Hukum Puasa Rajab Sesuai Tuntunan Sunnah

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Diantara dua belas bulan Hijriyah terdapat beberapa bulan yang dimuliakan. Begitu mulianya sampai-sampai Allah mengabdikan bulan tersebut dalam firman-Nya yang berbunyi,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At-Taubah[9]: 36)

Dari empat bulan tersebut salah satunya ialah bulan Rajab hal ini dijelaskan dalam hadits shohih yang berbunyi:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Zaman (masa) terus berjalan dari sejak awal penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan al-Muharam serta Rajab yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari No. 2958)

Namun sangat memprihatinkan bahwa pada dekade akhir-akhir ini setiap menjelang dan pada saat memasuki bulan Rajab kita selalu disuguhi kontroversi boleh tidaknya berpuasa di bulan Rajab, untuk menghilangkan kesubhatan kita dalam hati menganai persoalan ini tidak ada salahnya kita mengkaji hukum puasa Rajab langsung berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits agar pemahaman kita seimbang. Berikut kami sodorkan beberapa pandangan baik yang kontra maupun yang pro terhadap amaliah puasa Rajab;

A. Argumentasi yang digunakan oleh mereka yang membid’ahkan puasa Rajab

Pertama:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر

“Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)

Derajat Hadits: Lemah

Kedua:

رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله

“Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)

Derajat Hadits: Lemah

Penilaian Ulama Salafi (Pengikut faham Muhammad bin Abdul Wahab):

  1. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49).
  2. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213)
  3. Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).
  4. Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”
  5. Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394)

B. Tanggapan Ulama Sunni Untuk Golongan Yang Membid’ahkan Puasa Rajab;

Kebiasaan golongan ini selalu menuduh golongan lain beramal tanpa dasar, seandainya ada dasarnyapun mereka menganggap semuanya lemah. Mereka selalu menukil sebagian dalil yang mereka suka dan menyembunyikan dalil lain yang mereka tidak suka, padahal jelas ancaman bagi orang yang berprilaku dusta dalam agama,

مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang sengaja melakukan kedustaan atas namaku, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka’.” (HR. Bukhari No. 5729 & Muslim No. 3)

Mereka lebih senang mngemukakan dalil-dalil yang memang lemah namun mereka selalu menyembunyikan dalil-dalil yang sahih karena memang tidak sesuai manhaj nafsu keagamaan meraka, Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, (QS. Al-Baqarah Ayat 159)

Berikut dalil-dalil sahih puasa bulan Rajab yang selalu mereka sembunyikan,

Pertama:

Hadits riwayat Muslim

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

“telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim Al Anshari] ia berkata; Saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair] mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan. Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar [Ibnu Abbas] radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (HR. Muslim Nomor 1960)

Kedua:

Hadits-hadits bermakna senada yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Ibnu Majah, dan Ahmad

عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

“dari [Mujibah Al Bahili], dari [ayahnya] atau pamannya bahwa ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian pergi, kemudian ia datang kepada beliau setelah satu tahun, dan keadaan serta penampilannya telah berubah. Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalku? Beliau berkata: “Siapa kamu?” Ia berkata; saya adalah Al Bahili yang telah datang kepada engkau pada tahun pertama. Beliau berkata: “Apakah yang telah mengubahmu? Dahulu penampilanmu baik.” Ia berkata; saya tidak makan kecuali pada malam hari semenjak saya berpisah dengan engkau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” kemudian beliau berkata: “Berpuasalah pada bulan yang penuh kesabaran (Bulan Ramadhan), dan satu hari setiap bulan.” Ia berkata; tambahkan untukku, karena sesungguhnya saya kuat. Beliau berkata: “Berpuasalah dua hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah tiga hari!” Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: “Berpuasalah sebagian dari bulan hurum (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram).” Beliau mengatakannya dengan memberi isyarat menggunakan ketiga jari-jarinya, beliau menggenggamnya kemudian membukanya. (HR. Abu Daud Nomor 2073)

مِنْ بِاهِلَةَ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَنْ عَمِّهَا قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَةٍ مَرَّةً فَقَالَ مَنْ أَنْتَ قَالَ أَوَ مَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ أَوَّلٍ قَالَ فَإِنَّكَ أَتَيْتَنِي وَجِسْمُكَ وَلَوْنُكَ وَهَيْئَتُك حَسَنَةٌ فَمَا بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى فَقَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا أَفْطَرْتُ بَعْدَكَ إِلَّا لَيْلًا قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ رَمَضَانَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي فَقَالَ فَصُمْ يَوْمًا مِنْ الشَّهْرِ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ فَيَوْمَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ وَمَا تَبْغِي عَنْ شَهْرِ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ فِي الشَّهْرِ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ فَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ قَالَ وَأَلْحَمَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ فَمَا كَادَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ فَمِنْ الْحُرُمِ وَأَفْطِرْ

“dari Bahilah, dari [Ayahnya] atau dari pamannya, dia berkata; “Suatu kali, aku pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Beliau kemudian bersabda: “Siapakah kamu?.” Dia berkata, ‘Tidakkah Anda mengenal saya? ‘ Beliau bersabda lagi: “Siapakah kamu?.” Dia berkata; ‘Saya adalah orang Bahili yang mendatangi Anda pada tahun pertama.’ Beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu dulu mendatangiku dengan badan, warna kulit, dan penampilan yang bagus. Lantas apa yang menyebabkanmu menjadi sebagaimana yang kulihat ini?.” Dia menjawab; ‘Demi Allah, saya tidak pernah makan setelah (aku berpisah dengan) anda kecuali di malam hari.’ Sabda beliau: “Siapakah yang memerintahkanmu menyiksa diri? ‘Siapakah yang memerintahkanmu menyiksa diri? ‘Siapakah yang memerintahkanmu menyiksa diri?.” (beliau mengulanginya hingga tiga kali), Berpuasalah pada bulan kesabaran, yaitu Ramadhan.” Aku berkata; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya’. Sabda beliau: “Berpuasalah satu hari setiap bulan.” Kukatakan, ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “Berpuasalah dua hari setiap bulan.” Kukatakan; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “Kamu tidak akan mampu melaksanakan pada bulan kesabaran (Ramadhan) dan dua hari pada tiap bulan.” ‘Aku berkata; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “Kalau begitu, tiga hari.” Beliau berkata sembari menajamkan pandangannya pada kali yang ketiga. Aku tetap saja berkata; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “(Berpuasalah) pada bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram), dan berbukalah.” (HR. Ahmad Nomor 19435)

عَنْ أَبِي مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَوْ عَنْ عَمِّهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“dari [Abu Mujibah Al Bahili] dari [Bapaknya] atau dari [Pamannya] ia berkata, “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku adalah seorang yang mendatangimu pada tahun pertama. ” Beliau bertanya: “Kenapa aku melihat tubuhmu menjadi kurus?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak makan di siang hari, aku makan di malam hari. ” Beliau bertanya: “Siapa yang memerintahkanmu untuk menyiksa diri?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, tapi aku mampu! ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan sabar (ramadlan) dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Berpuasalah pada bulan ramadlan dan dua hari setelahnya. ” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku masih kuat. ” Beliau bersabda: “Puasalah pada bulan ramadlan, tiga hari setelahnya, dan pada bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram). ” (HR. Ibnu Majah Nomor 1731)

Ketiga:

Hadits riwayat Usamah Bin Zaid

حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“telah menceritakan kepadaku [Usamah bin Zaid] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau juga berbuka beberapa hari hingga hamir beliau tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Dan tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban, Aku bertanya; ‘Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis.” Beliau bersabda: “Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa.” Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad Nomor 20758)

Keempat:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ يَعْنِي ابْنَ حَكِيمٍ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ فَقَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

“telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim], ia beraka; saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair], mengenai puasa Rajab. Ia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Abbas], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami mengatakan; beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan; beliau tidak berpuasa. (HR. Abu Daud Nomor 2075)

Penilaian Ulama Sunni:

  1. Tanggapan Hadits Riwayat Muslim Nomor 1960

Dari riwayat tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh.

Artinya di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib. Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW, jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya itu menunjukan amalan itu bukan suatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

  1. Tanggapan Hadits Riwayat Muslim Nomor 1960

Imam nawawi menjelaskan hadits tersebut.

قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ” إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع 6/439

“Sabda Rasulullah SAW :

صم من الحرم واترك

“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah” (HR. Abu Daud Nomor 2073) (HR. Ahmad Nomor 19435) (HR. Ibnu Majah Nomor 1731)

Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa di bulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan. “Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 6 hal. 439

  1. Tanggapan Hadits Riwayat Ahmad Nomor 20758

Imam Syaukani menjelaskan

ظاهر قوله في حديث أسامة : إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب ; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به . نيل الأوطار 4/291

Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan” ini menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rajab dengan berpuasa”. Naylul Author juz 4 hal 291

  1. Tanggapan Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 2075

Pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra. menunjukkan bahwa nabi terbiasa berpuasa pada bulan Rajab, namun digambarkan puasa beliau tidak dalam satu bulan penuh melainkan terkadang puasa dan juga terkadang tidak puasa.

  1. Berikut beberapa fatwa ulama empat madzhab tentang puasa Rajab:

1. Pendapat Ulama’ Madzhab Hanafi

)المرغوبات من الصيام أنواع ( أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ). اهـ

“Puasa yang disunnakahkan itu bermacam-macam: Puasa Muharrom, Puasa Rajab, Puasa Sya’ban, Puasa ‘Asyuro’ (tgl. 10 Muharrom)” (Disebutkan dalam Fatawa Al-Hindiyah Juz 1 Hal. 202)

  1. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Maliki

أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ). اهـ

“Sesungguhnya disunnahkan puasa di bulan Muharrom dan puasa di bulan Rajab.” (Disebutkan dalam Syarh Al-Khorsyi ‘Ala Kholil Juz 2 Hal. 241)

  1. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Syafi’i

قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم. اهـ

“Berkata Ulama’ kami : Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rajab sedangkan yang paling utama adalah Muharrom”. (Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) juz 6 hal. 439)

  1. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Hanbali

فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ). اهـ

“Fasal : Dan dimakruhkan mengkhususkan Rajab dengan puasa, Imam Ahmad berkata “Apabila seseorang berpuasa bulan Rajab maka berbukalah sehari atau beberapa hari sekiranya ia tidak puasa sebulan penuh, Imam Ahmad berkata “Barangsiapa terbiasa puasa setahun maka boleh berpuasa sebulan penuh kalau tidak biasa puasa setahun janganlah berpuasa terus-menerus dan jika ingin puasa Rajab sebulan penuh hendaknya ia berbuka di bulan Rajab (biarpun sehari) agar tidak menyerupai Ramadhan”. (Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al-Mughni juz 3 hal. 53)

C. Syubhat Syariah

  1. Yang sangat perlu difahami di dalam berhukum Islam adalah setiap tindakan akan dapat dibenarkan oleh agama bila didasari pertama adanya perintah maka konsekwensi hukumnya kalau tidak wajib maka sunnah. Dan kedua adalah adanya larangan maka konsekwensi hukumnya kalau tidak haram maka makruh. Namun bila tidak ada perintah maupun larangan maka hukumnya mubah. Seingga bila ada pihak-pihak yang mempersoalkan sebuah amaliyah dalam Islam yang mana tidak ada larangan yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadits untuk dilakukan maka sikap itu tergolong KIDZBAH (kedustaan) dalam agama, Allah berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

  1. Mengamalkan amaliah menggunakan dalil umum itu hukum asalnya boleh (mubah)

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalah halal (sampai ada dalil yang mengharamkannya).”

Berikut dalil-dalil umum anjuran memperbanyak puasa:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Semua amal anak adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya” (HR. Imam Bukhori No.5472)

لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari qiamat” (HR. Muslim No.1942)

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka” (HR. Bukhori No.1063 dan Muslim No.1969)

  1. Pertentangan hadits

Memang ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab Sunan Ibnu Majah Nomor 1733 dhohirnya memang melarang, hadits yang dimaksud adalah,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ

“dari [Ibnu Abbas] berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang puasa rajab. ” (HR. Ibnu Majah Nomor 1733)

Larangan berpuasa Rajab juga difatwakan oleh ulama mereka,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290)

Namun hadits ini bertentangan dengan hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab Sunan Abu Daud Nomor 2075 dimana nabi sering berpuasa Rajab. Sebagaimana sabda Nabi,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ يَعْنِي ابْنَ حَكِيمٍ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ فَقَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

“telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim], ia beraka; saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair], mengenai puasa Rajab. Ia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Abbas], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami mengatakan; beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan; beliau tidak berpuasa. (HR. Abu Daud Nomor 2075)

Bila dikaji lagi secara mendalam sebetulnya maksud pelarangan nabi untuk berpuasa Rajab pada hadits tersebut bukan pada faktor puasanya namun lebih pada larangan berpuasa secara terus menerus karena itu melawan fitrah manusia yang butuh makan dan juga menjaga kesehatan, dilalah (petunjuk) makna tersebut dapat dilihat pada hadits berikut,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا غَيْلَانُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ شُعْبَةُ قُلْتُ لِغَيْلَانَ الْأَنْصَارِيِّ فَقَالَ بِرَأْسِهِ أَيْ نَعَمْ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِهِ فَغَضِبَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيتُ أَوْ قَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا قَالَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَدْ قَالَ وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِبَيْعَتِنَا بَيْعَةً قَالَ فَقَامَ عُمَرُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَجُلٌ صَامَ الْأَبَدَ قَالَ لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ أَوْ مَا صَامَ وَمَا أَفْطَرَ

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Ghailan bin Jarir] dari [‘Abdullah bin Ma’bad Az Zammanni] dari [Abu Qatadah]. Syu’bah berkata; Aku pernah berkata kepada Ghailan Al Anshari, dan ia menjawab ‘Iya’ dengan isyarat kepalanya, bahwa seseorang bertanya Nabi Shallallahu’alaihiWasallam tentang puasanya, ternyata beliau marah kemudian ‘Umar berkata; Aku rela -atau berkata; Kami rela, Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama.” Aku mengetahuinya berkata; Muhammad sebagai rasul dan baiat kami sebagai baiat. Lalu ‘Umar atau seseorang lainnya berdiri dan berkata; Wahai Rasulullah! Bagaimana tanggapan anda mengenai orang yang puasa terus menerus?. Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Berarti orang itu tidak puasa dan tidak pula berbuka” atau bersabda; “Ia dianggap tidak puasa dan tidak berbuka.” (HR. Ahmad Nomor 21498)

Ini menunjukkan bahwa maksud nabi melarang berpuasa bulan Rajab adalah bukan pada puasa Rajabnya, namun larangan berpuasa rajab yang dilakukan menyerupai bulan Ramadhan dengan dilakukan secara utuh, berarti boleh melaksanakan puasa bula Rajab bila dilakukan secara acak. Sabda nabi,

قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ فَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ قَالَ وَأَلْحَمَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ فَمَا كَادَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً وَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ تَزِيدَنِي قَالَ فَمِنْ الْحُرُمِ وَأَفْطِرْ

‘Aku berkata; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “Kalau begitu, tiga hari.” Beliau berkata sembari menajamkan pandangannya pada kali yang ketiga. Aku tetap saja berkata; ‘Sesungguhnya saya masih kuat dan saya ingin Anda menambahnya untuk saya.’ Beliau bersabda: “(Berpuasalah) pada bulan-bulan haram, dan berbukalah (jangan terus menerus).” (HR. Ahmad Nomor 19435)

  1. Hukum mengamalkan hadits dha’if

Menurut jumhur ulama sunni sebagaimana pandangan Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah bahwa seandainyapun sebuah amal tidak ada dasar lain kecuali hadits dhoi’f itupun tetap dibenarkan dengan beberapa kriteria; Hanya digunakan untuk fadhoilul a’mal bukan untuk dasar hukum syariat, kedhoifannya tidak sampai maudlhu’ (palsu). Namun kenyataannya disamping memang ada hadits-hadits lemah terkait puasa Rajab juga terdapat banyak hadits-hadits sahih yang mana sebagian hadits lemah tidak dapat serta merta membatalkan kedudukan hadits yang sahih, bahkan hadits-hadits yang lemah diperkuat oleh hadits yang sahih.

Kedustaan inilah yang sering dilakukan golongan Salafi Wahabi dengan mengatasnamakan agama, berhati-hatilah dalam beristimbat (berdalil) kalau kita tidak mengharap laknat dari Allah. Jadi, bila ada segelintir orang mempersoalkan puasa di bulan Rajab simpel saja menanggapinya;

  • Tanyakan saja mana dalil khusus yang melarangnya?
  • Bila mereka menjawab bahwa puasa Rajab tidak dicontohkan Nabi, maka jawab saja; sudahkan kamu pernah membaca dan menghatamkan semua ayat Al-Qur’an dan sembilan kitab hadits?
  • Bila mereka tidak pernah membaca semua sembilan kitab hadits yang berjilid-jilid itu maka bagaimana mungkin berani mengatakan bahwa nabi tidak pernah melakukan dan mencontohkan. Padahal banyak hadits sahih tentang keutamaan puasa Rajab yang mungkin mereka belum hatam belajarnya, alias mereka telah taklid buta.
  • Dan bila mereka tidak bisa menunjukkan satupun hadits yang khusus melarang puasa di bulan Rajab, maka mereka telah melakukan KIDZBAH (berdusta atas nama agama), perbuatan KIDZBAH lebih besar dosanya dibandingkan BID’AH, laknat Allah SWT,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (QS. An-Nahl: 116-117)

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An-Nahl: 105)

فَقَالَ أَبُو مُوسَى إِنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا لَحَافِظٌ أَوْ هَالِكٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ آخِرُ مَا عَهِدَ إِلَيْنَا أَنْ قَالَ عَلَيْكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسَتَرْجِعُونَ إِلَى قَوْمٍ يُحِبُّونَ الْحَدِيثَ عَنِّي فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ حِفْظَ عَنِّي شَيْئًا فَلْيُحَدِّثْهُ

“Maka [Abu Musa] berkata, “Sesungguhnya teman kalian ini adalah seorang yang Hafizh ataukah seorang yang binasa. Sesungguhnya pesan terakhir yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami adalah beliau bersabda: ‘Hendaklah kalian senantiasa berpegang teguh dengan Kitabullah dan kalian benar-benar akan kembali (menemui) suatu kaum yang sangat menggemari periwayatan hadits dariku. Maka siapa yang berkata atas namaku sesuatu yang belum pernah aku katakan (berdusta), hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka. Dan barangsiapa yang menghafal suatu hadits dariku, hendaklah ia menceritakannya.'” (HR. Ahmad Nomor 18182)