Hukum Mensyukuri Kenaikan Jabatan Dengan Bersedekah

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

  1. Apa hukumnya bersedekah di saat kita naik pangkat dari pekerjaan dengan diniatkan syukur kepada Allah?
  2. Adakah dalilnya?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Hukumnya boleh dan mendapat pahala bila diniatkan untuk bersedekah dan bersyukur karena Allah ta’ala.
  2. Banyak dalil umum yang memerintahkannya.

MARAJI’:

Dalam pertanyaan di atas ada dua unsur; yakni pertama sedekah dan yang kedua mensyukuri kenaikan pangkat. Untuk menjawab apa hukum bersedekah yang dibarengkan saat kenaikan pangkat perlu dirinci satu persatu.

Pertama: Sedekah merupakan bentuk amal shalih

Sedekah adalah termasuk amal shaleh (perbuatan yang baik). Syekh Muhammad Abduh mendefinisikan amal saleh sebagai “segala perbuatan yang dapat menimbulkan bermanfaat (kemaslahatan) bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan” Baik perkara yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah atau hal-hal yang bersifat kebiasaan (‘uruf) yang mubah.

Sedangkan hukum asal amal shaleh itu mubah selama tidak memancing timbulnya kesyirikan, kemaksiatan, dan kemungkaran. Kaidah kebolehan amal shalih adalah,

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ (فِى عَمَلٍ صَالِحٍ) اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُلَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“Hukum asal dari sesuatu (amal shalih) adalah mubah sampai ada dalil (yang lebih khusus) yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya)” (Imam As Suyuthi, dalam al Asyba’ wan Nadhoir: 43)

Kaidah tersebut berdasarkan sabda Nabi,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang telah dihalalkan Allah (secara tegas/qath’i) di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang telah diharamkan Allah (secara tegas/qath’i) di dalam kitab-Nya, dan apa (amal shalih) yang Dia diamkan (tidak diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits) adalah sesuatu yang Dia perbolehkan.”. (HR. Ibnu Majah Nomor 3358)

Di samping itu terdapat banyak perintah dari agama agar umat Islam melakukan amal shalih, di antaranya adalah firman Allah SWT,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl Ayat 97)

Kedua: Selalu bersyukur dalam setiap keadaan merupakan kebiasaan (tradisi) yang baik

Mensyukuri kenaikan pangkat dalam pekerjaan adalah sebuah ‘Uruf (ma’ruf) ‘Urf menurut Abdul Karim Zaidah berarti : Sesuatu kebiasaan (tradisi atau adat kebiasaan) yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan. Hukum asal ‘urf adalah mubah selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok dasar agama, yakni; kesyirikan, kemaksiatan, dan kemungkaran. Kaidah ‘urf adalah,

العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi) itu dapat dijadikan sebagai landasan hukum.”

Maksudnya semua kebiasaan manusia yang telah disepakati dan diterima secara aqal baik dapat dijadikan sebagai landasan hukum untuk kehidupan sehari-hari. Kaidah tersebut berdasarkan hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud).

Disamping itu terdapat banyak perintah dari agama agar umat Islam melakukan ke-ma’ruf-an, diantaranya adalah firman Allah SWT,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (adat kebiasaan dan tradisi yang baik) dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)

Ketiga: Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, bersedekah di saat kita naik pangkat dari pekerjaan dengan diniatkan syukur kepada Allah hukumnya boleh dan bahkan mendapat pahala, di samping hal itu merupakan bentuk amal shalih dan tradisi yang baik juga banyak dalil yang mengajurkan kita senantiasa bersyukur dengan memperbanyak sedekah. Pemahaman itu berdasarkan keumuman firman Allâh Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkan (sedekahkan) lah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Baqarah: 267)

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274)

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat tradisi yang baik (ma’ruf), atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besa.” (QS. An-Nisaa’: 114)

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلَّا الطَّيِّبُ فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan separuh biji kurma dari penghasilan yang baik, dan tidak ada yang naik kepada Allah kecuali amal yang baik, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pelakunya sebagaimana salah seorang diantara kalian merawat kuda piaraannya hingga sebesar gunung.” (HR. Bukhari Nomor 6878)

Bersedekah merupakan salah satu bentuk amal shalih, sebagaimana sabda Nabi,

كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari seseorang yang mendamaikan antara dua orang yang bertikai adalah shadaqah dan menolong seseorang untuk menaiki hewan tunggangannya lalu mengangkat barang-barangnya ke atas hewan tungganyannya adalah shadaqah dan ucapan yang baik adalah shadaqah dan setiap langkah yang dijalankan munuju shalat adalah shadaqah dan menyingkirkan sesuatu yang bisa menyakiti atau menghalngi orang dari jalan adalah shadaqah”. (HR. Bukhari Nomor 2767)

Sangat dianjurkan bersyukur dalam setiap keadaan,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Berdasarkan penjelasan di atas bersedekah yang dikhususkan saat kenaikan pangkat itu diperbolehkan karena masuk pada keumuman ayat dan hadits di atas dan tidak adanya dalil yang menentangnya. Dan tidak ada dalil satupun yang melarangnya, bila sebuah amal shalih tidak ditemukan dalil yang melarangnya maka masuk dalam kategori mubah. Tapi walaupun hukum asalnya mubah tetap mendapatkan pahala karena telah diniatkan ibadah sedekahan dan syukuran kepada Allah. Di samping itu amal shalih dengan diniatkan sedekah itu juga dianjurkan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah, firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Ayo perbanyak bersyukur dengan memperbanyak sedekah, dengan hidup memperbanyak syukur dan sedekah isyaallah hidup akan menjadi berkah, amin.