Hukum Menyelenggarakan Seni Hiburan Menyanyi, Menari, dan Bermusik di Lingkungan Masjid

Bukan hanya tempat-tempat umum dan tempat-tempat biasa yang yang dapat dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan pertunjukan seni hiburan. Tempat-tempat khusus seperti lingkungan masjid pun juga dapat digunakan sebagai tempat penyelenggaraan seni hiburan. Hal ini bukan tanpa alasan dan tanpa dasar. Sebagaimana yang nampak kita jumpai dalam hadits-hadits sahih bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sudah menjadi sesuatu yang lumrah bilamana lingkungan masjid digunakan untuk menggelar pagelaran seni hiburan. Sebagaimana beberapa riwayat hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنْ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ كِلَاهُمَا عَنْ هِشَامٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرَا فِي الْمَسْجِدِ

“Dari [Aisyah] ia berkata; Orang-orang Habasyah sedang perform seni hiburan di dalam Masjid pada hari raya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku (untuk ikut menontonnya), aku pun (menonton bersama Nabi sambil) meletakkan kepala di atas pundaknya untuk melihat atraksi mereka sampai aku sendiri yang berhenti melihat mereka (karena merasa cukup).” (Hadits Muslim Nomor 1483 dan Hadits Bukhari Nomor 3266)

Pagelaran musik di lingkungan masjid juga pernah dilakukan pada awal-awal Islam datang di Madinah. Nabi bersabda,

لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ نَزَلَ فِي عُلْوِ الْمَدِينَةِ قَالَ فَصَفُّوا النَّخْلَ قِبْلَةَ الْمَسْجِدِ قَالَ وَجَعَلُوا عِضَادَتَيْهِ حِجَارَةً قَالَ قَالَ جَعَلُوا يَنْقُلُونَ ذَاكَ الصَّخْرَ وَهُمْ يَرْتَجِزُونَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُمْ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَهْ فَانْصُرْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau singgah di dataran tinggi Madinah (untuk membangun masjid), Anas berkata; “Maka mereka (termasuk Nabi) bekerja membuat pintu masjid dari pohon dan mengangkut bebatuan yang besar-besar sambil bersenandung (menyanyikan bait-bait sya’ir). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut bekerja bersama mereka sambil mengucapkan (menyanyikan sebuah nasyid): “Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin.” (Hadits Bukhari Nomor 3639)

Berkesenian di dalam masjid ternyata juga sering dilakukan oleh para sahabat. Di antaranya oleh sahabat Hasan dalam hadits berikut,

مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ

“Umar pernah melewati Hasan bin Tsabit yang sedang membaca syair di dalam masjid, maka Umar memperingatkannya. [Hasan] berkata, Aku pernah pernah membaca syair dalam masjid padahal orang yang lebih baik daripada kamu (maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berada di dalam masjid tersebut. Kemudian dia menoleh kepada [Abu Hurairah] sambil berkata, ‘Apakah engkau mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memohon Ya Allah, kabulkanlah untukku, kuatkanlah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril). Maka Hasan menjawab, ‘Ya Allah, benar’. (Hadits Nasai Nomor 709, Hadits Ahmad Nomor 20927, Hadits Abu Daud Nomor 4360 dan Hadits Muslim Nomor 4539)

Di antara sahabat yang berkesenian di lingkungan masjid adalah sahabat Abdullah bin Rawahah. Di mana dia menyanyikan sebuah lagu di masjidil haram untuk membela Nabi. Disebutkan dalam sebuah hadits berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ فِي عُمْرَةِ الْقَضَاءِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ يَمْشِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ خَلُّوا بَنِي الْكُفَّارِ عَنْ سَبِيلِهِ الْيَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيلِهِ ضَرْبًا يُزِيلُ الْهَامَ عَنْ مَقِيلِهِ وَيُذْهِلُ الْخَلِيلَ عَنْ خَلِيلِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَرَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَقُولُ الشِّعْرَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلِّ عَنْهُ فَلَهُوَ أَسْرَعُ فِيهِمْ مِنْ نَضْحِ النَّبْلِ

 “dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Mekkah untuk melakukan umrah qadha`, dan Abdullah bin Rawahah berjalan di depannya sambil berkata; minggirlah orang-orang kafir dari jalan beliau hari ini, kami akan menebas kalian karena kedudukannya, dengan tebasan yang membangunkan kepala dari tidur siangnya, dan membingungkan seseorang dari kekasihnya. Lalu Umar berkata kepadanya; wahai Ibn Rawahah, apakah di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di tanah Haram engkau menyanyikan lagu? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan dia, sungguh ia (syiar dengan nada dan dakwah) lebih cepat menyebar (efektif) di antara mereka (para musuh) daripada (menggunakan cara peperangan dengan) meluncurnya anak panah.” (Hadits Nasai Nomor 2824)

Berdasarkan hadits di atas nampak sekali bahwa dalam situasi-situasi tertentu seperti hari raya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan bila para sahabat menggelar kesenian dan hiburan seperti musik, lagu dan tari di dalam lingkungan masjid.

Dengan catatan seni hiburan tersebut dalam rangka syiar Islam, bersifat religi, tidak mengandung unsur kemaksiatan, dan unsur-unsur keharaman lainnya.

 

Dikutip dari Buku “Hukum Musik, Lagu, dan Tari dalam Islam” Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke