Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

Kita sering menyaksikan terkadang ketika shalat Jum’at atau shalat ‘Idul Fitri di mana dihadiri jamaah yang sangat banyak sementara tempat tidak mencukupi maka orang shalat dimana saja. Maka sering kita menjumpai jamaah shalat Jum’at kadang terpaut sangat jauh dari imam, ada yang terpisah tembok, ada yang terputus menggerombol sendiri di bawah pohon dan seterusnya.

Hal yang sama kita pernah jumpai pula di masjidil haram di Makkah Al Mukaromah, di mana kini lantai masjidil haram telah bersambung dengan koridor pertokoan dari sebuah hotel kelas atas, maka barisan shaf shalat meluber sampai di depan pertokoan dan lift hotel. Ada sebagian orang membentuk shaf tersendiri dua tiga orang di dalam toko terpisah dari barisan shaf lainnya di lobby hotel. Maka timbul pertanyaan apakah shalat mereka sah atau kalaupun sah apakah dihukumi munfarid (shalat sendirian) ataukah mendapat pahala shalat berjamaah?

Pada masa kini kita juga banyak menjumpai masjid bertingkat 2-3 lantai dimana kadangkala imam shalat berada di lantai teratas atau terbawah sedangkan jamaah yang berada di lantai lainnya tidak melihat imam dan hanya mendengarkan komando imam dari loud speaker. Ada juga masjid yang menyediakan TV yang menayangkan gerakan imam di lantai atasnya.

Maka timbul pertanyaan sejauh mana batasan bolehnya makmum terpisah ruangan dan tidak melihat imam? Dan kalau itu dibolehkakn maka bolehkah bermakmum terhadap imam hanya mendengar dari radio saja? Atau melihat televisi saja? Bolehkah kita bermakmum pada imam masjidil haram melalui siaran langsung shalat taraweh di masjidil haram yang disiarkan televisi?

Makmum Terpisah Menyendiri Di Belakang Barisan Jamaah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang sahabat bernama Abu Bakrah radliallahu ‘anhu pernah shalat menyendiri di belakang barisan/shaf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang shalat berjamaah,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ الْأَعْلَمِ وَهُوَ زِيَادٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Al A’lam -yaitu Ziyad- dari Al Hasan dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 741)

Seandainya shalatnya tidak sah maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menyuruh Abu Bakrah mengulang shalatnya. Adapun perkataan jangan diulangi lagi menunjukkan ke-sunnah-an sehingga berkurangnya kesempurnaan atau keafdhalan shalat berjamaah. (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Berdasarkan hadits di atas Abu Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik (Madzhab Maliki) dan Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) menganggap sah dan tetap mendapat pahala berjamaah bagi orang yang shalat menyendiri di luar barisan atau di belakang barisan tanpa adanya udzur syar’i, namun masih dalam satu masjid.

Walaupun demikian, Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat walaupun sah, hukumnya adalah makruh (tidak disukai) shalat berjamaah secara terpisah menyendiri dari barisan. Dengan kata lain seandainya ia tidak melakukan itu dan shalatnya bergabung dalam barisan, tentu pahalanya akan lebih besar lagi.

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali) berpendapat bukan hanya tidak mendapatkan pahala jamaah bahkan tidak sah shalatnya dan harus mengulang shalatnya yaitu orang yang shalat menyendiri di belakang barisan sampai satu rakaat penuh padahal ia bisa melihat barisan jamaah di depannya. Kecuali jika hanya beberapa gerakan lalu ia berusaha bergabung dengan barisan sehingga tidak sampai satu rakaat penuh menyendiri di luar barisan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdushshamad dan Suraij berkata, telah menceritakan kepada kami Mulazim bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Badr Abdurrahman bin ‘Ali menceritakannya, bapaknya, ‘Ali bin Syaiban berkata,

“Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki shalat di belakang shaf dan berdiri sendiri sampai shalat selesai, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ulangilah shalatmu, karena tidak sah shalat seseorang yang berdiri di belakang shaf sendirian.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15708)

Dalam redaksi lain disebutkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا صَلَاةَ لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

“Tak ada shalat bagi orang yang mendirikannya sendirian dibelakang shaf.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 16297)

Imam Bukhari menjelaskan hadits di atas bahwa hadits tersebut khusus untuk laki-laki (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395) Imam Syaukani berkata: Ulama Salaf berbeda pendapat mengenai sah tidaknya orang yang shalat sendirian di belakang barisan (shaf jamaah). Satu golongan mengatakan tidak sah shalatnya. Yang lain membedakan antara laki-laki atau perempuan. Jika laki-laki tidak sah dan wajib mengulangi shalatnya sedangkan jika perempuan tidak wajib mengulangi shalatnya. Adapun orang yang berpendapat sah berpegang pada hadits (kasus) Abu Bakrah yang sudah mengerjakan sebagian shalat di belakang shaf sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruh mengulang shalatnya. (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Memang dalam hal ini ada pengecualian untuk barisan wanita, di mana wanita walaupun hanya sendirian dianggap sah shafnya. Hal ini karena wanita tidak ditekankan untuk datang shalat berjamaah ke masjid hal ini sebagaimana hadits berikut ini, telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ishaq bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat di rumah Ummu Sulaim,

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 824 dan 685)

Ibnu Bathal menjadikan hadits di atas sebagai dalil sahnya shalat sendirian (bagi laki-laki) di belakang imam. Jika hal ini dibolehkan bagi wanita maka demikian pula untuk laki-laki juga dibolehkan (shalat sendirian di belakang barisan. (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395)

Apabila Antara Imam dan Makmum Dalam Areal Masjid Terhalang Dinding

Sebagian ulama berpendapat tidak mengapa jika makmum dan imam terhalang dinding asalkan masih dapat melihat gerakan imam dan mendengar takbir imam. Hal ini berdasarkan hadits berikut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ فَقَامَ اللَّيْلَةَ الثَّانِيَةَ فَقَامَ مَعَهُ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ صَنَعُوا ذَلِكَ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا حَتَّى إِذَا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَخْرُجْ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ النَّاسُ فَقَالَ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُكْتَبَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian. Orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau, hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. Kemudian pada malam keduanya beliau kembali shalat, dan orang-orangpun mengikuti shalat beliau kembali. Mereka melakukan ini selama dua atau tiga malam hingga setelah malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di rumahnya dan tidak keluar melaksanakan shalat seperti malam sebelumnya. Pada pagi harinya orang-orang mempertanyakannya, lalu beliau bersabda: “Aku khawatir bila shalat malam itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُجْرَتِهِ وَالنَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِهِ مِنْ وَرَاءِ الْحُجْرَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 951)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Salim Abu Nadlr maula Umar bin Ubaidullah, dari Busr bin Sa’id dari Zaid bin Tsabit ia berkata;

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasang tenda dari tikar pada sebuah tempat di Masjid, sehingga menjadikan sebuah kamar tempat beliau shalat (malam). Melihat hal itu, beberapa orang sahabat mendatangi tempat itu dan mereka shalat pula mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat (bermakmum pada Beliau) (Hadits Riwayat Muslim Nomor 1301 Nasai Nomor 754)

Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa orang boleh bermakmum mengikuti imam walaupun imam terpisah dinding dengan makmum selama makmum bisa mengikuti gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir dari imam.

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) membolehkan makmum dan imam terpisah asalkan masih dalam satu areal masjid walaupun mereka terpisah dalam jarak tiga ratus depa atau terhalang tembok, sumur, dan pintu yang tertutup atau imam shalat di awal masjid (depan) sedangkan makmum berada di ujung akhir masjid asalkan tidak ada penghalang. (Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal. 248-251)

Al Hasan berkata: “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” Abu Miljaz berkata: “Boleh mengikuti imam meskipun antara keduanya terpisah jalan atau tembok selama ia dapat mendengar takbirnya (komandonya) imam” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat tidak ada syarat harus satunya tempat antara imam dan makmum. Berbedanya tempat imam dan makmum tidak mencegah sahnya shalat jamaah. Adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini dibolehkan pada semua shalat kecuali untuk shalat jum’at. Imam Malik berpendapat demikian karena mengambil keumuman hadits,

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

“Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian, jika rukuk maka rukuklah kalian, jika sujud maka sujudlah kalian, dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365)

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (Hadits Riwayat Darimi Nomor 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, maka sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang dinding, jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat Jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat Jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Shaf Terhalang Tiang

Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak sah barisan shaf yang terhalang tiang-tiang di antaranya. Maka jika ada tiang di situ hendaknya orang bergeser ke depan atau ke belakang untuk membantuk shaf sehingga dari ujung kanan ke kiri tidak diselingi oleh tiang-tiang. Pendapat ini berdasarkan atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu sebagai berikut,

Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata, “Janganlah kamu menyusun shaf di antara tiang-tiang”. Para ahli ilmu seperti Imam Ahmad dan Ishaq membenci barisan shaf antara tiang-tiang. (AI-Qaulul Mubin Fi Akhthail Mushallin Hal. 231 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman.)

Namun hal ini bukan merupakan pendapat mutlak karena sebagian besar ulama lain berpegang pada keumuman bahwa sah shalat berjamaah walaupun terpisah oleh tirai, dinding, pintu, jendela dan lainnya, apalagi hanya tiang. Hal ini mengambil keumuman hadits yang sudah kami ungkapkan di atas bahwa para sahabat pernah bermakmum pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di kamarnya yang dipisahkan oleh dinding, dan suatu ketika dipisahkan oleh tirai dari tikar.

Shaf Pria Diselingi Shaf Wanita

Imam Hanafi berpendapat bahwa tidak sah barisan jamaah pria yang terhalang dengan shaf wanita. Juga dimakruhkan jika seorang pria shalat sementara di hadapannya ada seorang wanita yang juga sedang shalat. Abu Hanifah mengambil keumuman hadits. Dari Abdurrazaq dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu merafa’kan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللهُ

“Akhirkanlah barisan mereka (wanita) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka” (Hadits Riwayat Thabrani)

Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Ada juga yang berdalil dengan perkataan Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu sebagai berikut; Umar radliallahu ‘anhu berkata: “Seorang makmum yang terpisah dengan imam oleh sungai atau jalan atau barisan wanita maka shalatnya tidak sah”.

Namun Imam Nawawi berkata: ”atsar tersebut tidak ada asalnya”. Atsar yang diriwayatkan dari Umar melalui jalur Laith bin Abi salim dari Tamim adalah dha’if karena Laith ini adalah perawi dha’if dan Tamim tidak dikenal (majhul). Sehingga atsar ini tidak dapat dijadikan dalil.

Hadits yang shahih menyebutkan tentang urutan shaf dalam shalat adalah sebagai berikut;

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –: (( خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang pertama, dan sejelek-jeleknya adalah yang terakhir. Sedangkan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang paling jeleknya adalah yang pertama.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 440)

Ada juga yang berdalil dengan hadits,

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 824 dan 685)

Maka hadits-hadits di atas menunjukkan urutan shaf wanita yang harus di belakang shaf laki-laki. Ibnu Hajar Asqolani mensyarah hadits di atas mengatakan: “Hadits di atas menjadi dalil bahwa wanita jika sendirian tetap tidak boleh satu shaf dengan barisan laki-laki dan sah membentuk barisan walau hanya seorang diri. Hadits ini menjelaskan bahwa wanita tidak boleh masuk barisan laki-laki karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Walaupun demikian, apabila wanita menyalahi hal ini shalatnya tetap sah menurut jumhur ulama kecuali madzhab Hanafi.

Menurut madzhab Hanafi rusak shalatnya laki-laki jika masuk di dalamnya seorang wanita. Pendapat ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud: “Tempatkanlah mereka dibelakang sebagaimana Allah menempatkan mereka”. Maka menurut Imam Hanafi perintah ini mengindikasikan wajib sehingga jika dilanggar rusaklah shalatnya. (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 394)

Namun Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) Yang benar adalah hadits tersebut mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Sedangkan menurut Mazhab Maliki, Hambali dan Syafi’i hadits yang menyebutkan tentang urutan shaf wanita di belakang laki-laki adalah sunnah namun tidak membatalkan shalat barisan laki-laki maupun barisan wanita seandainya shaf wanita sejajar dengan laki-laki. Demikian pula jika ada seorang wanita atau barisan wanita berada di shaf laki-laki tidak batal shalatnya orang yang berada di sampingnya atau belakangnya atau di depannya maupun shalat si wanita itu sendiri, melainkan hanya berkurang kesempurnaanya (Fiqhul Islam Wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 361)

Shaf Diselingi Jalan dan Sungai

Imam Syafi’i berpendapat jika Imam berada di dalam masjid sedangkan makmum ada di luar masjid maka tidak mengapa jika terpisah sampai jarak 300 depa terhitung dari akhir bangunan masjid. Tidak mengapa pula jika ada pemisah atau terhalang jalan, sungai besar yang bisa dilalui perahu dan dapat direnangi. (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 353)

Al Hasan berkata: “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini mengambil keumuman hadits:

Dari Anas bin Malik, beliau bersabda: “Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365 dan Ad-Darimi Nomor 1228)

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365 dan Darimi Nomor 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Shaf Tidak Bersambung Di Lapangan

Abu Hanifah (generasi tabi’in) yaitu imam madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat di lapangan hendaknya dalam satu barisan itu tidak kosong lebih dari jarak 9 orang, sedangkan jika satu barisan shaf itu ada kosong kurang dari sembilan orang tidak mengapa.

Imam Syafi’i mengatakan jika imam dan makmum berada di padang pasir (lapangan) jika barisan makmum terpisah dengan imam sampai jarak lebih dari 300 depa maka tidak mengapa dan sah shalat berjamaah asalkan tidak terhalang dinding, pintu atau jendela atau jalan yang orang dan kendaraan berlalu lalang di situ atau sungai besar yang memisahkan imam dan makmum.

Madzhab Hambali berpendapat jika imam dan makmum berada di lapangan maka shalat berjamaah sah dengan syarat makmum dapat melihat punggung imam, maka jika makmum tidak melihat imam atau sebagian dari punggung imam maka tidak sah shalat berjamaah meskipun makmum masih dapat mendengar suara takbir imam. Keharusan melihat punggung Imam oleh Imam Ahmad bin Hambal adalah berdasarkan hadits Aisyah,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Hadits di atas menurut Imam Ahmad menunjukkan dibolehkannya terpisah dan adanya penghalang antara Imam dan Makmum asalkan masih dapat melihat sebagian punggung imam.

Sementara Imam Ahmad juga mengatakan tidak sah shalat berjamaah jika antara imam dan makmum itu terpisah oleh sungai yang bisa dilewati perahu demikian pula jika terputus oleh jalan yang cukup lebar bisa dilewati kendaraan. (Fiqhul Islam wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 354)

Sementara itu Imam Malik (Madzhab Maliki) secara total membolehkan shalat di lapangan dimana Imam dan Makmum terpisah oleh jalan, sungai dan dinding, sehingga sah shalat jamaahnya.

Shaf Terpisah Dengan Bangunan Bertingkat

Pada masa kini sebagian masjid ada yang bertingkat beberapa lantai. Maka dalam hal ini ada empat kemungkinan yaitu:

  1. Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Bawah
  2. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah
  3. Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Atas
  4. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Mari kita bahas hukum dari empat kemungkinan ini satu persatu:

Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Bawah

Sebagian ulama mengatakan hal ini tidak boleh dengan berdalil pada hadits yang melarang imam berada lebih tinggi dari makmum,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو خَالِدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ حَدَّثَنِي رَجُلٌ أَنَّهُ كَانَ مَعَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ بِالْمَدَائِنِ فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَتَقَدَّمَ عَمَّارٌ وَقَامَ عَلَى دُكَّانٍ يُصَلِّي وَالنَّاسُ أَسْفَلَ مِنْهُ فَتَقَدَّمَ حُذَيْفَةُ فَأَخَذَ عَلَى يَدَيْهِ فَاتَّبَعَهُ عَمَّارٌ حَتَّى أَنْزَلَهُ حُذَيْفَةُ فَلَمَّا فَرَغَ عَمَّارٌ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لَهُ حُذَيْفَةُ أَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أَمَّ الرَّجُلُ الْقَوْمَ فَلَا يَقُمْ فِي مَكَانٍ أَرْفَعَ مِنْ مَقَامِهِمْ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ قَالَ عَمَّارٌ لِذَلِكَ اتَّبَعْتُكَ حِينَ أَخَذْتَ عَلَى يَدَيَّ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Abu Khalid dari Adi bin Tsabit Al-Anshari telah menceritakan kepada saya Seorang laki-laki yang pernah bersama Ammar bin Yasir sewaktu di Mada`in, ketika iqamat shalat telah dikumandangkan, ‘Ammar maju untuk menjadi imam dan dia berdiri di atas bangku panjang, sementara para makmum berada di bawahnya, lalu Hudzaifah maju dan menarik tangan ‘Ammar dan ‘Ammar pun mengikutinya hingga dia diturunkan ditempat yang sejajar oleh Hudzaifah. Setelah ‘Ammar selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya; Apakah kamu belum pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang mengimami suatu kaum, maka janganlah dia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka”, atau semisal ucapan tersebut. Ammar berkata; Maka dari itu saya mengikutimu tatkala kamu menarik tanganku.” (Hadits Riwayat Abu Daud Jilid 1 Hal. 163 Nomor 506)

Juga hadits berikut ini: Dari Abu Mas’ud Al-Anshari ia berkata,

نهى رسول الله أن يقوم الإمام فوق شيء والناس خلفه – يعني أسفل منه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang di belakangnya lebih rendah darinya” (Hadits Riwayat Daruqutni dan Imam Al Hakim)

Jika kita melihat dua hadits di atas maka sepintas dapat disimpulkan bahwa Imam berada lebih tinggi dari makmum adalah dilarang, jika tidak haram maka hukumnya adalah makruh. Namun dalam hadits lain diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas mimbar sementara makmum mengikuti di bawahnya,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَأَلُوا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ الْمِنْبَرُ فَقَالَ مَا بَقِيَ بِالنَّاسِ أَعْلَمُ مِنِّي هُوَ مِنْ أَثْلِ الْغَابَةِ عَمِلَهُ فُلَانٌ مَوْلَى فُلَانَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عُمِلَ وَوُضِعَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ كَبَّرَ وَقَامَ النَّاسُ خَلْفَهُ فَقَرَأَ وَرَكَعَ وَرَكَعَ النَّاسُ خَلْفَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ بِالْأَرْضِ فَهَذَا شَأْنُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim berkata, “Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa’d tentang terbuat dari apa mimbar Rasulullah? Maka dia berkata, “Tidak ada seorangpun yang masih hidup dari para sahabat yang lebih mengetahui masalah ini selain aku. Mimbar itu terbuat dari batang pohon hutan yang tak berduri, mimbar itu dibuat oleh seorang budak wanita untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika selesai dibuat dan diletakkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri pada mimbar tersebut menghadap kiblat. Beliau bertakbir dan orang-orang pun ikut shalat dibelakangnya, beliau lalu membaca surat lalu rukuk, dan orang-orang pun ikut rukuk di belakangnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mundur ke belakang turun dan sujud di atas tanah. Kemudian beliau kembali ke atas mimbar dan rukuk, kemudian mengangkat kepalnya lalu turun kembali ke tanah pada posisi sebelumnya dan sujud di tanah. Itulah keberadaan mimbar.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 364)

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) berpendapat “Boleh kalau imam bermaksud mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, (setelah itu) saya lebih menyukai Imam shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat di atas mimbar, kecuali hanya satu kali saja (yaitu hadits dari Sahl bin Sa’d)”(Al Umm Hal. 310)

Senada dengan Syafi’i Ibnu Hibban berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud. Dengan demikian, kedua hadits (yang melarang dan membolehkan) itu tidak saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Sementara pendapat lain membolehkan secara mutlak dalam semua kondisi (tidak hanya ketika mengajari shalat) Imam boleh sendirian di tempat lebih tinggi (termasuk lantai atas) sementara makmum ada di bawah nya Ini adalah salah satu pendapat dari Ashab Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali), Ibnu Hazm (Mazhab Zhahiri), dan Ad-Darimi.

Hal ini didukung oleh riwayat yang menceritakan bahwa posisi kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu agak ke atas dari lantai masjid sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ أَبِي سَرِيحَةَ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غُرْفَةٍ وَنَحْنُ أَسْفَلَ مِنْهُ فَاطَّلَعَ إِلَيْنَا فَقَالَ مَا تَذْكُرُونَ قُلْنَا السَّاعَةَ

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz Al Ambari telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazzaz dari Abu Ath Thufail dari Abu Sarihah Hudzaifah bin Usaid berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berada di kamar sementara kami berada dibawah, beliau melihat kami dari atas lalu bertanya: “Apa yang kalian bicarakan?” Kami menjawab: Kiamat.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 5163)

Sedangkan para sahabat pernah bermakmum pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shalat ada di kamarnya (yang posisinya lebih tinggi dari lantai masjid),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُجْرَتِهِ وَالنَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِهِ مِنْ وَرَاءِ الْحُجْرَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 951)

Ada juga atsar dai Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Atsar R Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Abu ‘Abdullah berkata, ‘Ali Al Madini berkata, Ahmad bin Hambal bertanya kepadaku (ali Madini) tentang hadits di atas. Ia katakan, “Yang aku maksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam posisinya lebih tinggi daripada orang-orang. Maka tidak mengapa seorang imam posisinya lebih tinggi daripada makmum berdasarkan hadits ini.” Sahl bin Sa’d berkata, “Aku katakan, “Sesungguhnya Sufyan bin ‘Uyainah sering ditanya tentang masalah ini, ‘Apakah Anda tidak pernah mendengarnya? ‘ Ahmad bin Hambal menjawab, “tidak.”

Ibnu Rajab juga mengisahkan sebuah percakapan dengan Imam Ahmad yaitu ketika Beliau ditanya, “Bolehkah seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam (di bawahnya)?” Beliau (Imam Ahmad) menjawab, “Boleh, namun jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.” Beliau ditanya lagi, “Ada riwayat Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng (rumah Abu Nafi’).” Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.” Ibnu Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud Imam Ahmad adalah bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga dapat dianggap shaf-shaf bersambung. (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan” (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Imam Dan Sebagian Barisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah

Jika imam ada di lantai atas dan beberapa barisan shaf ada satu lantai di belakangnya, maka barisan shaf yang lain yang ada di lantai bawah dibolehkan walaupun terpisah dinding. Pada dasarnya barisan makmum dan imam sejajar satu lantai sehingga tidak perlu dipersoalkan. Adapun barisan makmum lainnya yang ada di lantai bawah adalah dihukumi sama dengan kasus shaf yang terhalang dinding namun masih termasuk satu bangunan dengan masjid, maka tidak ada perselisihan hukumnya adalah boleh.

Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Atas

Madzhab Syafi’i berkata bahwa atap masjid dan balkon masjid asalkan masih merupakan bagian dari bangunan masjid maka itu dianggap termasuk masjid, sehingga tidak mengapa makmum berada di atap masjid bermakmum pada imam di bawahnya.

Madzhab Hambali mengatakan dibolehkan orang berada di atap masjid bermakmum pada imam yang ada di bawahnya . Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa ia (Abu Hurairah) pernah bersolat di bahagian atas masjid mengikuti imam (yang berada di bawa) (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahawa atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi syaibah dari riwayat Sholeh maula Tauamah. Sholeh berkata: “aku pernah bersolat bersama Abu Hurairah di bagian atas masjid dengan mengikuti imam (di bawahnya)“.

Sholeh ini adalah lemah tetapi Sa’id Ibnu Mansur telah meriwayatkan dari jalan yang lain dari Abu Hurairah maka ia menguatkan riwayat Sholeh ini. Sa’id bin Mansur juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Hasan Al Basri tentang seorang lelaki yang shalat di tingkat atas bangunan mengikut imam. Hasan Al Basri berkata: “tidak mengapa dengan keadaan ini”.

Dari Sa’di bin Salim telah berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah shlat maghrib di bagian atas masjid dan ada lelaki lain bersamanya mengikuti imam ( di bawahnya)“. (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Imam Syaukani berkata:”Apabila lokasi makmum terlalu tinggi dari imam misalkan 300 kaki dan makmum tidak dapat mengetahui gerakan imam, maka hal ini terlarang berdasarkan ijma ulama, tanpa membedakan apakah shalat berjamaah tersebut dilaksanakan di masjid atau bukan masjid (lapangan yaitu misal makmum di atas tebing). Namun apabila jaraknya kurang dari 300 kaki, maka hukum asalnya adalah boleh sehinggalah datang dalil yang melarang di mana keharusan ini didukung oleh riwayat dari Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas dan perbuatan beliau itu tidak diingkari

Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Jika imam ada di lantai bawah dan beberapa barisan shaf berada satu lantai di belakangnya, maka tidak ada yang peru dipersoalkan. Adapun barisan shaf yang lain yang ada di lantai atas jika terpisah dinding maka dihukumi menurut pembahasan shalat terpisah dinding yaitu boleh karena masih satu bangunan dengan masjid dan tidak mengapa jika terhalang dinding, pagar dll asalkan masih dapat mengetahui gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir imam. Apalagi jika tidak terpisah dinding (seperti balkon) dimana makmum masih dapat melihat sebagian imam dan mendengar suara imam, maka shalat makmum yang di atas itu sah dan dibolehkan.

Imam Dan Makmum Berbeda Bangunan

Menurut Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali tidak sah makmum yang berbeda tempat dengan imam. Jika berbeda tempat dengan imam maka batal-lah keikutsertaan dalam jamaah tersebut. Definisi berbeda nya tempat itu berbeda beda lagi pendapat. Sebagain berpendapat terpisah nya barisan makmum dengan imam, itu jika dipisahkan oleh shaf wanita, tembok, jalanan, dan sungai. Hal ini berdasarkan atsar (perkataan) sahabat Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu: “Seorang makmum yang terpisah tempatnya dengan imam karena adanya sungai, jalan atau shaf wanita, maka shalatnya tidak sah”

Menurut Madzhab Syafi’i jika imam dan makmum berada di dua bangunan yang terpisah maka tergantung dari posisi bangunan makmum. Jika bangunanmakmum di belakang bangunan imam maka sah jamaahnya jika jaraknya tidak melebihi 300 depa terhitung dari akhir bangunan tempat imam dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam. Tidak mengapa jika diselingi jalan atau sungai antara satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Jika bangunan itu di sebelah kanan atau kiri bangunan imam, maka disyartkan barisan shalat bersambung dari satu bangunan ke bangunan lainnya dan tidak mengapa jika ada satu sela kecil yang tidak memungkinkan orang shalat di dalamnya.

Sedangkan untuk perahu yang terpisah maka Imam Syafi’i berpendapat: Tidak mengapa jika imam berada di satu perahu dan makmum berada di perahu lain sepanjang jaraknya tidak lebih dari 300 depa dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam. (Al Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal 248-251)

Madzhab Hambali mengatakan tidak sah jika seseorang makmum berbeda gedung dengan imam hal ini berdasarkan riwayat Anas bin Malik: Demikian pula tidak boleh seorang makmum berada di suatu unta dan imam ada di unta yang lain atau makmum berada di satu kapal dan imam berada di kapal yang lain. Namun Imam Ahmad bin Hambal membolehkan hal ini jika situasinya dalam keadaan perang atau alasan lain yang tidak bisa dihindari. Hal ini sebagaimana hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah juga shalat berjamaah dalam keadaan berada di unta masing-masing. (Kasysyaf Al Qinaa ‘ Jilid 1 Hal 579-580)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الرَّمَّاحِ الْبَلْخِيُّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ بْنِ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ فَانْتَهَوْا إِلَى مَضِيقٍ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَمُطِرُوا السَّمَاءُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَالْبِلَّةُ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَأَذَّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَقَامَ أَوْ أَقَامَ فَتَقَدَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ فَصَلَّى بِهِمْ يُومِئُ إِيمَاءً يَجْعَلُ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنْ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ar Rammah Al bakhil dari Katsir bin Ziyad dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Ayahnyadari Kakeknya bahwasanya mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, hingga sampailah mereka pada jalan sempit, lalu waktu shalat tiba sedangkan langit dalam keadaan hujan dan kondisi tanah tergenang air. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian adzan di atas kendaraannya, lalu beliau iqamah dan maju ke depan. Setelah itu beliau shalat bersama para sahabat dengan merunduk, beliau menjadikan sujud lebih rendah dari rukuk.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 376)

Abu Isa (Tirmdizi) berkata; “Hadits ini derajatnya hasan dan gharib. Umar bin Ar Ramman Al Bakhil meriwayatkan hadits ini secara gharib (asing), tidak diketahui ada hadits lain kecuali dari haditsnya, dan tidak hanya satu orang ulama yang meriwayatkan darinya. Maka Tirmidzi menaikkan derajat hadits ini yang semula dha’if karena terdapat riwayatkan oleh ulama lain dari berbagai jalur maka yang dha’if tadi bisa dinaikkan menjadi hasan.

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Hisyam bin Urwah bahwa Bapaknya berkata kepadanya,

“Jika kamu dalam sebuah perjalanan, sementara kamu ingin adzan dan iqamat, maka lakukanlah. Dan jika mau, kamu boleh iqamat saja tanpa adzan.” Yahya berkata, “Saya mendengar Malik berkata, “Tidak mengapa seorang laki-laki mengumandkan adzan, meskipun ia di atas kendaraannya.” (Atsar Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha’ Nomor 145)

Shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kendaraan (Yang dikisahkan pada hadits di atas) bersama-sama dengan para sahabat (berjamaah) dengan didahului oleh adzan dan iqomah jelas adalah shalat fardhu, karena tidak pernah shalat sunnah didahului adzan dan iqomah. Hal ini merupakan dalil bahwa dalam situasi memang tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan (yaitu karena hujan dan becek) maka shalat wajib di atas kendaraan adalah dibolehkan.

Madzhab Maliki berpandangan bahwa jika imam berada di satu bangunan dan makmum berada di bangunan lain maka hal ini dibolehkan dan sah shalat jamaahnya sepanjang makmum bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbir imam. Adapun ketersambungan barisan shaf hanya disyaratkan pada shalat Jum’at dan tidak disyaratkan pada shalat lainnya termasuk shalat fardhu.

Sementaa sebagian ulama lain membolehkan Imam dan Makmum terpisah bangunan jika ada alasannya seperti masjid telah penuh. Hal ini berdasarkan Atsar dari Hisyam bin Urwah,

“Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan” (Atsar Riwayat Abdurrazzaq, Jilid 3 Hal 82)

Dan Juga berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Atsar Riwayat Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Atsar dari Anas bin Malik di atas menjelaskan bahwa ia shalat Jum’at pada bangunan yang terpisah dari bangunan tempat imam berada, yaitu di sebuah rumah yang terletak di sebelah kanan masjid di kota Basrah dan letaknya pun lebih tinggi dari masjid.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh Ustadz Abu Akmal Mubarok, dengan sedikit penyempurnaan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

Bagikan Artikel Ini Ke