ اغْبَرَّ بَطْنُهُ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ أَبَيْنَا أَبَيْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut mengangkuti tanah pada perang Khandaq, hingga perutnya penuh debu-atau perutnya berdebu-, beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya. ‘Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suaranya. ” (HR. Bukhari No. 3795)

Nabi biasa membaca al-Qur’an dan berdzikir dengan nada indah dan keras,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْذَنْ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ و قَالَ صَاحِبٌ لَهُ زَادَ يَجْهَرُ بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu seperti Dia mengizinkan kepada Nabi untuk melantunkan al-Qur’an dengan suara yang indah. ” Ada seorang sahabat beliau menambahkan: “Dan mengeraskan bacaan al-Qur’an. ” (HR. Darimi No. 3354)

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ كَإِذْنِهِ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah memberikan izin kepada sesuatu seperti Dia memberikan izin kepada seorang Nabi melantunkan al-Qur’an dan mengeraskannya. ” (HR. Darimi No. 1450)

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Tidaklah Allah memberikan izin untuk melakukan sesuatu sebagaimana Allah memberikan izin kepada seorang Nabi yang indah suaranya memperindah bacaan al-Qur’an, dan mengeraskannya. ” (HR. Abu Daud No. 1259)

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ كَمَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti Dia mengizinkan Nabi untuk melantunkan al-Qur’an dengan suara yang indah. (HR. Darimi No. 3355)

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ لِلذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ وَأَسْمَعُهُ

“Mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardlu itu telah di lakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ibnu Abbas mengatakan; “Aku mengetahuinya ketika mereka selesai melakukan itu dan aku juga mendengarnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 851)

Bukti bahwa dalam beribadah bisa dikreasi sesuai dengan situasi dan kondisi selama tidak merubah esensi ibadahnya tujuan ta’lim,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ أَوْ مِنْ سُورَةِ الْفَتْحِ قَالَ فَرَجَّعَ فِيهَا قَالَ ثُمَّ قَرَأَ مُعَاوِيَةُ يَحْكِي قِرَاءَةَ ابْنِ مُغَفَّلٍ وَقَالَ لَوْلَا أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ عَلَيْكُمْ لَرَجَّعْتُ كَمَا رَجَّعَ ابْنُ مُغَفَّلٍ يَحْكِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لِمُعَاوِيَةَ كَيْفَ كَانَ تَرْجِيعُهُ قَالَ آ آ آ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari pembebasan Mekkah di atas untanya membaca surat al Fath, atau sebagian dari surat al Fath. ” Abdullah bin Mughaffal berkata, “Lantas beliau mengulang-ulang suaranya dan mengeraskannya. “Kemudian Mu’awiyah membaca dengan menirukan bacaan Abdullah bin Mughaffal seraya berkata, “Kalaulah manusia tidak berkumpul kepada kalian, niscaya aku mengulang-ulang bacaan dan mengeraskannya sebagaimana Ibnu Mughaffal mengulang-ulang dan mengeraskan bacaan ketika menirukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ” Maka aku katakana kepada Mu’awiyah, “Bagaimana beliau mengulang-ulang dan mengeraskan bacaannya?” Mu’awiyah menjawab, “Dengan mengucapkan AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), beliau ucapkan tiga kali. ” (HR. Bukhari No. 6986)

Salah satu gambaran doa Nabi dengan menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan mengeraskan suara.

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ

“Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini). ‘Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. ” (HR. Muslim No. 3309)

Boleh berdoa, berdzikir atau bertakbir dengan suara keras ketika memimpin rombongan Haji

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي وَمَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالْإِهْلَالِ أَوْ قَالَ بِالتَّلْبِيَةِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkanku agar memerintahkan para sahabatku dan orang-orang yang bersamanya agar mengeraskan suara mereka ketika bertahlil atau beliau mengatakan dengan talbiyah. ” Beliau menginginkan salah satu darinya. (HR. Abu Daud No. 1548)

Nabi sering bedoa dan berdikir dengan suara keras di berbagai tempat dan kesempatan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِوَادِي الْأَزْرَقِ فَقَالَ أَيُّ وَادٍ هَذَا فَقَالُوا هَذَا وَادِي الْأَزْرَقِ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام هَابِطًا مِنْ الثَّنِيَّةِ وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى فَقَالَ أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ قَالُوا ثَنِيَّةُ هَرْشَى قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلَام عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ خِطَامُ نَاقَتِهِ خُلْبَةٌ وَهُوَ يُلَبِّي قَالَ ابْنُ حَنْبَلٍ فِي حَدِيثِهِ قَالَ هُشَيْمٌ يَعْنِي لِيفًا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melalui sebuah Lembah al-Azraq. Beliau bertanya: “Lembah apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Inilah Lembah al-Azraq. ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku seakan-akan memandang kepada Nabi Musa yang sedang menuruni sebuah bukit sambil memohon dari Allah dengan suara yang keras melalui talbiyah. ” Kemudian ketika sampai di Bukit Harsya beliau pun bertanya: “Bukit apa ini?” Para Sahabat menjawab, “Bukit Harsya. ” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta berada di atas seekor unta gemuk berwarna merah yang dilengkapi dengan kain bulu dan tali kekang untanya sementara dia sentiasa bertalbiah. ” Ibnu Hanbal berkata dalam Haditsnya, “Husyaim berkata, ‘Yaitu sabut spons’. ” (HR. Muslim No. 241)

Boleh berdoa, dengan suara keras ketika memimpin doa:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan. ” (HR. Bukhari No. 969)

Boleh berdoa, dengan suara keras ketika Memimpin Doa:

أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ خَالِصًا لَا نَخْلِطُهُ بِعُمْرَةٍ فَقَدِمْنَا مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَسَعَيْنَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً وَأَنْ نَحِلَّ إِلَى النِّسَاءِ فَقُلْنَا مَا بَيْنَنَا لَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ فَنَخْرُجُ إِلَيْهَا وَمَذَاكِيرُنَا تَقْطُرُ مَنِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَبَرُّكُمْ وَأَصْدَقُكُمْ وَلَوْلَا الْهَدْيُ لَأَحْلَلْتُ فَقَالَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَمُتْعَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدٍ فَقَالَ لَا بَلْ لِأَبَدِ الْأَبَدِ

“Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencampurnya dengan niat umrah. Dan kami tiba di Mekkah pada malam keempat bulan Dzulhijjah. Maka ketika kami thawaf di Baitullah, dan Sa’i antara Shafa dan Marwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kami untuk menjadikannya sebagai umrah dan segera berkumpul dengan para istri kami. Maka kami saling berkata; ‘Antara kita kini dari hari Arafah hanya tersisa lima hari. Apakah kita harus pergi ke sana (Arafah) sedangkan kemaluan kita mengucurkan mani (kita tengah berhadast)? ‘ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang paling baik dan jujur di antara kalian, seandainya tidak ada (al hadyu), niscaya akan kubolehkan (untuk melakukannya). ‘ Suraqah bin Malik bertanya; ‘Apakah haji Tamattu’ kami hanya diwajibkan untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak tetapi untuk selamanya’. (HR. Ibnu Majah No. 2971)

Demikianlah bukti membid’ah-bid’ahkan amalan ibadah dengan suara keras hanya menggunakan sepotong dalil bertema bid’ah dan mengabaikan dalil lainnya yang lebih khusus, merupakan argumentasi yang sangat lemah serta merupakan kebohongan dalam masalah agama. Karena banyak dalil yang menunjukkan kebolehan mengamalkan dan mengkreasikan ibadah sunnah mutlak dengan suara keras.

Sungguh tidak berdasar dan prematur bila Salafi membid’ahkan sebuah amaliah yang diberikan agama untuk dikreasikan. Pertentangan dua dalil ini, adalah bentuk pilihan bagi umat Islam yang disediakan oleh agama sebagai bentuk kemurahan. Karena Nabi juga pernah melalukan pelan dan juga pernah melakukan keras, tergantung kondisinya, bila tujuannya untuk kebaikan syiar, maka dianjurkan keras, dan sebaliknya, bila dirasa kondisinya mengganggu dan merugikan pihak lain, seperti pada malam hari, maka dianjurkan pelan. Inilah kondisi-kondisi yang mana Islam membenarkan umatnya untuk melakukan kreasi yang disesuaikan dengan situasinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ يَجْهَرُ أَمْ يُسِرُّ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا جَهَرَ وَرُبَّمَا أَسَرَّ

“Dari [‘Abdullah bin Abu Qais] dia berkata; “Aku pernah bertanya kepada [Aisyah] tentang cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (al-Qur’an) di malam hari, ‘Beliau membacanya dengan bersuara keras atau pelan (tanpa bersuara)? ‘ Aisyah menjawab; ‘Semuanya pernah dilakukan beliau. Kadang beliau membacanya dengan suara keras dan kadang membacanya dengan pelan (tanpa bersuara). ” (HR. Nasai No. 1644)

قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ يَرْفَعُ طَوْرًا وَيَخْفِضُ طَوْرًا

“Bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat malam, terkadang beliau mengeraskan suara dan terkadang melirihkannya. ” (HR. Abu Daud No. 1132)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Keenam, kreasi ibadah sunnah mutlak dengan berjamaah dan dipimpin seorang imam:

Banyak bertebaran Hadits yang menunjukkan para sahabat pada zaman Nabi berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan secara jama’i dan dipimpin seorang imam, di antaranya,

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi No. 3510)

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

‘Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4868)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Majelis apa ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami. ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini. ‘ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat. ‘ (HR. Muslim No. 4869)

Setiap majelis dzikir akan menjadi berkah bagi siapapun yang menghadirinya,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa [Abu Murrah]-mantan budak Uqail bin Abu Thalib-, mengabarkan kepadanya dari [Abu Waqid al-Laitsi], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana satu di antaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?” Adapun seorang di antara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya”. (HR. Bukhari No. 64)

Jika hamba mengingat Allah dalam perkumpulan niscaya akan dibalas dengan perkumpulan yang lebih baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan (jamaah), maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari. ” (HR. Bukhari No. 6856)

Akan rugi bagi yang tidak ikut berdzikir dalam sebuah majelis dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk pada suatu tempat (majelis), lalu tidak menyebut nama Allah (dzikir) di dalamnya, maka di sisi Allah itu akan menjadi kerugian baginya. ” (HR. Abu Daud No 4215)

Akan menyesal karena diadzab Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang tidak menghidupkan majelis dengan dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Dari [Abu Hurairah radhillallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia meng-adzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tidaklah suatu kaum bangkit dari tempat duduknya, dan mereka tidak menyebut nama Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka seperti bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai himar, dan kelak akan menjadi penyesalan baginya (di akhirat). ” (HR. Abu Daud No. 4214)

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Malaikat selalu mencari majelis dzikir untuk menyelimutkan sayapnya,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit. ‘ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka. ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka. ‘ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak bakalan celaka karena mereka. ‘ (HR. Muslim No. 4854)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4867)

Nabi lebih menyukai hadir di majelis dzikir dibanding membebaskan budak,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak. ” (HR. Abu Daud No. 3182)

Berdzikir di majelis dzikir lebih memiliki keutamaan,

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majelisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majelis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu). ” (HR. Abu Daud No. 4216)

 إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majelis: “Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali. ” (HR. Abu Daud No. 3804)

Sehabis memimpin shalat jamaah, Nabi melanjutkan dengan memimpin dzikir dengan menghadap ke makmum,

إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami (makmum). ” (HR. Bukhari No. 800)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ عَن السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari as-Suddiy, dari Anas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpaling dari arah kanan (seusai shalat).” (HR. Muslim No. 3784)

Nabi memimpin doa dengan diiringi bacaan amin dari para sahabatnya

عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ غَرِيبٌ يَعْنِي أَهْلَ الْكِتَابِ فَقُلْنَا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ ارْفَعُوا أَيْدِيَكُمْ وَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ اللَّهُمَّ بَعَثْتَنِي بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَأَمَرْتَنِي بِهَا وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَإِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ثُمَّ قَالَ أَبْشِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ

“Dari [Ya’la bin Syadad] berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu syadad bin Aus] dan [‘Ubadah bin Shamit] datang membenarkannya berkata; kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertanya, “Apakah di antara kalian ada orang yang asing yaitu Ahli Kitab?”. Lalu kami menjawab, “Tidak Wahai Rasulullah, ” lalu beliau menyuruh untuk menutup pintu dan bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan katakanlah, tidak ada tuhan selain Allah, ” lalu kami mengangkat tangan kami beberapa saat lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau lalu bersabda: “Segala Puji bagi Allah, Ya Allah, Engkau telah mengutus kami dengan kalimat ini dan Engkau telah memerintahkanya dengannya dan Engkau telah menjanjikan kepada kami dengan syurga. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyelisihi janji, ” lalu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Berilah kabar gembira, sesungguhnya Allah Azzawajalla telah mengampuni kalian. ” (HR. Ahmad No. 16499)

Bacaan doa dari seorang hamba akan diiringi bacaan amin dari para malaikat,

وَوَجَدْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ فَقَالَتْ أَتُرِيدُ الْحَجَّ الْعَامَ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Setelah itu, Ummu Darda’ bertanya kepada saya; ‘Hai Shafwan, apakah kamu akan pergi haji pada tahun ini? ‘ Saya pun menjawab; ‘Ya. ‘ Ummu Darda’ berkata; ‘Mohonkanlah kepada Allah kebaikan untuk kami, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim No. 4914)

إِذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, karena para Malaikat pun ikut mengaminkan, maka siapa yang bacaannya amin bertepatan dengan bacaannya Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (HR. Bukhari No. 5923)

Nabi membacakan amin atas doa sahabatnya,

عَنْ قَيْسٍ الْمَدَنِيِّ أَنَّ رَجُلاً جَاءَ زَيْدَ بْنِ ثَابِتٍ فَسَأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ: عَلَيْكَ بِأَبِيْ هُرَيْرَةَ فَبَيْنَا أَناَ وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ وَفُلاَنٌ فِي الْمَسْجِدِ نَدْعُوْ وَنَذْكُرُ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ إِذْ خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا فَسَكَتْنَا فَقَالَ: عُوْدُوْا لِلَّذِيْ كُنْتُمْ فِيْهِ. فَقَالَ زَيْدٌ: فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبِيْ قَبْلَ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَمِّنُ عَلىَ دُعَائِنَا ثُمَّ دَعَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَقَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ سَائِلُكَ بِمِثْلِ مَا سَأَلَكَ صَاحِبَايَ وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَمِيْن فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَنَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى فَقَالَ سَبَقَكُمَا بِهَا الْغُلاَمُ الدَّوْسِيُّ رواه والنسائي في الكبرى والطبراني في الأوسط وصححه الحاكم

“Dari Qais al-Madani, bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu menanyakan tentang suatu. Lalu Zaid berkata: “Kamu bertanya kepada Abu Hurairah saja. Karena ketika kami, Abu Hurairah dan si fulan berada di Masjid, kami berdoa dan berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, sehingga duduk bersama kami, lalu kami diam. Maka beliau bersabda: “Kembalilah pada apa yang kalian lakukan.” Zaid berkata: “Lalu aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang dimohonkan oleh kedua temanku. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Amin.” Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami juga memohon ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu beliau berkata: “Kalian telah didahului oleh laki-laki suku Daus (Abu Hurairah) itu”. (HR. Nasai dalam al-Kubra No. 5839)

Saling mengaminkan doa orang lain:

Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menceritakan tentang Nabi Musa dan Nabi Harun, salah satunya memimpin doa lainnya dan dikabulkannya doa oleh Allah:

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89)

Boleh berdoa dengan suara keras ketika memimpin doa:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan. ” (HR. Bukhari No. 969)

Demikian pula misalkan seorang pemimpin rombongan haji memimpin jamaahnya agar bersama-sama melafadzkan niat haji maka boleh saja bersuara dengan keras sebagaimana Hadits berikut ini:

أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ خَالِصًا لَا نَخْلِطُهُ بِعُمْرَةٍ فَقَدِمْنَا مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَسَعَيْنَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً وَأَنْ نَحِلَّ إِلَى النِّسَاءِ فَقُلْنَا مَا بَيْنَنَا لَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ فَنَخْرُجُ إِلَيْهَا وَمَذَاكِيرُنَا تَقْطُرُ مَنِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَبَرُّكُمْ وَأَصْدَقُكُمْ وَلَوْلَا الْهَدْيُ لَأَحْلَلْتُ فَقَالَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَمُتْعَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدٍ فَقَالَ لَا بَلْ لِأَبَدِ الْأَبَدِ

“Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencampurnya dengan niat umrah. Dan kami tiba di Mekkah pada malam keempat bulan Dzulhijjah. Maka ketika kami thawaf di Baitullah, dan Sa’i antara Shafa dan Marwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kami untuk menjadikannya sebagai umrah dan segera berkumpul dengan para istri kami. Maka kami saling berkata; ‘Antara kita kini dari hari Arafah hanya tersisa lima hari. Apakah kita harus pergi ke sana (Arafah) sedangkan kemaluan kita mengucurkan mani (kita tengah berhadast)? ‘Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang paling baik dan jujur di antara kalian, seandainya tidak ada (al hadyu), niscaya akan kubolehkan (untuk melakukannya). ‘ Suraqah bin Malik bertanya; ‘Apakah haji Tamattu’ kami hanya diwajibkan untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak tetapi untuk selamanya’. (HR. Ibnu Majah No. 2971)

Sudah sangat jelas bahwa anggapan dan tuduhan-tuduhan bid’an dari golongan Salafi terhadap kerasi dan inovasi dalam amalan-amalan sunnah mutlak sangat tidak berdasar dan bertentangan dengan lebih banyak dalil yang membenarkan amalan-amalan sunnah mutlak yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan umat Islam masing-masing. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengamalkan ibadah sunnah mutlak seperti dzikir bersama dengan suara terdengar. Mengisi amalan-amalan duniawi dengan dzikir, seperti momen syukuran atas anugerah Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Isilah semua waktu dan kesempatan untuk memperbanyak ibadah sunnah mutlak dengan mengharap ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

Bagikan Artikel Ini Ke