Hukum Menyelenggarakan Tradisi Nyadran

Antara Ziarah Kubur Dan Nyadran

Timbul pertanyaan di forum ini apakah Nyadran itu boleh dilakukan oleh umat Islam? Apakah ada dalil yang menjadi sandaran bagi kegiatan ini? Pertama-tama perlu dipahami bahwa tradisi “Nyadran” ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sang penanya menguraikan tradisi Nyadran berupa ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, membersihkan kuburan kerabat dan ada beberapa keluarga yang menambahinya dengan memberi shadaqah pada fakir miskin. Sebagian keluarga lain ada yang mengadakan kenduri, kumpul dengan sanak keluarga, mirip seperti mudik lebaran.

Namun di tempat yang disebut Nyadran di samping mengadakan ziarah kubur juga melakukan sedekah makan-makan di kuburan beramai-ramai dengan menggelar daun pisang. Sedangkan di beberapa daerah di pantai utara Jawa, tradisi Nyadran ini disertai dengan melarung sesaji ke laut ada yang disertai dengan pagelaran wayang kulit, orkes dangdut dan lainnya. Maka pembahasan mengenai boleh tidaknya Nyadran ini tidak bisa dipukul rata, melainkan harus ditinjau berdasarkan apa motivasinya (niatnya), dan kedua, bagaimana teknis pelaksanaannya (acaranya).

Asal Usul Istilah Nyadran

Dalam buku kalangwan (tahun 1974) karangan seorang orientalis Belanda bernama P.J. Zoetmulder, istilah Nyadran sendiri berasal dari istilah sadran, sraddha, nyraddha, nyraddhan yang disebut-sebut dalam kiitab Kidung Buwana Sekar yaitu upacara sekar (bunga) untuk memperingati kematian Ratu Tribuwana Tungga Dewi tahun 1350. Upacara sraddha ini berlangsung sejak jaman Majapahit. Dari sini pula timbul istilah lain dari ziarah kubur di jawa yaitu “nyekar”.

Kalau melihat asal muasal kata Nyadran maka timbullah antipati dari sebagian orang karena kecemburuan dan ketidak relaan karena istilah ini berasal dari upacara agama Hindu di Jawa. Lalu mereka menampilkan hadits bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk dalam kaum itu.

Hadits ini benar namun tidak bisa dipukul rata bahwa setiap hal yang sama itu pasti meniru. Jika umat Islam melakukan ziarah kubur dan umat non-muslim juga melakukan ziarah kubur maka tidak bisa dikatakan bahwa hal ini menyerupai non-muslim. Karena ziarah kubur memang juga diperintahkan dalam Islam. Sebagaimana pula jika umat Islam puasa lalu umat lain puasa, maka tidak berarti ini meniru-niru umat lain.

Bahwasanya asal muasal istilah nyadaran itu dari upacara Hindu Majapahit, maka itu wajar karena memang sebagian besar nenek moyang bangsa Indonesia adalah mantan Hindu. Sehingga apa yang memang dibolehkan dalam Islam, ya tradisi itu boleh dilakukan. Sedangkan apa yang tidak dibolehkan dalam Islam, maka tradisi itu tidak boleh dilakukan.

Adapun jika dipahami bahwa aktifitas Nyadran itu meniru upacara memperingati kematian Tribuwana Tungga Dewi, bisa ya bisa tidak. Dari segi istilah iya, namun dari segi aktifitasnya berbeda. Kita tidak tahu persis bagaimana tata cara upacara sradha Tribuwana Tungga Dewi jaman Majapahit dulu, saya yakin tidak semata menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi melainkan juga ada ritual lainnya.

Saya yakin menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi dahulu tidak dilakukan sebelum Ramadhan, karena bulan Ramadhan saja mereka tidak kenal. Yang ada pada zaman Majapahit memiliki kalender sendiri. Sedangkan Nyadran pada zaman sekarang pun aktifitas nya bermacam-macam, ada yang memahaminya sebagai ziarah kubur ada juga yang melarung sesaji ke laut. Maka pembahasan boleh tidaknya Nyadran tidak tepat jika ditinjau dari segi istilah, melainkan harus ditunjau segi aktifitasnya.

Ziarah Kubur Dianjurkan Agama

Pertama perlu dipahami bahwa ziarah kubur itu pada awalnya memang dimakruhkan terutama untuk kaum wanita karena dikhawatirkan kebiasaan meratapi mayit yang berlebihan serta berbagai khurafat kepercayaan di masa Jahiliyah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] telah mengabarkan kepada kami [Syu’bah] dari [Muhammad bin Juhadah] ia berkata; saya mendengar [Abu Shalih] menceritakan dari [Ibnu Abbas] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para wanita yang menziarahi kuburan, dan orang-orang yang menjadikannya sebagai masjid dan memberikan pelita” (Hadits Abu Daud Nomor 2817)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا كَانَ قَبْلَ أَنْ يُرَخِّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَلَمَّا رَخَّصَ دَخَلَ فِي رُخْصَتِهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ و قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا كُرِهَ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِلنِّسَاءِ لِقِلَّةِ صَبْرِهِنَّ وَكَثْرَةِ جَزَعِهِنَّ

“Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Awanah] dari [Umar bin Abu Salamah] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita-wanita yang menziarahi kuburan. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; “Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hassan bin Tsabit.” Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan shahih. Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ini sebelum keluarnya keringanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di dalamnya laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian dari mereka berpendapat; dimakruhkannya berziarah atas wanita karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka.” (Hadits Tirmidzi Nomor 976)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا بِسْطَامُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا التَّيَّاحِ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ

“Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari] berkata, telah menceritakan kepada kami [Rauh] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bistham bin Muslim] ia berkata; aku mendengar [Abu At Tayyah] berkata; aku mendengar [Ibnu Abu Mulaikah] dari [‘Aisyah] berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keringanan untuk ziarah kubur.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1559)

Dan kemudian akhirnya bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menziarahi kuburan untuk mengigatkan manusia akan kematian dan hari akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid dari Yazid bin kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat. ” (Hadits Ibnu Majah No. 1558)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا مُعَرِّفُ بْنُ وَاصِلٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus], telah menceritakan kepada kami [Mu’arrif bin Washil] dari [Muharib bin Ditsar] dari [Ibnu Buraidah] dari [ayahnya], ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Maka larangan ziarah kubur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini telah dibatalkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمِ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ بَأْسًا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] dan [Mahmud bin Ghailan] dan [Al Hasan bin Ali Al Khallal] mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Ashim An Nabil] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [‘Alqamah bin Martsad] dari [Sulaiman bin Buraidah] dari [Bapaknya] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat.” (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; “Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Sa’id, Ibnu Mas’ud, Anas, Abu Hurairah dan Umu Salamah.” Abu Isa berkata; “Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq” (Hadits Tirmidzi Nomor 974)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata “Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ziarah kubur adalah sebelum adanya keringanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian ulama berpendapat tetap makruhkan wanita berziarah kubur karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka sehingga dikhawatirkan meratap di kuburan.”

Selanjutnya Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarok (tokoh tabi’in), Syafi’i (madzhab syafi’i), Ahmad bin Hambal (madzhab hambali) dan Ishaq”

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, jika Nyadran itu didefinisikan sebagai ziarah kubur itu boleh bahkan dianjurkan. Namun perlu dipahami bahwa sebenarnya ziarah kubur tidak harus sebelum Ramadhan, melainkan kapan saja bisa dilakukan. Namun jika momen yang ada adalah sebelum Ramadhan maka hal itu tidak mengapa asalkan jangan timbul keyakinan bahwa jika ziarah di waktu lain tidak afdhal, dan juga salah jika ada keyakinan bahwa jika tidak melakukan Nyadran sebelum bulan Ramadhan maka puasanya tidak sah atau hidupnya bakal tidak berkah. Maka keyakinan yang salah itu adalah salah. Adapun ziarahnya tetap benar.

Shadaqah Sebelum Ramadhan

Shadaqah dan memberi makan fakir miskin dan anak yatim jelas dianjurkan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin” (Q.S. Al-Haaqah [69] : 33-34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ  وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ

“Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin” (Q.S. Al-Mudatsir [74] : 43-44)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Q.S. Al-Maa’uun [107] : 2-3)

Jika Nyadran itu disertai dengan shadaqah kepada fakir miskin dan anak yatim, baik itu berupa uang, atau diberikan makanan nasi kotak, atau sembako, maka hal itu adalah baik. Tradisi ini pernah dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair radliallahu ‘anhu yang membagikan uang kepada para pembaca Al-Qur’an di kota Kufah. Tentu saja hal ini belum pernah dilakukan pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan semata inisiatif Mush’ab bin Az-Zubair radliallahu ‘anhu. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ السَّلَامِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ الْمُزَنِيِّ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ قَالَ قَسَمَ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ مَالًا فِي قُرَّاءِ أَهْلِ الْكُوفَةِ حِينَ دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فَبَعَثَ إِلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْقِلٍ بِأَلْفَيْ دِرْهَمٍ فَقَالَ لَهُ اسْتَعِنْ بِهَا فِي شَهْرِكَ هَذَا فَرَدَّهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْقِلٍ وَقَالَ لَمْ نَقْرَأْ الْقُرْآنَ لِهَذَا

“Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Sa’id] telah mengabarkan kepada kami [Abdus Sallam] dari [Abdullah bin Al walid Al Muzani] dari [‘Ubaid bin Al Hasan] ia berkata: “Ketika memasuki bulan Ramadlan, Mush’ab bin Az Zubair membagikan hartanya kepada para qari` kota Kufah kemudian ia mengirimkan untuk Abdur Rahman bin Ma’qil sebanyak dua ribu dirham sambil berkata: “Gunakan uang ini untuk keperluanmu sebulan ini”. Tetapi [Abdur Rahman bin Ma’qil] berkata: “Kami tidak membaca Al qur`an untuk hal ini” (Hadits Darimi Nomor 573)

Dari atsar di atas kita tahu tercatat dalam sejarah inisiatif yang dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair radliallahu ‘anhu membagikan uang kepada para qori’

Nyadran Dengan Makan-Makan Di Kuburan

Demikian pula jika Nyadran itu diisi dengan shadaqah, memberi makan anak yatim dan faqir miskin, itu sangat dianjurkan oleh agama. Namun kalaupun makan-makan nya itu hanya di kalangan kerabat dan keluarga, maka memberi makan kerabat dan sanak saudara itu juga baik dan tetap bernilai shadaqah dan mendapat pahala jika tidak disertai dengan pamer atau riya’.

Walaupun hukumnya boleh dan tidak ada dalil larangannya, namun jika makan-makan itu dilakukan di kuburan, dengan menggelar daun pisang dijajar memanjang, maka hal ini adalah tidak sepantasnya demikian. Tidak selayaknya pula kita mengadakan kenduri di kuburan lebih baik acara makan-makan itu di rumah. Namun, jika maka yang diziarahi itu berada jauh di luar kota, lalu rombongan kerabat ini datang dari jauh mengendari bis atau mencarter minibus, lalu selesai ziarah mereka makan karena lapar, maka hal itu boleh-boleh saja, asalkan tidak di areal kuburan. Boleh dilakukan di dalam bis, atau menyingkir keluar dari area kuburan.

Nyadran Dengan Melarung Sesaji Di Laut

Jika Nyadran itu disertai dengan persembahan sesaji (sesajen) kepada jin, Nyai Loro Kidul (ratu jin pantai Selatan) maka jelas hal ini adalah haram dan merupakan bid’ah yang dlolalah (sesat). Demikian pula persembahan dan sesaji kepada arwah leluhur adalah sesat. Karena arwah itu berada di alam barzah dan tidak butuh makanan fisik. Apa yang sering disebut-sebut sebagai arwah yang muncul di alam kita itu hanyalah rekayasa dan tipu daya jin, yang menjelma dan mengaku-ngaku sebagai arwah orang yang sudah meninggal.

Baik waktu Nyadran maupun waktu apapun, kita tidak boleh menyembah jin terlebih jin-jin yang minta sesaji itu pasti adalah jin kafir.

Keyakinan bahwa jin itu adalah penguasa atau penunggu wilayah tertentu, gunung, pohon, batu, bangunan tertentu dan lain-lain adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu hanyalah makhluk Allah biasa sebagaimana anjing, kucing, tumbuhan, bakteri, virus dan makhluk hidup ciptaan Allah lainnya, hanya bedanya jin itu tidak kelihatan dan satu dua jin memiliki kemampuan tertentu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

“Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin kebanyakan mereka beriman kepada jin itu” (Q.S. Saba [34]:41)

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan rezeki atau keberkahan jelas adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu tidak mengetahui hal yang ghaib, dan ia tidak menguasai rezeki manusia. Adapun jin memang bisa saja bertingkah merusak hasil panen, mengusir ikan di laut, hal ini sebagaimana perilaku preman dan tukang peras jika tidak dikasih uang ia akan berulah dan membuat onar. Maka aksi premanisme oleh jin seperti ini harus dilawan dan diberantas dan bukan dilestarikan.

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan malapetaka jika tidak diberi sesaji maka hal itu juga sama seperti aksi preman dari bangsa manusia. Jika tidak diberi uang, maka jalan kita akan dihalangi, dagangan kita menjadi tidak laku, panen kita menjadi gagal, tangkapan nelayan menjadi sedikit dan bahkan nyawa kita diancam. Maka memberi sesaji pada jin itu sama saja dengan memberi upeti kepada preman dan penjahat, agar kita terlindung dari kejahatan mereka.

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (Q.S. An-Nisaa [4] : 119)

Sungguh bodoh orang yang berlindung dan memohon pertolongan kepada jin-jin terkutuk itu. Karena sesunguhnya jin itu tidak mau menolong manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (Q.S. Al-Furqon [25] : 29)

Maka kalau pun setan itu menolong manusia pasti ada maunya dan akan meminta imbalan kekafiran dan kedzaliman. Banyak sekali orang yang meminta kekayaan dan meminta kesaktian kepada jin, harus melakukan syarat-syarat yang keji seperti memakan darah dan mayat, membunuh orang, menghinakan Al-Qur’an dll. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (Q.S. Al-Jin [72] : 6)

Maka kalaupun setan itu memberikan rezeki dan kemakmuran kepada manusia sungguh tidak sepadan ditukar dengan kesyirikan, kesesatan dan kerusakan yang ditimbulkan di belakang hari. Maka segala ritual penyembahan dan pemberian sesaji kepada jin dan arwah (buatan jin) adalah haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27)

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke