Hukum Meringankan dan Mempercepat Shalat

Walaupun kita dianjurkan untuk khusyu dalam shalat dengan memperlama shalat, baik memperlama berdiri dengan memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan memperlama ruku dan sujud dengan memperbanyak dzikir dan doa di dalamnya. Namun ada beberapa kondisi di mana kita dilarang memperlama shalat, sebab akan menyebabkan timbulnya keburukan. Dengan kata lain Nabi memerintahkan kita untuk meringankan dan mempercepat shalat dalam beberapa kondisi. Di antaranya;

Meringankan shalat saat menjadi imam

Ketika seseorang mengimami manusia banyak, disunnahkan agar mengambil durasi waktu shalat yang mu’tadil (seimbang). Ukuran seimbang di sini adalah dengan memperhatikan keadaan mereka dan mengambil yang paling lemah di antara mereka sebagai ukuran. Salah satu bentuk meringankan shalat adalah dengan membaca surat-surat yang pendek. Ketentuan ini tidak berlaku manakala jamaah shalat di masjid tersebut sudah menjadi kesepakatan bahwa kebiasannya durasi waktu shalatnya memang lama karena ada maksud menghatamkan Al-Qur’an. Anjuran meringankan shalat tersebut manakala terdapat jamaah yang dalam kondisi lemah, sakit, atau tua. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Jika salah seorang diantara kalian shalat mengimami orang banyak, maka hendaklah ia memperingan shalatnya, karena diantara mereka ada yang lemah, sakit, tua. Jika salah seorang diantara kalian shalat sendirian, maka hendaklah ia memanjangkannya sekehendak hati’.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 703 dan Muslim Nomor 467)

Imam Nawawi mengatakan,”Dalam hadits ini terdapat perintah kepada imam agar memperingan (mempercepat, pent) shalatnya, tanpa mengurangi sunnah dan makna shalat. Dan jika shalat sendirian, dia boleh memanjangkan sekehendak hati pada rukun-rukun yang memungkinkan untuk dipanjangkan. Misalnya, seperti berdiri, ruku’, sujud dan tasyahhud, bukan pada i’tidal dan duduk antara dua sujud.” (Syarhi Muslim 4/184)

Dalam sebuah riwayat yang sah dari Ibnu Umar disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالتَّخْفِيفِ وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami meringankan shalat, dan Beliau shallallahu

Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang-sedang saja, tidak terlalu lama dan juga tidak terlalu cepat. Anas radhiyallahu anhu berkata,

مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ إِمَامٍ قَطُّ أَخَفَّ صَلَاةً وَلَا أَتَمَّ صَلَاةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Saya tidak pernah shalat di belakang imam yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya dibandingkan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 4/186)

Salah satu bentuk meringankan shalat adalah tidak keterlaluan dalam membaca surat-surat dalam Al-Qur’an sehingga para jamaah enggan lagi untuk mengikuti jamaah shalat. Memang umat Islam dianjurkan bersemangat untuk ibadah shalat malam, namun diharamkan untuk kemudian berlebih-lebihan dengan tidak beristirahat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَلَا تَفْعَلْ قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“dari [Abdullah bin ‘Amru] dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku, lalu beliau bersabda: “Aku memperoleh berita bahwa kamu bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari, benarkah itu?” Aku menjawab; “Benar.” Beliau bersabda: “Jangan kamu lakukannya; namun tidur dan bangunlah, berpuasa dan berbukalah. Karena tubuhmu memiliki hak atas dirimu, kedua matamu memiliki hak atas dirimu, tamumu memiliki hak atas dirimu, istrimu memiliki hak atas dirimu.” (Hadits Bukhari Nomor 5669 dan Hadits Nasai Nomor 2350)

Walaupun Nabi manusia yang paling bertaqwa, namun dalam menjalankan amalan dan ibadahnya sehari-hari tetap membatasi ibadahnya untuk memberikan hak-hak hidup lainnya dan tetap beristirahat untuk menjaga kesehatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ كُلْ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ فَأَكَلَ فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ فَقَالَ نَمْ فَنَامَ ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ نَمْ فَلَمَّا كَانَ آخِرُ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمْ الْآنَ قَالَ فَصَلَّيَا فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ سَلْمَانُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dengan Abu Darda`, lalu Salman mengunjungi Abu Darda` dan melihat Ummu Darda’ berpenampilan kusam, Salman pun bertanya; “Kenapa denganmu?” Ummu Darda` menjawab; “Sesungguhnya saudaramu yaitu Abu Darda’ tidak membutuhkan terhadap dunia sedikitpun, ” Ketika Abu Darda` tiba, dia membuatkan makanan untuk Salman lalu berkata; “Makanlah karena aku sedang berpuasa.” Salman menjawab; “Saya tidak ingin makan hingga kamu ikut makan.” Akhirnya Abu Darda’ pun makan. Ketika tiba waktu malam, Abu Darda’ beranjak untuk melaksanakan shalat namun Salman berkata kepadanya; “Tidurlah.” Abu Darda` pun tidur, tidak berapa lama kemudian dia beranjak untuk mengerjakan shalat, namun Salman tetap berkata; “Tidurlah.” akhirnya dia tidur.” Ketika di akhir malam, Salman berkata kepadanya; “Sekarang bangunlah, ” Abu Juhaifah berkata; “Keduanya pun bangun dan melaksanakan shalat, setelah itu Salman berkata; “Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atas dirimu, dan badanmu memiliki hak atas dirimu, isterimu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah haknya setiap yang memiliki hak.” Selang beberapa saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang, lalu hal itu diberitahukan kepada beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salman benar.”. (Hadits Bukhari Nomor 5674)

Di antara berlebihan adalah menjadi imam shalat dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang tanpa menyesuaikan keadaan makmum dan tanpa diketahui serta belum disepakati dengan makmum. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الْأَنْصَارِيُّ لِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

“dari [Jabir] bahwasanya dia berkata, “Mu’adz bin Jabal al-Anshari shalat Isya’ mengimami para sahabatnya, lalu dia memanjangkan bacaannya atas mereka, maka seorang laki-laki dari kalangan kami berpaling, lalu shalat sendirian. Lalu Mu’adz diberitahu tentangnya, maka dia berkata, ‘Dia seorang yang munafik.’ Ketika hal tersebut sampai pada laki-laki tersebut maka dia mengunjungi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu mengabarkan kepadanya sesuatu yang dikatakan Mu’adz. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepadanya, ‘Apakah kamu ingin menjadi pemfitnah (yang membuat orang lain lari dari agama) wahai Mu’adz?. Apabila kamu mengimami manusia, maka bacalah surat asy-Syams wa dhuhaha, Sabbihisma Rabbika al-A’la, dan Iqra’ Bismi Rabbika, serta Wa al-Laili idza Yaghsya’.” (Hadits Muslim Nomor 710)

Perintah untuk memperingan shalat juga ditunjukkan dalam riwayat Imam Nasa’i dan yang lainnya dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالتَّخْفِيفِ وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّات

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami meringankan shalat, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami dengan membaca surat Ash Shaffat.” (Hadits Riwayat Nasa’i)

Yang perlu difahami adalah mempercepat di sini adalah tetap memenuhi hak-hak dari syarat rukunnya shalat dan tetap memenuhi hak-hak bacaan dari tajwid dan makharijul hurufnya, serta menjaga ketuma’nunahan shalat. Sebaliknya, bilama shalat tidak memenuhi hak-hak bacaan dan tuma’ninah maka shalatnya dianggang sia-sia sebab ia bagaikan ayam yang mematuk. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الأَشْعَرِيِّ ، أَن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلا لا يُتِمَّ رُكُوعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ يُصَلِّي ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَثَلُ الَّذِي لا يُتِمُّ رُكُوعَهُ ويَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ ، مَثَلُ الْجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لا يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

“Dari Abu ‘Abdullah al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika ia sedang shalat, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang ini mati dalam keadaannya ini, maka ia benar-benar mati tidak di atas agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,” lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya, (ialah) seperti orang lapar makan satu biji kurma, padahal dua biji kurma saja tidak bisa mencukupinya”. (Hadits Riwayat Thabrani dalam Mu’jamul-Kabir, juz 4 hlm. 158 Nomor 3748)

Ketika melaksanakan shalat harus tuma’ninah, yakni rukuk dan sujudnya diam sejenak sekira bacaan tasbih tiga kali. Kurang seperti itu maka rukuk dan sujudnya dianggap tidak tuma’ninah karena cepat secepat ayam yang sedang mematuk biji-bijian.

Meringankan shalat saat terdapat balita yang menangis

Salah satu keadaan di mana seseorang boleh meringankan shalat adalah bilamana ada bahaya yang melanda dirinya seperti ada potensi ancaman dari serangan binatang atau bahaya yang melanda orang lain sebagaimana muncul potensi anak kecil yang hendak celaka karena menyebrang jalan atau terjatuh dari laintai tinggi. Dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي أَدْخُلُ فِي صَلاَتِي وَأَنَا أُرِيْدُ أَنْ أُطِيْلَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ

“Aku masuk (memulai) shalat, dan ingin memperpanjangnya. Lalu aku mendengar tangis bayi, maka aku persingkat.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 4/186,187)

Meringankan shalat karena terjadinya potensinya bahaya hukumnya sunnah, sebab sesuai kaidah fikih bahwa “menolak bahaya lebih diutamakan daripada mengejar kebaikan”.

Diantara kondisi-kondisi anjuran meringankan shalat adalah ketika mengadakan perjalanan yang bukan maksiat, maka musafir dianjurkan meringankan shalat dan disunnahkan menjamak dan mengqasar shalatnya.

Begitu juga kondisi dimana diperbolehkan meringankan shalat adalah ketika terjadi peperangan. Dimana kondisi-kondisi tersebut merupakan perbuatan “meringankan” yang memang perintahnya berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan ada faktor penyebabnya yang dibenarkan oleh syar’i.

Namun begitu maksud meringkas dan meringankan shalat bukan karena didasari kemalasan, namun semata-mata karena niat ittiba’ pada Nabi dan menjalankan keringanan yang memang diberikan oleh Nabi dengan mengharap berkah dari kecintaan kita untuk menjalankan dan mencontoh perbuatannya.

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke