Hukum Shalat Sambil Menggendong Anak

Sudah kita ketahui bersama bahwa hukum membawa anak kecil ke masjid adalah boleh. Namun ketika anak yang kita bawa terkadang rewel kemudian menangis, atau tiba-tiba saat sujud dia menunggangi kita. Lalu bagaimanakah hukumnya menggendong seorang anak saat kita shalat? Berikut penjelasannya;

Terkait dengan ini ternyata terdapat sebuah riwayat bahwa Nabi membenarkan seorang yang sedang shalat menggendong anaknya,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِي قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنَ السُّجُوْدِ أَعَادَهَا

Dari Abu Qatâdah al-Anshari Radhiyallahu anhu , ia berkata : saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami para Sahabat sambil menggendong Umamah bin Abi al-Ash, anak Zaenab puteri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di atas bahunya, maka apabila ruku Beliau meletakkannya dan apabila selesai sujud Beliau menggendongnya kembali. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Nabi saat shalat menggondong anak Zainab, apabila berdiri, maka digendongnya, dan apabila ruku’, maka diletakkannya (dilantai) dan apabila selesai sujud maka digendongnya kembali.

Dalam kesempatan lain Nabi juga pernah saat shalat menggendong kedua cucunya Hasan dan Husein yang sangat dicintainya, peristiwa tersebut diabadikan dalam sebuah riwayat Hadits berikut,

عن أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ، فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ، قَالَ: فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ قَالَ: ” إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ”

“Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– suatu ketika pernah shalat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh)… Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali… Maka seusai beliau mengerjakan shalatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)”… Beliau menjawab: “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Allah tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai)”. (Hadits Ahmad Nomor 19611)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عَنْ شداد رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ : ” كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ” [النسائي 1129 والحاكم 4759 وصححه ووافقه الذهبي]

“Syaddad radhiallahu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam pernah datang kepada kami dalam salah satu shalat fardhu malamnya (maghrib atau isya’), sambil menggendong Hasan atau Husein, lalu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- maju ke depan (untuk mengimami), beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husein), lalu bertakbir untuk memulai shalatnya, di tengah-tengah shalatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.” (Hadits Riwayat Nasa’i Nomor 1129 dan Hakim 4759)

Sudah sangat jelas sekali bahwa hukum menggendong anak kecil saat shalat hukumnya boleh. Namun yang patut dimengerti adalah hukum boleh menggendong bayi saat shalat tersebut tentunya si bayi harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok atau pempers yang tentunya berisikan najis.

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke