Hukum Menikahi Anak Angkat Sendiri

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya mau tanya Kiyai. Bagaimana hukumnya menikahi anak angkatnya sendiri?? Mohon penjelasannya, jazakallah khairan. (Nur Ahad/Lombok)

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Karena anak angkat hakikatnya orang lain, maka bagi orang tua angkat boleh menikahi anak angkatnya sendiri, tentu saja dengan izin walinya, yaitu ayah kandung anak tersebut.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENJELASAN:

Anak angkat bukanlah mahram, kecuali anak yang diangkat sebelumnya memang memiliki pertalian mahram. Seperti anak saudara atau anak yang kemudian disusui (rodho’). Dalam hukum Islam, pengangkatan anak tidaklah mengubah garis keturunannya (nasab). Artinya dia tetap dinasabkan ke orang tua aslinya. Karena anak angkat tidak berubah nasab, maka pengangkatan anak juga tidak bisa mengubah status mahram. Allah berfirman,

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Ahzab Ayat 5)

Konsekwensi hukum anak angkat bukan mahram adalah hukum-hukum sebagai ajnabi (orang lain) otomatis berlaku, seperti tidak ada perwalian, membatalkan wudlu, berlakunya batas-batas aurat, dibenarkan terjadi pernikahan, tidak berlaku waris mewarisi, dan lain sebagainya.

Sehingga bagi anak yang diasuh dalam keluarga sehari hari wajib bagi orang tua angkatnya maupun anak-anak kandung mereka untuk menggunakan hijab yang menutupi aurat didepan anak angkat tersebut, sebagaimana ketika mereka didepan orang lain yang bukan mahram.

Karena anak angkat hakikatnya orang lain, maka bagi orang tua angkat boleh menikahi anak angkatnya sendiri, tentu saja dengan izin walinya, yaitu ayah kandung anak tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala di bawah ini,

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) bekas isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya (menceraikannya). Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (QS Al-Ahzaab: 37).

Asbabun Nuzul dari ayat ini adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak angkat bernama Zaid. Hingga para sahabat menyebutnya Zaid bin Muhammad. Padahal Nama ayahnya yang asli: Haritsah. Sampai akhirnya Allah menurunkan ayat di atas. Kemudian mereka tidak lagi menyebutnya Zaid bin Muhammad tapi Zaid bin Haritsah sebab hukum mengangkat anak dibatalkan. Hal ini tergambar dari hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كُنَّا نَدْعُوهُ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ الْقُرْآنُ { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ }

“dari [Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma] bahwa Zaid bin Haritsah mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa kami panggil dengan Zaid bin Muhammad hingga Allah menurunkan ayat: “Panggillah dia dengan nama bapak-bapaknya, karena hal itu lebih adil di sisi Allah.” (QS. Ahzab 5). (Hadits Bukhari Nomor 4409)

Walaupun terkadang menurut pandangan masyarakat dianggap tidak pantas manakala ada seorang anak yang diasuh bertahun-tahun sejak sejak kecil. Di mana dia hidup dan beraktifitas bersama dalam satu rumah, namun ketidak elokan ini tidaklah dapat menghilangkan kedudukan hukum Islam. Di mana Islam mengizinkan lelaki untuk menikahi wanita selama dia bukan mahramnya dan bukan wanita yang dilarang untuk dinikahi sementara. Dengan demikian, selama anak angkat itu bukan mahram bagi ayah angkatnya, dia boleh menikahinya, tentu saja dengan izin walinya, yaitu ayah kandung anak tersebut.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالـصَّـوَابِ

Bagikan Artikel Ini Ke