Hukum Mengkhususkan Waktu dalam Ibadah dan Amal

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Shalawat dan keselamatan semoga Allah curahkan kepada beliau beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Amma ba’d.

Beruntunglah hamba yang senantiasa berdzikir. Bibirnya basah sebab selalu mengingat Tuhannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama hamba-hambanya yang berdzikir pada-Nya. Allah berfirman dalam sebuah Hadits qudsi,

قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا مَعَ عَبْدِي إِذَا هُوَ ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Aku bersama hamba-Ku apabila dia berdzikir kepada-Ku, dan selama kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3782)

Menurut firtahnya setiap orang mendambakan ketentraman dan kedamaian batin. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mencapai ketenangan batin. Untuk memperoleh ketentraman batin Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan hamba-hamba-Nya agar gemar berdzikir. Dzikir merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan hati bagi mereka yang sering diliputi rasa galau dan kerisauan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Surat Ar-Ra’d Ayat 28)

Dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Dengan zikir hidup akan bererti dan bermakna. Bahagia dan hati lapang akan mengiringi hidup orang yang gemar berzikir. Bagi orang terus berzikir hidupnya terasa sejuk bagai embun dipagi hari. Sebaliknya, orang yang tidak berzikir kepada Allah, hatinya akan kering dan gersang. Lihatlah, bagaimana gurun pasir yang tandus dan gersang tak tampak ada kehidupan. Begitulah hati orang lupa Allah.

Pembagian waktu

Keinginan hati untuk tenteram setiap saat tentunya seiring dengan keinginan berdzikir dalam setiap waktunya. Lalu, apa dibenarkan manakala seseorang berdzikir dalam waktu-waktu yang dikhususkan karena disesuaikan dengan keadaannya sendiri.

Mengkhususkan waktu tertentu untuk ibadah, dzikir, doa kepada Allah atau istigfar atau shalawat kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, terjadi pada tiga gambaran berikut,

Waktu muqayyad

Pertama, Waktu muqayyad, yakni ketetapan waktu langsung dari agama yang memiliki kandungan fadilah bila suatu ibadah dilaksanakan pada waktu tersebut. Jadi kedudukan waktu ini sendiri memiliki sisi dan nilai pahala manakala suatu ibadah dilaksanakan dalam waktu tersebut. Maksudnya, bilamana suatu ibadah dilakukan pada waktu yang ditetapkan memiliki keutamaan tersebut maka seseorang akan mendapatkan dua pahala, yakni pahala mengerjakan ibadahnya dan pahala dari waktu yang berfadilah tersebut. Contoh, dzikir adalah bagian dari ibadah, dan Jum’at merupakan hari terkabulnya doa. Jadi bila dzikir atau sebuah doa dikerjakan pada hari Jum’at maka doa tersebut memiliki dua keutamaan, yakni keutamaan berdoa dan keutamaan doa tersebut mudah dikabulkan sebab dikerjakan pada waktu hari Jum’at. Dengan begitu penetapan waktu-waktu muqayyad ini hanya berdasarkan dalil baik Al-Qur’an maupun Hadits. Di antara contoh waktu-waktu muqayyad ini adalah;

Akhir malam sebelum fajar

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (Surat Az-Zariyat Ayat 18)

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 17)

Dari situ, pengkhususan waktu ini dengan beristigfar disamping dengan doa dan zikir lainnya adalah amalan yang mulia dan dianjurkan. Kalau di tengah-tengah shalat pada waktu itu, maka itu lebih utama. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Kalau istigfar itu dalam shalat, maka itu lebih baik.” Selesai dari Tafsir Ibnu Katsir, (7/390).

Hari Jum’at

إِنَّ أَفْضَلَ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ يَعْنِي بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at, padanya Adam di ciptakan, padanya ia diberi ruh, dan padanya terjadi Ash sha’qah (suara keras yang menyebabkan orang-orang pingsan). Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.” Seorang laki-laki lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu, sementara anda telah meninggal? Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (Hadits Darimi Nomor 1526, Hadits Ibnu Majah Nomor 1626, dan Hadits Abu Daud Nomor 883)

Dari situ, maka memperbanyak shalawat kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam hari Jumah dan malamnya adalah amalan yang mulia dan dianjurkan. Telah ada ketetapan hal itu dalam sunah anjuran akan hal itu. Kemudian shalawat Ibrohimiyah adalah redaksi shalawat yang terbaik kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Maka pilihan untuk waktu yang mulia itu sangat bagus dan dianjurkan. Tidak mengapa insyaallah.

Bulan Ramadhan

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya (di dalam bulan Ramadhan). Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Waktu mutlak

Kedua, Waktu mutlak, yakni suatu waktu yang tidak memiliki keutamaan sebab syariat agama tidak menetapkannya. Terjadinya waktu ini selain dari waktu-waktu yang telah ditetapkan sebagai waktu yang memiliki keutamaan. Bisa jadi adanya waktu tersebut merupakan waktu-waktu luang yang dimiliki dari setiap orang. Sehingga waktu-waktu luang tersebut tidak memiliki nilai pahala karena pengkhususan waktu tersebut bersifat pribadi dan bukan berasal dari ketetapan syariat agama.

Namun, walaupun waktu-waktu mutlak tidak memiliki keutamaan dalam sisi syariat bukan berarti dalam waktu ini tidak boleh dikerjakan sebuah amal ibadah atau amal shalih. Karena, dalam ketaatan tidak memiliki batasan waktu tertentu, semenjak kita lahir kemudian baligh hingga nyawa terlepas dari badan, kita tetap diwajibkan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangann-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang (waktu) kepadamu yang diyakini (ajal/kematian).” (QS. al-Hijr[15]: 99)

Selama manusia diberi kesehatan badan, dan sepanjang akal pikirannya masih berfungsi, maka umat Islam dituntut untuk melaksanakan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun dan bagaimanapun kondisinya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Dengan begitu selain waktu yang telah ditetapkan dan waktu-waktu yang diutamakan secara syar’i, selebihnya merupakan waktu yang dibebaskan untuk kita melaksanakan ibadah, dzikir, dan doa sebanyak banyaknya. Seperti dalil-dalil berikut ini,

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمَلُّ

“Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak pernah jenuh hingga kalian merasa jenuh.” (HR. Nasai No. 754)

النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya. ” (HR. Muslim No. 558)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. al-Furqan: 62)

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat-(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. an-Nisa: 103)

Sebanyak-banyaknya di sini tentunya Allah tidak memberikan batasan, dengan artian selama kita mampu dan tidak meninggalkan kewajiban yang lain, maka selama kita isi waktu-waktu kita untuk memperbanyak ibadah untuk peningkatan ketakwaan kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَقُولُ وَاللَّهِ لَأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلَأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهِ لَأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلَأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ قَالَ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ وَصُمْ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Bahwa [‘Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma] berkata; Disampaikan kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa aku berkata; “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku. ” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata; “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?”. kujawab; “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya”. Maka Beliau berkata: “Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun. ” Aku katakan; “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”. Belau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam yang merupakan puasa yang paling utama”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Maka beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu”. (HR. Bukhari No. 3165)

Baca juga artikel terkait berikut;

Beramal dan Beribadah Sesuai Kemampuan

Tuntutan syariat Islam hanya sebatas kemampuan umatnya

Dengan begitu, boleh hukumnya menetapkan atau mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan amal ibadan dan amal shalih. Seperti mengkhususkan waktu-waktu tertentu dalam melakukan ziarah kubur, berdzkir bersama, berdoa bersama, majlis taklim, atau syukuran pada hari Jum’at legi, bulan Sya’ban ataupun pada hari Idul Fitri, atau lain sebagainya.

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Waktu

Syariat agama Islam pada prinsipnya tidak mempermasalahkan bila seseorang berkeinginan untuk mengkhususkan atau dengan kata lain menjadwalkan secara rutin sebuah amalan atau ibadah mutlak sesuai situasi dan kondisi dari masing-masing pribadi. Sebab masalah situasi dan kondisi seperti waktu luang dan selera yang dimiliki masing-masing seseorang tentunya bersifat spesifik, satu dengan orang lainnya berbeda.

Sebagaimana amalan dan ibadah sunnah mutlak seperti bertaubat, beristighfar, berdzikir, berdoa, dan lain sebagainya. Di mana amalan dan ibadah tersebut dilakukan pada waktu-waktu tertentu, jumlah hitungan tertentu, di tempat-tempat tertentu, atau dengan cara-cara tertentu pula. Dalam hal mengkhususkan amal dan ibadah yang bersifat mutlak pada waktu-waktu tertentu sering dicontohkan oleh para sahabat di zaman Nabi.

Hukum boleh di sini didasarkan pada banyak dalil di mana Nabi seringkali mengkhususkan ibadah, amal, atau perbuatan pribadi. Di antaranya sebagaimana beberapa sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepada Bilal radliallahu ‘anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan (ciptakan) dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat wudhu’ tersebut disamping shalat wajib”. (Hadits Bukhari Nomor 1081 dan Hadits Muslim Nomor 4495)

Terlihat jelas bahwa shalat sunnah wudu’ merupakan ciptaan bilal yang kemudian direstui oleh Nabi. Dalam hadits di atas terlihat sahabat Bilal mengkhususkan ibadah sunnah wudhunya pada suatu kesempatan-kesempatan yang dia miliki. Baik kesempatan tersebut di waktu malam maupun di waktu siang. Maksudnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu atau setiap selesai adzan, akan tetapi Bilal melakukannya atas ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan dan tanpa bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya, bahkan memberinya kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat dua rakaat setiap selesai wudhu menjadi sunnat bagi seluruh umat. Dengan demikian, berarti menetapkan waktu ibadah berdasarkan ijtihad hukumnya boleh. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits tersebut:

ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه و سلم

“Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, bolehnya berijtihad dalam menetapkan waktu ibadah. Karena sahabat Bilal mencapai derajat yang telah disebutkan berdasarkan istinbath (ijtihad), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 34).

Pada kesempatan tertentu seringkali Nabi mengkhususkan sebuah amal dan ibadah secara rutin pada setiap hari Sabtu. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi masjid Quba’ pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki”. (Hadits Bukhari Nomor 1118 Hadits Muslim Nomor 2484)

Karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin. Hadits ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain Masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 69).

Menkhususkan sebuah kesunnahan seperti ziarah kubur juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان

“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. Al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453)

Kebiasaan menjadwal ziarah kubur juga dilanjutkan oleh putrinya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], Al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

Mengadakan kegiatan pengajian seperti majlis ta’lim untuk tausiyah dan ceramah dapat dilakukan dalam waktu-waktu yang dikhususkan. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلَا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ

“dari [Ibnu Abbas] dia berkata; “Berbicaralah (berdakwahlah dengan menyampaikan kebenaran firman Allah dan Sabda Nabi) kepada orang-orang setiap Jum’at sekali, jika kamu enggan, maka dua kali, dan apabila kamu ingin lebih banyak lagi, hendaknya hanya tiga kali (setiap Jum’at). Janganlah membuat orang-orang bosan dengan Al Qur’an ini.” (Hadits Bukhari Nomor 5862)

Menetapkan hari-hari tertentu dengan kebaikan, telah berlangsung sejak masa sahabat. Karena itu para ulama di mana-mana, mengadakan tradisi Yasinan setiap malam Jum’at atau lainnya, dan beragam tradisi lainnya. Hal ini telah berlangsung sejak masa salaf.

Mengadakan pengajaran seperti majlis-majlis kajian dengan cara mengkhususkan waktu dan harinya sangat dibenarkan karena Nabi juga membuat jadwal kegiatannya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

“bahwa [Abdullah bin Mas’ud] memberi pelajaran (tausiah dan ceramah) kepada orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari” dia berkata: “Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami”. (Hadits Bukhari Nomor 68 dan Hadits Muslim Nomor 5048)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu tertentu untuk berceramah kepada para sahabatnya, kecuali dalam khutbah Jum’at dan hari raya secara rutin. Beliau memberikan nasehat kepada mereka kadang-kadang saja, atau ketika ada suatu hal yang perlu diingatkan kepada mereka. Kemudian setelah beliau wafat, para sahabat menetapkan hari-hari tertentu untuk menggelar pengajian. Hal ini membuktikan bahwa menetapkan hari-hari tertentu untuk kebaikan hukumnya boleh.

Menjalankan sebuah amal atau ibadah dengan cara mengkhususkan dalam suatu waktu bisa dirutinkan, atau dalam lain waktu kemudian tidak lagi dikerjakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ فَقُلْتُ أَلَا أُعْجِبُكَ مِنْ أَبِي تَمِيمٍ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَقَالَ عُقْبَةُ إِنَّا كُنَّا نَفْعَلُهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ فَمَا يَمْنَعُكَ الْآنَ قَالَ الشُّغْلُ

“Aku [Martsad bin ‘Abdullah Al Yazaniy] menemui [‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhaniy] lalu aku berkata kepadanya: “Apakah kamu tidak heran terhadap Abu Tamim yang dia shalat dua raka’at sebelum shalat Maghrib? Maka (‘Uqbah) menjawab: “Kami dulu juga melakukannya pada masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “. Aku berkata: “Lalu apa yang menghalangimu dari mengerjakannya sekarang?” Dia menjawab: “Kesibukan”. (Hadits Bukhari Nomor 1112)

Mengkhuskan waktu untuk beribadah sunah mutlak, dan kemudian tidak mengerjakan karena kesibukan suatu yang dibenarkan dalam agama. Begitu juga walaupun mungkin agama telah menentukan bahwa dalam waktu-waktu tertentu memiliki keutamaan, bukan berati melakukan di luar waktu yang utama tersebut perkara yang dilarang. Mengkhsuskan dengan memilih waktu yang sesuai dengan keadaan dan kondisi kita untuk mengerjakan suatu amal atau ibadah itu dibenarkan. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

مَنْ خَشِيَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ

“Barang siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaknya melaksanakan shalat witir di awal malam, dan barang siapa di antara kalian yang sanggup untuk bangun di akhir malamnya, hendaknya melaksanakan shalat witir di akhir malam, karena sesungguhnya bacaan Al Qur’an di akhir malam adalah disaksikan (oleh para malaikat) dan ia merupakan (waktu) yang paling utama.” (Hadits Tirmidzi Nomor 418)

Dalam agama Islam, menggunakan, memanfaatkan, atau mengkhususkan waktu untuk perkara-perkara kebaikan yang bersifat mutlak sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing umatnya. Sebagaimana yang ditunjukkan sebuah riwayat Hadits berikut,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barangsiapa mandi hari Jumat seperti mandi janabat lalu berangkat pada waktu yang pertama, maka seakan ia telah berkurban dengan seekor unta. Barangsiapa berangkat pada waktu yang kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu yang ketiga, maka seakan dia berkurban dengan seekor kambing. Barangsiapa berangkat pada waktu yang keempat, maka seakan dia berkurban dengan seekor ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu yang kelima, maka seakan dia berkurban dengan sebutir telur. Maka jika imam telah datang, para malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah.” (Hadits Malik Nomor 209)

Sikap mengkhususkan dengan cara melebihkan atau lebih meningkatkan suatu amalan juga biasa dilakukan oleh para sahabat dan para tabi’in. Sebagaimana Sa’id bin Jubair radliallahu ‘anhu berinisiatif lebih memilih untuk meningkatkan amalannya ketika memasuki tanggal sepuluh (bulan Dzul Hijjah). Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى قِيلَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ قَالَ وَكَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا شَدِيدًا حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wajalla, dan tidak pula lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang engkau lakukan pada tanggal sepuluh hari Adhha (Dzul Hijjah).” Beliau ditanya; “Tidak pula berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla?” Beliau menjawab: “Tidak pula berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” Perawi berkata; Apabila Sa’id bin Jubair memasuki tanggal sepuluh (bulan Dzul Hijjah), ia akan lebih semangat lagi hingga hampir saja ia tidak sanggup untuk mengamalkannya.” (Hadits Darimi Nomor 1709)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Jadi, perkara khusus-mengkhususkan sebuah amal atau ibadah dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan keinginan dan keadaan masing-masing umat Islam sangatlah biasa dan diperbolehkan. Sebagaimana sahabat Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang berinisiatif untuk mengkhususkan dengan cara membagi-bagi waktu untuk berbagai kebutuhan amal dan ibadahnya. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

تَدَارُسُ الْعِلْمِ سَاعَةً مِنْ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا و قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Mempelajari ilmu dalam satu malam lebih baik dibandingkan dengan menghidupkannya (Memperbanyak ibadah) “. [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh aku membagi waktu malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah salallhu ‘alaihi wa sallam “. (Hadits Darimi Nomor 266)

Dan masih banyak banyak lagi riwayat yang membenarkan umat Islam memanfaatkan waktunya sesuai dengan kondisi dan situasinya masing-masing. Sudah sangat jelas mengerjakan amal sahlih di waktu-waktu yang dikhususkan untuk kemudian dirutinkan merupakan anjuran agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي ذَهَبَ بِنَفْسِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَاتَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرُ صَلَاتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ وَكَانَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَيْهِ الْعَمَلَ الصَّالِحَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا

“Demi Dzat yang mencabut jiwa shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak meninggal hingga kebanyakan shalat yang beliau lakukan adalah dengan duduk, dan amalan yang paling beliau sukai adalah amal shalih yang dikerjakan secara rutin oleh seorang hamba meskipun sepele. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1215)

Penolakan golongan Salafi

Walaupun mayoritas ulama mujtahid menghukumi boleh melaksanakan amal dan ibadah yang bersifat sunnah mutlak dengan cara mengkhususkan. Namun golongan Salafi atau lebih dikenal dengan Wahabi menolak praktik pengkhususan amal dan ibadah yang bersifat mutlak. Bahkan mereka menuduh ahlul bid’ah terhadap kaum muslim yang mengkhususkan amal dan ibadah yang bersifat mutlak tersebut.

Dasar Penolakan Golongan Salafi

Golongan Salafi mempersoalkan perkara khusus-mengkhususkan dalam soal mengerjakan suatu amal atau suatu ibadah ini. Di antara alasan yang digunakan untuk menolak perkara ini adalah amal salih dan amal ibadah seperti sedekah, dzikir, doa, taubat dan istighfar adalah ibadah pada segala waktu. Tidak ada dalil yang mengkhususkan untuk mengamalkan ibadah tersebut pada waktu-waktu tertentu seperti awal tahun Hijriyah, akhir tahun Hijriyah, setiap malam Jum’at, dan lain sebagainya. Penolakan mereka biasanya didasarkan atas beberapa dalil berikut,

Nabi tidak mengkhususkan hari-hari tertentu dalam ber’amal

عَنْ عَلْقَمَةَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتَصُّ مِنْ الْأَيَّامِ شَيْئًا قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ

“dari [‘Alqamah]; Aku bertanya kepada [‘Aisyah radliallahu ‘anha] apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam ber’amal?” Dia menjawab: “Tidak. Beliau selalu beramal terus menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? (Hadits Bukhari Nomor 1851, Hadits Muslim Nomor 1304, dan Hadits Abu Daud Nomor 1163)

Nabi melarang mengkhususkan puasa hanya di hari Jum’at

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَالَ نَعَمْ

“dari [Muhammad bin ‘Abbad] berkata; “Aku bertanya kepada [Jabir radliallahu ‘anhu] apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada hari Jum’at? Dia menjawab: “Benar”. (Hadits Bukhari Nomor 1848)

Dalil sanggahan

Maksud dari kedua Hadits tersebut di atas sebetulnya larangan untuk mengkususkan amal dan ibadah dalam suatu waktu adalah bilamana amalan dan ibadah yang tegolong sunnah mutlak tersebut hanya dilakukan hanya pada waktu itu dan tidak dilakukan di waktu lainnya sama sekali. Namun bila maksud mengkhususkan adalah lebih memilih suatu amalan tertentu di waktu-waktu terntentu, namun tidak sampai meninggalkan untuk diamalkan di waktu lainnya, maka hal itu tidak masalah. Jadi tidaklah dilarang bilaman maksud mengkhususkan adalah lebih meningkatkan suatu amalan dalam suatu waktu dibanding dengan waktu-waktu lainnya. Sebagaimana Hadits Nabi berikut yang menafsiri Hadits Bukhari Nomor 1851 dan Hadits Bukhari Nomor 1848 di atas. Nabi bersabda,

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (Hadits Muslim Nomor 1930)

Jadi tidak masalah bila yang dimaksud mengkhususkan adalah lebih meningkatkan amalan pada suatu waktu namun dengan tidak meninggalkan suatu amal di waktu-waktu lainnya. Sebagaimana pemahaman Hadits Bukhari Nomor 1848 yang ditafsiri oleh Hadits Bukhari Nomor 1848. Nabi bersabda,

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَالَ نَعَمْ زَادَ غَيْرُ أَبِي عَاصِمٍ يَعْنِي أَنْ يَنْفَرِدَ بِصَوْمٍ

“bertanya kepada [Jabir radliallahu ‘anhu] apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada hari Jum’at? Dia menjawab: “Benar”. Selain ‘Abu ‘Ashim, para perawi menambahkan: “Yakni apabila mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa (dan tidak dilakukan diwaktu lain sama sekali)”. (Hadits Bukhari Nomor 1848)

Hadits di atas sebagai penjelas dari hadits-hadits yang terkesan melarang mengkhususkan amalan di suatu waktu dengan meninggalkan alias tidak mengerjakan sama sekali amalan tersebut di waktu lainnya. Jadi bilamana sebagain umat Islam yang pada waktu-waktu biasa juga mengamalkan dzikir tahlil, membaca surat Yasin, ziarah qubur, atau doa-doa. Namun ketika datang hari Jum’at umat Islam kemudian mengamalkan lebih banyak sebab mengejar keutamaan hari Jum’at tersebut tidaklah mengapa.

Tidak ada halangan mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal seperti hari kelahiran, hari Minggu, hari awal tahun atau akhir tahun dan lain sebagainya. Sebab waktu-waktu tersebut sejatinya masih menjadi bagian dari segala waktu yang mana semua manusia diberi kebebasan untuk memanfaatkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dimiliki masing-masing.

Sebetulnya mereka yang memanfaatkan waktu luang tersebut bukan berarti bisa dikatakan sebagai pengkhususan waktu. Namun dikarenakan suatu keadaan di mana mereka memiliki waktu luang yang lebih di banding waktu-waktu lainnya, sehingga mereka berisnisiatif untuk lebih meningkatkan amal shalihnya pada waktu tersebut. Bukan berarti ketika meningkatkan amal shalih di waktu-waktu tertentu tersebut menyebabkan pada waktu-waktu lainnya tidak melakukan perbuatan amal shalih.

Sebagaimana contoh umat Islam yang tinggal di sebuah negara di mana hari libur biasanya ditetapkan setiap hari Minggu. Sehingga hari selain hari Minggu mereka disibukkan dengan urusan tugas dan beban pekerjaan. Dan bila hari Minggu tiba, maka waktu luang yang dimiliki mereka akan lebih banyak. Agar waktu luang di hari Minggu tersebut tidak sia-sia dan tetap bernilai pahala yang banyak, maka biasanya sekelompok umat Islam tersebut berinisiatif mengkhususkan atau menjadwalkan untuk mengadakan majlis talim, majlis dzikir, kajian keagamaan, majlis syukuran, atau lain sebagainya di setiap hari Minggu.

Mereka lebih memilih hari Minggu dengan beragam alasan, di antaranya adalah waktu luangnya lebih luas dan peluang untuk mengumpulkan jamaah pada hari tersbut lebih maksimal. Lalu bilamana pelaksaan majlis kebaikan yang diadakan pada setiap hari Minggu tersebut kemudian dituduh oleh golongan Salafi sebagai perbuatan bid’ah, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan nalar sederhana mayoritas manusia dan juga bertentanagan dengan lebih banyak dalil yang memperbolehkan.

Yang jadi masalah adalah bilamana mengkususkan kebaikan di hari Minggu tersebut dengan disandarkan pada syariat agama bahwa hari Minggu merupakan anjuran dari Nabi. Padahal kenyataannya tidak ada landasan bahwa hari Minggu memiliki keutamaan dalam agama Islam terkait dengan sebuah amalan. Namun pengkhususan hari Minggu tersebut tidak akan jadi masalah bila alasannya sekedar kesempatan dan peluang waktunya lebih luas untuk lebih meningkatkan amal dan ibadah.

Karena kesempatan umat muslim yang lebih banyak itu pada hari Minggu, tentunya tidak salah manakala untuk lebih menambah pahala dengan cara meningkatkan kebaikan dan ibadah pada hari Minggu tersebut. Mungkin bila sebuah amal dan ibadah dikerjakan pada selain hari Minggu terbatas hanya sekedar bisa baca Al-Qur’an beberapa lembar saja, dan ibadah tahajudnya hanya beberapa rakaat saja. Namun bila amal dan ibadah tersebut dikerjakan pada hari libur seperti Minggu, bisa jadi kesempatan untuk ibadahnya bisa meningkat menjadi lebih banyak lembar Al-Qur’an yang dibaca dan lebih banyak rakaat shalat yang dilaksanakan. Juga kesempatan untuk lebih banyak menghadiri majlis taklim lebih leluasa, sebab pada hari tersebut mereka tidak memiliki beban tugas pekerjaan dari kantornya.

Memang terkait dengan hal ini sedikit harus lebih berhati-hati. Yang perlu difahami adalah niat untuk mengkhusukan sebuah amal dan ibadah sunnah mutlak tersebut jangan sekali-kali disandarkan pada syariat agama. Namun niatkan bahwa pengkhususan tersebut hanya bersifat kondisi dan situasi yang bersifat pribadi saja. Berikut akan disampaikan sebuah visualisasi (perumpamaan) untuk memudahkan pemahaman terkait dengan pengkhususan ini.

Semisal seseorang hendak bersedekah di hari Rabu. Sedekah ini bisa dikatakan salah dan bid’ah bilamana dia mengatakan bahwa sedekah yang dilakukan pada hari Rabu tersebut merupakan perintah dari Nabi. Pernyataan seseorang tersebut salah karena tidak ada satupun dalil yang mengatakan bahwa hari Rabu memiliki keutamaan untuk sedekah. Namun sedekah seseorang tersebut menjadi benar manakala dia menyatakan bahwa dia sebetulnya sudah punya keinginan bersedekah di hari-hari sebelumnya, namun dia bersedekah di hari Rabu karena baru sempat dan baru punya rezeki di hari tersebut.

Contoh yang lain; Semisal seseorang berkurban menggunakan kambing. Maka pernyataannya menjadi salah ketika dia beralasan bahwa berkurban menggunakan kambing lebih utama dibandingkan dengan hewan lainnya menurut syariat. Padahal pernyataan tersebut tidak ada landasannya dalam agama, itulah yang disebut dengan makna bid’ah yang sesungguhnya (berdusta atas nama agama). Namun pernyataannya akan dianggap benar manakala dia beralasan semisal bahwa kemampuan untuk berkurban hanya dengan seekor kambing saja.

Juga contoh lainnya; Semisal seseorang melaksanakan shalat tahajud setelah shalat Isya’ (awal malam) dengan mengatakan bahwa shalat tahajudnya di awal malam tersebut sebab waktu yang paling utama adalah awal malam. Maka pernyataan tersebut itulah hakikinya yang disebut bid’ah, yakni berdusta atas nama agama sebab menyandarkan perkara umum terhadap perkara agama. Padahal dalam hal ini jelas-jelas agama mensyariatkan keutamaan shalat tahajud ada di akhir malam menjelang fajar. Pernyataan seseorang tersebut akan dianggap benar manakala dia menyatakan semisal; Shalat tahajudnya dilaksanakan di awal malam bukan karena dia meyakini bahwa awal malam tersebut waktu yang diutamakan oleh agama, namun kemampuannya untuk shalat tahajud memang di awal malam tersebut. Dia hanya khawatir saja bahwa di tengah malam atau di akhir malam tidak bisa bangun untuk shalat tahajud. Pemahaman ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah riwayat Hadits berikut,

مَنْ خَشِيَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ

“Barang siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun diakhir malam, hendaknya melaksanakan shalat witir di awal malam, dan barang siapa diantara kalian yang sanggup untuk bangun diakhir malamnya, hendaknya melaksanakan shalat witir diakhir malam, karena sesungguhnya bacaan Al Qur’an di akhir malam adalah disaksikan (oleh para malaikat) dan ia merupakan (waktu) yang paling utama.” (Hadits Tirmidzi Nomor 418)

Sudah sangat jelas sekali bahwa agama tidak mempersoalkan keinginan seseorang untuk mengkhususkan sebuah amalan atau ibadah sunah mutlak selama dasar yang digunakan merupakan selera atau kondisi bersifat pribadi. Dengan begitu seseorang yang mau mengkhususkan amalan dan ibadah sunah mutlak apapun dibenarkan oleh agama.

Inilah kesalahan pemahaman dari kaum Salafi yang mudah menuduh amalan orang lain sebagai tindakan bid’ah yang tidak berdasar. Oleh karena itu dalam soal pengelolaan dan pemanfaatan waktu dalam Islam diserahka sepenuhnya kepada masing-masing pribadi. Sedangkan seseorang tidak boleh menuduh orang lain telah berbuat bid’ah, karena kita tidak mengetahui kondisi dan situasi yang dialami oleh masing-masing dari saudara muslim kita lainnya.

Di samping itu, memilih waktu juga masalah selera, terkadang seseorang akan merasa lebih nyaman dan lebih dapat berkonsentrasi bila dilakukan pada waktu-waktu yang cocok bagi mereka. Seperti untuk sebagian orang mungkin berada di malam hari lebih nyaman. Namun bagi orang lain mungkin akan merasa lebih nyaman bila beraktifitas di siang hari. Lagi-lagi ini hanya soal selera, terkait mud seseorang satu dengan lainnya pasti tidaklah sama. Maka sekali lagi, agama Islam tidak terlalu menekankan soal kuantitas waktu dan kaifiat dalam perkara amal dan ibadaah sunnah mutlak seseorang. Melainkan, agama Islam lebih menekankan pada kuwalitas, sejauh mana dari setiap hamba memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, sebagai sarana pengabdian diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebetulnya, bila sedikit dikaji, perkara mengkaitkan sebuah perbuatan dengan waktu merupakan bagian syariat Islam yang tidak dapat dipisahkan. Seperti ibadah haji, umrah, zakat, puasa Ramadhan, shalat ba’diyah dan qabliyah, shalat duha, shalat wajib, shalat malam, dan lain sebagainya. Dalam pensyariatan agama, sebagian ajaran agama Islam sangat terkait dengan waktu.

Tidak akan mungkin disebut sebagai ibadah haji bilamana tidak ada waktu Dzulhijjah, dan tidak ada shalat Maghrib bila tidak ada waktu senja, dan lain sebagainya. Dengan begitu, pengkaitan amalan dan ibadah dalam Islam dengan sebuah waktu merupakan syariat itu sendiri. Sehingga, pada akhirnya kecenderungan umat Islam untuk memilih waktu-waktu yang sesuai dengan kecocokan dan keadannya sendiri juga menjadi perkara yang lumrah.

Lebih lanjut, pengkaitan perkara dengan sebuah moment juga hal yang lumrah. Seseorang pasti akan lebih meningkat rasa sedihnya bila ada momen kematian. Dan sebaliknya, manusia akan lebih meningkat rasa bahagianya bilamana ada momen kelahiran. Jadi tidak salah manakala manusia memiliki kecenderungan untuk membuat amaliah-amaliah renungan dan muhasabah pada saat-saat kesedihan. Dan manusia akan memiliki kecenderungan untuk bersyukur pada saat-saat momen kebahagiaan. Jadi bilamana seseorang di waktu sedih akan lebih meningkatkan pengabidan kepada Allah dengan ibadah, dzikir doa, dan taqarub maka hal itu murni merupakan intuisi manusia yang dibenarkan dan bukan berarti hal itu sikap pengkhususan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

۞ وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya”. (Surat Az-Zumar Ayat 8)

Sebaliknya, bilaman seseorang di waktu bahagia mengakibatkan cenderung untuk memperbanyak amal shalih sebagi bentuk syukur. Dan hal ini bukan suatu masalah sebab memang fitrah manusia yang diciptakan Allah begitu dan Allah sendiri membenarkan di banyak firmannya.

Dengan begitu pandangan kaum Salafi yang melarang kaum muslim lainnya untuk mengkususkan dengan maksud lebih meningkatkan dan lebih memperbanyak sebuah amalan dan ibadah dalam suatu waktu tertentu merupakan pendapat yang batil. Sebab pandangan ini akan bertentangan dengan dalil yang lebih banyak yang telah diutarakan pada bagian atas tulisan ini, yang mana Nabi dan para sahabat sudah terbiasa mengkhususkan, melebihkan, atau meningkatkan suatu amal dan ibadah pada situasi-situasi tertentu.

Jadi, bukanlah perkara yang dilarang agama ketika kita melihat mayoritas umat muslim pada hari-hari biasa tetap melakukan amal dan ibadah secara rutin dan terus-menerus, namun manakala datang sebuah kesempatan waktu luang yang lebih banyak, atau datang sebuah waktu di mana agama memandang bahwa waktu tersbut memiliki keutamaan seperti hari Jum’at, bulan Rajab, Sya’ban, bulan Ramadhan, sepertiga akhir malam, atau waktu-waktu lainnya. Kaum muslimin akan terlihat lebih bersemangat dan berbondong-bondong untuk lebih meningkatkan amal dan ibadahnya. Seperti lebih memperbanyak dzikir tahlil, bacaan surat Yasin, dzikir shalawat di malam Jum’at. Atau seperti umat Islam akan lebih terlihat berbondong-bondong mengadakan majlis dzikir, tahlilan, yasinan, majlis ta’lim, tabligh akbar, pengajian umum, kajian-kajian agama, atau lainnya di hari Minggu atau hari-hari libur nasional dari sebuah negara.

Hal itu bukan berati mereka berniat mengkhususkan amalan di hari Minggu dengan anggapan hari itu memiliki keutamaan. Namun kaum muslimin melakukan hal itu hanya semata-mata memanfaatkan waktu luang yang lebih banyak di hari libur Minggu tersebut. Perilaku mayoritas umat muslim itu ternyata memiliki dasar yang sangat kuat dalam agama Islam. Dan tidak selayaknya golongan Salafi mempersoalkan dan meduduh mereka tidak mengikuti sunnah dengangan anggapan kaum muslimin mengkhusus-khususkan amalan. Jadi dalam prinsip dasar sebuah amal dan ibadah yang bersifat mutlak dalam agama Islam adalah dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah sebelum shalat Maghrib!”. Beliau berkata, pada kali ketiganya: “(Beramal dan beribadahlah) bagi siapa yang mau”. (Hadits Bukhari Nomor 1111)

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Barang siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan maka hendaknya ia menikah, dan barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena sesungguhnya itu adalah pengekang baginya.” (Hadits Nasai Nomor 3157)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ قَالَتْ فُلَانَةُ لَا تَنَامُ فَذَكَرَتْ مِنْ صَلَاتِهَا فَقَالَ مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَلَكِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“dari [‘Aisyah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan. lalu beliau berkata; “Siapa ini” ” Aisyah menjawab; “Dia Fulanah, dia tidak tidur.” Lalu Aisyah menceritakan tentang shalatnya. Rasulullah bersabda: “Cukup, kalian seharusnya mengerjakan shalat semampunya. Demi Allah, Allah tidak pernah bosan hingga kalian yang bosan. Akan tetapi sebaik-baik agama (amalan) adalah yang dilakukan secara kontinyu oleh pelakunya.” (Hadits Nasai Nomor 1624, Hadits Abu Daud Nomor 1161, dan Hadits Bukhari Nomor 41)

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 97)

Untuk melengkapi pemahaman sebaiknya baca juga artikel terkait berikut,

Prinsip Dasar Amal dan Ibadah Sunah Mutlak adalah Bagi yang Mampu dan Mau

Beramal dan Beribadah Sesuai Kemampuan

Tuntutan syariat Islam hanya sebatas kemampuan umatnya

Beramal dan Beribadah Sesuai Keadaan

Kesimpulan

Jadi tidak salah manakala sebagian umat Islam mengkhususkan dengan cara melebihkan membaca surat Yasin dibanding surat yang lainnya, atau lebih mengamalkan suatu dzikir, suatu doa, suatu tahlil, atau suatu shalawat dibanding amalan lainnya di waktu-waktu tertentu.

Misalkan seseorang yang ingin memanfaatkan libur hari Minggu, akhir tahun Hijriyah, awal tahun Hijriyah, setiap hari, tanggal kelahiran, tanggal pernikahan, tanggal kematian, momen kebahagiaan, momen kesedihan, dan lain sebagainya. Bolehnya melakukan suatu perbuatan baik pada hari-hari tersebut bisa jadi hanya memanfaatkan waktu luangnya ada pada hari itu. Atau mengkhususkan hari itu sebab ingin menciptakan momen istimewa atau sedang mengenang momen penting yang bersifat pribadi yang pernah terjadi pada waktu yang sudah lewat.

Syariat agama tidak mempersoalkan keinginan yang bersifat pribadi dan keinginan yang bersifat alami dari masing-masing umat Islam sebab kecondongan tersebut tidak disandarkan pada perkara syariat. Terkait pada waktu-waktu pribadi tersebut kemudian diisi dengan amal-amal shalihah bernilai pahala, memang agama memerintahkan setiap orang untuk memanfaatkan waktu luangnya diisi dengan amal shalih yang diniatkan untuk ibadah karena Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl Ayat 97)

Tidak ada salahnya umat Islam memanfaatkan setiap waktu luang dengan amal shalih dan amal ibadah mutlak sebagai bentuk syukur pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

اِغْتَنَمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR. Hâkim)

Berdasarkan perintah agama yang bersifat mutlak tersebut, maka setiap umat Islam sangat diperbolehkan untuk memanfaatkan waktu luangnya diisi dengan berbagai amal shalih dan ibadah sehingga amalan yang asalnya bersifat pribadi tersebut tetap bernilai pahala. Terkait teknis pemanfaatan waktu luang tersebut sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing umat Islam. Sebab tidak semua perkara teknis amal shalih dan ibadah sunnah mutlak diatur oleh agama Islam. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah No. 3358)

بَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ وَتَلَا { قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

“Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan maka hukumnya dimaafkan. ” Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat: ‘ (Katakanlah: “Aku tidak mendapatkan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan…) ‘ (Qs. al-An’aam: 145) hingga akhir ayat. ” (HR. Abu Daud No. 3306)

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Kenapa tidak semua perkara diatur oleh agama Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama Islam ingin memudahkan beban kehidupan umatnya sebagai bentuh kasih sayang Allah kepada hambanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat (kasih sayang untuk memudahkan) bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Dengan begitu hukumnya sangat boleh menyalurkan selera pribadi sebagai bentuk sifat alami manusia yang suka berkreasi dan berinovasi dalam hal amal shalih (bid’ah hasanah). Sebagaimana Nabi terbiasa menyalurkan selera-selera pribadinya dengan berinovasi dan berkreasi walaupun dengan meniru kebiasaan umat lain. Sebagaimana yang tergambar dari beberapa riwayat Hadits berikut,

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ

“Rasulullah SAW. lebih suka mencontoh para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu (syariat tertentu) mengenai urusan itu.” (HR. Muslim No. 4307)

كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَعْنِي يَسْدِلُونَ أَشْعَارَهُمْ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْجِبُهُ مُوَافَقَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ فَسَدَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاصِيَتَهُ ثُمَّ فَرَقَ بَعْدُ

“Orang-orang ahli kitab biasa mengurai rambutnya dan orang-orang musyrik biasa membelah rambut kepada mereka menjadi dua bagian. Sedangkan Rasulullah SAW. lebih senang menyamai orang-orang ahli kitab pada hal-hal yang tidak ada perintahnya. Maka Rasulullah SAW. pun mengurai rambutnya bagian depan, kemudian membelahnya setelah itu. ” (HR. Abu Daud No. 3656)

Di sinilah wilayah di mana umat Islam diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam hal kebaikan (amal shalih), atau menurut istilah golongan Ahlusunnah wal Jamaah disebut bid’ah hasanah (inovasi kebaikan). Inovasi dalam kebaikan inilah makna hakikat dari amal shalih. Nabi bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“seseorang bertanya: siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Orang yang panjang umurnya (banyak waktu luangnya) dan baik amalnya.” Ia bertanya: Lalu siapa orang yang terburuk itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Orang yang panjang umurnya (banyak waktu luangnya) tapi buruk amalnya.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (Hadits Tirmidzi Nomor 2252)

Lengkapi pemahaman dengan membaca artikel terkait ini;

Hakikat Makna Amal Shalih adalah Bid’ah Hasanah

Kebenaran amal shalih yang juga disebut dengan bid’ah hasanah ini bukan tanpa dasar, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri membenarkan kreasi dan inovasi yang dilakukan oleh umat Islam selama tidak mengandung unsur-unsur keharaman (Al-A’raf ayat 33). Pembenaran Nabi terhadap kreasi dan inovasi kebaikan yang dilakukan oleh umatnya adalah bahwa fitrah alami manusia pasti kecondongannya akan mengarah kepada kebaikan. Jadi apa-apa yang menurut umumnya manusia baik, maka juga dianggap baik oleh agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Seperti contoh kasus; Agama tidak mempermasalahkan bila seseorang ingin mengenang untuk kemudian merayakan hari yang dianggap spesial seperti hari kelahirannya dengan beramal salih seperti sedekah, memberi makan orang yang kekurangan, memberi santunan anak yatim, atau lainnya. Rasa syukur yang dikatikan dengan hari kelahiran sebab hingga saat ini masih diberi kesehatan lalu diungkapkan dengan inisiatif untuk lebih meningkatkan sedekah dengan menyantuni anak yatim, memberi makan, dan mengundang orang lain makan, atau lainnya. Hal semacam itu sangat diperbolehkan oleh agama Islam. Sebab inisiatif untuk lebih meningkatkan kebaikan yang dikaitkan dengan situasi tertentu bukan serta merta dapat dikatakan mengkhususkan. Sebab di waktu-waktu yang biasa tetap mengerjakan kebaikan, namun bedanya hanya lebih ditingkatkan kebaikannya di saat momen-momen spesial secara pribadi.

Merupakan suatu yang sangat alami dan sudah menjadi fitrah manusia yang memiliki kecenderungan untuk lebih meningkatkan rasa syukurnya ketika rasa bahagianya meningkat. Dan kecenderungan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan lebih meningkat bilamana seorang manusia sedang mengalami kesedihan. Tabiat dan sifat alami manusia ini sangat dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana tergambar dalam banyak firmannya. Di antaranya adalah,

Manusia cenderung akan lebih meningkatkan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah manakala mengalami kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surat Yunus Ayat 12)

Tidak ada batasan dan dilarang membatas-batasi seseorang untuk mengisi waktu luangnya dengan memperbanyak amal shalih. Sangat tidak berdasar tuduhan kaum Salafi yang mempersoalkan umat Islam mengkhususkan amalan. Dengan kata lain membuat jadwal atau mengisi waktu-waktu luangnya dengan berbagai macam amal shalih dan berbagai ibadah sunah mutlak seperti doa, dzikir, istighfar, shalat sunah mutlak, puasa sunah mutlak.

Dalam mengamalkan ibadah-ibadah sunah mutlak di waktu-waktu mutlak tidak diperlukan dalil khusus dari Al-Qur’an maupun Hadits. Sebab menjadwalkan (mengkhususkan) amal ibadah mutlak di waktu-waktu mutlak cukup menggunakan keumuman perintah-perintah yang bersifat dalil-dalil yang juga mutlak, seperti dalil keumuman perintah berbuat amal shalih.

Jadi, bila golongan Salafi mempersoalkan umat Islam yang berkreasi dan berinovasi terkait amalan dan ibadah mutlak di waktu dan situasi yang juga mutlak. Seperti meningkatkan doa saat mengalami kesedihan dan lebih meningkatkan sedekah dan kebaikan saat mengalami kebahagiaan. Maka tuduhan itulah sejatinya bid’ah yang nyata. Sebab pengertian (hakikat) bid’ah sejatinya adalah kedustaan atas nama agama dengan melarang atau memerintahkan suatu perkara yang sebetulnya dibebaskan oleh agama. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Diperkuat dengan makna Hadits berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan. “. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Sudah sangat jelas, bahwa dalam agama di samping ada wilayah haram (yang dilarang) dan halal (yang dianjurkan) juga ada wilayah netral (didiamkan). Di mana tata cara pelaksanaan amaliah dan ibadah yang sifatnya netral tersebut hukumnya mubah dan diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Sempurnakan pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hakikat Bid’ah

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Jadi bilama ada segolongan Salafi membid’ahkan pengkhususan waktu yang disukai untuk beribadah, dengan begitu mereka telah melakukan bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bahwa mereka telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

Baca Juga;

Membid’ahkan Tanpa Ada Dalil Larangan Yang Spesifik Itu Kedustaan Agama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Jadi mudah menuduh bid’ah dengan mudah mengharamkan perkara yang dibebaskan merupakan kelancangan terhadap wewenang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Jadi tuduhan mereka yang membid’ahkan pemilihan suatu tempat yang dirasa lebih nyaman dan lebih disukai untuk beribadah merupakan perkara bid’ah yang batal dan batil.

Pelajari dan tingkatkan ilmu dengan lebih banyak baca dan mempelajari Al-Qur’an, Hadits dan pendapat para ulama madzhab agar pandangan keagamaan kita tidak sempit. Allahu Musta’an.

Lengkapi pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hukum Mengkhususkan Ibadah dan Amal, atau

Perintah Bersifat Mutlak Dapat Diamalkan dalam Bentuk Khusus

Ikhtitam

Sudah sangat jelas bahwa anggapan dan tuduhan-tuduhan bid’an dari golongan Salafi terhadap kerasi dan inovasi dalam amalan-amalan sunnah mutlak sangat tidak berdasar dan bertentangan dengan lebih banyak dalil yang membenarkan amalan-amalan sunnah mutlak yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan umat Islam masing-masing. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengamalkan ibadah sunnah mutlak seperti dzikir bersama dengan suara terdengar. Mengisi amalan-amalan duniawi dengan dzikir, seperti momen syukuran atas anugerah Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Isilah semua waktu dan kesempatan untuk memperbanyak ibadah sunnah mutlak dengan mengharap ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

Bagikan Artikel Ini Ke