HUKUM PERJUDIAN

Oleh KH. Ainur Rofiq

Pendahuluan

Judi merupakan salah satu jalan mendapatkan harta dengan cara batil, Nabi SAW. Bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sungguh pasti akan datang suatu jaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram”. (Hadits Bukhari Nomor 1941)

Pengertian Judi

Perjudian dalam pengertian umum adalah permainan di mana pemain bertaruh untuk memilih satu pilihan di antara beberapa pilihan di mana hanya satu pilihan saja yang benar dan menjadi pemenang. Pemain yang kalah taruhan akan memberikan taruhannya kepada si pemenang. Peraturan dan jumlah taruhan ditentukan sebelum pertandingan dimulai.

Sedangkan menurut pandangan Islam Judi dalam hukum syar’i disebut maysir dan qimar adalah “transaksi yang dilakukan oleh dua belah untuk pemilikan suatu barang atau jasa yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain dengan cara mengaitkan transaksi tersebut dengan suatu aksi atau peristiwa”.

Ibnu Hajar al-Makki mengatakan, “Maisir adalah semua bentuk taruhan.”

Al-Mahalli mengatakan, “Bentuk taruhan yang diharamkan adalah segala sesuatu yang meragukan, antara mungkin dapat untung ataukah malah merugi.

Malik berkata, “Maisir itu ada dua macam, maisir lahwi (maisir berupa permainan) dan maisir qimar (maisir berupa taruhan). Yang termasuk maisir lahwi adalah bermain dadu, catur, dan semua permainan yang melalaikan (semisal, main kartu, pent). Adapun maisir qimar adalah segala yang mengandung unsur untung-untungan.

Kategori judi menurut Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib adalah;

وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ … وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَمٍ

“Dan jika kedua pihak yang berlomba mengeluarkan hadiah secara bersama, maka lomba itu tidak boleh … dan hal itu, maksudnya judi yang diharamkan adalah semua permainan yang masih simpangsiur antara untung dan ruginya.” (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.], Jilid II, h. 310)

Menurut Abdullah bin Husain Ba’alawi dalam kitabnya Is’ad al-Rafiq Syarh Matan Sullam al-Taufiq

(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَارٌ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ الْعِوَضُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنَ الْمَيْسِرِ فِيْ اْلآيَةِ. وَوَجْهُ حُرْمَتِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْنَمَ. فَإِنْ يَنْفَرِدْ أَحَدُ اللاَّعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوْبًا وَعَكْسُهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا فَاْلأَصَحُّ حُرْمَتُهُ أَيْضًا

“(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya. Itulah yang dimaksud al-maisir dalam ayat al-Qur’an. [QS. Al-Maidah: 90]. Alasan keharamannya adalah masing-masing dari kedua pihak masih simpang siur antara mengalahkan lawan dan meraup keuntungan atau dikalahkan dan mengalami kerugian. Jika salah satu pemain mengeluarkan haidah sendiri untuk diambil darinya bila kalah, dan sebaliknya -tidak diambil- bila menang, maka pendapat al-Ashah mengharamkannya pula.” (Muhammad Salim Bafadhal, Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq [Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, t. th.], Juz II, h. 102)

Perjudian bukan terletak pada permainannya, namun terletak pada unsur taruhan dan gambling untung-untungan antar pesertanya sehingga berdampak pada keuntungan hanya dirasakan oleh salah satu pihak dan kerugian akan dialami oleh pihak lain.

Dengan begitu, sesuatu dapat disebut dengan perjudian setidaknya bila telah memenuhi beberapa unsur berikut:

  1. Adanya harta yang dipertaruhkan.
  2. Adanya suatu permainan yang digunakan untuk menentukan pihak yang menang dan pihak yang kalah.
  3. Pihak yang menang akan mengambil harta (yang menjadi taruhan) dari pihak yang kalah (kehilangan hartanya).

Banyak nama dan jenis perjudian

Di negara Indonesia, dalam PP No. 9 tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, perjudian dikategorikan menjadi tiga. Pertama, perjudian di kasino yang terdiri dari Roulette, Blackjack, Baccarat, Creps, Keno, Tombola, Super Ping-pong, Lotto Fair, Satan, Paykyu, Slot Machine (Jackpot), Ji Si Kie, Big Six Wheel, Chuc a Luck, Lempar paser/bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (Paseran). Pachinko, Poker, Twenty One, Hwa Hwe serta Kiu-Kiu.

Kedua, perjudian di tempat keramaian yang terdiri dari lempar paser/bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (Paseran), lempar gelang, lempar uang (Coin), kim, pancingan, menembak sasaran yang tidak berputar, lempar bola, adu ayam, adu sapi, adu kerbau, adu domba/kambing, pacu kuda, karapan sapi, pacu anjing, kailai, mayong/macak dan erek-erek.

Ketiga, perjudian yang dikaitkan dengan kebiasaan yang terdiri dari adu ayam, adu sapi, adu kerbau, pacu kuda, karapan sapi, adu domba/kambing.

Jika kita perhatikan perjudian yang berkembang di masyarakat bisa dibedakan berdasarkan alat/sarananya. Yaitu ada yang menggunakan hewan, kartu, mesin ketangkasan, bola, video, internet dan berbagai jenis permainan olah raga.

Selain yang tercantum dalam negara tersebut di atas, masih banyak perjudian yang berkembang di masyarakat, seperti togel (toto gelap) atau porkas, yaitu dengan cara menebak dua angka atau lebih. Bila tebakannya tepat maka si pembeli mendapatkan hadiah beberapa ratus atau ribu kali lipat dari jumlah uang yang dipertaruhkan.

Hukum Perjudian

Agama Islam sendiri sangat mengharamkan perjudian karena termasuk perbuatan setan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Ma’idah Ayat 90-91)

Secara matematis perjudian sangat merugikan apalagi jumlah pesertanya semakin banyak sehingga peluang kemenangannya juga semakin kecil dan sedikit. Di situlah kenapa perjudian dihukumi haram oleh agama Islam. Di samping itu perjudian sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam, di mana sesama manusia diwajibkan saling tolong menolong dalam kebaikan bukan dalam kerugian. Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah Ayat 2)

Dalam permainan judi ada candu yang membuat seseorang merasa diuntungkan dan mendapat kemanfaatan secara instan dan spontan sehingga menyebabkan mereka yang melakukan akan terus dan semakin ketagihan yang berdampak ludesnya harta benda yang dimiliki. Keharaman judi bukan berarti judi tidak ada unsur manfaatnya, melainkan keharaman judi karena mudarat dan kerugian yang timbul dari berjudi lebih besar dari faedah yang boleh diraih. Hal itu sangat sesuai dengan firman Allah,

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (QS. Al-Baqarah Ayat 219)

Sebuah Alternatif

Sebuah permainan yang terdapat hadiahnya tidak semuanya dapat disebut sebagai judi bilamana tidak ada unsur taruhan dari iuran para peserta, melainkan hadiah tersebut telah disediakan oleh pihak ketiga, maka permainan semacam itu hukumnya halal.

Jadi, adakalanya permainan itu sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjudian. Misalnya menebak sederet pertanyaan tentang ilmu pengetahuan umum atau pertanyaan lainnya.

Namun jenis permainan apa pun bentuknya, tidak berpengaruh pada hakikat perjudiannya. Sebab yang menentukan bukan jenis permainannya, melainkan perjanjian atau ketentuan permainannya.

Ketidak haraman permainan yang tidak ada unsur judinya walaupun terdapat hadiah tersebut sebagaimana pendapat ulama Syafiiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri  dalam Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib adalah

وَيَجُوْزُ شَرْطُ الْعِوَضِ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقَيْنِ مِنَ اْلإِمَامِ أَوِ اْلأَجْنَبِيِّ كَأَنْ يَقُوْلَ اْلإِمَامُ مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا مِنْ مَالِيْ، أَوْ فَلَهُ فِيْ بَيْتِ الْمَالِ كَذَا، وَكَأَنْ يَقُوْلَ اْلأَجْنَبِيُّ: مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا، لأَنَّهُ بَذْلُ مَالٍ فِيْ طَاعَةٍ

“Dan boleh menjanjikan hadiah dari selain kedua peserta lomba balap hewan, seperti penguasa atau pihak lain. Seperti penguasa berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka aku akan memberi sekian dari hartaku, atau ia memperoleh sekian jumlah dari bait al-mal.” Dan seperti pihak lain itu berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka ia berhak mendapat sekian harta dariku.” Karena pernyataan itu merupakan penyerahan harta dalam ketaatan. (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.], Jilid II, h. 309)

Pendapat serupa juga difatwakan oleh syekh Nawawi Al-Bantani dalam Minhaj al-Thalibin

كِتَابُ الْمُسَابَقَةِ وَالْمُنَاضَلَةِ هُمَا سُنَّةٌ وَيَحِلُّ أَخْذُ عِوَضٍ عَلَيْهِمَا، وَتَصِحُّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى سِهَامٍ وَكَذَا مَزَارِيْقُ وَرِمَاحٌ وَرَمْيٌ بِأَحْجَارٍ وَمَنْجَنِيْقٍ وَكُلُّ نَافِعٍ فِيْ الْحَرْبِ عَلَى الْمَذْهَبِ

“Kitab tentang lomba balap dan lomba membidik. Keduanya sunah dan boleh mengambil hadiah dari keduanya. Lomba membidik itu sah dengan panah. Begitu pula tombak pendek, tombak, melempar dengan batu, manjaniq (alat perang pelempar batu jaman kuno), dan semua yang bermanfaat dalam peperangan menurut madzhab Syafi’iyah.” (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin pada Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj [Mesir: al-Tujjariyah al-Kubra, t. th.], Jilid IV, h. 311)

Berdasarkan ini para ulama berpendapat bahwa setiap permainan di mana pemenangnya memperoleh manfaat yang disediakan oleh pihak ketiga, bukan dari pihak-pihak yang terlibat dalam permainan itu. Permainan seperti ini dinamakan sebagai pertandingan dan manfaat yang didapat sebagai hadiah.

Satu permainan juga tidak dianggap sebagai judi sekiranya manfaat yang diperoleh berasal dari satu pihak seperti seorang berkata kepada temannya “Jika kamu boleh mengalahkan saya, saya akan memberimu hadiah. Akan tetapi jika kamu kalah, tiada kewajipan atas kamu terhadap saya.” Ini berdasarkan kepada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang mana Rasulullah SAW diajak oleh seorang kafir Quraisy bernama Rukanah untuk bertanding dengan hadiah beberapa kambing, jika Rasulullah SAW menang. Rasulullah SAW menerima tantangan itu dan beliau menang dalam pertandingan. Kejadian tersebut terdapat dalam Hadits berikut,

أُجْرِيَتْ الْخَيْلُ فِي زَمَنِ الْحَجَّاجِ وَالْحَكَمُ بْنُ أَيُّوبَ عَلَى الْبَصْرَةِ فَأَتَيْنَا الرِّهَانَ فَلَمَّا جَاءَتْ الْخَيْلُ قَالَ قُلْنَا لَوْ مِلْنَا إِلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَسَأَلْنَاهُ أَكَانُوا يُرَاهِنُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَتَيْنَاهُ وَهُوَ فِي قَصْرِهِ فِي الزَّاوِيَةِ فَسَأَلْنَاهُ فَقُلْنَا يَا أَبَا حَمْزَةَ أَكُنْتُمْ تُرَاهِنُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَاهِنُ قَالَ نَعَمْ لَقَدْ رَاهَنَ عَلَى فَرَسٍ لَهُ يُقَالُ لَهُ سَبْحَةُ فَسَبَقَ النَّاسَ فَانْهَشَّ لِذَلِكَ وَأَعْجَبَهُ قَالَ أَبُو مُحَمَّد انْهَشَّ يَعْنِي أَعْجَبَهُ

“Pernah diadakan lomba pacuan kuda pada zaman Al Hajjaj, yaitu ketika Al Hakam bin Ayyub menjadi wali Bashrah. Kemudian kami lomba pacuan, tatkala seekor kuda telah tiba, kami berkata; “Sekiranya kita pergi menemui [Anas bin Malik] dan bertanya kepadanya, apakah dahulu orang-orang melakukan lomba pacuan kuda pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal itu akan menjadi lebih baik.” Maka kami datang menemui Anas, sementara ia tengah berada dalam rumahnya di Az Zawiyah. Kemudian kami bertanya kepadanya, kami berkata; “Wahai Abu Hamzah, apakah dahulu kalian pernah melakukan lomba pacuan pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ikut lomba pacuan?” Ia menjawab; “Ya, sungguh beliau pernah ikut lomba pacuan (dengan mempertaruhkan) kudanya yang diberi nama Sabhah, dan kuda tersebut berhasil mendahului orang-orang, maka beliau senang dan kagum terhadapnya.” (Hadits Darimi Nomor 2323)

Efek Negatif Perjudian

Begitu banyak dampak negatif perjudian, di antaranya:

  1. Semakin banyak hutang dan terpuruk karena terjebak rentenir
  2. Keluarga Berantakan
  3. Berjudi dapat menyebabkan rusak iman.
  4. Berjudi dapat mendorong berlaku syirik.
  5. Berjudi hanya akan menghabiskan waktu.
  6. Berjudi mengakibatkan malas bekerja dan berdoa.
  7. Menambah Miskin
  8. Dosa yang besar
  9. Menimbulkan Permusuhan
  10. Menjadikan Malas Bekerja
  11. Berjudi dapat melalaikan ibadah mahḍah dan ghairu mahḍah.
  12. Berjudi menjadi temannya setan.
  13. Jauh dari rahmat Allah swt
  14. Ketagihan
  15. Harta yang diperoleh dari judi akan hisab
  16. Pembuka Pintu Kejahatan Lain
  17. Berjudi dapat menyebabkan kehancuran rumah tangga (broken home).

Cara Menghindari Prilaku Berjudi

Adapun cara menghindari perilaku berjudi adalah sebagai berikut:

  1. Mempelajari hukum judi.
  2. Memperkuat
  3. Berusaha untuk mempelajari lebih dalam tentang bahaya berjudi bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Dengan begitu seseorang akan menyadari pentingnya menghindari perjudian.
  4. Menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangannya.
  5. Bertaqwalah di mana engkau berada.
  6. Membaca Al-Qur’an dengan memahami isi dan maknanya.
  7. Mengisi waktu luwang dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
  8. Jangan sampai pernah mengunjungi tempat perjudian.

Semoga kita dan anak cucu kita dijauhkan dari bahaya judi. Amin